Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Nana tidak tidur nyenyak malam itu.
Kotak penyadap, kartu tamu palsu, senyum Albert, dan kalimat Steven berputar seperti lampu pasar malam yang rusak. Tim Lilin ingin melihat apakah tangan cepatmu bisa dipakai untuk hal yang lebih berguna daripada mencuri dompet.
Pagi-pagi, Stella mengetuk pintu kamar kecilnya.
"Kau benar-benar akan ikut Irwan?"
Nana sedang mengikat rambut. "Koko Steven yang menyuruh."
"Justru itu yang membuatku khawatir."
Nana menoleh. "Kupikir kau percaya Koko Steven."
Stella memeluk map kecil di dadanya. "Aku percaya dia. Tapi percaya bukan berarti tenang kalau dia membawa orang ke tempat yang biasa membuat orang pulang dengan wajah pucat."
"Aku bisa menolak?"
Stella tidak menjawab.
Jawaban itu cukup.
Irwan menunggu di garasi samping. Tidak ada mobil mewah, hanya kendaraan hitam tanpa logo dan pintu besi yang terlihat seperti ruang penyimpanan biasa. Ia memberi Nana jaket tipis warna gelap.
"Pakai. Seragammu terlalu mudah diingat."
"Kita pergi?"
"Turun."
Irwan membuka pintu besi. Di baliknya ada tangga menuju bawah tanah.
Nana berhenti.
"Takut?"
"Saya cuma menghitung berapa langkah kalau harus keluar lagi."
Irwan menatapnya sebentar, lalu mengangguk seolah itu jawaban yang benar. "Dua puluh tujuh anak tangga. Di bawah ada dua pintu keluar. Satu ke garasi, satu ke taman barat. Jangan pakai yang kedua kalau tidak tahu kode."
"Kenapa memberi tahu saya?"
"Karena orang panik lebih berbahaya daripada orang takut."
Ruang di bawah tanah itu tidak seperti markas rahasia di film. Tidak ada layar raksasa atau senjata di dinding. Hanya meja kerja panjang, komputer, papan tulis penuh jadwal pengiriman, peta Surabaya, dan beberapa orang yang berbicara pelan. Di salah satu sudut, ada lilin putih kecil di dalam kotak kaca.
Tim Lilin.
Nama itu tiba-tiba terasa masuk akal. Cahaya kecil yang sengaja dijaga agar tidak padam.
Steven berdiri di depan papan tulis, memakai kemeja abu-abu, tanpa jas, tanpa aroma lounge hotel. Ia tampak lebih sadar daripada siapa pun di ruangan itu.
"Kau terlambat dua menit," katanya.
"Saya tidak tahu ini kerja yang pakai absensi."
Salah satu staf menunduk menahan senyum. Irwan pura-pura tidak mendengar.
Steven menatap Nana. "Kau selalu menjawab begitu?"
"Kalau dituduh duluan, iya."
Untuk sesaat, sudut bibir Steven bergerak.
"Baik. Tes pertama."
Irwan meletakkan nampan di meja. Isinya lima benda: kartu akses, dompet kulit, flashdisk, korek api, dan kunci mobil. "Ambil satu benda tanpa membuat pemiliknya sadar."
Nana menatap nampan itu. "Pemiliknya siapa?"
"Aku," kata Irwan.
"Kalau bendanya sudah di nampan, itu bukan mencuri. Itu mengambil barang yang disuruh."
Steven menyilangkan tangan. "Kalau begitu buat sendiri situasinya."
Nana diam beberapa detik. Lalu ia menoleh ke Irwan. "Pak Irwan, tali sepatunya lepas."
Irwan refleks melirik ke bawah.
Saat itulah Nana mengambil kartu akses, menyelipkannya di balik telapak tangan, lalu menggeser korek api sedikit ke posisi bekas kartu. Gerakannya kecil, bersih, tidak memancing mata.
Irwan mengangkat wajah. "Tali sepatu saya tidak lepas."
"Iya."
Nana meletakkan kartu akses di meja depan Steven.
Seorang staf bersiul pelan sebelum cepat-cepat diam.
Steven tidak memuji. Ia mengambil kartu itu dan memeriksa posisi korek api di nampan.
"Kau menutup ruang kosong."
"Kalau ada barang hilang, orang pertama melihat bekasnya. Bukan barangnya."
Irwan menatap Steven. "Dia benar."
