Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Kekurangan
Di dalam mobil yang berjalan mulus karena hari ini kebetulan tidak terjadi kemacetan, mata Yasmin tak henti-hentinya berkeliling menelusuri setiap sudut
kendaraan mewah itu. Jok kulit yang empuk, panel-panel kayu halus, hingga layar hiburan yang terpasang di bagian depan membuatnya takjub. Ini adalah kali pertamanya menaiki mobil semewah dan semahal ini, di desa Yasmin hanya pernah menaiki mobil pickup saat Bibinya akan dilarikan ke rumah sakit. Setiap kali tangannya tak sengaja mendekat ke permukaan pintu atau sandaran tangan, dia segera menariknya kembali seolah tersengat listrik. Dalam benaknya, terselip rasa takut yang luar biasa. 'Jangan sampai aku menyentuh bagian yang salah, nanti mobil ini lecet atau rusak. Kalau sampai terjadi apa-apa, pasti biayanya sangat mahal dan aku tidak akan sanggup membayangkannya, ala lagi Pak Baskara pasti akan marah' batinnya cemas, hingga ia akhirnya memilih untuk menekuk kedua tangannya di atas pangkuan agar lebih aman.
Suara mesin yang halus dan kenyamanan yang ditawarkan mobil itu seolah membuat perjalanan terasa begitu singkat. Tak lama kemudian, mobil itu perlahan melambat dan berhenti tepat di depan lobi utama sebuah pusat perbelanjaan. Roy mematikan mesin dan menoleh ke belakang
"Kita sudah sampai, Nona," ucap Roy dengan nada datar namun sopan.
Yasmin mengerjap, menyadarkan dirinya dari kekaguman pada mobil, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Matanya seolah terpaku, tak bisa berkedip menatap bangunan raksasa yang menjulang megah di hadapannya. Kaca-kaca gedung yang berkilauan memantulkan cahaya matahari, pintu putar otomatis yang terus bergerak, serta deretan mobil-mobil mewah lainnya yang terparkir rapi di depan sana.
"Ini... di sini tempatnya, Pak Roy?" tanya Yasmin ragu, menunjuk bangunan besar itu dengan jari telunjuknya yang gemetar sedikit.
Roy mengangguk mantap. "Betul, Nona. Tuan Baskara menyarankan berbelanja di sini karena barang-barangnya lengkap dan kualitasnya terjamin."
Yasmin menelan ludah. Perlahan, pandangannya beralih ke arah pintu masuk. Terlihat orang-orang berlalu-lalang, masuk dan keluar dari mal itu. Dari pakaian yang mereka kenakan, sepatu yang mengkilap, hingga tas jinjing yang terlihat bermerek, semuanya memberikan kesan bahwa mereka adalah orang-orang terpandang. Yasmin menunduk menatap dirinya sendiri. Ia mengenakan dress lengan panjang berwarna lembut milik mendiang adik Baskara yang berada dilemari kamarnya, bahan dan jahitannya memang bagus, sehingga jika dilihat sekilas tidak jauh berbeda dengan pakaian orang-orang di luar sana. Namun, rasa tidak percaya diri itu tiba-tiba saja menyergap hatinya.
Tangan Yasmin yang tadinya sudah siap membuka gagang pintu, kini berhenti di udara. Kakinya terasa berat seolah tertanam karung pasir, membuatnya tak sanggup melangkah turun dari mobil. Bayangan masa lalu tiba-tiba menyeruak memenuhi pikirannya. Di kampung halamannya saja, dia selalu menjadi sasaran tatapan sinis, bisikan-bisikan jahat, hingga ejekan yang menyakitkan hati hanya karena kondisi fisiknya yang berbeda. Kulitnya yang terlalu pucat, rambutnya yang berwarna terang, serta matanya yang memiliki ciri khas albinisme menjadi alasan utama mengapa dia selalu dikucilkan.
'Di kampung saja aku dianggap aneh dan menjijikkan, apalagi di tempat sebesar ini? Di mana semua orang terlihat sempurna dan berpenampilan rapi...' batin Yasmin berkecamuk, rasa takut perlahan berubah menjadi kepanikan. 'Bagaimana jika mereka menatapku dengan tatapan merendahkan? Bagaimana jika mereka menunjuk-nunjukku dan menganggapku sebagai makhluk aneh? Aku pasti akan mempermalukan Pak Baskara dan membuatnya marah...'
