"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Papa! Pokoknya Ina mau es krim sekarang! Papa sudah janji tadi di mobil!"
Rengekan manja Sabrina seketika memecah keheningan siang di dalam butik. Bocah kuncir dua itu menarik-narik ujung kemeja Rayyan dengan wajah yang sengaja ditekuk sedalam mungkin.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam mengelilingi sekolah internasional barunya, stamina anak itu seolah kembali penuh hanya dengan memikirkan camilan manis.
Rayyan yang sedang duduk di kursi sofa butik bersama Zia langsung terkekeh. Dia berlutut untuk menyamakan tinggi badannya dengan Sabrina.
"Lho, bukannya tadi waktu keluar dari gerbang sekolah baru, Papa sudah tanya Ina mau mampir beli es krim atau tidak? Kenapa baru merengek sekarang, hmm?"
"Tadi kan Ina lupa, Papa!" sahut Sabrina tanpa dosa, mengerucutkan bibirnya yang gembul.
"Tadi Ina terlalu senang melihat lapangan sekolahnya yang ada perosotan besar. Sekarang setelah sampai di butik Mama, tenggorokan Ina rasanya haus sekali. Pokoknya Ina baru pengen makan es krim lagi sekarang!"
Zia yang sedang menata beberapa helai pakaian di rak gantung hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
"Sabrina, jangan memaksa Papa. Papa baru saja menyetir seharian untuk mengantarmu,"
"Tidak apa-apa, Zia. Tuan Putri tidak boleh kehausan," potong Rayyan cepat sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Zia, membuat Zia hanya bisa menghela napas pasrah. Rayyan kembali menatap Sabrina.
"Ya sudah, ayo kita cari es krim tingkat tiga yang paling besar di dekat sini,"
"Horeee! Sayang Papa banyak-banyak!" pekik Sabrina girang, langsung melompat kecil dan menggandeng erat jemari tangan Rayyan.
Rayyan menegakkan tubuhnya, berjalan mendekati Zia lalu mengecup kening calon istrinya itu dengan lembut.
"Aku pergi sebentar ya, Zia. Menyuap mandor kecil ini dulu agar dia tidak mogok sekolah besok Senin,"
"Iya, Ray. Hati-hati di jalan. Jangan biarkan dia makan es krim terlalu banyak, nanti batuk," pesan Zia dengan senyuman hangat.
"Siap, Calon Istri," sahut Rayyan jenaka sebelum akhirnya melangkah keluar dari butik, membimbing Sabrina menuju mobil yang terparkir di halaman.
Hanya berselang beberapa menit setelah mobil yang dikendarai Rayyan dan Sabrina bergerak membelah jalanan Menteng yang rindang, suasana di sekitar butik Zia kembali sunyi. Pintu pagar besi yang semula terbuka perlahan mulai menutup secara otomatis.
Namun, tepat di depan gerbang, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam dengan kaca yang sangat gelap mendadak berhenti. Mesinnya yang halus perlahan mati. Tak lama kemudian, pintu pengemudi terbuka.
Sosok pria tegap dengan setelan kemeja formal tanpa jas melangkah keluar. Langkah kakinya tampak ragu, namun sorot matanya lurus menatap papan nama emas bertuliskan Zia's Boutique yang terpajang di dinding depan bangunan.
Alfa Abraham.
Persis seperti dugaan Rayyan semalam, Alfa tidak butuh waktu lama untuk melacak keberadaan Zia. Dengan kekuasaan dan jaringan yang dimilikinya, menemukan alamat butik baru Zia di Jakarta adalah perkara yang teramat mudah bagi seorang CEO Abraham Group.
Alfa menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang bergemuruh hebat sejak malam pertemuannya di gedung fashion show. Dia melangkah perlahan, mendorong pintu kaca butik yang berdenting lembut memecah keheningan ruangan.
Zia, yang saat itu sedang berada di ruang belakang merapikan sisa kain, mendengar suara denting lonceng pintu masuk. Mengira bahwa itu adalah salah satu pelanggan pertama yang datang berkunjung setelah melihat beritanya di media, Zia langsung membalikkan tubuhnya dengan senyuman ramah yang sudah tersungging di bibir cantiknya.
"Selamat siang, selamat datang di butik..."
Kalimat Zia seketika terputus di udara. Senyuman ramah yang menghiasi wajahnya menguap dalam sekejap mata, digantikan oleh ekspresi yang mendadak mengeras sekeras batu karang. Tatapan matanya langsung berubah menjadi sedingin es begitu netranya menangkap sosok pria yang kini berdiri di tengah-tengah ruang pamer butiknya.
