Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Badai Spasial dan Murka di Awan Ungu
Langit Alam Rahasia Makam Kuno robek seperti kain lap usang. Retakan-retakan spasial berwarna hitam menyebar ke segala arah, menelan daratan, mengoyak gunung, dan menyedot sisa-sisa energi di ruang saku tersebut ke dalam ketiadaan.
Angin puyuh spasial yang mematikan terbentuk di mana-mana. Bagi kultivator mana pun, tersapu oleh badai spasial berarti tubuh fisik dan jiwa mereka akan terpotong-potong menjadi partikel debu. Puluhan murid jenius yang tersisa berlarian panik, menghancurkan Token Pelarian mereka secara paksa. Cahaya teleportasi berkedip satu per satu, menarik mereka keluar dari neraka yang runtuh itu.
Namun, tinggi di angkasa, sesosok bayangan putih justru menari di tengah kehancuran.
Lin Tian melesat menembus badai spasial menggunakan Sayap Pengoyak Ruang. Di saat kultivator lain lari ketakutan dari retakan dimensi, Lin Tian merasa seolah sedang berenang di lautan hangat. Inti Kehampaan di Dantiannya berputar, memancarkan resonansi yang menenangkan gejolak ruang di sekitarnya, melindunginya dari cabikan dimensi.
"Alam rahasia ini sudah habis," gumam Lin Tian. Ia menoleh ke belakang, melihat Istana Darah Utama yang mulai terhisap ke dalam badai kehampaan. Tanpa ragu, ia mengepakkan sayapnya dan melesat menuju satu-satunya celah cahaya perak yang tersisa—gerbang keluar menuju dunia nyata.
Di saat yang sama, alun-alun utama Puncak Awan Ungu berada dalam kekacauan total.
Pusaran perak raksasa yang menjadi gerbang Alam Rahasia bergejolak ganas, memancarkan percikan petir hitam yang menyambar lantai batu giok. Master Sekte Awan Ungu dan delapan Tetua Utama berdiri melingkar, wajah mereka pucat pasi sambil terus memompa Qi murni mereka untuk mencegah gerbang itu meledak.
"Tahan formasi! Jangan biarkan gerbangnya tertutup sebelum semua murid keluar!" raung Master Sekte, jubah ungu keemasannya berkibar hebat. Keringat dingin membasahi dahinya yang keriput.
Fenomena runtuhnya Alam Rahasia ini tidak pernah terjadi dalam sejarah ribuan tahun sekte.
Wussh! Wussh! Wussh!
Satu per satu, murid-murid inti terlempar keluar dari portal. Mereka mendarat dengan keras di atas lantai alun-alun, memuntahkan darah, dan beberapa langsung jatuh pingsan karena luka parah.
Mu Qingxue terlempar keluar bersamaan dengan kelompoknya. Ia mendarat dengan anggun menggunakan Qi es-nya untuk meredam benturan, namun wajahnya sepucat salju. Ia menoleh ke arah pusaran portal yang semakin menyusut.
Apakah dia tidak akan keluar? batinnya, detak jantungnya sedikit berdebar memikirkan Lin Tian.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya bertubuh gempal yang mengenakan jubah tetua berwarna merah darah menerobos kerumunan. Ia adalah Tetua Lu, kakek dari Lu Ming sekaligus paman dari Lu Changkong. Matanya memerah liar mencari sosok jenius kebanggaan klannya di antara murid-murid yang selamat.
"Di mana Changkong?! Di mana Lu Ming?!" raung Tetua Lu, suaranya mengandung Qi tahap Inti Emas Puncak yang menekan gendang telinga semua orang.
Ia menarik kerah seorang murid inti yang kebetulan berada di dekatnya. "Katakan padaku! Apakah kau melihat mereka?!"
Murid itu gemetar hebat. "S-Saya tidak tahu, Tetua! Kami berpisah sejak awal! Tapi... di dalam sana ada rumor... k-kelompok Kakak Senior Lu Changkong dibantai habis di Lembah Kuburan Pedang..."
