NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Mau balik ke kantor kan? Bareng aja yuuuk, daripada jalan, ntar hitam lho kulitnya!"

"Emmm.... Gimana ya, Pak... "

"Kalau lagi berdua, terus di luar jangan panggil Pak dong, aku belum bapak-bapak kali. Masih single dan jomblo belum ada pasangan!"

"Siapa?" tanyaku.

"Akulah, cowok ganteng di depan kamu ini." ucapnya sambil tersenyum semanis mungkin.

"Siapa yang nanya,!"

"Anjir..... Jangan bikin gemes dong Ran, aku kalau gemes suka ngarungin anak orang! Yuk ah, barengan aja ke kantor. Aku juga mau ke tempatmu. Mau minta jatah!"

"Jatah orderan kan?" tanyaku.

"Iyalah, kalau jatah kasih sayang nanti aja di luar jam kantor," jawab nya.

"Dasar kang gombal!" jawabku.

"Yuk, buruan naik!" ajaknya.

Akhirnya aku memutuskan kembali ke kantor bersama dengan Pak Rengga. Lumayanlah pikirku, daripada panas-panas jalan kaki balik ke kantor.

"Iya deh, tapi ntar ada yang marah nggak? Takutnya ntar ada yang ngelabrak aku lagi. Gara-gara lakinya bonceng cewek lain."

"Aman deh! Kan udah di bilang tadi kalau aku jomblo. Buruan naik, bisa nggak naiknya?" tanya Pak Rengga karena saat ini dia mengendarai motor CBR kesayangannya.

Untungnya, aku selalu pakai celana panjang saat bekerja. Pak Rengga mengulurkan tangannya agar aku bisa pegangan saat naik motor yang terbilang tinggi jika dibandingkan dengan tubuhku yang mungil.

Setelah aku duduk di atas jok motor, dan Pak Rengga memastikan jika posisiku sudah aman, dia mulai menyalakan mesin motornya.

"Pegangan dong, nggak takut jatuh?" tanyanya.

"Nggak usah ambil kesempatan dalam kesempitan ya ganteng," jawabku.

"Aih, melayang Abang Dek dibilang ganteng sama dede' cantik."

" Buruan! Kasihan Mbak Nita. Tadi dia belum makan. Nih, makanannya ada di aku."

"Siap Ibu negara." jawab lelaki itu, kalau terdengar suara deru mesin motor.

Tidak lama, hanya beberapa menit saja kami sudah sampai. Ketika sampai, ternyata ada Mas Yunus di apotik depan. Dia menatapku  tidak berkedip.

"Ran,.. " panggilnya sambil menatapku tajam. "Siapa?" tanyanya sambil melirik Pak Rengga.

"Pak Rengga," jawabku singkat.

"Jadi karena dia kamu nolak aku?"

Aku melirik Pak Rengga yang berdiri di sebelahku. Aku merasa tidak enak dengannya.

"Kamu kenapa sih, Mas? Nggak usah mikir aneh-aneh ya, aku udah jelasin semua lho ke kamu, Mas. Tolong hargai keputusan aku ya, please!" ucapku sambil menangkup kan kedua telapak tanganku di depan dada.

"Maaf ya, Mas. Aku masuk dulu."

Lalu, aku melangkah masuk di ikuti oleh Pak Rengga. Ternyata, kedatangan kami di sambut Pak wandi yang saat itu ada di meja nya. Tempat nya biasa bertemu dengan tamunya.

"Alamat ini," gumamku lirih tapi ternyata masih bisa di dengar oleh Pak Rengga.

"Alamat apa?" tanya nya.

"Ada Pak Wandi. Alamat habis ini kena plonco!"

"Santai aja. Bos mu itu orangnya paling slow... "

"Ya udah, aku langsung ke ruanganku ya, Pak!"

"Abang, bukan Pak!"

"Iddiiih..... Maunya." jawabku sambil berlalu.

"Wiiddiiih... Habis janjian sama Mas Rengga ya?" tanya Pak Wandi.

"Nggak sengaja tadi ketemu di warung pas mau balik, Pak." jawabku.

"Janjian juga nggak apa-apa, kan sama-sama single!" ujar Pak Wandi.

"Emang boleh ya, Pak. Tak culik bentar gitu kapan-kapan. Gak jauh kok, bentar aja.... Makan siang bareng aja." ucap Pak Rengga.

Aku hanya memutar bola mata malas. "Pak, saya ke ruangan dulu ya. Kasihan Mbak Nita, pasti cacingnya yang di perut udah pada demo."

"Iya, Ran. Sekalian nanti tagihannya Mas Rengga keluarin aja nggak papa. Nggak usah nunggu jadwal tagihan. Kasihan, jadwalnya bentrok. Tadi Big bos e wes telpon langsung."

"Iya, Pak." jawabku lalu berlalu masuk ke ruangan ku. Baru beberapa langkah, aku kembali berbalik karena panggilan dari Pak Rengga.

"Tungguin Abang disana ya, jangan kangen ya... Abang mau ngobrol dulu sama Pak Wandi dulu."

"Abang kuning ijo maksudnya? Lampu setopan dong!" ujarku sambil berbalik melanjutkan langkah.

"Hemmmm, susah bener Dek sekedar buat dapat perhatian dari kamu." batin Rengga.

"Ehm, kalau serius jangan cuma dilihat aja. Datengin mak bapaknya. Nti lama-lama pasti anaknya dapat."

"Siap suhu."

Sementara, saat aku masuk ke ruangan ternyata di sana sudah ada Mas Yunus. Tapi aku cuek saja, entah kenapa aku masih merasa kesal dengan lelaki itu.

