NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Ruang kerja Lucas kembali diselimuti keheningan.

Hanya terdengar suara hujan yang kini tinggal rintik-rintik halus, sesekali membentur kaca jendela besar.

Alyssa masih duduk di samping Lucas.

Ia sedang merapikan kembali isi kotak P3K dengan teliti. Kapas yang tersisa dilipat rapi, botol antiseptik ditutup kembali, gunting kecil dibersihkan sebelum dimasukkan ke tempatnya.

Lucas memperhatikannya dalam diam.

Tatapannya jauh.

Pikiran pria itu kembali mengulang semua cerita yang baru saja didengarnya.

Tentang rumah reyot di perkampungan.

Tentang Isabel yang keras.

Tentang seorang nenek tua yang bukan keluarga, tetapi justru menjadi tempat Alyssa merasakan kehangatan.

Lucas menarik napas perlahan.

Entah sejak kapan...

Perasaan iba itu tumbuh semakin besar.

"Apa yang kau pikirkan?"

Suara Alyssa membuyarkan lamunannya.

Lucas tersenyum tipis.

"Aku sedang membandingkan hidup kita."

Alyssa terlihat bingung.

"Maksudmu?"

Lucas menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Aku baru sadar..."

"...aku terlalu beruntung."

Alyssa menggeleng kecil.

"Setiap orang pasti punya kesulitannya masing-masing."

Lucas terkekeh pelan.

"Itu benar."

"Tapi kalau dibandingkan denganmu..."

"...masa kecilku jauh lebih mudah."

Alyssa tidak berkata apa-apa.

Lucas menatap langit di luar jendela.

"Ayahku selalu berkata..."

"'Kalau kau jatuh, bangun sendiri dulu. Kalau benar-benar tidak sanggup, baru minta bantuan.'"

"Ayahmu pasti orang yang hebat."

Lucas mengangguk pelan.

"Ia keras."

"Tapi tidak pernah kasar."

"Setiap hukuman yang diberikannya selalu disertai penjelasan."

"Dan ibuku..."

Wajah Lucas perlahan melunak.

"Beliau selalu menjadi penengah."

"Kalau Ayah terlalu keras..."

"...Ibu diam-diam datang membawakan makanan ke kamarku."

Alyssa tersenyum kecil.

"Kedengarannya hangat."

Lucas mengangguk.

"Sangat."

Ia melanjutkan dengan nada tenang.

"Sejak kecil aku diajarkan banyak hal."

"Apa saja?"

Lucas tersenyum tipis.

"Memanah."

"Menembak."

"Berkuda."

"Bela diri."

"Bahasa asing."

"Etika diplomasi."

"Bisnis."

"Musik."

Alyssa membelalakkan mata.

"Sebanyak itu?"

Lucas mengangguk sambil tertawa kecil.

"Kadang aku juga merasa masa kecilku lebih mirip pelatihan militer."

Alyssa ikut terkekeh.

"Kalau begitu, kapan bermainnya?"

Lucas mengangkat bahu.

"Sedikit."

"Tapi aku menikmatinya."

"Ayah selalu berkata..."

"'Kalau suatu hari nanti kau memimpin banyak orang, kau harus lebih siap daripada mereka.'"

Alyssa mendengarkan dengan saksama.

"Wing Chun juga diajarkan Ayah?"

"Iya."

"Dan beberapa bela diri lain."

"Menembak juga?"

"Iya."

"Memanah?"

"Iya."

Alyssa menggeleng takjub.

"Pantas saja..."

"Pantas apa?"

"Waktu pertama kali melihatmu..."

"...aku pikir kau hanya pria kaya yang dingin."

Lucas tersenyum miring.

"Sekarang?"

Alyssa sedikit salah tingkah.

"Sekarang..."

"...ternyata memang dingin."

Lucas tertawa pelan.

"Tapi?"

Alyssa menatapnya sebentar.

"Tidak sedingin yang kukira."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Lucas memandang wajah Alyssa.

Gadis itu masih tampak lelah.

Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis.

Namun di balik semua itu...

Ia masih berusaha tersenyum.

Lucas kembali teringat ucapan Alyssa.

"Aku tidak pernah mengenal orang tuaku."

"Aku sering lari ke rumah Nek Ranti."

"Isabel sering marah."

Dadanya terasa berat.

Tanpa sadar ia bergumam pelan.

"Seharusnya..."

Alyssa mengangkat kepala.

"Hm?"

Lucas menggeleng.

"Tidak."

"Tadi kau mau bilang sesuatu."

Lucas menatapnya beberapa detik.

"Aku hanya berpikir..."

"...andai sejak kecil ada seseorang yang benar-benar menjagamu."

"Mungkin..."

"...kau tidak perlu tumbuh dengan memikul rasa bersalah seperti sekarang."

Alyssa tersenyum pahit.

"Mungkin."

"Tapi hidup tidak pernah memilihkan itu untukku."

Lucas perlahan berkata,

"Mulai sekarang..."

"...kau tidak perlu memikul semuanya sendirian."

Alyssa langsung mengalihkan pandangan.

