NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031

Komisi Pertama

Untuk sementara, diamnya adalah bentuk izin yang paling bisa Bunga terima.

Diam itu bertahan hampir dua hari.

Rangga tetap ada di kepalanya. Bunga tahu dari cara pikirannya kadang terasa terlalu penuh, dari rasa pahit teh melati yang tiba-tiba membuatnya ingat suara seseorang, dari kebiasaan baru memeriksa pintu keluar setiap masuk ruangan. Namun ia tidak memberi instruksi panjang. Tidak mengambil alih kalimat. Tidak menyentuh kendali tubuhnya.

Awalnya Bunga menikmati itu.

Lalu ia mulai kesal.

"Kamu masih hidup, kan?" tanyanya pada malam kedua, sambil duduk di lantai kos dan memilah kartu nama kecilnya.

"Secara teknis, tubuh saya masih koma."

"Jangan pakai jawaban orang hukum."

"Saya ada."

Bunga menaruh satu kartu nama yang sudutnya terlipat. "Kamu diam banget."

"Saya sedang menghormati batas."

Kalimat itu membuat dadanya sedikit melunak, walau ia tidak mau mengakuinya.

"Menghormati batas bukan berarti jadi patung."

"Baik. Kalau saya ingin memberi saran, saya akan bertanya dulu."

"Coba."

Rangga hening setengah detik. "Boleh saya memberi saran tentang kartu nama yang kamu pegang terbalik?"

Bunga melihat tangannya. Benar. Kartu itu terbalik.

"Boleh. Tapi jangan sombong."

"Terlambat."

Bunga tertawa kecil, pertama kalinya sejak luncheon itu tanpa rasa tertahan.

Keesokan paginya, efek nama Wicaksana mulai datang.

Bukan dalam bentuk undangan resmi atau mobil hitam di depan gang. Lebih kecil, lebih licin, lebih berguna: pesan WhatsApp dari seorang perempuan yang duduk dua meja dari Bunga saat luncheon.

Kak, ini Bunga yang kemarin? Aku dapat nomor dari grup. Kamu bisa bantu jual tas branded preloved secara discreet? Butuh cepat, tapi jangan masuk marketplace umum.

Bunga membaca pesan itu tiga kali.

"Preloved?" gumamnya. "Maksudnya bekas tapi kalau orang kaya bilang bekas, jadi terdengar bersih?"

"Kurang lebih," kata Rangga.

"Dia mau jual karena butuh uang?"

"Atau butuh mengosongkan lemari sebelum suaminya bertanya. Motif tidak penting selama transaksinya sah."

Bunga menatap ponsel. Ada foto tas warna cokelat tua, struk lama yang sengaja dipotret setengah, dan kalimat: kondisi masih bagus, cuma ada bekas kecil di sudut.

"Boleh saya memberi saran?" tanya Rangga.

Bunga menahan senyum. "Boleh."

"Jangan jadi pembeli. Jadi perantara. Minta foto detail, bukti pembelian, kondisi sudut, resleting, bagian dalam, dan kesepakatan komisi tertulis. Jangan pegang barang tanpa tanda terima."

"Aku juga tahu jangan pegang barang mahal tanpa bukti. Di pasar saja kalau titip sandal harus jelas."

"Bagus. Terapkan versi pasar pada tas mahal."

Bunga mulai mengetik.

Bunga: Bisa dibantu. Aku perlu foto detail semua sisi, bagian dalam, nomor seri kalau ada, bukti pembelian, dan harga minimum yang Kakak mau terima. Komisi aku 8 persen kalau deal, tertulis di chat ini.

Ia berhenti. "Delapan persen kebanyakan?"

"Untuk transaksi cepat dan discreet, wajar. Tapi tulis bahwa biaya pengiriman/asuransi ditanggung pihak yang disepakati."

"Kamu kalau jualan di pasar pasti ditinggal pembeli."

"Karena itu saya tidak jualan di pasar."

Balasan datang cepat. Perempuan itu setuju.

Siang itu Bunga bekerja seperti sedang membongkar rahasia negara. Ia memperbesar foto jahitan, meminta video resleting dibuka tutup, meminta tas difoto di bawah cahaya matahari, bukan lampu kamar. Rangga mengajarinya melihat konsistensi dokumen dan harga pasar. Bunga mengajarinya melihat hal yang tidak tertulis.

"Lihat," kata Bunga, menunjuk layar. "Dia bilang cuma bekas kecil di sudut, tapi bagian pegangan mengilap. Itu sering dipakai. Harganya harus turun."

