NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Mafia Kejam

Terpikat Pesona Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.

​Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.

​"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.

​Dante menga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Di Aliran Sungai

​Dante menatap Valerio dan anak buahnya dengan pandangan tajam penuh intimidasi, sebuah tatapan yang sanggup membuat siapapun di dunia bawah gemetar ketakutan.

​"Sebelum kalian pergi, pastikan rahasia tentang keberadaanku tidak ada yang tahu," perintah Dante, suaranya terdengar amat dingin dan berat. "Di dalam hutan sana, ada korban dua tahun lalu dari Marco. Dia gadis berusia 23 tahun. Aku tidak akan keluar sendiri dari hutan ini, aku akan membawanya untuk membalas dendam kepada Marco."

​Valerio tertegun mendengar penuturan bosnya. Seorang Dante yang terkenal kejam, dingin, dan tidak pernah peduli pada siapapun, kini memutuskan untuk menetap di hutan demi menjaga seorang gadis korban masa lalu Arcanum dan Marco. Namun sebagai bawahan yang paling setia, Valerio tidak mempertanyakan keputusan itu. Ia mengangguk patuh.

​"Kembali ke sini besok," lanjut Dante seraya menyusun ide culas yang sangat terencana di dalam kepalanya. "Hanyutkan beberapa kresek makanan cepat saji. Namun, cari yang tanggal kadaluarsanya sangat dekat. Agar saat tiba di hilir nanti, wanita yang bersamaku tidak curiga jika makanan itu adalah barang buangan atau hanyut dari kota."

​Valerio menyipitkan matanya, mengagumi kecerdikan bosnya. Makanan cepat saji kemasan pabrik yang sudah hampir kedaluwarsa akan terlihat sangat alami seperti sampah rantai pasokan kota yang hanyut terbawa arus sungai dari hilir, bukan sengaja dikirim oleh pasukan khusus. Cara ini akan menjaga kebohongan Dante di hadapan gadis bernama Aura itu tetap utuh.

​"Petunjuk diterima, Bos. Besok sebelum fajar, kami akan menghanyutkan persediaan itu dari titik ini," jawab Valerio tegas.

​"Bagus. Sekarang pergi dari sini sebelum keberadaan kalian memancing perhatian," tegas Dante.

​Valerio dan anak buahnya memberi hormat singkat, lalu bergerak cepat membalikkan badan dan menghilang di balik ketebalan kabut dan pepohonan Hutan Hitam. Dante memandangi kepergian mereka sampai tak ada lagi derak langkah yang terdengar.

​Dengan pikiran yang makin mantap, Dante memungut kembali busur panah kayu milik Aura dari balik semak-semak. Pria itu memutar badannya dan melangkah perlahan menyusuri jalan setapak menuju gubuk bambu. Jalannya kini semakin tegap. Bantuan dari klannya sudah berada di genggaman, dan panggung pembalasan dendam untuk dirinya dan Aura telah perlahan disusun.

​Langkah kaki Dante terdengar menginjak dedaunan kering saat ia berjalan mendekati area di dekat gubuk bambu. Cahaya matahari siang mulai menembus rindangnya tajuk pohon, membakar sisa-sisa kabut pagi yang menyelimuti hutan. Sepanjang perjalanan kembali dari hulu sungai, Dante sengaja tidak memburu seekor pun hewan. Pria itu sengaja kembali dengan tangan kosong agar skenario yang disusunnya bersama Valerio dapat berjalan dengan amat sempurna.

​Namun, sebelum benar-benar menginjakkan kaki di halaman gubuk, Dante membelokkan langkahnya menuju sebuah lengkungan sungai kecil yang berjarak sekitar lima puluh meter di belakang gubuk. Di tempat itulah arus sungai agak melambat karena tertahan oleh lekukan tebing batu dan rawa-rawa dangkal.

​Mata hitam Dante menyapu sekeliling bank sungai. Pria itu menyingsingkan lengan bajunya, lalu menghampiri tumpukan bambu liar yang tumbuh subur di tepi air. Menggunakan kekuatan fisiknya yang telah pulih, Dante mematahkan dan memotong 6 sampai 7 bilah bambu dengan ukuran yang cukup panjang.

​Dengan cekatan dan penuh ketelitian, Dante menancapkan bambu-bambu tersebut di dasar sungai yang dangkal secara melintang. Ia sengaja membentangkan 6 sampai 7 bilah bambu itu berjejer membentuk pagar alami di atas permukaan air. Perangkap sederhana ini dirancang khusus agar saat kiriman dari Valerio dihanyutkan dari hulu besok pagi, kantong-kantong plastik itu akan langsung tersangkut di bilah-bilah bambu tersebut tanpa hanyut lebih jauh ke hilir.

​Dante menguji ketahanan susunan bambunya dengan dorongan tangan. Kokoh. Senyum tipis yang penuh kepuasan dan intrik dingin terukir di rahang tegasnya.

​Setelah memastikan perangkapnya siap, Dante memungut kembali busur panah kayunya dan berjalan santai menuju gubuk. Dari kejauhan, tampak Aura baru saja tiba dari arah hilir. Gadis itu terlihat sedikit lelah, dengan keranjang bambu di punggungnya yang hanya berisi beberapa ikat jamur hutan dan seekor burung kecil.

​"Dante! Kau dari mana saja?" panggil Aura seraya menyapu keringat di dahinya. "Bagaimana berburu di hulu?"

​Dante menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah dibuat seolah-olah kecewa. "Tidak ada apa-apa di hulu. Jalurnya terlalu terjal dan hewan-hewan sepertinya bersembunyi. Aku kembali dengan tangan kosong."

​Aura tertawa kecil, berusaha menghibur pria di depannya. "Tidak apa-apa. Aku juga cuma dapat burung kecil dan jamur. Medan di hutan memang sedang sulit belakangan ini. Tapi tenang saja, kita masih punya sisa daging kelinci kemarin untuk makan siang."

​Dante menatap gadis polos di hadapannya dengan lembut. Aura sama sekali tidak menyadari bahwa besok pagi, kehidupan mereka di tengah hutan ini akan mulai berubah melalui sebuah kebetulan yang telah dirancang dengan sangat rapi.

1
PengGeng EN SifHa
sandiwara yang membawa keberkahan ❤️
Naila Saputri
kayak y seru cerita y
Nia Nara
Chapter 1, baru mulai baca sudah seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!