Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan
Julian memutar kemudinya. Bukannya mengarahkan mobil SUV-nya menuju rumah ke rumahnya, ia justru melaju menembus jalanan malam menuju kawasan permukiman padat di pinggiran kota.
Gengsi dan genggaman pergaulan liar yang tadi sempat menjeratnya kini runtuh sepenuhnya. Jarak yang lumayan jauh itu sama sekali tak menyurutkan niatnya.
Mobil mewah Julian berhenti di tepi jalan raya, tepat di mulut sebuah gang sempit. Karena gang tersebut terlalu sempit untuk dilewati mobil besarnya, Julian mematikan mesin dan memarkir SUV-nya di sana.
Ia melangkah keluar, lalu berjalan kaki menelusuri gang sempit beraspal retak, jalan yang biasanya menjadi titik akhir tempat ia menurunkan Sabrina tiap kali mengantarnya pulang.
Langkah kaki Julian bergema pelan menembus keheningan malam. Dari kejauhan, matanya menatap ke arah bangunan kos dua lantai tempat Sabrina tinggal. Jendela kamar di lantai atas masih memancarkan cahaya lampu redup..
Julian mengambil ponsel dari saku celananya dan mengetik pesan singkat.
Sab, aku di depan kos kamu. Bisa keluar sebentar?'
Hanya butuh waktu kurang dari semenit, tirai jendela kamar di lantai atas tersingkap sedikit. Sosok Sabrina mengintip dari balik kaca. Tak lama kemudian, pesan balasan masuk.
Kak Julian? Kok ke sini?
Tak berapa lama, pintu gerbang besi kos bergoyang pelan. Sabrina melangkah keluar menghampiri Julian.
Ia mengenakan piyama kain bermotif sederhana dengan kardigan rajut yang membalut tubuh kecilnya. Langkahnya ragu-ragu, matanya menatap cemas sosok Julian yang berdiri menunggunya di bawah pendar remang malam.
Hawa malam yang dingin mengempaskan aroma alkohol tipis yang masih tersisa dari kemeja Julian.
Sabrina menghentikan langkahnya tepat di hadapan Julian, menatap lelaki itu dengan binar mata polos, sangat bertolak belakang dengan para ladies di diskotik tadi.
"Kak Julian..." Kata Sabrina pelan, merapatkan kardigannya.
"Kenapa ke sini malam-malam begini."
Melihat wajah lugu kekasih rahasianya itu, tanpa mengucap sepatah kata pun, Julian melangkah maju dan menarik Sabrina ke dalam pelukannya.
Ia memeluk gadis itu erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sabrina, meresapi aroma sampo alami yang selalu berhasil menenangkan pikirannya.
Sabrina sempat terkejut dan tubuhnya menegang dalam dekapan erat itu. Namun, jarak yang begitu mengikis di antara mereka membuat indra penciuman Sabrina menangkap sesuatu yang asing dan tajam.
Hembusan napas Julian yang menerpa leher dan bahunya membawa aroma alkohol yang samar namun jelas terasa.
Sabrina perlahan merenggangkan pelukan mereka. Kedua tangannya tertahan di dada Julian, menatap wajah kekasihnya itu dengan kening berkerut halus dan tatapan penuh tanya.
"Kak Julian... minum?" bisik Sabrina pelan, nada suaranya dihiasi rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Kakak mabuk, ya?"
Julian tersentak kecil, memutus tatapan matanya sejenak sebelum kembali menatap manik mata Sabrina. Ia menggelengkan kepala pelan, berusaha mengontrol raut wajah dan intonasi suaranya agar terdengar sepadat mungkin.
"Nggak, Sab. Aku nggak mabuk," sahut Julian cepat, suaranya diusahakan selembut mungkin.
Ia meraih kedua tangan Sabrina yang ada di dadanya, menggenggamnya erat-erat dalam usapan hangat.
"Aku cuma minum sedikit aja tadi waktu nemenin anak-anak. Cuma formalitas. Kesadaran aku masih utuh kok, beneran. Kalau mabuk, mana mungkin aku sanggup nyetir jauh-jauh ke sini cuma buat nemuin kamu?"
Sabrina tersentak pelan dari lamunannya. Wajahnya seketika merona tipis menyadari mereka masih berdiri di bawah pendar remang lampu depan kos.
Ia memburu pandang ke sekeliling, memastikan suasana gang benar-benar aman sebelum menatap Julian kembali.
"Eh... maaf, Kak," bisik Sabrina pelan, sedikit merasa bersalah karena membiarkan kekasihnya berdiri menahan dingin.
Julian menatap wajah Sabrina yang masih diselimuti kecanggungan, lalu mengulas senyum tipis, sebuah ukiran senyum yang perlahan mengikis ketegangan di antara mereka.
"Jadi... kamu cuma mau biarin aku berdiri nahan dingin di luar gini?" bisik Julian pelan, menyuntikkan nada manja yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
"Gak diajak masuk?"
Sabrina tersentak, raut wajahnya seketika dipenuhi rasa bersalah. Ia meremas jemari Julian pelan.
"Eh... maaf ya, Kak. Tapi di kos aku benar-benar tidak boleh bawa tamu laki-laki masuk, apalagi udah malam seperti ini."
Julian menghela napas pelan, namun tatapannya tak henti mengunci manik mata Sabrina. Rasa tak ingin berpisah dan keheningan malam yang sunyi membuat pikirannya bergerak cepat mencari jalan lain.
"Ya udah kalau gitu," sahut Julian seraya menggenggam erat jemari Sabrina.
"Ke mobil aku yuk? Kita jalan-jalan sebentar. Cuma sebentar aja, muterin kota."
Sabrina membelalakkan matanya pelan, terkejut dengan ajakan mendadak itu. Ia melirik pakaian piyama sederhana dan kardigan rajut yang melekat di tubuhnya.
"Tapi, Kak... aku ganti baju dulu ya," ujar Sabrina ragu, berniat memutar badan untuk kembali ke dalam.
Sebelum Sabrina melangkah, Julian menahan pergelangan tangannya pelan lalu menariknya lembut mendekat. Ia menatap Sabrina dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu mengulas senyum paling tulus malam itu.
"Nggak usah ganti," bisik Julian lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Sabrina.
"Kamu udah cantik banget kayak gini. Beneran."
Pujian yang meluncur begitu saja dari bibir Julian seketika membuat pipi Sabrina memerah hangat.
Senyum malu-malu perlahan terbit di bibirnya, menghapus seluruh rasa ragu dan dinginnya angin malam.
"Ya sudah..." jawab Sabrina pelan, menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Tapi beneran cuma sebentar ya, Kak?"
Julian mengangguk mantap. Ia merangkul bahu kecil Sabrina, membimbing gadis itu berjalan menyusuri gang sempit menuju mobil yang terparkir di ujung jalan.