"Pengamatan bagus."

"Aku pernah jual baju bekas. Orang yang bilang 'baru sekali pakai' biasanya maksudnya baru sekali ketahuan orang lain."

Rangga terdiam.

"Apa?"

"Saya sedang mencatat teori pasar kamu."

"Bayar royalti."

Melati membantu memasukkan Bunga ke satu grup kecil jual beli barang branded di antara teman-teman socialite, dengan peringatan panjang.

Melati: Jangan percaya semua orang. Banyak yang manis kalau minta cepat, hilang kalau ditagih.

Bunga: Aku dari kampung, bukan bayi tabung sosialita. Tenang.

Melati: Justru karena kamu bukan dari sini, aku kasih peta ranjau.

Bunga membaca kalimat itu lebih lama daripada perlu. Peta ranjau. Ia punya banyak peta sekarang. Peta Hartono, peta Wicaksana, peta Ratih, dan hari itu, peta tas mahal.

Pembeli muncul dari grup menjelang sore. Seorang perempuan yang ingin tas itu untuk acara minggu depan, tetapi tidak mau suaminya tahu ia membeli baru. Bunga mengatur pertemuan di lobby apartemen yang ramai, bukan di kamar, bukan di mobil. Ia memakai blouse hijau tua, celana paling rapi yang ia punya, dan membawa notes kecil.

"Boleh saya memberi saran terakhir?" tanya Rangga ketika ia masuk ojek online menuju apartemen.

"Boleh."

"Kalau mereka bicara cepat, kamu lebih lambat. Orang mengira yang lambat itu punya kuasa."

"Di kampung, yang bicara lambat biasanya ngantuk."

"Jakarta punya tafsir berbeda."

Transaksi berlangsung tiga puluh menit.

Penjual datang dengan kacamata besar dan wajah cemas. Pembeli datang dengan parfum tajam dan senyum tidak sabar. Mereka sama-sama mencoba membuat Bunga merasa kecil. Bunga membiarkan mereka sampai tas dibuka di atas meja lobby.

Lalu ia mengambil alih dengan caranya sendiri.

"Kita cek bareng. Pegangan ada bekas pakai, jadi harga tidak bisa sesuai foto awal. Sudut kiri ada gesekan. Bagian dalam bersih. Resleting lancar. Bukti pembelian ada, tapi nama ditutup, tidak masalah asal Kakak berdua setuju tertulis di chat."

Pembeli menatapnya. "Kamu sudah sering jualan begini?"

Bunga tersenyum. "Saya sering lihat orang bilang barang bagus padahal tidak. Barangnya saja yang berubah harga."

Rangga di kepalanya tertawa sangat pelan.

Harga turun dua juta dari permintaan awal. Penjual mengalah karena butuh cepat. Pembeli setuju karena masih merasa menang. Bunga menulis ringkasan di chat, meminta kedua pihak membalas setuju, lalu menunggu transfer masuk sebelum tas berpindah tangan.

Komisinya masuk lima menit kemudian.

Satu juta rupiah.

Bunga menatap notifikasi saldo sampai angka itu seperti berkilau.

Bukan uang pinjaman. Bukan pemberian Melati. Bukan sisa makanan dari gala. Bukan hasil menyusup dan berharap tidak tertangkap.

Uang itu lahir dari matanya sendiri, mulutnya sendiri, dan sedikit ilmu Rangga yang kali ini diberikan dengan izin.

"Selamat," kata Rangga.

Bunga keluar dari lobby apartemen dengan langkah ringan yang ia coba sembunyikan. Di depan minimarket, ia berhenti dan membeli air mineral dingin, plester baru, serta dua gorengan dari penjual gerobak di dekat gerbang.

"Kamu mau komentar soal minyaknya?" tanya Bunga.

"Saya memilih menghormati batas."

"Ini bukan batas. Ini gorengan."

"Kalau begitu, boleh saya menyarankan kamu memilih yang baru diangkat?"

Bunga tertawa dan menunjuk bakwan yang masih mengepul.

Sambil menggigit bakwan panas, ia membuka notes di ponsel dan menulis judul baru.

Bisnis Preloved dan Titip Beli.

Di bawahnya, ia menulis angka komisi pertama.

Satu juta.

Untuk pertama kalinya, tangga yang ia cari tidak terlihat seperti laki-laki kaya, keluarga besar, atau nama Wicaksana.

Tangga itu terlihat seperti daftar harga, foto detail, chat tertulis, dan keberanian meminta komisi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!