Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007: Salep Kecil
"Tidak perlu."
Kevin akhirnya bicara setelah hening terlalu lama.
Meilin menurunkan pandangannya dari bekas luka itu. "Aku belum beli."
"Bagus. Jangan beli."
"Tapi..."
"Itu cuma bekas luka lama."
Suaranya datar, tapi jari Kevin bergerak ke sisi telinganya, menutup garis tipis itu dengan gerakan yang terlalu cepat untuk disebut santai.
Meilin melihatnya. Dia tidak mengejar.
"Baik," katanya pelan. "Aku tidak beli sekarang."
Kevin menatapnya, mungkin menangkap kata sekarang, tapi dia tidak berkomentar. Dia menutup buku catatan kecil itu dan menggesernya kembali ke arah Meilin.
"Selesaikan pesananmu dulu."
Itu menjadi izin untuk mundur.
Meilin mengambil pensil, membuka file referensi di ponsel, lalu melanjutkan sketsa pasangan itu sampai melewati tengah malam. Kevin duduk di sisi lain meja, mengerjakan sesuatu di laptop. Mereka tidak banyak bicara. Hanya sesekali Kevin memberi tahu kalau bayangan wajah terlalu keras, atau ukuran file sebaiknya disimpan dalam dua versi.
Aneh.
Kamar yang sama, lantai yang sama, kipas tua yang sama, tapi malam itu tidak terasa seperti medan perang.
Pukul satu lewat, Meilin mengirim file final dengan resolusi kecil untuk dicek. Pembeli membalas lima belas menit kemudian.
Pembeli: Suka banget, Kak. Saya lunasi sekarang.
Meilin menahan napas sampai notifikasi e-wallet berbunyi.
Saldo bertambah 75 ribu rupiah lagi.
Total pertama: 150 ribu.
Dia ingin bersorak, tapi melihat Kevin masih mengetik dengan wajah lelah, dia hanya mengepalkan tangan kecil di bawah meja.
Kevin melirik. "Masuk?"
Meilin mengangguk.
"Catat."
"Sudah."
"Kirim file final."
"Sudah juga."
Kevin berhenti mengetik, lalu menatapnya.
"Kamu cepat belajar."
Pujian itu pendek, hampir seperti laporan pekerjaan. Tapi tetap saja, Meilin merasakan pipinya hangat.
Keesokan paginya, Meilin membagi uang itu dengan lebih rapi. Sebagian untuk makan, sebagian untuk token listrik, sebagian untuk kertas gambar. Dia menatap sisa saldo beberapa lama.
Salep bekas luka yang kemarin dia lihat di aplikasi masih terlalu mahal. Tapi ada ukuran kecil dari apotek dekat kos. Tidak sebagus merek mahal, namun cukup untuk mencoba.
Dia ragu hampir sepuluh menit.
Kevin sudah bilang tidak perlu.
Tapi Kevin juga selalu bilang tidak perlu makan banyak, tidak perlu dibantu, tidak perlu dikhawatirkan. Kalau semua kata tidak perlu dari Kevin dituruti, pria itu mungkin akan membiarkan dirinya habis pelan-pelan.
Meilin akhirnya membeli satu tube kecil.
Di apotek, kasir perempuan melihat catatan belanjanya dan bertanya, "Untuk luka baru, Kak?"
"Bekas luka lama."
"Pakai rutin saja. Jangan berharap langsung hilang."
Meilin mengangguk. "Tidak apa-apa. Saya cuma mau coba."
Dia menyimpan salep itu di kantong kain bersama telur, sayur, dan kertas gambar. Benda kecil itu terasa lebih berat daripada seluruh belanjaan.
Malamnya, Kevin pulang dengan hujan menempel di rambut dan bahu.
Tangerang sedang turun hujan deras. Air dari ujung rambutnya jatuh ke lantai kos. Kemejanya basah di bagian punggung, dan tangan kirinya memegang tas laptop seolah melindungi benda itu lebih dulu daripada tubuhnya sendiri.
Meilin langsung berdiri.
"Kamu kehujanan?"
"Gerimis."