Wajah Yasmin perlahan memucat, jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Ia menarik tangannya kembali, memeluk kedua lututnya di dalam mobil, dan menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya meskipun jendela mobil itu tertutup rapat.
*****>>>{}<<<*****
Melihat Yasmin yang tiba-tiba berubah diam seribu bahasa, wajahnya tampak pucat pasi, dan tubuhnya yang seolah gemetar menahan ketakutan, Roy segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Sebagai seorang pengawal profesional yang terlatih mengamati lingkungan maupun tingkah laku orang di sekitarnya, ia segera menutup kembali pintu yang sempat sedikit terbuka, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Yaya dengan tatapan bingung namun tetap waspada.
"Nona Yasmin? Apakah ada yang sakit? Atau ada sesuatu yang membuat Nona merasa tidak nyaman?" tanya Roy dengan nada bicara yang sedikit melembut, berusaha tidak terdengar menakutkan. Matanya menatap lekat-lekat wajah perempuan itu, mencari-cari tanda-tanda kejanggalan atau ancaman dari luar yang mungkin luput dari pengawasannya.
Mendengar pertanyaan itu, Yasmin tersentak pelan. Ia segera mengangkat wajahnya, mencoba menarik sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman tipis yang dipaksakan agar terlihat meyakinkan. Tangannya yang gemetar perlahan diusapkannya ke wajah untuk menghapus rasa gugup yang mendadak menyelimuti.
"T-tidak apa-apa kok, Pak Roy. Saya... saya baik-baik saja," jawabnya terbata-bata, berusaha menyembunyikan rasa takutnya di balik nada bicara yang ia atur agar terdengar tenang. Namun, sorot matanya yang gelisah dan keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangannya seolah menolak kebohongan itu.
Roy masih menatapnya dengan tatapan menyelidik, seolah tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu.
Merasa tatapan Roy masih menelisik, Yasmin akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya, meski suaranya terdengar memelas. Ia menatap wajah tegas pria berbadan kekar itu dengan tatapan memohon.
"Emm... Pak Roy? Boleh... boleh tidak kalau kita berbelanjanya di pasar biasa saja? Di sana barang-barangnya juga lengkap kok, dan harganya pasti lebih terjangkau," pinta Yasmin pelan, menundukkan pandangannya tak berani menatap mata Roy. "Saya... saya rasa di sana lebih cocok untuk saya."
Roy mengerutkan kening, tampak terkejut mendengar permintaan itu. "Di pasar, Nona? Tapi Tuan Baskara sudah berpesan agar Nona berbelanja di tempat yang nyaman dan aman. Mengapa tiba-tiba ingin ke pasar?"
Yasmin semakin menunduk dalam, bibirnya terkatup rapat tak sanggup menjawab.
Melihat kebisuan Yasmin, Roy seolah mengerti sesuatu. Ia menghela napas pelan, lalu mulai menjelaskan dengan nada membujuk, berusaha membuat wanita itu mengerti alasannya.
"Nona Yasmin, saya tahu mungkin Nona merasa asing atau tidak nyaman di sini. Tapi percayalah, berbelanja di dalam mal jauh lebih baik untuk kondisi kesehatan Nona," ujar Roy dengan sabar. Ia melanjutkan penjelasannya saat melihat Yasmin mulai mengangkat wajahnya.
"Sebagaimana yang saya ketahui dari, maaf kelainan Nona, kulit Nona sangat sensitif dan tidak boleh terlalu lama terkena paparan sinar matahari secara langsung. Sedangkan pasar tradisional kan tempatnya terbuka, banyak debu, dan panas terik matahari pasti menyengat tanpa ada yang menghalangi. Hal itu tentu sangat berbahaya bagi kesehatan kulit Nona, bisa memicu iritasi atau masalah serius lainnya."
Roy menunjuk ke arah bangunan megah di depan sana, lalu melanjutkan, "Berbeda halnya dengan mal ini. Di dalamnya sudah terpasang sistem pendingin ruangan atau AC yang membuat suhu tetap sejuk dan nyaman sepanjang waktu. Selain itu, bangunannya tertutup rapat dan beratap tinggi, sehingga sinar matahari langsung tidak bisa masuk menyentuh kulit Nona. Jadi, selain belanjaannya jadi nyaman, kondisi tubuh Nona pun tetap terjaga dengan baik di sini."
