"Ada banyak cara mencintai"
Helena berjuang untuk mendapat hati Edgar, tetangganya. Mencuri perhatian saat pria itu menjadi dosen tamu di kampus, bertingkah lucu saat weekend, atau mencoba melakukan segala cara agar bisa berbicara dengan pria itu.
Apakah Edgar akan luluh?,
Tapi, kenyataan pahit harus diterima Helena. Saat mengetahui bahwa Edgar adalah mantan ibunya.
Bagaimanakah Helena menata Hati saat merelakan Edgar menikahi ibunya.
Helena memilih kuliah di luar negeri, sampai suatu saat kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet and dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Helena dan Edgar pulang dari belanja.
"Uncle.. sebenarnya. Helena suka uncle" Ucap Helena pelan, antara malu dan takut akan reaksi Edgar
Saat ini mereka mereka. berdua di mobil.Jalanan yang mereka lewati sepi, cukup jauh dari kompleks perumahan atau aktrivitas yang ada manusia lain selain mereka berdua
"Helena? " suara Edgar terkejut, tak percaya pada apa yang barusan ia dengar.
Edgar menepikan mobil, dan memarkirkan mobil di tepi jalan.
"Gak papa kok uncle,.. Helena cuma..." Ucap Helena berpura-pura seolah tak pernah mengatakan hal itu, padahal sudah jelas bahwa Edgar sampai menepikan mobil karena kalimat yang barusan ia katakan.
"Cup" mata Helena membelalak, Edgar mencondongkan badan kearahnya dan menciumnya.
"....a.." Helena hendak menyebut nama uncle Edgar tapi baru juga menyebut a, bibir pria itu melumat bibirnya,
"lembut.. " ucap Edgar setelah merasakan bibir gadis itu.
"Bahaya" Gumam Helena pelan, memegangi bibirnya yang basah karena persilatan dua senjata runcing nan lembut.
"Bahaya? " Ucap edgar mengekerutkan kening, bingung pada gumaman gadis itu.
Seharusnya dia sudah tahu, Edgar bukanlah boy diluar sana yang gaya pacarannya masih pakai pernyatan, kata-kata manis. Tapi lebih dari itu yaitu sentuhan.
"Saya juga menginginkan kamu" jawab Edgar
"Ha? " respon Helena mendengar itu keluar dari. bibir yang baru saja dari. bibir yang memberinya sensasi pria dewasa.
Tangan pria itu masih di pipinya, kini mulai mendekatkan wajahnya lagi. Untung mobil milik Edgar tipe kaca yang gak kelihatan dari luar alias kaca film.
Mereka saling berbagi kehangatan, berbagi kelautan. Edgar menang besar, dapat mencicipi manisnya bibir Helena.
"thanks for Take my first kiss uncle" ucap Helena semakin mebuat perasaan Edgar melangit.
Pria itu menyesal, melumat habis sari bibir Helena. Bibir gadis itu mulai mebengkak.
"Sebentar" Edgar melepaskan tautan bibir mereka, Edgar membuat Helena duduk dipangkuannya.
"Uncle ini sangat.... " Ucap Helena pelan dan malu-malu, wajah gadis itu memerah.
"Dan.. ini dipinggir jalan uncle, bagaimana kalau orang lain melihat" Ucap. Helena sedikit meringis ketakutan.
"Kaca mobil saya aman, dan kita akan celaka kalai kamu mengeluarkan suara aneh" jelas Edgar tersenyum miring dan terdengar dingin
"Maksud uncle? " Tanya Helena polos
Edgar lalu mencium gadis itu, melumat dan menyesap. bibir yang menjadi candu. katakanlah dia sudah gila, dengan fakta bahwa umur mereka cukup jauh untuk dikategorikan sebagai sepasang kekasih.
"ah...hn..uncle" Ucap Helena mendesah, Dia menutup mulut dengan kedua tangan saat Edgar mulai meremas salah satu mainan kesukaan pria dewasa.
"Uncle.. cukup.. " rintih Helena sambil mencoba mendorong dada pria itu, dan berusaha menahan tangan nikal si pria dewasa.
Namanya juga pria dewasa Helena, berpengalaman. 😏..
"Helena... Helena" panggil Edgar ketika mereka sudah sampai di depan rumah Helena. Helena yang memperhatikan Edgar, ternyata itu hanya khayalan Helena.
"Kalau dipikirr-pikir pasti uncle udah banyak pengalaman sama wanita-wanita cantik, siapalah aku ini. Cuma mahasiswa yang kebetulan tetangganya" Pikir Helena miris dengan dirinya sendiri.
"Helena" panggil. Edgar lagi menyadarkan Helena.
Helena merenggangkan kedua tangannya keatas, kedua dadanya menonjol ke depan.
"shit, hanya gerakan begitu saja bisa mebuattku kepanasan, gila kamu edgar" pikir Edgar.
