NovelToon NovelToon
Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

"Selama ini, aku bertahan bukan karena masih mencintaimu, Arsen. Bukan juga karena aku lemah. Tapi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat kalian menyesal."

Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.

Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.

Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.

Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.

Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.

Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Masih Marah

Alena menghela napas pelan sebelum kembali melangkah, melewati Arsen begitu saja seolah pria itu tidak ada di hadapannya.

"Berhenti!"

Suara Arsen menggema. Tapi, Alena tidak menggubrisnya. Ia tetap melangkah tanpa menoleh sedikit pun.

Sikap acuh itu membuat amarah Arsen memuncak. Dengan langkah cepat, ia menyusul Alena dan menarik lengan wanita itu dengan kasar.

"Aku bilang berhenti! Apa kamu tuli, hah?" bentaknya.

"Ah!" Alena meringis kesakitan. Ia segera menepis tangan Arsen hingga terlepas.

"Lepaskan aku!"

Arsen mendengus kasar. "Bagus, ya, Alena. Kamu sekarang berani mengkhianati ku."

Alena mengernyit. "Mengkhianatimu?"

"Iya!" sahut Arsen dengan nada tinggi. "Kamu diam-diam bekerja di WIN Group, lalu melawanku dalam tender ini. Kalau itu bukan pengkhianatan, lalu apa?"

Bukannya marah, Alena justru tertawa kecil. Tapi, tawa itu terdengar begitu sinis di telinga Arsen.

"Lucu sekali," seru Alena.

"Apanya yang lucu?" tanya Arsen tajam.

"Kamu sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis, tapi ternyata tidak siap menghadapi persaingan."

Wajah Arsen mengeras. "Aku bukan tidak siap bersaing. Tapi, kamu adalah istriku!" ucapnya menekankan setiap kata. "Dan, kamu malah bergabung dengan perusahaan rival ku. Itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu mengkhianati ku."

Alena menatapnya tanpa ekspresi. "Lalu, kalau aku ingin bergabung dengan perusahaan mu, apa kamu akan mengizinkannya?"

Arsen terdiam karena jawabannya jelas tidak.

Alena tersenyum tipis. "Kamu selalu mengatakan kalau aku tidak bisa apa-apa. Kamu bilang, aku tidak tahu sulitnya mencari uang, tidak mengerti tekanan dalam pekerjaan, dan hanya bisa menghabiskan uangmu."

Tatapannya perlahan berubah dingin. "Bahkan, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga pun selalu kamu remehkan."

Suasana mendadak hening.

"Sekarang aku bekerja, menghasilkan uang sendiri, dan berusaha berdiri di atas kakiku sendiri. Tapi, yang kamu lakukan justru menuduhku berkhianat?"

Arsen menarik napas panjang, berusaha meredam emosinya. "Oke, kalau itu mau mu, aku mengaku salah. Sekarang, kamu resign saja, ya."

Alena mengangkat sebelah alisnya. "Apa? Resign?"

"Ya, kamu tidak perlu bekerja lagi," ucap Arsen dengan suara yang mulai melunak. "Kamu cukup di rumah, seperti dulu. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu bisa menghabiskan uangku sesukamu."

Alena berdecak pelan. "Kenapa? Kamu merasa terancam?" tanya Alena datar. "Atau... Kamu takut bersaing dengan istrimu sendiri?"

"Kamu...!" Wajah Arsen memerah karena menahan marah.

"Sudahlah, Arsen!"

Hana yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut angkat bicara. Ia bangkit dari sofa dan berdiri di sisi putranya.

"Buat apa kamu memohon padanya?" ucapnya sinis. "Ceraikan saja dia. Dia tidak hanya mengkhianatimu, tapi juga sudah menelantarkan keluarganya."

Mendengar itu, Alena justru tertawa pelan lalu berubah keras. Bahkan, ia sampai bertepuk tangan.

"Hebat." Ia menatap Hana dan Arsen Arsen bergantian. "Kalian benar-benar hebat." Lalu, ekspresinya perlahan berubah dingin. "Kalian berdua bekerja sama menyudutkan ku, lalu menjadikanku seolah orang paling bersalah di dunia ini. Tapi sayangnya... Aku tidak takut lagi."

Hana tertegun. Ia merasa gentar melihat sorot mata menantunya.

Alena menatap mereka bergantian lalu, maju satu langkah dan sedikit mencondongkan tubuhnya.

"Justru, seharusnya kalian lebih tahu, siapa yang sebenarnya berkhianat."

Alena menaikkan sudut bibirnya lalu, berbalik dan melangkah pergi tanpa ragu.