Penjelasan yang logis itu membuat mulut Yasmin. perlahan tertutup rapat kembali. Ia terdiam, mencerna Penjelasan Roy yang begitu masuk akal membuat Yasmin tak bisa berkutik lagi. Ia sadar bahwa niat Roy dan juga Baskara hanyalah untuk kebaikannya. Akhirnya, dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, serta napas panjang yang ia hembuskan untuk menenangkan diri, Yasmin perlahan membuka gagang pintu mobil itu.
"Baiklah, kalau begitu saya mengerti, Pak Roy," ucapnya pelan, berusaha tersenyum tulus meski rasa gugup masih membayangi.
Roy mengangguk puas, lalu segera turun dari mobil lebih dulu untuk membukakan pintu dan mengawasi keadaan sekelilingnya. Dengan langkah perlahan, Yasmin akhirnya melangkah turun, menyentuh tanah di depan bangunan megah itu. Ia berjalan di samping Roy, menunduk sedikit dan berusaha menyembunyikan wajahnya, meskipun ia tahu itu mustahil dilakukan sepenuhnya.
Begitu keduanya melangkah masuk melewati pintu putar otomatis yang berputar lambat, suasana di dalam mal itu langsung menyambut mereka. Udara sejuk langsung membelai kulit Yasmin, kontras dengan udara luar yang agak gerah. Namun, kenyamanan itu terbayar mahal dengan apa yang langsung ia rasakan.
Seolah menjadi magnet yang tiba-tiba muncul di tengah keramaian, kehadiran Yasmin seketika menarik perhatian pengunjung mal yang sedang berlalu-lalang. Pasalnya, warna kulitnya yang sangat pucat, rambut pirang kemerahan, serta tatapan matanya yang berbeda, sangat kontras dengan mayoritas orang di sekitar sana.
Suasana di lobi mal yang tadinya ramai oleh obrolan dan langkah kaki, seolah menjadi sedikit hening di beberapa titik karena tatapan mata yang mengarah padanya. Ada yang menatap dengan alis terangkat ke atas, menampakkan ekspresi heran seolah baru melihat makhluk asing. Ada pula yang menoleh ke teman di sebelahnya lalu berbisik-bisik sambil sesekali menunjuk ke arahnya. Bahkan ada anak kecil yang menatapnya dengan mulut sedikit menganga, namun segera ditarik pergi oleh orang tuanya.
Jantung Yasmin berdegup kencang, rasanya ingin sekali ia lari keluar dari tempat itu. Rasa tidak nyaman itu semakin menjadi saat ia menyadari sosok tubuh besar Roy berjalan tepat di sampingnya, memberikan kesan seolah ia adalah orang penting atau orang yang sedang diawasi ketat. Hal itu justru membuat orang-orang semakin penasaran dan memperhatikannya lebih intens.
Setelah cukup jauh melangkah masuk ke area pusat perbelanjaan, Yasmin akhirnya memberanikan diri untuk menoleh ke arah Roy yang masih setia berjalan di sampingnya. Ia menunduk sedikit, mendekatkan mulutnya ke telinga Roy agar suaranya hanya terdengar oleh pria itu saja.
"Pak Roy," bisiknya pelan namun terdengar jelas di telinga Roy. "Boleh... boleh tidak kalau Bapak berjalan agak menjauh dari saya? Maksud saya... jangan terlalu dekat begini."
Roy mengerutkan kening, sedikit terkejut mendengar permintaan itu. "Ada apa, Nona? Apakah saya menghalangi jalan Nona? Atau ada sesuatu yang mengganggu?"
Yasmin menggeleng pelan, tangannya menggenggam ujung dress-nya dengan gugup. "Bukan begitu, Pak. Tapi lihat saja... sejak tadi semua orang menatap kemari. Mungkin karena kulit saya. Saya... saya tidak mau semakin menjadi pusat perhatian. Saya jadi malu sekali rasanya."
Yasmin kembali menunduk dalam, suara bicaranya makin mengecil. "Tolong ya, Pak Roy? Bapak bisa berjalan di belakang saya atau di jarak agak jauh, asalkan saya masih bisa terlihat oleh Bapak. Tapi jangan terlalu dekat begini, ya?"