"Tes kedua." Steven mengambil tiga kartu tamu dari map, meletakkannya berjajar. "Mana yang palsu?"
Nana tidak menyentuh kartu itu. Ia hanya membungkuk sedikit.
"Yang tengah."
"Alasannya?"
"Foto terlalu lurus. Orang yang membuat kartu asli malas memotong serapi itu. Tinta stempel juga terlalu tebal. Dan..." Nana menunjuk sudut kanan. "Ada bekas lem baru. Kartu palsu semalam juga begitu."
Irwan mengangguk lagi.
Steven mengambil kartu tengah, lalu membaliknya. Di belakangnya ada stiker hitam yang sama seperti kemarin.
"Tes ketiga," kata Steven.
Nana menarik napas. "Masih ada?"
"Kau pikir Tim Lilin merekrut orang karena bisa mengambil kartu dari orang yang melihat tali sepatu?"
"Saya tidak minta direkrut."
"Bagus. Kami juga belum menawarkan."
Ruangan menjadi sunyi.
Nana menatap Steven. "Kalau begitu kenapa saya di sini?"
Steven melempar sebuah foto ke meja. Foto itu memperlihatkan seorang pria berjaket cokelat di area bongkar muat Pasar Atom. Wajahnya tertangkap dari samping. Di tangannya ada amplop putih.
"Pria ini kurir lapangan Victoria Wan. Malam ini dia bertemu seseorang di Pasar Atom. Dia membawa kartu memori kecil berisi daftar orang dalam yang membantu mereka masuk ke audit kemarin."
Nana melihat foto itu. "Kenapa tidak tangkap saja?"
Irwan menjawab, "Kalau ditangkap, jaringan di atasnya hilang. Kami butuh barangnya, bukan orangnya."
"Dan kalian ingin saya mengambilnya."
"Kami ingin melihat apakah kau bisa mendekat tanpa membuatnya curiga," kata Steven.
Nana tertawa sekali, pendek dan tidak lucu. "Jadi akhirnya tetap mencuri."
Steven mendekat satu langkah. "Bedanya, kali ini yang kau ambil bisa mencegah rumah ini dibakar dari dalam."
Nana memegang ujung foto.
Rumah ini bukan rumahnya. Orang-orang di dalamnya bukan keluarganya. Bahkan sebagian dari mereka masih melihatnya seperti noda di lantai marmer.
Tapi Stella berdiri di depan hinaan untuknya. Tamara memberinya makan sebelum bertanya. Bahkan Steven, dengan semua dinginnya, kemarin memperingatkannya lewat kertas kecil.
Nana mengangkat wajah.
"Kalau saya gagal?"
"Irwan menarikmu keluar."
"Kalau Pak Irwan gagal?"
Irwan tersenyum tipis. "Aku jarang gagal."
Steven tidak tersenyum. "Kalau semua gagal, kau lari. Itu keahlian pertamamu, kan?"
Nana menatapnya lama.
Ia seharusnya tersinggung.
Anehnya, ia justru merasa Steven tidak sedang merendahkannya. Ia sedang mencatat fakta dan menyiapkan jalan keluar.
"Saya mau satu syarat," kata Nana.
Irwan mengangkat alis.
Steven berkata, "Apa?"
"Jangan bohong soal risikonya."
Kali ini, Steven diam sedikit lebih lama.
"Baik," katanya akhirnya. "Risikonya, kalau mereka sadar kau mengambil kartu itu, mereka tidak akan menganggapmu anak kecil dari dapur. Mereka akan menganggapmu bagian dari kami."
"Dan itu buruk?"
"Itu berarti hidupmu tidak bisa kembali seperti kemarin."
Nana melihat lagi foto pria berjaket cokelat.
Sejak kapan hidupnya pernah bisa kembali?
Ia mengambil foto itu dan memasukkannya ke saku jaket.
"Jam berapa kita berangkat?"
Irwan menatap Steven, lalu menunduk mencatat sesuatu.
Steven memandang Nana dengan mata yang sulit dibaca.
"Maghrib. Pasar Atom paling ramai setelah itu. Di keramaian, tangan cepat punya tempat bersembunyi."
Nana mengangguk.
Di atas meja, lilin kecil dalam kotak kaca bergerak pelan terkena embusan AC.
Cahayanya tidak besar, tapi cukup untuk membuat bayangan semua orang terlihat lebih panjang di dinding ruang bawah tanah.