Arsen menoleh, menatap punggung Alena yang semakin menjauh dengan rahang mengeras. Kedua tangannya mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. Sementara, Hana mulai gelisah.

"Apa maksud ucapan Alena tadi? Apa Dia tahu sesuatu?"

Arsen terdiam. Entah mengapa, ucapan itu membuat hatinya sedikit tidak tenang.

Selama ini, Alena selalu menjadi wanita yang penurut, lembut, dan tidak pernah membantah. Tapi sekarang, wanita itu berubah.

Bukan hanya berani melawannya, tetapi juga berdiri di pihak yang berseberangan dengannya dalam dunia bisnis.

Perubahan itu benar-benar mengusik pikirannya. Tapi, ia yakin jika perubahan itu bukan karena ia berselingkuh, melainkan karena tekanan menjadi ibu rumah tangga.

"Aku rasa tidak, Ma," jawabnya akhirnya. "Dia bicara seperti itu mungkin karena terpengaruh ucapan Doni."

Hana mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, cepat ceraikan saja dia. Dengan begitu, dia akan pergi dan tidak membawa apa pun dari keluarga ini."

Arsen terdiam beberapa saat. Lalu, perlahan sudut bibirnya terangkat.

"Tidak, Ma."

Hana mengernyit. "Apa maksudmu?"

Arsen menyipitkan mata ke arah lorong yang Alena lewati.

"Setidaknya, aku harus membuatnya memohon padaku terlebih dahulu."

Ada luka pada harga dirinya. Dan, ia tidak akan membiarkan Alena pergi begitu saja setelah mempermalukannya hari ini.

Ia ingin menang. Ia ingin melihat Alena kembali berlutut dan memintanya untuk kembali.

***

Keesokan paginya, suasana di kediaman keluarga Winata masih begitu tenang. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela besar ruang makan, menerangi sosok Rendra yang duduk dengan tenang sambil menikmati sarapannya.

Tidak lama kemudian, Kenan menyembulkan kepalanya dari balik dinding. Ia mengintip sang kakek sejenak, memastikan suasana hati pria tua itu sebelum akhirnya memberanikan diri masuk.

Ia berjalan perlahan menuju meja makan, lalu duduk tepat di seberang Rendra.

"Selamat pagi, Kek," sapa nya hati-hati.

Tidak ada jawaban. Rendra tetap fokus pada sarapannya seolah tidak mendengar apa pun.

Kenan berdeham pelan. Tapi, tetap tidak ada respons. Ia kembali berdeham, kali ini sedikit lebih keras. Namun, Rendra masih bersikap acuh tak acuh.

Kenan akhirnya mengembuskan napas panjang. Sepertinya sang kakek benar-benar masih marah padanya.

"Kek," panggilnya lirih. "Sampai kapan Kakek mau mendiamkan ku?"

Rendra mengangkat pandangan. Tatapannya dingin dan sedikit sinis.

"Akhirnya ingat juga kalau kamu punya kakek?" sindirnya.

Kenan menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Kek, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud mengabaikan Kakek. Sebagai permintaan maaf, hari ini aku akan menemani Kakek kontrol kesehatan, bagaimana?"

Rendra mendecih pelan. "Kontrol kesehatan?" ulangnya. "Lucu sekali. Sudah dua bulan berlalu, baru sekarang kamu berinisiatif dan minta maaf?"

"Kek, bukan begitu." Kenan buru-buru membela diri. "Aku benar-benar sibuk. Dua bulan ini, Doni fokus membimbing tim untuk mendapatkan tender besar. Makanya, aku belum sempat menemani Kakek."

Rendra mengangkat sebelah alisnya. "Oh, begitu? Lalu, sebelumnya juga sibuk karena urusan tender?"

Pertanyaan itu membuat Kenan langsung terdiam. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Karena kenyataannya, sebelum proyek tender itu dimulai pun, ia memang jarang meluangkan waktu untuk sang kakek.

Melihat cucunya bungkam, Rendra meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan pelan.

"Sudahlah." Ia bangkit dari kursinya. "Kamu tidak perlu memaksakan diri. Fokus saja pada pekerjaanmu."

"Kek…"

"Aku sudah punya janji hari ini," ucap Rendra.

Kenan menatapnya bingung. "Janji? Dengan siapa?"

"Tentu saja dengan Alena."

"Alena?" ulang Kenan, terkejut.

Rendra mengangguk santai. "Hari ini dia akan menemaniku kontrol kesehatan."