"Omong kosong!" Tetua Lu melempar murid itu ke tanah.
Dengan tangan gemetar, Tetua Lu merogoh Cincin Penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah pelat giok kecil berwarna hijau—Giok Jiwa milik Lu Changkong. Jika pemiliknya masih hidup, giok itu akan bersinar.
Namun, saat Tetua Lu mengeluarkannya, pelat giok itu telah hancur menjadi serbuk berdebu di telapak tangannya.
"T-Tidak..." Kaki Tetua Lu goyah. Matanya melotot dipenuhi keputusasaan dan kemarahan yang bisa membakar lautan. "Changkong... Changkong telah mati! SIAPA?! SIAPA YANG BERANI MEMBUNUH JENIUS NOMOR SATU KELUARGA LU?!"
Suaranya yang menggelegar membuat seluruh alun-alun terdiam. Bahkan Master Sekte menoleh dengan tatapan terkejut. Lu Changkong, pemuda yang diproyeksikan menjadi penerus Master Sekte, tewas di dalam Alam Rahasia?!
"Itu... itu pasti Lin Tian!" suara serak tiba-tiba terdengar dari arah murid yang terluka parah.
Semua mata menoleh ke arah suara itu. Beberapa murid yang melihat Lin Tian menghancurkan Golem Darah dengan satu tebasan saling berpandangan.
"B-Benar... Lin Tian masuk ke Istana Utama sendirian! Kekuatannya tidak masuk akal! Dan dia tidak sedikit pun takut pada Lu Changkong sebelum ujian dimulai!" sahut murid lainnya.
Mendengar nama Lin Tian, Tetua Pertama Klan Lin dari Kota Daun Gugur yang kebetulan diundang hadir sebagai tamu pengamat, seketika memucat. Bocah haram itu... dia membuat kekacauan sebesar ini?!
Tetua Lu menoleh ke arah gerbang dengan mata memerah seperti iblis. "Lin Tian... aku akan menguliti bocah itu hidup-hidup!"
KRAAAK!
Portal perak raksasa di tengah alun-alun tiba-tiba berderak keras, mencapai batas akhirnya. Master Sekte berteriak mundur. "Menjauh! Gerbangnya akan meledak!"
Namun, tepat sebelum pusaran dimensi itu hancur total, seberkas cahaya keperakan melesat keluar seperti panah yang lepas dari busurnya.
Bayangan itu mendarat di tengah alun-alun tanpa menimbulkan suara benturan sedikit pun. Begitu sosoknya menapak, portal perak di belakangnya meledak menjadi serpihan cahaya yang memudar ke udara.
Angin berhembus menyingkirkan asap dan debu.
Di tengah ribuan pasang mata, Lin Tian berdiri tegak. Jubah putihnya berkibar, Logam Hitam Tanpa Nama tersandang kokoh di punggungnya. Ia tampak tenang, tanpa segores luka pun di tubuhnya, seolah baru saja kembali dari jalan-jalan pagi di taman.
Namun, yang membuat para Tetua—terutama Master Sekte—menahan napas adalah fluktuasi Qi yang memancar dari tubuh pemuda itu.
Itu bukan lagi Pondasi Bumi.
Itu adalah fluktuasi tahap Inti Emas!
Dan bukan Inti Emas sembarangan. Aura yang menguar dari Lin Tian begitu gelap, dalam, dan menyerap segala bentuk fluktuasi spiritual di sekitarnya, membuat para murid di dekatnya merasa kesulitan bernapas.
"B-Bocah itu... usianya belum dua puluh tahun, dan dia telah mencapai Inti Emas?!" gumam salah satu Tetua dengan rahang menganga.
Namun, Tetua Lu tidak peduli dengan bakat atau usia Lin Tian. Pikirannya telah dibutakan oleh kebencian.
