NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Dua hari menjelang hari pernikahan yang telah diatur oleh Nyonya Elena, suasana di ruang kerja pribadi Dixon Luca Alessandro terasa begitu sunyi namun sarat akan ketegangan tak kasatmata. Pria berusia 39 tahun itu berdiri tegak menghadap jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit ibu kota yang diselimuti semburat jingga senja.

Dixon menyesap kopi hitamnya perlahan, sebelum akhirnya meraba saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Ada satu hal penting yang harus ia lakukan sebagai seorang ayah sebelum melangkah ke jenjang pernikahan yang baru: memberi tahu putri tunggalnya, Amora.

Jemari kekar Dixon bergerak di atas layar, menekan kontak Amora yang saat ini sedang berada di luar negeri untuk melanjutkan studinya sekaligus meniti karier di dunia modeling

Nada sambung berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya panggilan internasional itu terhubung.

"Halo, Daddy?"

Suara ceria dan manja Amora langsung menggema dari seberang telepon, memecah keheningan ruang kerja Dixon. "Tumben Daddy telepon jam segini? Di sana sudah sore, 'kan? Di sini aku baru mau mulai makan siang, Dad."

Dixon mengulum senyum tipis, guratan kaku di wajah esnya sedikit melunak setiap kali mendengar suara putrinya. "Ya, Amora. Bagaimana kabarmu di sana? Kuliah dan kegiatanmu lancar?"

"Semuanya lancar dan sangat sempurna, Dad! Minggu ini jadwalku padat sekali dengan agensi baru," sahut Amora dengan nada menggebu-gebu, terdengar sangat menikmati kehidupan mewahnya di luar negeri tanpa tahu bahwa badai besar sedang bergerak mendekatinya.

Dixon menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. Ia memindahkan ponselnya ke telinga kiri, merapikan letak jam tangan mewahnya sebelum mulai masuk ke inti pembicaraan. "Amora, ada sesuatu yang harus Daddy sampaikan padamu. Ini masalah pribadi Daddy."

"Maksud Daddy? Soal bisnis lagi?" tanya Amora, terdengar sedikit bingung di seberang sana.

"Bukan," jawab Dixon, suaranya kembali datar namun sarat akan keseriusan mutlak. "Dua hari lagi... Daddy akan menikah."

Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik di seberang saluran telepon. Amora tampaknya mencerna kalimat berbobot yang baru saja diucapkan oleh ayahnya yang selama belasan tahun ini selalu menolak untuk mencari pendamping baru.

Namun, bukannya marah atau histeris, detik berikutnya terdengar suara pekikan riang dari Amora.

"Oh my God, Daddy?! Serius?!" seru Amora terdengar sangat senang dan antusias. Bagi Amora, selama ini ia selalu merasa terbebani dengan desakan Nenek Elena yang terus-menerus mengusik ayahnya soal pernikahan. Jika ayahnya menikah lagi, fokus sang nenek pasti akan teralih. "Wow, ini kejutan besar! Akhirnya Daddy bisa move on juga setelah sekian lama. Siapa wanitanya, Dad? Apakah dia salah satu rekan bisnis Daddy yang waktu itu? Atau anak teman Nenek?"

Dixon sedikit mengernyitkan dahinya, memilih untuk tidak menyebutkan nama atau latar belakang Valencia di telepon ini agar tidak memicu obrolan yang terlalu panjang. "Bukan siapa-siapa. Dia hanya wanita biasa yang dipilihkan oleh Nenekmu. Pernikahannya juga akan digelar sangat tertutup dan sederhana lusa nanti, sesuai permintaannya."

"Ah, begitu ya... Ya sudah, kalau itu pilihan Daddy dan sudah direstui Nenek, terserah Daddy saja. Aku ikut senang dan pasti mendukung penuh keputusan Daddy!" ucap Amora dengan nada santai, sama sekali tidak menaruh curiga atau beban apa pun.

Namun, nada bicara Amora mendadak berubah menjadi sedikit bersalah di kalimat berikutnya. "Tapi... Dad, maaf banget ya. Sepertinya lusa aku tidak bisa pulang untuk menghadiri acaramu."

Dixon menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"

"Tepat di hari pernikahan Daddy, aku ada jadwal pemotretan penting untuk cover majalah fesyen ternama di sini. Ini kesempatan besar untuk karier modeling ku, Dad. Kontraknya sudah ditandatangani sejak bulan lalu dan tidak bisa dibatalkan secara sepihak," jelas Amora dengan nada memohon, berharap sang ayah tidak kecewa.

