NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Perangkap Ikan

"Aku punya rencana untuk menghancurkan Nadia. Tapi aku butuh seorang pengacara."

Kalimat Maya terdengar seperti ajakan perang.

Surya menutup map Permata Kreasi dan menatapnya. "Kalau maksud Anda pengacara yang bisa melakukan apa pun, Anda salah orang."

Maya menyeringai. "Bagus. Aku justru butuh orang yang tahu batas, supaya saat Nadia jatuh, dia tidak bisa menyeret kita."

Irene duduk di sofa samping, memutar cangkir kopi pelan. "Surya masih magang. Jalurnya harus lewat Sentana."

"Sudah," kata Maya.

Surya menoleh.

Maya mengambil tablet dan menampilkan email resmi. Beberapa anak perusahaan Dharma Group mengirim permintaan peninjauan kontrak, sengketa pemasok, dan legal due diligence kepada Kantor Hukum Sentana & Rekan. Nilainya tidak kecil. Bahkan untuk Sentana, itu pekerjaan yang cukup membuat ruang rapat penuh seminggu.

"Aku tidak membeli kamu," kata Maya. "Aku menyewa kantor tempat kamu belajar."

Surya membaca daftar itu. Nama Arief dan Ferdy sudah masuk sebagai penanggung jawab.

Rapi.

Terlalu rapi untuk disebut spontan.

Ia melirik Irene. Perempuan itu hanya tersenyum tipis.

Keesokan paginya, Sentana seperti disambar listrik. Ferdy Susanto yang biasanya jarang keluar dari ruangannya turun langsung memimpin rapat. Arief membagi berkas. Eko Saputra berhenti mengejek selama dua jam penuh karena tangannya sibuk menyalin dokumen.

"Surya," kata Arief, "kamu bantu ringkas kontrak pemasok Dharma Logistik dan perjanjian jasa kreatif untuk proyek baru Maya."

"Proyek baru?"

Arief menyerahkan map lain.

PT Cakra Lestari Kreatif.

Alamat kantor sementara: gedung ruko tepat di seberang Permata Kreasi.

Surya langsung memahami maksudnya.

Maya tidak menembak Nadia dari jauh.

Ia membuka tenda perang tepat di depan jendela musuh.

Tiga hari kemudian, papan nama PT Cakra Lestari Kreatif dipasang di lantai dua ruko kaca di kawasan Kemang. Desainnya sederhana, hitam putih, tanpa warna mencolok. Namun pekerja yang keluar masuk membawa laptop baru, furnitur baru, dan kotak dokumen berlogo Dharma Group.

Dari lantai tiga gedung seberang, Nadia melihat semuanya.

Permata Kreasi berdiri di sana sejak ayahnya masih hidup. Kantor kecil itu dulu terasa cukup untuk membuatnya memandang Surya rendah. Ia punya klien, punya staf, punya uang operasional dari Kevin, dan punya nama Kusuma.

Sekarang, di seberang jalan, perusahaan baru berdiri dengan dukungan Dharma Group.

Dan Surya keluar dari mobil Brio hitam, membawa map, disambut langsung oleh Maya Wirawan.

Nadia mencengkeram tirai.

"Mereka sengaja menantangku."

Stafnya, Rani, berdiri di belakang dengan wajah takut. "Bu?"

"Cari tahu semua klien mereka."

"Tapi Bu, mereka baru buka..."

"Cari!" Nadia membentak. "Kalau Surya pikir dia bisa mencuri pasar di depan mataku, dia salah."

Umpan pertama datang dua hari kemudian.

Sebuah perusahaan makanan beku meminta proposal kemasan promosi senilai Rp 700 juta. Lalu perusahaan kosmetik lokal meminta konsep aktivasi toko. Setelah itu, distributor alat rumah tangga mencari vendor untuk kampanye digital.

Semua nama itu pernah mampir ke meja PT Cakra Lestari Kreatif.

Semua juga dibuat cukup mudah dilihat oleh Permata Kreasi.

Nadia bergerak seperti orang kelaparan.

Ia mengirim staf lama keluarga Kusuma, menawarkan harga lebih murah, komisi lebih besar, dan janji pengerjaan lebih cepat. Beberapa calon klien pura-pura ragu, lalu "tergoda". Mereka pindah ke Permata Kreasi dengan kontrak ketat yang disiapkan tim hukum masing-masing.

Rani sempat khawatir. "Bu, tenggatnya pendek sekali. Denda keterlambatannya besar."

Nadia menatap kantor Cakra di seberang. Ia melihat Surya berdiri di balik kaca bersama Maya.

"Ambil," katanya. "Surya harus lihat kita menang."