"LIN TIAN! NYAWA DIBAYAR NYAWA!"
Tanpa mempedulikan statusnya sebagai Tetua, atau kehadiran Master Sekte, Tetua Lu melesat maju bagaikan elang pemburu. Ia mengerahkan seluruh kekuatan tahap Inti Emas Puncak miliknya. Tangannya berubah warna menjadi merah darah, membentuk cakar elang raksasa dari Qi yang merobek udara, mengarah tepat ke kepala Lin Tian.
"Mati kau di tanganku, Iblis Kecil!"
Tekanan Inti Emas Puncak itu begitu masif hingga lantai alun-alun di sekitar Lin Tian amblas. Murid-murid yang berada dalam radius seratus meter terhempas ke belakang.
"Tetua Lu, hentikan!" bentak Master Sekte, namun semuanya sudah terlambat. Kecepatan Tetua Lu terlalu tinggi.
Di bawah bayang-bayang cakar kematian itu, Lin Tian bahkan tidak mengedipkan mata. Tidak ada kepanikan, tidak ada gerakan untuk mundur atau menghindar.
Sepasang mata hitamnya memancarkan kilatan ungu yang dingin.
"Inti Emas Puncak? Hanya ini?" suara Lin Tian terdengar datar.
Alih-alih mencabut pedangnya, Lin Tian hanya mengepalkan tinju kanannya. Di dalam Dantiannya, Inti Kehampaan berputar memancarkan setetes energi murni yang langsung mengaliri otot lengannya. Ia melesatkan pukulan lurus ke atas, langsung menumbuk cakar energi darah milik Tetua Lu.
BOOOOOOOOOOM!
Ledakan dahsyat terjadi di tengah alun-alun. Gelombang kejut menyapu ke segala arah, menghancurkan ubin-ubin batu giok menjadi badai pasir. Para murid menjerit saat mereka harus membuat perisai Qi lapis ganda hanya untuk menahan dorongan angin tersebut.
Semua orang menahan napas, yakin bahwa Lin Tian setidaknya akan cacat atau hancur menjadi kabut darah akibat menerima serangan langsung dari seorang Tetua veteran.
Namun, saat debu mereda, pemandangan yang tersaji membuat seluruh Puncak Awan Ungu tenggelam dalam keheningan mutlak.
Lin Tian masih berdiri di posisi asalnya. Kuda-kudanya stabil seperti gunung dewa. Tinju kanannya masih tertahan di udara, bersentuhan langsung dengan telapak tangan Tetua Lu.
Sedangkan Tetua Lu?
Pria paruh baya itu mematung di udara. Wajahnya yang tadinya dipenuhi amarah kini berubah menjadi topeng teror yang tak terlukiskan. Seluruh lengan kanannya—dari ujung jari hingga ke bahu—bergetar hebat, kulitnya robek, dan darah menyembur keluar dari pori-porinya.
KRAAAAK!
Suara tulang yang hancur berkeping-keping bergema. Lengan Tetua Lu patah sepenuhnya ke belakang seperti ranting basah yang dilipat paksa.
"AAARRRGGGHHH!"
Tetua Lu menjerit histeris. Tubuhnya yang gemuk terlempar ke udara layaknya bola meriam yang memantul, terbang mundur sejauh puluhan meter sebelum menghantam pilar batu raksasa di tepi alun-alun hingga pilar itu runtuh menimpanya.
Seorang murid baru... menangkis pukulan kekuatan penuh dari Tetua Inti Emas Puncak, dan menghancurkan lengan Tetua itu dengan tangan kosong?!
Lin Tian perlahan menurunkan tinjunya. Ia mengibaskan sisa darah dari tangannya dengan santai, menatap sisa-sisa reruntuhan pilar tempat Tetua Lu terkubur.
"Orang tua yang rapuh," gumam Lin Tian dingin, suaranya menggema ke seluruh pelosok alun-alun, menampar wajah seluruh dewan tetua Sekte Awan Ungu.