Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang Belum Sempat Terjawab
Juan sudah mengubah sofa kulit hitam itu menjadi sebuah bed untuk dirinya tidur bersama Raya. Ia duduk dipinggiran sofa setelah tubuhnya diguyur oleh air dingin di kamar mandi kantor. Juan menggerak-gerakan bahunya yang terasa pegal, efek sudah terlampau batas dalam menghabiskan tenaganya hari ini.
Raya tengah menuangkan semangkuk bubur kacang yang tadi Juan pesan di pantry kantor.
"Bang, ini sudah malem. Kenapa masih banyak karyawan Abang yang masih kerja?" tanya Raya seraya berjalan mendekat kearah suaminya, kemudian menaiki sofa dan duduk bersila disamping Juan yang masih menggerak-gerakan bahunya.
Raya sadar akan hal itu. Tapi Raya biarkan itu terlebih dahulu, ia akan mengisi perutnya dan perut Juan yang belum sempat makan malam.
"Lagi lembur..." jawab Juan singkat, tanpa menoleh ke arah Raya.
"oh..hemm." jawab Raya, ia berusaha mengkis rasa canggung dan rasa sepi didalam kantor itu. Padahal Raya sudah terbiasa satu kamar bersama Juan, tapi malam ini entah mengapa baik Raya maupun Juan mereka merasakan kecanggungan satu sama lain.
"Aa..." Raya menyodorkan satu suapan bubur kacang, tanpa berfikir lama Juan menerimanya.
"Abang gak merasa jijik jika satu sendok bersama sama Raya?" tanya Raya, bola matanya memandangi wajah Juan yang tengah menunduk sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa harus jijik, emang kamu punya penyakit yang menular?" Juan melirik Raya yang sedang memandanginya, sekilas sorot mata tajam itu bertubrukan dengan iris bening milik Raya.
deg.
Satu hentakan jantung Juan rasakan didalam rongga dadanya.
Sial jantung gue kenapa lagi?
"Engga, Raya sehat-sehat aja. Abang sudah biasa ya satu suapan seperti ini?" goda Raya seiring dengan senyuman yang kian melengkung dibibirnya.
Senyum yang terlihat sangat manis sekali malam ini, membuat Juan segera mengalihkan pandangannya.
"Jangan sok tau..." jawab Juan singkat.
"Nebak aja si, bang Ju kan tampan terus mapan. Pasti banyak sekali wanita diluar sana yang ngejar-ngejar dan ingin jadi pacar bang Ju." tanya Raya, ingin mengetes saja, dan pemasaran jawaban apa yang akan Juan katakan padanya.
"Ya memang banyak." jawab Juan singkat. Kemudian ia melangkahkan kaki pada sudut ruangan, langkahnya terhenti pada sebuah lemari kecil dan mengambil sesuatu didalam sana.
Sebuah switer miliknya, yang berwarna putih.
Jawaban itu sontak membuat tubuh Raya menegang, ada percikan rasa aneh, seperti rasa khawatir yang mulai menelusup pada hatinya.
"Pakai.." Juan menyerahkan switer putih itu pada Raya yang menatap kosong jendela.
"hah..apa?"
"Disini gak ada selimut, pake aja ini." ucap Juan seraya duduk bersila disamping Raya.
Raya mengulum senyum, menurutnya perbuatan Juan ini sangat terasa manis. Perhatian kecil dari Juan mampu menciptakan semburat merah dipipinya.
Raya melirik kearah suaminya yang tengah memijat pelipisnya.
"Badannya pegel?" tanya Raya, ia menyimpan mangkuk yang sudah kosong diatas jendela.
"He em."
Raya beringsut kemudian berdiri setengah badan dibelakang Juan, ia mulai memijat pelan bahu suaminya, sampai dengan tak sengaja Juan menggenggam tangan Raya untuk menyuruhnya tidur, karena ini sudah tengah malam.
Lagi-lagi hal itu membuat Raya mengulum senyum manis dibibirnya.
