NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kejanggalan di Mata Sekar.

Perbukitan kapur purba yang gersang di timur laut Parangtritis menyambut langkah Erlang dan Sekar Arum dengan embusan angin sore yang kering. Di bawah bayang-bayang pohon jati yang meranggas, Sekar melangkah dengan jemari yang terus-menerus meraba balik lipatan jubahnya. Di dalam sana, sepotong kertas tebal hangus berselimut lilin merah merah mengusik batinnya. Pikiran Sekar mendadak berkecamuk hebat, jauh lebih riuh daripada gemuruh ombak samudra selatan yang perlahan mulai menjauh di belakang mereka.

"Nimas Sekar," panggil Erlang santai, memecah keheningan panjang yang sejak tadi menggantung di antara mereka. "Nimas kok diam saja sejak kita meninggalkan ceruk pondok Mbah Wiro tadi? Apa jubahnya ketempelan jelaga lagi toh? Sini, biar saya tepis pakai ranting jati kalau ada yang kotor."

Sekar tersentak kecil, buru-buru menarik tangannya dari balik jubah dan membetulkan letak kain pengikat kepalanya dengan gerakan anggun. "T-tidak usah, Erlang! Jangan lancang memegang jubahku dengan tanganmu yang habis memindahkan tiang gosong itu. Aku cuma sedang berpikir... jalur setapak ini mulai menanjak tajam, jadi aku harus menghemat tenaga."

Erlang terkekeh renyah, membetulkan letak pikulan bambu tuanya yang berderit pelan di pundak kanannya. "Hahaha, nggih, Nimas. Tapi kalau Nimas capek, bilang ya. Saya bisa membuatkan tempat duduk santai dari jalinan akar gantung di depan sana dalam sekejap."

"Aku tidak secengeng itu, Erlang," sahut Sekar ketus, memalingkan wajah cantiknya ke arah deretan tebing kapur. Namun, di dalam hatinya, Sekar menghela napas panjang penuh tekanan batin.

“Gusti Allah... lambang burung garuda mencengkeram ular naga itu... Aku tidak mungkin salah lihat,” batin Sekar bergejolak hebat, matanya menatap kosong ke jalur setapak berbatu di depan mereka. “Itu bukan sekadar segel resmi Kerajaan Jenggala kuno biasa. Itu adalah cap segel milik Tumenggung Rekso Prana... pejabat tinggi urusan sandiyuda di istana ayahku sendiri! Kenapa surat perintah pemusnahan kitab dan silsilah keluarga Erlang bisa keluar dari kuasanya?”

Rasa ngeri sekaligus dilema moral yang luar biasa mendadak menghimpit dada Sekar Arum. Selama ini, ia hanya memperkenalkan dirinya kepada Erlang sebagai seorangan musafir putri bangsawan mandiri yang sedang melarikan diri dari perjodohan kolot di wilayah wetan. Ia sengaja merahasiakan identitas aslinya, bahwa dirinya adalah Sekar Arum Ningrum, putri mahkota kerajaan jenggala yang pastinya memiliki pengaruh besar di pusat pemerintahan. Jika Erlang sampai tahu bahwa orang yang diduga kuat menggerakkan pasukan bayaran Gagak Hitam untuk membantai Mbah Wiro dan memburu kitabnya adalah orang dekat di lingkaran keluarga kerajaan, hubungan persahabatan dan kerja sama yang baru saja terjalin di antara mereka berdua pasti akan hancur seketika.

"Erlang," panggil Sekar perlahan, meredam getaran suaranya agar terdengar sealami mungkin. "Kira-kira... kalau seandainya musuh yang memburu kitab tanpa namamu itu ternyata adalah orang yang sangat berkuasa... orang dari kalangan keraton atas yang memiliki ribuan pasukan bergolok murni, apa yang akan kau lakukan?"

Erlang menghentikan langkah kakinya sejenak, menoleh menatap Sekar dengan sepasang mata jernihnya yang melebar polos. "Waduh, Nimas. Pertanyaannya kok berat sekali toh, mirip bobot gelondongan kayu jati tua. Memangnya kenapa Nimas mendadak bertanya begitu? Apa Nimas melihat sesuatu yang aneh di potongan surat tadi?"

Sekar agak gugup, sepasang pipinya merona merah samar karena takut rahasianya terendus oleh kepolosan Erlang. Ia buru-buru mendengus kecil, memasang kembali lagak jual mahalnya yang khas. "Aku kan cuma berandai-andai secara nyata, Bodoh! Kita baru saja melihat cap segel resmi Jenggala. Itu artinya lawanmu bukan lagi preman pasar Kediri atau perompak caping Pantai Selatan. Aku cuma mau tahu seberapa besar nyali pelindungku ini sebelum kita terlanjur masuk ke dalam Goa Langse."

Erlang tersenyum simpul, kembali melangkah santai di samping Sekar menembus rimbunnya semak perbukitan. "Oalah, begitu toh... Ya kalau menurut saya yang bodoh ini, Kangmas atau Gusti pejabat di keraton itu pasti cuma salah paham saja, Nimas."

"Salah paham bagaimana?" tanya Sekar, alisnya bertaut rapat, batinnya sangat penasaran dengan jalan pikiran Erlang yang selalu di luar dugaan standar dunia persilatan.