Alfa berdiri membeku di sana, menatap Zia dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah, kerinduan, dan kehancuran yang mendalam.
"Zia..."
Zia menarik napas dalam-dalam, mencengkeram erat pinggiran meja kasir di sampingnya untuk menetralisir rasa terkejut yang sempat menyergapnya. Mengingat pesan Rayyan semalam, Zia mencoba sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan kepanikan atau ketakutan sedikit pun di depan pria ini. Dia harus terlihat kuat dan tidak terpengaruh.
Dengan langkah yang diatur seanggun dan setenang mungkin, Zia berjalan mendekati Alfa, menghentikan langkahnya dalam jarak beberapa meter agar pria itu tidak bisa menyentuhnya.
"Keluar dari butikku sekarang, Alfa," ucap Zia dengan nada suara yang teramat datar, dingin, dan menusuk, tanpa ada riak emosi sedikit pun.
"Zia, tolong dengarkan aku sebentar saja," mohon Alfa, suaranya terdengar serak menahan sesak di dadanya.
"Aku datang ke sini bukan untuk membuat keributan. Aku hanya ingin bicara baik-baik denganmu. Hanya berdua, tanpa ada pria lain yang mengganggu kita,"
Zia mendengus sinis, menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari menatap Alfa dengan pandangan meremehkan.
"Bicara? Untuk apa lagi? Rasanya malam sembilan tahun lalu sudah memperjelas semuanya, Alfa. Di antara kita, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,"
"Zia, aku tahu aku salah! Aku tahu perbuatanku malam itu tidak bisa dimaafkan!" seru Alfa frustrasi, melangkah maju satu tapak mencoba mendekati Zia, namun Zia langsung mundur satu langkah dengan tegas, memberikan batasan yang tak terlihat di antara mereka.
"Tapi tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan... selama sembilan tahun ini aku tersiksa oleh rasa bersalah, Zia!"
"Itu urusanmu, bukan urusanku," potong Zia cepat, suaranya mendingin bagai salju.
"Rasa bersalahmu adalah hukuman yang memang pantas kamu terima atas kebiadaban yang kamu lakukan dulu. Jadi, jangan bawa penyesalan busukmu itu ke dalam butikku,"
Zia mengarahkan jari telunjuk kanannya lurus ke arah pintu kaca di belakang Alfa.
"Sekarang, aku minta kamu keluar dari sini. Tempat ini adalah tempatku mencari nafkah dengan terhormat, dan kehadiranmu hanya akan mengotori udara di dalam butikku. Keluar, Alfa Abraham. Sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu secara paksa dari tempat ini,"
"Aku tidak akan pernah keluar dari butik ini sebelum kamu memaafkanku, Zia!" tegas Alfa, suaranya naik satu oktav. Dia menatap Zia dengan sepasang mata yang menyiratkan keputusasaan sekaligus keegoisan yang teramat besar.
Zia mengembuskan napas pendek, lalu menatap Alfa dengan pandangan yang luar biasa jemu.
"Memaafkanmu? Aku merasa tidak perlu lagi memaafkanmu, Alfa. Anggap saja kamu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepadaku. Selesai, kan? Hubungan kita sudah berakhir sembilan tahun lalu,"
"Zia, tolong jangan begini..."
"Sekarang, anggap saja kita ini dua orang asing yang kebetulan tidak saling mengenal," potong Zia, suaranya sedingin es.
"Jadi, kamu tidak perlu repot-repot membuang waktumu yang berharga hanya untuk datang ke sini dan mengemis maaf dariku,"
"Aku tidak peduli!" seru Alfa, wajahnya mengeras jengkel namun matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak akan pernah berhenti datang ke sini, Zia! Aku akan terus datang ke butikmu, terus menemuimu, dan terus memohon maaf sampai kamu benar-benar memaafkanku dan memberikan kesempatan kedua untuk kita!"
Mendengar ucapan Alfa, sebuah tawa renyah yang sarat akan sarkasme seketika lolos dari bibir Zia. Dia menatap Alfa dengan pandangan sinis yang menghunjam jantung.
"Kesempatan kedua?" tanya Zia dengan nada mengejek yang kental.
"Kesempatan kedua itu mungkin saja ada, Alfa... jika pria itu bukan kamu! Jika pria itu bukan seorang Alfarizky Abraham, seorang pria pecundang yang bisanya hanya berlindung dan berdiri di belakang nama besar papanya saja!"
