Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 22: Panggilan dari Meja Hukum
Suasana ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi itu terasa begitu dingin. Udara dari pendingin ruangan yang berembus tidak mampu meredakan ketegangan yang merayap di benak Kirana. Mengenakan pakaian hitam polos tanpa riasan, Kirana duduk di barisan kursi kayu baris depan. Tangannya terus meremas sapu tangan yang sudah basah oleh air mata.
Di sebelahnya, Ibu Ratna duduk dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan dari wanita yang dulunya selalu memamerkan tas-tas bermerek di media sosialnya itu. Di belakang mereka, Riko terus memandangi lantai dengan tatapan kosong, meratapi status mahasiswanya yang kini terancam drop-out karena tunggakan biaya kuliah yang tak lagi dibayar oleh rekening Aldi.
Pintu ruang sidang terbuka, dan perhatian semua orang langsung tersedot ke arah pintu. Tim hukum dari Pratama Group masuk dengan langkah tegap. Dipimpin oleh pengacara korporat legendaris, Bapak Baskoro, tiga orang berpakaian setelan jas mahal itu membawa koper-koper hitam berisi dokumen. Kehadiran mereka yang begitu masif dan profesional membuat pengacara gratisan yang disewa Kirana menggunakan sisa perhiasan terakhir ibunya langsung menciut.
"Di mana Mas Aldi, Pak?" tanya Kirana dengan suara parau saat Bapak Baskoro berjalan melewati kursinya menuju meja penggugat. "Apakah... apakah dia tidak datang sendiri ke sidang pertama pernikahan kami?"
Baskoro menghentikan langkahnya sejenak. Dia merapikan kacamata berbingkai peraknya, lalu menatap Kirana dengan pandangan formal tanpa empati. "Ibu Kirana, untuk perkara perceraian yang sudah jelas landasan hukum dan bukti pelanggaran komitmennya seperti ini, kehadiran fisik Tuan Muda Aldi Pratama sama sekali tidak diperlukan. Beliau telah menyerahkan kuasa penuh mutlak kepada firma hukum kami. Tugas kami di sini sederhana: memastikan gugatan cerai ini dikabulkan dalam waktu sesingkat-singkatnya tanpa ada tuntutan harta gono-gini dari pihak Anda."
"Tapi saya ingin bicara dengannya, Pak! Hanya lima menit! Saya ingin meluruskan semuanya!" pinta Kirana, setengah memohon sambil berdiri dari kursinya.
"Meluruskan apa lagi, Ibu Kirana?" potong Baskoro dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas. "Apakah Anda ingin meluruskan fakta bahwa selama dua tahun Anda membiarkan suami Anda dihina sebagai pria tidak berguna?
Ataukah Anda ingin meluruskan fakta bahwa Anda hampir saja mengkhianati pernikahan ini demi seorang pria bernama Rendy Wijaya yang kini meringkuk di sel tahanan? Semua bukti pesan teks, rekaman suara, dan catatan finansial sudah kami serahkan kepada majelis hakim. Posisi Anda secara hukum sangat lemah."
Ibu Ratna yang mendengar hal itu tidak bisa menahan diri lagi. Dia bangkit dari duduknya dengan air mata yang bercucuran. "Pak Pengacara! Tolong sampaikan pada Aldi!
Kami tahu kami salah! Tapi bagaimanapun, dia pernah menjadi bagian dari keluarga ini! Tolong jangan miskinkan kami seperti ini! Rumah kami mau disita bank karena jaminan dana Aldi dicabut! Setidaknya biarkan Aldi meninggalkan sedikit hartanya untuk Kirana sebagai mantan istrinya!"
Baskoro membalikkan badannya menghadap Ibu Ratna, senyum sinis yang sangat tipis terukir di wajahnya. "Ibu Ratna Sitorus, perlu saya ingatkan. Harta yang Anda nikmati selama dua tahun ini adalah milik pribadi Tuan Muda Aldi.
Berdasarkan hukum, tidak ada hak satu persen pun bagi Anda untuk menuntut harta gono-gini, mengingat seluruh aset yang ada dibeli sebelum pernikahan atau bersumber dari warisan murni keluarga Pratama. Justru, jika Tuan Muda Aldi menghendaki, kami bisa menuntut balik keluarga Anda atas tindakan pencemaran nama baik dan pemanfaatan dana tanpa hak. Jadi saya sarankan, Anda duduk diam dan ikuti proses ini jika tidak ingin berakhir di penjara bersama Rendy Wijaya."
Kalimat menohok dari pengacara papan atas itu seketika membungkam Ibu Ratna. Dia jatuh terduduk kembali di kursinya dengan dada yang naik turun karena syok. Kirana hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah di ruang sidang yang sunyi itu. Dia tahu, hukum pun tidak akan pernah berpihak pada wanita yang telah membuang ketulusan demi sebuah gengsi.