NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba di desa Selogiri

Setelah menempuh perjalanan singkat menggunakan angkutan kota, Sri akhirnya tiba di titik kumpul yang telah disepakati sejak jauh-jauh hari, sebuah area parkir luas di dekat gerbang samping kampus yang masih tampak lengang di pagi buta.

Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat mobil minibus sewaan berjenis microbus panjang yang terparkir gagah di bawah pohon peneduh.

Di samping minibus itu, teman-temannya rupanya sudah berkumpul lengkap. Riuh rendah obrolan mereka memecah kesunyian pagi.

"Nah, ini dia sutradara kita akhirnya datang!" Seru Bimo, sang asisten sutradara, begitu melihat sosok Sri yang berjalan setengah berlari mendekat.

Bagas, selaku produser yang bertanggung jawab atas kelancaran logistik, langsung menyambut Sri dan dengan cekatan membantu memasukkan koper serta tas ransel besarnya ke dalam bagasi belakang mobil yang sudah penuh sesak oleh perlengkapan syuting.

"Aman semua, Sri? Naskah, papan jalan, dan berkas perizinan dari kampus tidak ada yang tertinggal, kan?" tanya Bagas memastikan dengan nada protektif khas seorang produser.

"Aman, Gas. Semua sudah rapi di dalam tas jinjingku," jawab Sri sembari melemparkan senyum lebar kepada teman-temannya.

Sri mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, menghitung jumlah personel yang ada di sana. Benar, semuanya sudah genap terkumpul. Di dekat pintu mobil, Tris sang penulis skenario tampak sedang sibuk berdiskusi kecil dengan Susan, sang editor yang sengaja ikut ke lokasi untuk memantau kontinuitas gambar secara langsung.

Di sudut lain, Yuda sang kameramen sedang memeriksa ulang tas lensa kamera bersama Jeremy si penata suara dan Sanu si penata artistik.

Sementara itu, gerombolan anak teater yang akan menjadi aktor di film mereka Dita, Angga, Mey, Darwis, dan Doni, tampak sedang bercanda seru untuk mengusir rasa kantuk yang masih menggelayuti mata mereka.

Total ada 13 orang anak muda yang berkumpul pagi itu, siap menaruh harapan besar pada proyek film horor ini.

"Oke, karena semua personel sudah lengkap, mari kita masuk! Perjalanan kita cukup jauh." Komando Bagas setelah memastikan pintu bagasi belakang terkunci dengan rapat.

Mereka pun berbondong-bondong naik ke dalam kabin minibus yang cukup luas dan longgar itu. Sri memilih posisi duduk di baris tengah, tepat di dekat jendela, sementara Mey duduk di sebelahnya.

Begitu semua pintu tertutup rapat dan mesin minibus menderu halus, mobil itu pun mulai bergerak perlahan, meninggalkan area kampus yang perlahan mulai disinari matahari pagi, lalu melaju mantap menuju jalur lintas luar kota.

Perjalanan panjang menuju Desa Selogiri pun resmi dimulai. Di dalam kabin mobil, suasana mendadak berubah menjadi sangat hidup. Di baris belakang, rombongan anak teater yang dipimpin oleh Doni dan Angga mulai bernyanyi-nyanyi kecil, diselingi tawa renyah dari Dita dan Darwis yang sesekali melemparkan lelucon konyol.

Di baris depan, tim produksi juga tak kalah sibuk, Yuda dan Sanu kembali melanjutkan obrolan serius mengenai konsep pencahayaan alami dan dekorasi set yang akan mereka bangun di desa nanti.

Namun, di tengah keriuhan dan tawa yang menggema di dalam minibus, Sri justru perlahan menarik diri ke dalam keheningan.

Setelah menempuh perjalanan melelahkan selama berjam-jam, minibus sewaan mereka akhirnya memperlambat lajunya.

Ban mobil berdecit pelan saat berbelok melewati sebuah gerbang kayu yang menjadi penanda bahwa mereka telah resmi memasuki wilayah Desa Selogiri.

Suasana di dalam kabin mobil yang semula bising oleh candaan anak-anak teater mendadak hening. Semua mata kini tertuju ke luar jendela.