Di kantor seberang, Maya menurunkan tirai setelah memastikan Nadia melihatnya.

"Ikan mulai makan."

Surya tidak tertawa. Ia membaca salinan kontrak yang dikirim Wulan melalui jalur klien. "Ini bukan kontrak kosong. Kalau Nadia mampu memenuhi kualitas, dia bisa untung."

"Dia tidak akan mampu."

"Karena?"

Maya membuka layar lain. "Permata Kreasi kehilangan dua desainer senior bulan lalu. Pemasok percetakan utamanya belum dibayar tiga termin. Dan staf penjualan bernama Dito sudah menerima uang dari orang Kevin untuk mengarahkan order besar ke vendor bermasalah."

Surya menatapnya. "Anda sudah tahu ada orang Kevin di sana?"

"Aku tahu Kevin selalu menyisakan tali di leher perempuan yang dia pakai."

Order besar itu datang pada minggu berikutnya.

Rp 5 miliar.

Kontrak produksi materi promosi nasional untuk jaringan retail. Nilainya cukup untuk menyelamatkan Permata Kreasi jika berhasil, dan cukup untuk mematahkan punggungnya jika gagal. Nadia menandatangani dengan tangan bergetar. Ia merasa takdir akhirnya kembali berpihak kepadanya.

"Lima miliar," bisiknya. "Surya, lihat aku."

Ia tidak tahu Surya memang melihat.

Dari sisi hukum, kontrak itu bersih. Syarat kualitas jelas. Jadwal jelas. Penalti jelas. Tidak ada jebakan ilegal. Satu-satunya masalah adalah keserakahan Nadia sendiri.

Ia menerima order yang terlalu besar untuk kapasitasnya.

Dito, sales yang dipercaya Nadia, mengarahkan produksi ke vendor murah di Tangerang. Vendor itu memakai bahan di bawah spesifikasi. Ketika sampel dikirim, klien menolak. Ketika Nadia meminta perbaikan, Dito menghilang. Nomor ponselnya mati. Uang muka ke vendor lenyap.

Tiga hari kemudian, ruang rapat Permata Kreasi berubah menjadi neraka.

"Semua klien komplain, Bu!" Rani hampir menangis. "Yang makanan beku minta pembatalan. Yang kosmetik minta refund. Yang retail kirim somasi!"

Nadia berdiri di tengah ruangan dengan mata merah.

"Hubungi Dito!"

"Tidak bisa."

"Hubungi Kevin!"

"Pak Kevin tidak mengangkat."

Nadia membanting gelas ke lantai.

Di layar komputer Rani, email baru masuk satu per satu. Pembatalan kerja sama. Klaim penalti. Permintaan pengembalian uang muka. Pemberitahuan daftar hitam dari asosiasi vendor beberapa klien.

Permata Kreasi tidak diserang.

Permata Kreasi dibiarkan berlari ke jurang dengan kaki sendiri.

Sore itu, Nadia melihat ke seberang jalan. Di balik kaca PT Cakra Lestari Kreatif, Surya berdiri dengan map di tangan. Maya berada di sampingnya.

Surya tidak mengejek.

Ia hanya menatap.

Justru tatapan itu membuat lutut Nadia lemas.

"Tidak..." Nadia berbisik. "Tidak mungkin..."

Dunia berputar. Suara Rani menjauh. Lantai mendekat.

Nadia pingsan.

Malamnya, Kevin akhirnya menelepon.

Di apartemen mewahnya, ia berjalan mondar-mandir sambil membaca laporan kerusakan Permata Kreasi. Wajahnya buruk. Setiap masalah Nadia kini punya jalan kembali ke namanya.

"Aku transfer Rp 5 miliar," katanya dingin begitu Nadia mengangkat dari ranjang klinik. "Bayar vendor, tutup penalti yang bisa ditutup, dan jangan bicara ke media."

Nadia menangis. "Kevin, aku kehilangan anak kita."

Kevin diam beberapa detik.

"Kita bahkan belum tahu itu anak siapa."

Tangis Nadia berhenti.

"Uang itu dari mana?" tanyanya, suara kosong.

Kevin melihat ke layar laptop. Di sana ada folder dengan nama PT Kencana Abadi dan beberapa rekening penampungan yang tidak boleh disentuh setelah pemeriksaan Mega Awan.

"Jangan tanya."

Ia menutup telepon.

Transfer Rp 5 miliar masuk ke rekening Nadia sebelum tengah malam.

Di tempat lain, sistem pemantauan transaksi Dittipideksus menandai satu pola lama yang kembali bergerak.

Nominal berbeda.

Jalur berbeda.

Aroma yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!