Mata Kenan membulat. "Lho? Bukannya aku yang mau menemani Kakek?"

"Kamu?" Rendra terkekeh pelan. "Aku tidak berani berharap banyak padamu lagi. Lagi pula, Alena jauh lebih bisa diandalkan."

"Kek!"

Rendra mengambil tongkatnya lalu melangkah meninggalkan ruang makan.

"Kakek, tunggu dulu!" seru Kenan sambil buru-buru berdiri. Namun, Rendra sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

"Aku serius ingin menemani Kakek hari ini!"

Pria tua itu menoleh sekilas. "Kalau begitu, datanglah lebih cepat dua bulan yang lalu."

Ucapan itu membuat Kenan terdiam. Ia hanya bisa memandang punggung sang kakek yang semakin menjauh, sementara rasa bersalah perlahan memenuhi dadanya.

"Tapi, Kek, aku benar-benar ingin menebus semuanya," gumamnya pelan.

1
Muft Smoker
jgn marah2 kek ,, namany juga ank2 ,, 😂😂😂😂 ,,
nakal sdkit gpp ,, yg penting nnti kek dapet cucu menantu idaman ,,
nunik rahyuni
bocah nakal lg kasmaran kakek..relakan saja hp jadulnya...untuk kelancaran menjemput calon cucu menantu🤣🤣🤣
Ma Em
Alena semangat ya dan kamu jgn mau direndahkan Arsen , Kenan pasti bohong pada Alena bahwa dia menggantikan kakek Rendra .
sunaryati jarum
Orang panik juga bisa lupa.sampai menggandeng tangan.orang tidak merasa.Untuk.Arsen Emak beritahu ya kamu memiliki masalah kesuburan jadi diaknosa saat masih jadi suami Alena kemungkinan kecil membuat pasangan kamu hamil
Muft Smoker: atuh perlu di pertanyakan atuh mak ,, ank di kandungan erina????😲😲😲😲😲
total 1 replies
sunaryati jarum
Astaga kirain emak Kenan baca pesan di Hp Alena, ternyata.hp kakek Rendra dibaea🤣🤣🤣
sunaryati jarum
O yang baca Tuan Kenan,ya.Sudaj berani baca pesan di Hp Alena
Yeni Astriani
ternyata saingan terberat Kenan dalam mendapatkan perhatian Alena Kakek Rendra sampai mencuri hape kakek nya sendiri biar gak bisa kencan sama Alena.
aduhh😂😂😂
nunik rahyuni
kan...kenan nakal..orsng tua dikerjai...sampai seisi rumah di balik cuma cari hp..tp sang cucu yg licik menguntit nya🤣🤣g ada nyali nya kenan...klo suka bilang bos
Heny
SUAMI YG GK BERSYUKUR DPT ISTRI SETIA DAN BAIK HATI
Heny
Main cabtik Alena
Heny
Alena yg sabar
nunik rahyuni
yg di beri kbr si kakek tp notif nya msuk di hp kenan jg🤣🤣🤣l modus kenan licik
Muft Smoker
jgn2 yg nerima pesan bukan kek rendra tp si kenan ,,
😂😂😂😂
sunaryati jarum
Bosnya suka kamu,dia bayar dengan dana pribadi ,dia mengatakan dana perusahaan agar kamu tidak menolak.Untuk urusan Arsen di perusahaan ASN kamu tidak perlu kawatir,dari hasil sidang dan terungkapnya fitnah Arsen padamu, Arsen sudah tidak mendapatkan kepercayaan lagi.Apalagi jika perselingkuhannya diungkap, mungkin para pemegang saham memintanya mundur
sunaryati jarum
Semangat dan sukses Alena.Dan emak ingin segera melihat kehancuran Arsen dan keluarganya termasuk selingkuhannya
sunaryati jarum
Kenan Pepet Alena dengan dalih menemani kakek Rendra.Cerdas juga bisa memanfaatkan kedekatan kakeknya dengan Alena 🤣🤣🤣👋👋
Ma Em
Semangat Alena semoga kamu makin sukses selalu bahagia tinggalkan masa lalu menuju masa depan yg bahagia , semoga Arsen tdk akan pernah bahagia bersama selingkuhan nya dan mendapatkan balasan yg lbh menyakitkan .
Muft Smoker
tdk perlu memandang lg kebelakang Alena ,, anggap aj mereka mimpi buruk yg perlu km lupain ,,
Muft Smoker
tkuut kesaing ma kakek ny sndriii yx kenan😂😂😂😂😂
sunaryati jarum
Arsen yang menghubungi atau ada bukti baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!