"Ya iya toh," jawab Erlang enteng sembari mengayunkan sebelah tangannya yang bebas. "Mereka pasti mengira kitab kulit tanpa nama di balik baju saya ini adalah kitab pusaka sakti yang bisa dipakai untuk merebut takhta kerajaan atau menghancurkan tatanan negara. Padahal... Ketika saya baca, isinya cuma gambar-gambar jalur darah untuk mengusir pegal-pegal setelah memikul kayu, lalu ada cara membuat jamu penghangat badan dari jahe dan sereh. Tidak ada gunanya sama sekali buat orang-orang keraton yang sudah punya banyak emas dan pelayan."

Sekar Arum memandangi Erlang dengan tatapan mata yang campur aduk antara ingin tertawa gemas sekaligus merasa miris. “Pemuda bodoh... kau tidak tahu saja kalau isi gambar jalur darah yang kau sebut 'pengusir pegal-pegal' itu adalah dasar ilmu inti murni tenaga dalam yang bisa membuat seorang pendekar biasa menjatuhkan bos bajak laut dalam tiga kali tepukan tangan,” batin Sekar meratapi ketidakpekaan Erlang.

"Jadi," lanjut Sekar lagi, memancing lebih dalam dengan nada ketus yang dibuat-buat. "Kalau nanti kau bertemu langsung dengan pejabat yang mengirim surat itu, kau tidak akan memenggal kepalanya untuk membalas dendam atas terbakarnya pondok Mbah Wiro atau kematian orang tua-mu?"

"Waduh, Gusti... memenggal kepala orang itu kan dosa besar, Nimas Sekar. Lagipula saya tidak punya keahlian memotong leher manusia, kalau memotong batang singkong baru saya jago," bela Erlang panik, melambaikan kedua tangannya dengan wajah melas. "Kalau nanti takdir Gusti Allah mempertemukan saya dengan pejabat itu, saya cuma mau menyeduhkan wedang jahe hangat buat beliau. Lalu saya akan tunjukkan kitab ini dan bilang baik-baik, 'Paman Pejabat, ini lho kitabnya silakan dibaca sendiri, beneran tidak ada resep merebut kerajaan kok. Jadi tolong jangan suruh orang berbaju hitam membakar rumah warga lagi ya, kasihan.' Nah, kalau sudah begitu, urusannya kan bisa selesai dengan damai tanpa ada darah menetes di atas pasir."

Sekar Arum tertegun, langkah kakinya melambat di atas tanah kapur yang putih. Jawaban Erlang yang kelewat jujur, polos, dan tanpa dendam sedikit pun itu justru terasa seperti tamparan batin yang sangat keras bagi Sekar. Di dunia keraton tempat Sekar tumbuh, setiap jengkal tanah dan kata perintah selalu dipenuhi oleh intrik, pengkhianatan, serta perebutan darah yang kejam. Namun di sini, di bawah terik matahari selatan, seorang pemuda miskin berbaju lusuh justru menawarkan wedang jahe kepada orang yang ingin melenyapkan nyawanya.

Rasa bersalah di dalam dada Sekar kian menebal, membuat rahasia tentang identitas ayahnya dan Tumenggung Rekso Prana terasa kian berat untuk dipikul sendirian. Namun, ia tahu betul situasi batin saat ini belum tepat. Jika ia membongkar siapa dirinya sekarang, fokus mereka untuk menyelamatkan Mbah Wiro di Goa Langse pasti akan buyar berantakan oleh kecurigaan.

"Nimas Sekar? Kenapa melamun lagi toh?" Erlang menepuk pundak Sekar dengan ujung ranting jati kecil, menjaga jarak aman agar tidak melanggar aturan jengkal yang dibuat Sekar tadi pagi. "Itu di depan jalan setapaknya mulai bercabang dua. Yang satu turun ke arah celah karang bawah yang gelap, yang satu naik ke puncak tebing kering. Kita ambil jalur yang mana menurut tebakan Nimas?"

Sekar buru-buru menguasai diri, menyembunyikan badai batin di wajah cantiknya yang tertutup penyamarannya, dengan helaan napas yang diatur senormal mungkin. Ia berjalan mendahului Erlang, menunjuk ke arah jalur celah karang bawah yang dipenuhi oleh semburat kabut tipis berbau garam laut.

"Kita ambil jalur bawah yang menuju celah tebing Goa Langse, Erlang," perintah Sekar Arum dengan nada suara yang kembali tegas dan berwibawa. "Mbah Wiro pasti memilih jalur yang memiliki banyak tempat persembunyian untuk menghindari kejaran mata-mata pasukan bayaran."

"Nggih, Nimas Sekar. Pilihan yang sangat cerdas," puji Erlang tulus, kembali memikul bambu tuanya dan berjalan membayangi di belakang Sekar dengan kesetiaan seorang pelindung yang tak tergoyahkan.

Sekar terus melangkah menuruni celah karang yang curam, membiarkan rahasia besar tentang segel resmi istana ayahnya terkunci rapat di dalam lubuk batinnya yang terdalam untuk sementara waktu. Di bawah langit sore yang kian temaram, kedua pengembara muda itu terus bergerak merayap masuk ke dalam keheningan tebing kapur purba, melangkah beriringan demi menyingkap tabir misteri tanah selatan tanpa menyadari bahwa jaring-jaring takdir keraton kini mulai berpilin kian erat di sekeliling langkah kaki mereka.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!