Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Debu yang Mengendap
Seminggu telah berlalu sejak live streaming yang mengguncang jagat maya dan berakhirnya era kekuasaan Pramudita Atharrazka di yayasan kampus. Kantor redaksi Media Warta Nusantara kini suasananya jauh berbeda. Tidak ada lagi ketegangan mencekam di setiap sudut; yang ada hanyalah kesibukan baru untuk meliput kelanjutan kasus korupsi yang kini telah menjadi sorotan nasional.
Naura berdiri di depan pintu ruang redaksi, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Ia tidak lagi menyandang status reporter magang yang dipandang sebelah mata. Kini, ia adalah sosok yang namanya disebut-sebut sebagai jurnalis muda paling berani tahun ini. Namun, kenyataan itu justru membuatnya merasa canggung.
"Naura!"
Alyssa berlari menghampirinya, wajahnya cerah. "Gila, Nau! Lo beneran jadi legenda di kantor ini. Pak Surya bahkan sudah nungguin lo di ruangannya. Dia bilang mau diskusi soal posisi tetap buat lo."
Naura hanya tersenyum tipis. "Gue cuma lakuin apa yang seharusnya dilakukan, Al."
Di balik pintu kaca ruang rapat, Pak Surya sudah duduk menanti. Kali ini, auranya tidak lagi menekan seperti saat ia mengancam Naura. Ia menyambut Naura dengan anggukan hormat.
"Duduk, Naura," ucap Pak Surya. "Saya minta maaf atas sikap redaksi minggu lalu. Dimas sudah ditahan, dan investigasi internal kami menemukan bahwa pengaruhnya di sini jauh lebih dalam dari yang kita duga. Kamu benar, kami seharusnya lebih percaya pada integritas daripada ketakutan."
"Terima kasih, Pak," jawab Naura singkat.
"Saya ingin menawarkan kamu posisi sebagai jurnalis investigasi senior. Kamu punya insting yang tidak dimiliki orang lain. Dan jujur saja, kita butuh orang seperti kamu untuk membersihkan nama media ini."
Naura terdiam sejenak. Tawaran itu sangat menggiurkan, posisi yang ia impikan sejak hari pertama ia masuk ke sini. Namun, pikirannya melayang ke Kaelith, yang saat ini masih harus menjalani pemeriksaan intensif sebagai saksi sekaligus pihak yang melapor.
"Saya butuh waktu untuk mempertimbangkannya, Pak," kata Naura dengan jujur. "Banyak hal yang terjadi minggu ini, dan saya merasa saya butuh jeda untuk memproses semuanya."
Pak Surya mengangguk mengerti. "Tentu. Pintu ini selalu terbuka untuk kamu."
Keluar dari kantor, Naura tidak langsung pulang. Ia menuju sebuah kafe kecil di dekat kantor kepolisian. Di sana, Kaelith sudah menunggunya. Penampilan Kaelith sudah jauh lebih baik—luka lebamnya sudah mulai memudar, meski sorot matanya masih menyimpan gurat kelelahan yang dalam.
"Tadi di kantor polisi?" tanya Naura begitu duduk.
Kaelith menyesap kopinya. "Semuanya lancar. Bokap gue sudah nggak punya akses ke tim hukum perusahaan. Mereka semua sekarang sibuk saling menyalahkan satu sama lain. Gue cuma perlu datang sekali lagi besok untuk penandatanganan berkas terakhir."
"Lo... nggak apa-apa?"
Kaelith menatap Naura, lalu perlahan menggenggam tangan gadis itu di atas meja. "Gue baik-baik saja. Rasanya aneh, ya? Selama ini gue hidup dalam bayang-bayang ekspektasi bokap gue. Sekarang, saat bayang-bayang itu hilang, gue ngerasa bebas tapi sekaligus bingung harus mulai dari mana."
"Lo punya banyak pilihan, Kael," ujar Naura lembut. "Lo bisa lanjut kuliah, atau mungkin cari hal baru yang benar-benar lo suka."
Kaelith tertawa pelan. "Mungkin setelah ini gue mau jadi barista. Kayaknya lebih tenang daripada jadi ketua BEM yang harus berurusan sama koruptor."
Naura tertawa, sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak mereka rasakan. "Kalau gitu, gue bakal jadi pelanggan setia."
Namun, di balik candaan itu, keduanya tahu bahwa realitas yang mereka hadapi tidak akan sepenuhnya kembali normal. Nama mereka sudah terpatri di publik sebagai simbol perlawanan. Media sosial masih terus membicarakan mereka, dan ada banyak pihak di luar sana yang mungkin tidak senang dengan apa yang telah mereka bongkar.
"Nau," Kaelith menatapnya serius. "Lo nggak perlu merasa harus terus ada di samping gue. Gue tahu setelah ini lo punya karier cemerlang yang menunggu. Gue nggak mau lo terbebani dengan sejarah keluarga gue yang berantakan."
Naura menatap Kaelith tajam. "Lo pikir gue segampang itu pergi? Kita sudah lewatin neraka bareng-bareng. Gue nggak akan pergi ke mana-mana sampai lo bener-bener ngerasa siap untuk memulai hidup baru."
Kaelith tertegun. Ia melihat ketulusan yang tak tergoyahkan di mata Naura.
Tiba-tiba, ponsel Naura bergetar. Sebuah notifikasi dari redaksi: “Berita hasil audit investigasi kita akan terbit besok pagi di halaman utama. Semua nama-nama aktor di balik korupsi gedung itu akan diungkap.”
Naura menatap layar ponselnya, lalu menatap Kaelith.
"Setelah besok," kata Naura, "semuanya akan benar-benar selesai. Orang-orang akan tahu siapa yang bersalah, dan siapa yang benar."
"Dan kita?" tanya Kaelith.
"Kita akan jadi orang asing yang punya rahasia paling besar di dunia ini," jawab Naura dengan senyum tipis.
Saat mereka melangkah keluar dari kafe, udara sore terasa lebih segar. Debu-debu skandal yang sempat menutupi kota perlahan mengendap. Kehidupan tetap berjalan, namun mereka berdua telah berubah. Mereka bukan lagi gadis reporter yang naif atau ketua BEM yang tertekan. Mereka adalah saksi hidup dari bagaimana kebenaran bisa mengubah alur takdir.
Namun, di balik kedamaian yang baru saja tumbuh, Naura melihat sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan. Mobil itu tidak bergerak, hanya diam di sana dengan kaca yang gelap. Insting jurnalisnya langsung bereaksi. Apakah ini akhir dari segalanya, ataukah ada badai lain yang baru saja akan dimulai?
Kaelith mengikuti arah pandang Naura dan ikut menegang. Ia merasakan tangan Naura yang gemetar di genggamannya.
"Kita pulang," bisik Kaelith, berusaha tetap tenang. "Apapun itu, jangan pernah lepasin tangan gue."
Mereka terus berjalan, berpura-pura tidak melihat mobil itu, namun dalam hati mereka tahu: dunia belum benar-benar selesai dengan mereka.