Mendengar alasan profesional tersebut, Dixon yang selalu mengutamakan efisiensi dan komitmen kerja tentu saja bisa mengerti. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya egois untuk sebuah acara privat yang bahkan pengantin wanitanya sendiri tidak menyukai keramaian.

"Tidak apa-apa, Amora. Daddy maklum," ucap Dixon dengan suara baritonnya yang tenang, memberikan pengertian penuh sebagai seorang ayah. "Fokuslah pada karier dan pekerjaanmu di sana. Jangan jadikan ini beban."

"Thank you so much, Daddy! Daddy memang yang terbaik!" sahut Amora lega, suaranya kembali ceria. "Sampaikan salam dan selamatku untuk calon ibu tiri baruku ya, Dad. Aku tutup dulu ya, manajerku sudah memanggil untuk bersiap-siap. Bye, Daddy! I love you!"

"Ya, take care ucap Dixon sebelum mematikan sambungan teleponnya.

Dixon menurunkan ponselnya, kembali menatap kosong ke arah luar jendela. Di dalam hatinya, ada secercah rasa lega karena sang putri menerima keputusannya dengan lapang dada.

Sementara itu, di apartemen sederhananya, Cia yang sedang duduk di tepi ranjang sembari menatap gaun pengantin putih sederhana yang baru dikirimkan oleh kurir keluarga Alessandro, mendadak merasakan ponselnya bergetar menerima pesan dari informan yang ia bayar untuk memantau pergerakan Amora.

Begitu membaca pesan bahwa Amora tidak akan pulang karena ada pemotretan, Cia tidak marah. Sebaliknya, ia menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu tertawa renyah hingga bahunya terguncang hebat. Sepasang mata cantiknya berkilat memancarkan rasa kepuasan yang teramat pekat dan mengerikan.

“Nggak bisa pulang karena pemotretan? Sempurna!”batin Cia dengan seringai iblis yang terukir lebar di bibir ranumnya. “Skenario ini justru jauh lebih menyenangkan. Teruslah bersenang-senang di luar negeri dengan duniamu yang mewah, Amora. Nikmati setiap detik popularitasmu. Karena saat kakimu kembali menginjakkan kaki di rumah megah keluarga Alessandro nanti, kamu tidak akan disambut sebagai putri mahkota, melainkan sebagai seorang anak yang harus berlutut dan mencium tangan musuh bebuyutanmu... yang sudah resmi menjadi Nyonya Besar berkuasa di rumahmu sendiri.”

Malam kian larut, menyisakan keheningan yang mencekam di sudut kota. Di saat seluruh dunia perlahan terlelap, Valencia atau Cia melangkah keluar dari apartemen sederhananya. Ia mengenakan kardigan rajut longgar berwarna abu-abu tipis untuk menghalau angin malam yang menusuk kulit.

Langkah kakinya yang perlahan membawa tubuh ramping itu menuju ke sebuah telaga atau danau kecil yang terletak di pinggiran distrik. Tempat itu selalu sepi di atas jam sepuluh malam, menyisakan pantulan cahaya lampu merkuri dan bulan yang temaram di atas permukaan air yang tenang.

Cia berjalan ke tepian, lalu duduk di atas pembatas beton yang dingin. Kedua lututnya ditekuk, didekap erat ke dada, seolah mencoba memeluk sisa-sisa kehangatan dari tubuhnya sendiri yang kian mendingin oleh pusaran takdir.

Ia menatap kosong ke arah riak air danau yang hitam pekat untuk waktu yang sangat lama.

"Ibu... Ayah... Cia merindukan kalian," bisik Cia lirih. Suaranya yang serak dan bergetar itu seketika tersapu oleh desau angin malam.

Setitik air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipi mulusnya yang pucat. Di tempat sunyi inilah, Cia melepaskan seluruh topeng kelicikan, akting rapuh, dan seringai iblisnya. Di sini, ia kembali menjadi Cia yang rapuh, gadis kecil yang menanggung beban dunia di pundaknya yang ringkih.

Pikiran Cia mendadak berputar mundur, menjelajahi lorong waktu masa lalunya yang kelam. Kedua orang tua kandungnya telah tiada sejak ia masih sangat kecil akibat kecelakaan tragis. Sejak saat itu, ia diadopsi dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh paman dan bibinya. Meskipun kehidupan mereka serba kekurangan, paman dan bibinya tidak pernah membiarkan Cia merasa kesepian. Mereka memperlakukannya bagai anak kandung sendiri, memberikan kehangatan keluarga yang utuh.