"Mbak bon, maaf ya lama. Ini aku bawain makan siang sekalian. Belum makan kan?"

"Iya lah lama. Kan baru makan siang sama pacar. Ganjen! Dilarang pacaran di jam kerja!"

Ketus Mas Yunus.

Aku tidak ambil pusing dengan ucapan lelaki itu. Sedangkan Nita, hanya bengong karena belum tahu jika aku balik ke kantor dengan Pak Rengga.

"Makasih, Mbak Bon." jawab Nita.

"Hah, malah terimakasih. Padahal temen kamu habis keluar makan siang bareng pacarnya lho!" ketus Mas Yunus.

"Wait, sama siapa?" tanya Nita.

"Sama pacarnya! Tuh, sekarang pacarnya ada di depan sama Pak Wandi."

"Sama siapa Mbak Bon? Bukannya tadi ketemuan sama Mbak Bia?" tanya Nita keceplosan.

Aku menarik nafas panjang lalu ku hembuskan perlahan. "Tadi nggak sengaja ketemu dengan Pak Rengga di parkiran warung di depan masjid." jawabku tetap fokus pada layar laptop yang ada di depanku.

Tampak Mas Yunus diam saat dia tahu siapa sebenarnya yang aku temui tadi.

"Kamu beneran ketemuan sama Bia?" tanya Mas Yunus.

"Nggak, siapa bilang aku ketemu sama Mbak Bia. Emang aku ada urusan apa? Kan aku habis makan siang bareng sama pacar aku yang sekarang di depan sama Pak Wandi." jawabku membalikkan perkataannya.

"Ran.. "

"Mas, please!"

"Tapi, Ran... "

Aku hanya diam dan terus fokus pada apa yang aku kerjakan saat ini. Sedangkan Nita,mungkin saat ini dia merasa serba salah. Hingga tak lama, Mas Yunus beranjak pergi.

Mungkin benar kata orang, tidak akan ada hubungan pertemanan yang murni antara lelaki dan perempuan. Pasti akan ada rasa yang lain di dalamnya. Ya, aku yang mencoba menepis semua rasaku. Dan dia, lelaki yang saat ini berjuang untuk rasa dalam hatinya. Meski ada satu orang perempuan yang sudah mencurahkan semua rasa sayang dan cinta untuknya.

"Mbak Bon, sorry. Aku salah ngomong ya.... " ucap Nita merasa bersalah.

"Nggak Mbak Bon, nggak papa. Santai saja. Udah, makan dulu aja. Keburu nggak enak ntar bakminya."

"Iya, makasih ya Mbak Bon. Padahal tadi aku udah makan duluan kan sebelum kamu keluar." ucap Nita.

"Nggak papa Mbak Bon, anggep aja perayaan habis di labrak sama istri sah. Hahahha.... " jawabku sambil tertawa.

"Edan, baru kali ini aku lihat orang di labrak tapi malah pesta-pesta. By the way, tadi gimana? Pinisirin aku."

Akhirnyaa, aku ceritakan semua kejadian saat aku istirahat makan siang tadi dan bertemu dengan Mbak Bia. Dari awal hingga akhir, juga saat ketemu sama Pak Rengga.

"Eh, panjang umur. Baru juga di omongin, Pak."

Seloroh Nita saat Pak Rengga masuk ke ruanganku, yang otomatis juga ruangan Nita.

Lelaki itu datang bersama Pak Wandi. Big bos kami yang sangat baik pada karyawan. Tidak ada kesan 'Bossy' pada beliau, beliau menganggap kami semua sama. Satu tim yang harus solid. Karena beliau juga awalnya hanya karyawan biasa, karena kegigihan, tekun dan juga semangat yang tinggi akhirnya usaha yang dirintis dari skala yang sangat kecil sekali hingga akhirnya bisa sebesar ini. Selain itu beliau juga pandai melihat peluang dan celah.

"Ran, tagihan punya nya Kang Mas Rengga sudah kamu siapkan?" tanya Pak Wandi.

"Sudah Pak, Bapak tinggal tanda tangan di giro nya saja." jawabku.

Pria paruh baya, pemilik PT Pratama itu mendekat dan mengecek giro yang aku tuliskan, juga rincian dan jumlah tagihannya. Setelah semua sesuai, giro itupun ditandatangani.

"Pak, ijin minta jatah dulu sama ibu negara ya..." celetuk Pak Rengga.

Mendengar kalimat random itu, Pak Wandi tertawa. "Jatah opo?"

"Jatah orderan, Pak. Jatah tagihannya kan sudah ini. Kalau jatah kasih sayang ya nanti to, pulang kerja," jawab Pak Rengga sambil tertawa.

Beberapa waktu ini, lelaki itu memang sering mampir ke kantor. Dan mulai menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. beberapa orang kantor sudah tahu jika dia berusaha dekat denganku.

Lelaki itu duduk di kursi yang ada di depan mejaku, bersebelahan dengan Pak Wandi. Apalagi yang mereka lakukan selain menggodaku dengan banyolan-banyolan mereka.

"Mas Rengga, saya tinggal dulu ya. Mau ngantar nyonya dulu ke Surabaya. Nengok anak bujang di sana." pamit Pak Wandi.

"Iya, Pak. Monggo, hati-hati di jalan. Saya ijin PeDeKaTe tipis-tipis sambil minta orderan sama Rani ya, Pak!"

"Boleh-boleh, pokok ingat tadi tips dari saya ya..!"

Aku sampai terperangah mendengar apa yang mereka bicarakan. Apalagi rencana lelaki di depanku ini. Sumpah, aku malu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!