Kalimat itu terlalu hangat.

Terlalu menenangkan.

Dan justru membuatnya takut.

Takut berharap.

Takut bergantung.

Takut kehilangan lagi.

Ia segera berdiri.

"Perbannya sudah selesai."

"Aku harus pergi."

Lucas mengangguk pelan.

"Baik."

Alyssa mulai membereskan kotak P3K.

Ketika ia membungkuk mengambil gulungan perban yang jatuh ke lantai...

Rambut panjangnya yang terurai perlahan jatuh ke depan bahu.

Beberapa helainya tanpa sengaja tersangkut pada kancing manset yang masih menempel di lengan kiri Lucas.

"Aduh..."

Alyssa langsung terdiam.

Ia mencoba menarik tubuhnya.

Namun rambutnya justru semakin terlilit.

"Maaf..."

"Aku tidak sengaja."

Lucas ikut melihat.

Benar saja.

Helai rambut hitam panjang itu melingkar di sela-sela logam kecil pada mansetnya.

"Tunggu."

"Jangan ditarik."

"Nanti putus."

Alyssa langsung menghentikan gerakannya.

"Iya..."

Jarak mereka kini sangat dekat.

Begitu dekat hingga Alyssa bisa mendengar napas Lucas.

Lucas mengangkat lengannya perlahan.

Dengan hati-hati ia mencoba melepaskan rambut itu.

Namun semakin dilepas...

Semakin terlilit.

Lucas tersenyum tipis.

"Rambutmu keras kepala."

Alyssa tertawa gugup.

"Mungkin sama seperti pemiliknya."

"Oh?"

"Aku juga sering dibilang begitu."

Lucas kembali mencoba membuka lilitannya.

Jari-jarinya menyentuh helai rambut Alyssa.

Lembut.

Halus.

Tanpa sadar...

Ia mengusap rambut itu perlahan agar tidak kusut.

Gerakannya begitu alami.

Seolah-olah itu adalah sesuatu yang sudah sering ia lakukan.

Padahal...

Ini pertama kalinya.

Lucas sendiri baru menyadarinya beberapa detik kemudian.

Ia terdiam.

"Aku..."

Alyssa juga membeku.

Ia tidak berani bergerak.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Lucas perlahan melepaskan helai rambut terakhir dari mansetnya.

"Sudah."

Namun entah mengapa...

Tangannya tidak langsung menjauh.

Jari-jarinya masih berada di ujung rambut Alyssa.

Dengan gerakan yang hampir tanpa disadari...

Ia merapikan beberapa helai yang menutupi pipi gadis itu.

Sangat pelan.

Sangat hati-hati.

Seolah takut membuatnya tidak nyaman.

Alyssa merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

"L-Lucas..."

Baru saat mendengar namanya dipanggil, Lucas seperti tersadar dari lamunannya.

Ia segera menarik tangannya.

"Maaf."

"Aku..."

"...tidak bermaksud lancang."

Alyssa menggeleng cepat.

"Tidak..."

"Hanya saja..."

Ia menyentuh rambutnya sendiri.

"Sudah lama..."

"...tidak ada yang memperlakukanku sepelan itu."

Ucapan sederhana itu membuat Lucas kembali terdiam.

Dadanya kembali terasa sesak.

Betapa keras kehidupan yang dijalani Alyssa hingga sentuhan lembut pun menjadi sesuatu yang asing baginya.

Lucas tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"...anggap saja tadi aku sedang menyelamatkan rambutmu."

Alyssa terkekeh pelan.

"Terima kasih."

"Tidak perlu."

Suasana yang semula canggung perlahan berubah hangat.

Di balik pintu yang sedikit terbuka...

Sepasang mata kecil sedang mengintip.

Leonardo.

Bocah itu memegang erat boneka dinosaurusnya.

Ia melihat ayahnya menyentuh rambut Alyssa.

Mulutnya membentuk huruf "O" kecil.

Ia berbisik pelan kepada dirinya sendiri,

"Daddy..."

"...kok senyum terus ya kalau sama Kak Alyssa?"

"Sebenarnya wanita itu siapa sih? Aku takut dia hanya memanfaatkan kekayaan Daddy"

"Tidak! Tidak mungkin!"

"Daddy si gagah pemberani, tidak akan pernah dia mudah dimanfaatkan semudah itu."

"Aku harus selalu memantau wanita misterius itu."

"Kali ini aku harus berbakti kepada Daddy, dan membuktikan bahwa Alyssa itu hanya inginkan kekuatan dan kekayaannya saja."

Kali ini rasa marah dan penasaran pada Leonardo semakin menggebu.

Hanya rasa penasaran yang semakin besar terhadap hubungan yang perlahan berubah di antara ayahnya dan wanita yang dulu begitu ingin ia usir dari mansion.

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
MHKaylid_: Auto Gaspooll inimah kalau di semangatin pembaca baik hati tidak sombong rajin membaca ❤️‍🔥❤️‍🔥 Makasih ya kak komen mu sangat berharga buat akuuwww... Sekali lagi maaciwww 🥰😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!