Desa itu tampak sangat asri, namun entah mengapa, ada aura sunyi yang pekat dan dingin yang langsung menyergap mereka begitu melewati batas desa. Rumah-rumah kayu bergaya kuno berdiri berjauhan, diselimuti kabut tipis yang tidak juga hilang meski hari sudah beranjak siang.

Minibus itu akhirnya berhenti sempurna di sebuah area lapang di dekat balai desa. Begitu pintu geser mobil terbuka, udara dingin langsung menusuk kulit. Sri melangkah turun paling awal, diikuti oleh Bagas, Bimo, dan kru lainnya.

Di depan balai desa, seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik dan peci hitam sudah berdiri menunggu. Di sebelahnya, berdiri sepasang suami istri paruh baya berpakaian sederhana khas warga desa yang wajahnya memancarkan rona rindu sekaligus haru. Begitu Mey melangkah turun dari mobil, wajahnya langsung berbinar.

"Ibu! Bapak!" seru Mey gembira sambil setengah berlari menghambur ke pelukan kedua orang tuanya.

"Mey.., Nduk." Ucap ibunya Mey sambil memeluk erat putrinya, sementara sang bapak menepuk-nepuk pundak Mey dengan bangga.

Pak RT yang berdiri di samping mereka tersenyum menyaksikan reuni kecil tersebut, karena sebagai kepala RT, ia tentu mengenal baik Mey dan keluarganya yang merupakan warga asli Selogiri.

Setelah pelukan hangat itu terlepas, pria berpeci itu maju selangkah.

"Selamat datang, Den, Non sekalian, di Desa Selogiri." Sapa pria itu dengan suara berat namun santun.

"Saya Pak Mulyo, ketua RT di sini. Mas Bagas kemarin sudah menghubungi saya lewat telepon mengenai kedatangan rombongan kuliah dari kota hari ini." Bagas segera maju menjabat tangan Pak RT.

"Terima kasih banyak Pak, sudah mau menyambut kami repot-repot di sini. Ini teman-teman satu tim saya, total kami ada tiga belas orang, seperti yang saya informasikan saat datang kesini. Dan ini." Kata Bagas ramah sembari mengangguk hormat kepada orang tua Mey.

"Ah, tidak repot sama sekali. Justru warga desa sini senang ada anak-anak muda dari kota yang mau berkunjung dan membuat film di desa kami. Apalagi ada si Mey yang ikut." Sahut Pak RT sembari mengedarkan pandangannya ke arah rombongan.

Bapak dan ibu Mey juga ikut mengangguk ramah, menyalami beberapa kru yang berada di dekat mereka.

Namun, saat tatapan mata Pak RT beralih dan berhenti tepat di wajah Sri, senyum ramah di bibir pria paruh baya itu mendadak membeku selama beberapa detik.

Matanya menyipit, menatap lekat-lekat raut wajah Sri dengan pandangan yang sulit diartikan, perpaduan antara terkejut, tidak percaya. Wajah Sri memiliki kemiripan yang teramat kuat dengan seseorang yang dulu dikenalnya di desa ini.

Bukan hanya Pak RT, orang tua Mey yang ikut menoleh ke arah Sri pun seketika tertegun. Langkah bapaknya Mey bahkan sempat mundur selangkah karena terkejut, sementara ibunya Mey menutup mulutnya pelan, memandang Sri seolah-olah melihat hantu.

Sri yang merasa ditatap secara intens oleh Pak RT dan orang tua Mey menjadi salah tingkah. Suasana mendadak menjadi canggung dan diliputi ketegangan misterius.

Pak RT yang menyadari perubahan atmosfer itu dengan cepat menguasai dirinya, mencoba mencairkan keadaan.

"Mari, mari ikut saya, barang-barangnya dibawa ke rumah yang sudah kami persiapkan," kata Pak RT memecah keheningan. Orang tua Mey pun buru-buru mengubah ekspresi mereka, walau sisa-sisa keterkejutan masih membekas jelas di mata mereka.

Pak Mulyo kemudian berjalan di depan bersama orang tua Mey, memandu rombongan berjalan kaki menyusuri jalanan setapak tanah berbatu yang membelah desa.

Di belakangnya, yang lain mengangkat kotak-kotak peralatan kamera milik Yuda dan tas-tas besar milik mereka masing-masing.