Di luar, suara hujan menghantam atap seng seperti ribuan kerikil.
Meilin menatapnya.
Kevin mengalihkan pandangan. "Sedikit deras."
Dia hampir tersenyum, tapi menahannya. "Ganti baju dulu. Aku buat air hangat."
"Tidak usah."
"Air hangatnya untuk diminum, bukan mandi. Pemanasnya masih rusak."
Kevin tidak punya jawaban untuk itu.
Sambil Kevin mengganti baju di kamar mandi kecil, Meilin membuat teh tawar hangat dan memanaskan nasi. Makanan malam itu masih sederhana, tapi ada sayur bening dan telur dadar yang tidak terlalu asin. Kevin makan tanpa komentar. Itu sudah kemajuan.
Setelah makan, Meilin mengeluarkan tube salep dari kantong.
Kevin langsung melihatnya.
"Aku bilang tidak perlu."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa beli?"
"Karena sekarang aku punya uang dari gambarku."
Kevin diam.
Meilin meletakkan salep di meja, tidak langsung menyentuhnya.
"Aku tidak akan paksa. Kalau kamu tidak mau, aku simpan saja."
Kevin menatap tube kecil itu. Hujan masih berbunyi keras di luar. Dalam cahaya lampu yang redup, bekas luka dekat telinganya tampak lebih gelap karena rambutnya masih basah.
"Bekas luka lama tidak mudah hilang," ucapnya.
"Aku tahu."
"Mungkin tidak akan hilang."
"Kalau begitu setidaknya kulitnya tidak kering."
Kevin menatap Meilin.
Jawaban itu terlalu sederhana. Tidak ada janji muluk, tidak ada kata-kata manis bahwa semua luka bisa sembuh. Hanya satu perhatian kecil yang bisa dilakukan malam ini.
Meilin membuka tutup salep, mengeluarkan sedikit di ujung cotton bud yang baru dia beli dari apotek.
"Boleh?"
Kevin tidak menjawab.
Meilin menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Akhirnya, Kevin duduk lebih tegak dan sedikit memiringkan kepalanya.
Itu bukan kata iya, tapi cukup.
Jari Meilin hampir gemetar ketika dia mendekat. Jarak mereka sangat dekat sampai dia bisa mencium aroma hujan di rambut Kevin, bercampur sabun murah dan lelah yang tidak punya bau tetapi terasa.
Dia mengoleskan salep itu pelan di sepanjang bekas luka tiga sentimeter.
Kulit Kevin bergerak halus di bawah sentuhan cotton bud.
Meilin menahan napas.
"Sakit?"
"Tidak."
"Kalau tidak nyaman, bilang."
"Cepat saja."
Nada Kevin masih dingin, tapi dia tidak menjauh.
Meilin menyelesaikannya dengan hati-hati, lalu menutup tube salep. Tangannya baru turun ketika Kevin tiba-tiba berkata, "Jangan beli yang mahal."
Meilin berkedip.
"Apa?"
"Salep. Jangan beli yang mahal. Uangmu untuk kertas gambar dulu."
Sesuatu di dada Meilin menghangat.
Dia menunduk, menyembunyikan senyum. "Baik, Ko."
Malam itu, sebelum tidur, Meilin menulis jadwal kecil di catatannya.
Pagi: gambar.
Sore: belanja hemat.
Malam: salep untuk Kevin.
Dia menatap baris terakhir cukup lama. Di sisi lain ruangan, Kevin berbaring di tikar tipis membelakangi kasur seperti biasa. Tapi kali ini, sebelum mematikan lampu, dia berkata pelan, "Besok jangan tunggu aku terlalu malam."
Meilin menoleh.
"Kenapa?"
"Aku mungkin pulang lewat tengah malam."
"Kerja tambahan?"
"Iya."
Meilin ingin berkata jangan terlalu capek. Tapi dia tahu kalimat itu tidak akan didengar.
Jadi dia hanya menjawab, "Aku sisakan makan."
Kevin tidak membalas.
Namun setelah beberapa saat, suaranya terdengar lagi, lebih pelan dari hujan di luar.
"Jangan terlalu asin."