Alfa tersentak, wajahnya seketika memerah padam menahan malu dan amarah karena harga dirinya diinjak-injak.
"Selama kita bersama dulu, aku sudah cukup sabar menghadapi segala bentuk hinaan dan cacian dari papamu!" lanjut Zia, matanya menatap tajam tanpa rasa takut sedikit pun.
"Dan sekarang kamu mau mengemis kesempatan kedua? Pikirkan ini, Alfa. Jika kamu terus-menerus datang memohon maaf dan menemuiku di sini, papamu, Om Azad pasti akan mengetahuinya! Dan hal itu hanya akan membuat dia semakin membenciku, menganggapku sebagai wanita penggoda yang merusak masa depan anaknya lagi. Apa itu yang kamu inginkan sekarang, hah?!"
Alfa terdiam, lidahnya mendadak kelu. Nama papanya, Azad Abraham, seolah menjadi momok yang seketika mengunci seluruh pembelaannya.
"Jika kamu memang masih memiliki sedikit saja rasa peduli atau rasa kemanusiaan di dalam hatimu untukku, Alfa... pergi dari sini sekarang dan jangan pernah sekali pun kembali menemuiku!" usir Zia dengan penekanan di setiap kata.
"Dan jika suatu hari nanti kita tidak sengaja berpapasan di jalan, anggap saja kita ini orang asing yang tidak pernah punya sejarah apa pun!"
"Aku tidak mungkin bisa melakukannya, Zia! Aku tidak bisa!" bentak Alfa frustrasi, air matanya kini benar-benar luruh membasahi pipi.
Dia melangkah maju, menatap Zia dengan pandangan yang mengemis cinta.
"Aku tidak bisa menganggapmu orang asing karena aku sangat mencintaimu! Selama sembilan tahun ini, cintaku padamu tidak pernah berkurang sedikit pun, Zia. Aku masih sangat berharap kamu bisa kembali ke pelukanku..."
"Cukup, Alfa!" potong Zia dengan nada membentak yang tajam, wajahnya dipenuhi kilat rasa jijik.
"Hentikan ucapan konyolmu itu! Aku benar-benar muak mendengarnya!"
"Aku akan pergi hari ini, Zia," ucap Alfa, menyeka air mata di pipinya dengan kasar. Sorot matanya mendadak berubah menjadi sebuah ketetapan yang keras kepala.
"Tapi aku akan kembali lagi besok. Setiap hari aku akan datang ke sini untuk menemui dan melihatmu, sampai kamu mau memaafkanku dan memberikan kesempatan kedua itu padaku,"
Zia mendengus, membuang muka dengan pandangan yang teramat jemu.
"Aku tidak peduli. Terserah kamu mau melakukan apa, Alfa. Mau kamu datang setiap hari sampai butik ini runtuh pun, kesempatan itu tidak akan pernah ada lagi untukmu,"
"Kita lihat saja nanti," bisik Alfa lirih, menatap Zia untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah gontai keluar dari butik.
Hatinya terasa remuk, namun ego dan rasa bersalahnya menolak untuk menyerah begitu saja. Alfa mendorong pintu kaca butik dengan sisa tenaganya, berjalan menunduk menyusuri halaman butik tanpa memedulikan sekelilingnya yang tampak mulai kabur karena sisa air mata.
Bruk!
"Ah! Es krim Ina!"
Sebuah benturan kecil di area pinggang membuat Alfa tersentak dari lamunannya. Dia refleks mundur satu langkah dan mendongak.
Di depannya, gadis kecil berkuncir dua yang tadi malam dilihatnya di gedung acara, tengah berdiri dengan bibir melengkung ke bawah, menatap sedih ke arah es krim corong tiga tingkatnya yang kini sebagian besar sudah berpindah tempat.
Es krim cokelat dan stroberi yang masih agak meleleh itu kini menempel dengan sukses di bagian depan jas dan kemeja putih mahal milik Alfa, meninggalkan noda besar yang mengotorinya.
"Ina! Astaga, jalan yang hati-hati, Sayang," seru Rayyan yang baru saja mengunci mobil di area parkir, langsung berlari kecil menghampiri putrinya dengan wajah cemas.
Alfa terpaku di tempatnya. Bukannya marah karena pakaian mahalnya dikotori oleh es krim, pandangan Alfa justru terkunci sepenuhnya pada wajah Sabrina yang kini mendongak menatapnya dengan takut-takut. Dari jarak sedekat ini, Alfa bisa melihat dengan sangat jelas setiap detail wajah anak itu.