Sepanjang perjalanan, Sri memperhatikan sekeliling. Beberapa warga desa tampak keluar dari pekarangan rumah mereka, berdiri diam sambil memperhatikan rombongan mahasiswa dari kota tersebut.

Senyum ramah sesekali terkembang dari wajah-wajah ramah mereka, persis seperti apa yang dikatakan Bagas tempo hari. Namun, di bawah langit Selogiri yang temaram oleh rimbunnya pohon-pohon tua, keramahan itu justru terasa ganjil dan dingin di kulit Sri.

"Nah, kita sudah sampai. Ini rumah milik mendiang keluarga salah satu sesepuh desa yang sudah lama kosong, tapi beberapa hari ini sudah dibersihkan oleh warga." ujar Pak RT sembari berhenti di depan sebuah pekarangan luas yang dipenuhi pohon kamboja tua.

Di hadapan mereka, berdiri sebuah rumah joglo kuno berukuran sangat besar. Tiang-tiang kayunya yang berwarna hitam legam tampak kokoh namun menyiratkan usia yang sudah sangat tua.

"Wah, ini sih set film horor yang sempurna, San!" bisik Yuda si kameramen kepada Sanu penata artistik dengan mata berbinar-binar kagum. Sanu hanya mengangguk setuju, matanya sibuk memindai estetika kuno rumah tersebut.

"Rumah ini cukup luas untuk menampung kalian semua," lanjut Pak RT sembari membuka pintu jati depan yang besar, memicu suara derit panjang yang menggema ke dalam rumah.

Bagas langsung melangkah masuk, mengecek ruangan tengah.

"Ini lebih dari cukup, Pak RT. Bagus sekali. Terima kasih banyak atas tumpangannya."

Sementara teman-temannya yang lain, seperti Dita, Mey yang dibantu ibunya, dan Susan, mulai sibuk memilih kamar dan menurunkan barang, Sri melangkah pelan menuju ke tengah ruangan. Ia menatap langit-langit rumah yang tinggi itu.

"Pak, kami benar-benar berterima kasih atas kebaikan bapak dan warga di sini. Rumah ini sangat luar biasa untuk kami tinggali." kata Bagas dengan tulus sembari menjabat tangan Pak RT Mulyo sekali lagi.

Sri, Bimo, Tris, dan kru lainnya yang berada di ruangan tengah ikut mengangguk dan tersenyum, menyampaikan rasa terima kasih mereka yang mendalam.

Keramahan Pak RT, orang tua Mey, dan warga desa setidaknya sedikit mengikis rasa lelah setelah perjalanan panjang yang menguras tenaga mereka.

"Ah, tidak perlu sungkan. Sudah jadi kewajiban kami untuk memuliakan tamu yang datang ke Selogiri," jawab Pak RT Mulyo sembari membetulkan posisi pecinya. Dia melangkah mundur menuju ambang pintu jati yang besar diikuti oleh bapaknya Mey.

Sebelum benar-benar melangkah keluar, pandangan Pak RT kembali bergulir sekilas ke arah Sri yang berdiri di tengah ruangan, menyisakan teka-teki yang tak terucapkan.

"Kalau begitu, saya pamit dulu ya, sekalian. Silakan beristirahat dan menata barang-barang. Kalau butuh bantuan apa-apa, rumah saya hanya berjarak lima rumah dari sini ke arah barat. Mari, selamat siang."

"Mari, Pak, terima kasih banyak," sahut rombongan itu kompak.

"Nanti, malam. Ibu bawakan makan malam itu kalian ya." Kata ibunya Mei.

"Iya Bu." Kata Mey.

"Terima kasih banyak Bu, sudah mau repot-repot." Kata Sri yang di balas anggukan oleh ibunya Mei.

Pak RT Mulyo dan kedua orang tua Mey kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan pekarangan rumah tersebut.

1
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg menyeret tbuh rasman ya
Maure Nia
siapa. sosok itu..🤔? Rasman korban pertama mereka keluarga Sri... pasti.
Mamake Nayla
sudah 20th berlalu...bru pd nongol setan nya ya
Mamake Nayla: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭
semangattttttt!!!! ayo pra setan pd gentayangan
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!