Edgar sering dihadapkan dengan wanita yang bahkan lebih terbuka pakaiannya, saat pergi Ke Bar atau sekadar Blind date yang berakhir di ranjang. Katakanlah dia cukup brengsek, bersikap dingin pada wanita. Tapi itulah daya tariknya, wanita-wanita itu tergila-gila dengan sikap dinginnya, tanggan manly, dan kekayaannya. Tapi baru kali ini, hanya gerakan sesederhana itu mampu membuatnya panas.
Mereka berdua kini turun dari mobil, setelah berlelah-lelah keliling belanja. Tapi buat Helena today is one of the best day ever. Edgar untuk yang ketiga kalinya ke rumah Helena, membantu membawakan tas-tas belanja yang ada di bagasi. Sebagian besar milik Helena.
Helena membawa tas belanja yang kecil, sedang yang besar ia percayakan pada pria dewasa itu.
Melihat betapa manly nya Edgar, Edgar bergerak begitu cepat.
"Barang-barang hanya tersisa yang kecil. Mungkin kamu bisa angkat sendiri. Boleh saya pinjam toilet sebentar" ucap Edgar agak tergesa dan nafas tercekat.
Helena makhluk, mungkin Edgar ingin pipis makannya wajahnya memerah dan suaranya menjadi aneh begitu.
"Disitu uncle toiletnya" Helena menunjukkan arah toilet di dekat kitchen.
"arghh" Edgar terburu-buru ke toilet, dengan suara frustasi dia bersolo karir.
"Gila" gumamnya sambil membayangkan tengkuk, dan dada yang membusung milik Helena
"Helena" gumam Edgar pelan menyebut nama gadis itu di akhir peepasannya.
15 menit Edgar berada di sana, melepas rasa panas dan bibit unggul nya. Rasa kesal menggebu, bagaimana bisa dia melakukan hal memalukann sambil membayangkan wajah gasis itu, wajah Helena yang mirip Sandra. Bahkan dia menyebut nama gadis itu.
Edgar. membersihkan toilet Helena, sebab bibitnya menyebar. banyak di dinding.
"Am I crazy? " gumam. Edgar sambil menyemprotkan air ke dinding.
Sementara, Helena menyiapkan minuman Matcha Latte untuk mereka berdua juga Ice cream Cup.
"Uncle, sini" Helena melambai Edgar untuk. mengajak pria itu bergabung di living room. untuk menikmati minuman dan ice cream.
Flash back
Saat Edgar ke toilet dekat kitchen. Helena berlari kecil ke lantai atas untuk berganti underwere
"Bisa-bisanya lengket gini" gumam Helena saat mengganti daleman, hasil dari lamunan yang memalukan saat di mobil.
Flash back off
"Yummy" Ucap. Helena kegirangan merasakan manis dan segarnya ice cream rasa strawberry.
"Uncle silakan diminum matcha latte nya" ucap Helena Chill, mempersilakan Edgar untuk meminum matcha latter special buatannnya.
"Saya nggak terbiasa, rasanya.. seperti rumput" Ucap Edgar datar, lalu mengambil ice cream Cup rasa coklat.
"Enak itu uncle, my favorit. lagian Emangnya uncle pernah makan rumput..? " tanya Helena polos dengan dahi mengkerut, terdengar menyebalkan di telinga Edgar.
"Emangnya dia pikir saya sapi, kambing dan teman-temannya" gumam Edgar kesal terhadap Helena
"Intinya im not used to drink it" lanjut Edgar datar.
"Uncle, having lunch disini ya" pinta Helena dengan mata di imut-imut kan
"Saya ... " Jawab Edgar yang hendak menolak.
"Helena udah pesan makanannnya bentar lagi sampai" Potong Helena,
"Iya" kini Edgar bisa berbuat apa-apa lagi selain mengiyakan permintaan gadis itu.
20 menit kemudian makanan yang di order Helena sudah sampai. Ada Ayam Goreng Satu ekor cukup besar, lalu minuman Boba. lalu Helena juga memesan menu lainnya termasuk minuman kopi.
"Ini Kak orderannya" Kurir menyerahkan makanan yang telah Helena pesan.
Saat itu Helena mesti dibuat malu karena perutnya sudah berbunyi
"Wahh kak maaf ya agak lama nunggu ordernya sampe kelaperan" ucap kurir terkekeh
"Iya nih, mas kurir udah bikin saya laper. Tanggung jawab" Canda. Helena ikut tertawa.
"Ini tip nya" Helena memberikan uang dua puluh ribu.
"Wah terimaksih banyak kaka" Ucap Kurir yang sudah tergolong tua itu, mungkin berusia hampir 50.
"Kasian bapak ini, harus kerja saat diterik matahari gini. Gak ada AC, panas-panasan. Semoga Bapak gak bernasib sama dengan driver atau kurir lain yang sampai tidur di tepi jalan atau meninggal karena kelelahan" pikir Helena iba pada profesi kurir tersebut