Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menaruh curiga!!
Santi, wanita itu duduk santai di kursi teras sambil mengobrol dengan Rangga tentang bagaimana nanti proses pesta pernikahan mereka. Ia sama sekali tidak peduli dengan keributan di dapur.
"Mas, kok teh nya lama ya?"
"Iya nih. Mama ngapain aja sih di dapur. Bentar ya sayang, aku tengok dulu."
"Hmm."
Rangga masuk ke rumah, menuju dapur. Saat tiba di dapur, matanya disuguhkan dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Mama!" serunya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Gula dan teh berserakan di lantai. Cipratan minyak dimana-mana. Sisa potongan sayur juga berserakan memenuhi lantai dapur.
"Ma, teh nya udah siap belum?" tanya Rangga pelan takut salah.
Bu Ramlah menghela napas panjang, "Tangan Mama di siram air hangat. Teh nya belum jadi..." jawabnya menunduk menatap punggung tangannya yang memerah.
"Ya ampun, Mama!" Rangga menyentuh tangan yang tersiram air panas itu. "Kok bisa gini, sih? Mama gak hati-hati. Sini aku kompres." Membawa Bu Ramlah duduk di kursi meja makan.
"Sayang! Udah belum..." teriak Santi lantang dari teras.
"I...iya sayang, bentar!" sahutnya tak kalah lantang.
"Mbak Nis, kompres tangan Mama. Aku mau bikin teh dulu."
Rengganis mengambil alih handuk kecil yang sudah di basahi sebelumnya, lalu pelan menempelkan di punggung tangan Bu Ramlah.
Rangga sendiri, sibuk membuat teh. Selama hidupnya, mungkin ini kali pertamanya turun ke dapur membuat minuman sendiri.
"Hah, biasanya Halimah yang mengerjakan semua ini." batinnya tiba-tiba teringat pada sosok mantan istrinya itu.
Begitu teh jadi, Rangga langsung bergegas ke depan menemui kekasihnya.
"Sayang, ini teh nya. Maaf ya lama. Mama tadi tangannya ke siram air hangat." tutur Rangga membuat alasan.
"Oh ya? Terus gimana sekarang?" tanyanya seolah peduli, padahal raut wajahnya datar tidak menunjukkan kekhawatiran sama sekali.
"Itu lagi di kompres sama Rengganis."
"Oh iya, Mas. Sekitar tiga bulan apa empat bulan lagi, Daffa resmi di lantik sebagai pewaris Surya Holding." ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, saat hari itu tiba, aku akan meminta satu kursi jabatan buat kamu di Surya Holding."
"Kamu bicara begitu, seakan kamu kenal dekat dengan Daffa Nugraha Surya itu."
"Memang dekat kok. Daffa itu keponakan suami Tante Wulan. Kamu lupa ya, kalau aku keponakan Tante Wulan?"
Rangga mengangguk paham sambil tersenyum senang. "Jadi, karirku mungkin akan melejit tinggi setelah kita menikah?"
"Tentu dong Mas. Percaya deh sama aku."
Santi memang sangat dekat dengan Daffa. Dulu saat masih remaja, mereka sering menghabiskan waktu bersama saat Santi ikut bersama Wulan ke kediaman keluarga Surya.
Bahkan sebenarnya, Santi sempat berangan ingin menjadi istri dari Daffa. Sayangnya Daffa sulit di taklukkan, dia terlalu dingin dan suka bermain wanita, membuat Santi perlahan mundur.
Sementara sosok yang sedang mereka bicarakan itu, saat ini sedang menonton Halimah melalui layar ponselnya yang terhubung dengan CCTV di apartemennya. Mata Daffa tidak bisa berhenti menatap wajah lembut dengan sorot mata yang tampak sendu.
"Ben, cari tahu semua informasi tentang wanita ini!" perintahnya pada asisten pribadinya yang memang selalu membantunya mengurus banyak hal bahkan diluar dari urusan perusahaan.
"Baik, Bos."
"Saya butuhnya cepat, Beni."
"Dalam waktu kurang dari 12 jam, saya akan memberikan semua informasi tentang Nona Halimah." jawab Beni percaya diri.
Daffa tersenyum puas. Ada rasa tidak sabar ingin segera mengetahui semua informasi tentang siapa sebenarnya sosok wanita yang telah dibantunya tadi malam.
"Mungkin, aku bisa menjadikannya istri." gumam Daffa pelan dengan masih terus menatap setiap gerak-gerik Halimah yang membantu Mbok Ayu membersihkan Apartemennya.
Halimah tampak begitu ringan mengerjakan pekerjaan bersama dengan Mbok Ayu. "Aneh ya, ini pertama kalinya aku merasa ingin mengerjakan semua ini meski tanpa di suruh." batin Halimah tersenyum lebar.
Senyuman Halimah itu, tanpa sadar membuat Daffa menaruh curiga semakin tinggi pada sosok wanita asing yang dibawanya ke apartemen.
"Jangan bilang itu senyum kemenanganmu?!" batin Daffa curiga.
Bersambung....
...Hai hai 👋👋...
...Teman-teman, selamat membaca karya baru Author ya. 🥰...
...Jangan lupa berikan dukungan kalian ya. Bisa Like, kasih komentar dan subscribe juga ya. Terimakasih semuanya 🤗🙏...