Sampai akhirnya... tragedi maut di masa SMA itu merenggut segalanya.

Cia memejamkan matanya kuat-kuat, meremas helai kardigannya hingga jemarinya memutih tatkala kilasan memori mengerikan itu berputar hebat di kepalanya. Kala itu, intimidasi dan kelicikan Amora Alessandro di sekolah memaksa paman dan bibinya turun tangan demi melindunginya. Namun, kekuasaan dan kesombongan keluarga Alessandro yang buta membuat pembelaan itu berakhir tragis. Dalam sebuah insiden kecelakaan yang dimanipulasi sedemikian rupa demi membersihkan nama Amora, paman dan bibi Cia tewas mengenaskan, merenggut satu-satunya tempat bersandar yang Cia miliki di dunia ini.

Tidak berhenti sampai di situ, kehancuran Cia disempurnakan ketika kekasih yang teramat ia cintai di masa sekolah satu-satunya pria yang berjanji akan menemaninya melewati masa-masa sulit justru direbut paksa oleh Amora. Dengan pesona harta, kuasa, dan kelicikannya, Amora membalikkan dunia Cia dalam semalam, memamerkan kemenangan di atas penderitaan darah dan air mata gadis itu.

Sejak hari itu, Cia hidup sebatang kara di dunia ini. Selama bertahun-tahun, ia mengunci rapat seluruh luka, trauma, dan air matanya di dalam sudut hati yang paling dalam. Ia membiarkan luka-luka itu membusuk, bertransformasi menjadi bahan bakar dendam yang teramat pekat dan mematikan.

Cia membuka matanya kembali. Air mata yang sempat membasahi pipinya seketika mengering, digantikan oleh tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sedingin es dan setajam silet. Ia menatap pantulan dirinya di air danau yang gelap.

"Dua hari lagi," desis Cia dengan nada suara yang rendah namun sarat akan tekad mutlak yang mengerikan. "Dua hari lagi, aku akan resmi menyandang nama Alessandro. Amora... lo sudah merebut semua orang yang gue sayangi, lo sudah menghancurkan masa muda gue, dan lo bikin gue sendirian menanggung semua luka ini."

Cia berdiri dari pembatas beton, merapikan kardigannya dengan gerakan anggun namun dingin. Sambil menatap langit malam yang tak berbintang, sebuah senyuman misterius kembali terukir di sudut bibirnya.

"Gue bakal pastikan, takhta emas yang selama ini lo banggakan bakal hancur berkeping-keping. Dan saat lo menyadari semuanya... semuanya sudah terlambat karena gue sudah berdiri tegak sebagai Nyonya Besar di rumah lo sendiri," batin Cia penuh kemenangan, membalikkan badannya dan melangkah pergi membelah kegelapan malam, bersiap menyambut hari pernikahannya dengan sang penguasa kota.

1
Hasti Asti
semangat terus kak berkata, cerita kamu bagus
sryharty
sebelum pembalasan kamu terendus Amora,,kamu harus bikin duda karatan bertekuk lutut sama kamu cia,,biar si duda ga bisa jauh2 dari kamu,,kalo jauh dari kamu langsung gila,,jadi nanti si Amora tidak bisa banyak tingkah
aku
kudukung pembalasanmu dg 🌹 go cia go!!
aku
aduh aq juga tercia cia nih 😁 gasss ciaaaa 😃
Hasti Asti
lanjut kak😍
sryharty
kenapa seh ka up nya irit banget
Shion Hin
hohoho mulai seru 🔥🔥🔥
Marsya
wah mw nambah bacanya lagi,klanjutannya pasti lbih seru🤭🤭🤭🤭
Shion Hin
ayo kak semangat... 🔥🔥🔥🙏
sryharty
kenapa up nya cuma satu2 yah
Yuyun Suprapti
crazy up dong kk thor🤭💪
Shion Hin
😍
Rahman Hayati
wow
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
sryharty
ka doubel up lah
sryharty
😁 pokonya kamu harus jual mahal cia,,jangan kejar2 duda karatan
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
Rahman Hayati
jgn terlalu tua lah Thor yg sedang sedang saja umurnya
sryharty
semoga sampai selesai alurnya masih bagus
sryharty
si duda karatan udah mulai Ter cia2 neh
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
Shion Hin
huaaaa.... gk sabar deh ... 🥺
sryharty
pasti nanti cia hamil,,bawa kabur nanti anaknya cia
biar si duda karatan kelabakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!