*
Juan terbangun karena merasakan pegal pada lengan kirinya, saat matanya terbuka ia mendapati Raya yang tertidur sambil memeluk erat tubuhnya dan menjadikan lengan kiri Juan sebagai bantal kepalanya.
Hembusan nafas teratur yang terasa hangat menyapu wajah Juan, Pria dengan sorot mata tajam itu terus memandangi istrinya yang tertidur pulas disampingnya.
Semburat senyum menghiasi wajahnya yang tampan.
Tangannya terulur membetulkan poni rambut Raya, kulit tangannya bersentuhan langsung dengan kulit halus pipi Raya yang terasa hangat.
Cup.
Kecupan singkat mendarat begitu saja pada kening Raya, tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan si pemilik kening itu tidak sadar bahwa suaminya yang ia kenal dingin dan cuek itu sudah menaburkan kecupan pada keningnya.
Beberapa detik Juan masih betah memandangi wajah istrinya yang masih tertidur pulas, wajah yang terlihat bening tanpa polesan. Cantiknya begitu khas, cantik wanita indonesia, yang alami. Kecantikan itu bercampur padu dengan kelembutan dan kebaikan dalam diri Raya.
"Bang...." Raya membuka matanya.
Sontak Juan mengubah ekspresinya dalam hitungan detik.
"Pegel. Kenapa bisa tidur dilenganku?" kembali dengan sorot mata yang tajam.
"Hemm," sontak Raya berdiri, tapi tangan kirinya malah terasa kebas karena tertindih oleh badannya sendiri saat tidur.
"Aww...." tubuhnya malah ambruk dan menindih dada Juan, secara tidak sengaja Raya mengecup pipi suaminya.
Seketika kedua insan yang baru terikat oleh pernikahan itu membeku ditempat. Juan merasakan gelenyar hangat yang kian menelusup dadanya, tubuhnya menegang merespon positif sebagai pria normal.
"Aww tangan Raya kebas bang, gak bisa digerakin." jawab Raya, bercampur panik. Ia merasa tangannya mati rasa.
Dengan perlahan Juan bangun, kemudian ia mengulurkan tangannya membantu Raya dengan memijat ibu jari tangan Raya sambil mengayun-ngayunkan tangan Raya pelan. Raya hanya diam, ia mulai merasakan tangannya yang mulai membaik.
Tanpa Raya sadari, air matanya malah mengembun memenuhi kelopak matanya. Sedih bercampur haru memenuhi relung hatinya, ia bersyukur memiliki suami yang begitu baik. Tidak pernah dengan sengaja menyakiti hatinya.
Juan sadar akan Raya yang mulai terisak.
"Cuman kebas, gak bakalan membuat tangan kamu diamputasi." ucapnya santai sambil memijat pelan jemari lentik Raya.
"Makasih..." Raya malah memeluk Juan erat, ia berhasil membuang rasa canggung.
Tubuh Juan membeku dengan pelukan erat dari Raya.
"Makasih karena bang Ju sudah menerima Raya dengan baik, menghormati Raya sebagai istri Abang. Padahal kita baru saja mengenal satu sama lain, terimakasih sudah mengakui kalau Raya adalah istri bang Ju, Abang sudah menjaga Raya sebaik mungkin."
Ucap Raya, air mata deras mengalir dipipinya.
Lengan kokoh yang bertumpu pada bahu sempit milik Raya itu kini bergerak pelan, Juan terbawa suasana haru yang Raya rasakan. Sorot mata tajam itu kini tertuju pada Raya yang menyandarkan kepalanya pada dadanya.
"Mau gimana lagi, semua sudah terjadi. Aku harus menerima kamu sebagai istriku." ucap Juan datar.
"Raya tau pernikahan kita bukanlah pernikahan yang didasari oleh cinta, tapi Raya mau tanya sama Abang, apa bang Ju selama ini merasa kecewa mempunyai istri dari kalangan bawah seperti Raya?"
Bersambung....
Jangan lupa like ya readers 🤩
di bawa awal" raya pakai hijab sehari".
jadi raya ini berhijab ga thor?