Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27: Marisa
Cakra malam itu hanya memasak bubur saja karena dirinya merasa tak enak badan. Marisa memaklumi hal itu karena mengetahui Cakra sedang sangat lemah.
“Kau istirahat dulu saja” Marisa mengatakan kepada Cakra.
.
“Ya” Cakra berbaring.
Malam itu Marisa merawat Cakra, walau dia tak ahli dia mengusahakan untuk merawat Cakra yang sangat lemah. Marisa mengikuti instruksi Chakra untuk membuat makan malam miliknya. Saat memasak Marisa tangannya terbakar karena lupa jikalau wajan sedang panas.
“Auw!” Jari Marisa terluka.
.
“Auw!” Tanpa sengaja memegang wajan panas.
Setelah selesai masak, Marisa makan sendirian di meja. Melihat Cakra yang sedang berbaring Marisa tak terlalu ingin berisik. Dia dengan pelan pelan makan berusaha tak mengeluarkan suara berisik.
*munch *munch suara mengunyah
“Humm ini enak”
“Tapi…”
“Tanganku sakit”
“Aku jadi teringat akan saat di rumah”
“Penasaran sekali sekarang mereka sedang apa…”
Di rumah Marisa terlihat ayahnya yang sedang mengecek laporan, sekali sekali beliau melihat foto yang terpampang di mejanya. Beliau berhenti sejenak dan mengambil foto tersebut.
“Aku masih gagal menjaganya seperti saat aku kehilanganmu dulu…” sambil mengusap foto dengan Wanita berambut pirang didalamnya.
“Kali ini sang pangeran brengsek itu berulah” menggebrak meja.
“Dirinya benar benar gak puas dengan Wanita”
“Bahkan raja tak peduli akan hal ini” menggenggam tangannya kuat kuat.
“Aku tak tau apa yang raja ini pikirkan”
“Tapi dia membiarkan saja anaknya memaksa Marisa!”
“Putri kita!”
“Miran”
“Aku Handa tidak pernah bisa menepati janji ku kepadamu” menundukkan kepalanya.
Di gua Marisa masih makan dengan lahap sambil membaca buku yang Cakra berikan. Dirinya terlihat sangat asik membaca buku tersebut, ketika dilihat buku tersebut berjudul World of Night. Buku ini adalah buku yang berisi tentang cerita yang diselimuti malam abadi dengan Wanita sebagai MC nya berusaha memutus malam itu.
“Hmm”
“Hmm”
“Apakah dia akan melakukan itu?” sambil terus membaca dengan kecepatan luar biasa.
“Ups” menutup mulutnya”
“Aku lupa Cakra sedang istirahat…”
Malam belum terlalu lelap, Marisa masih terus membaca tanpa melihat waktu. Dirinya terlihat sangat asyik dengan bagian yang dia baca.
“HihiHihi” Marisa cekikikan sambil terus membaca.
Di tempat lain lagi pasukan dari pangeran terlihat menyisir hutan seakan akan mereka ingin menghancurkan hutan tersebut. Pada malam hari mereka mengambil setetes darah dan membangun formasi pemanggilan. Dimana mahluk yang dipanggil adalah segumpal daging yang langsung menyerang mereka.
“Aaaaah tolong!!!” seorang prajurit berteriak di hutan yang sepi.
Sebuah ruangan di istana, terlihat Argou sedang bertemu dengan orang misterius. Orang tersebut berbicara.
“Kapan kau akan memulai?”
“Kami sudah berbaik hati membantumu menghilangkan ingatan mereka akan keburukanmu”
.
“Hah” Argou terlihat kesal.
“Kalian memasang itu juga untuk melindungi kalian bukan supaya tak terdeteksi oleh para ksatria itu?”
“Kalian pikir mudah bergerak di tanah yang penuh lumpur ini?”
“Sedikit saja aku bertindak para Ksatria itu muncul”
.
“Cepatlah bertindak”
“Para dewa sudah tidak sabar”
.
“Hei”
“Katakan ke dewamu untuk menunggu”
“Kalian yang menyatakan diri kalian kebenaran saja kalah”
“Apalagi aku”
“Kecuali…” Argou tersenyum licik.
“…”
“Kau membuatku jadi raja”
.
“Kau pikir membunuh si tua itu mudah?”
“Dia adalah makhluk yang setara dengan orang orang yang telah ascend”
“Dia bahkan gak pernah bergerak dari singgasananya itu”
.
“Kalau begitu berikan aku Marisa”
“Kalau bisa kau kendalikan pikirannya supaya menurutiku”
“Dengan begitu aku pasti bisa mengontrol Menteri itu”
.
“Tidak, anak itu tak bisa ditemukan”
“Entah kenapa jejak masa lalunya bahkan masa depan itu seperti hilang”
“Dirinya sepertinya berpindah ke faksi baru yang ada di monument raksasa itu”
.
“Maksudmu dia bukan penyihir lagi?” Argou terkejut.
“Dan dia masuk ke pendekar?”
.
“Ya”
“Dia masuk ke Faksi baru yang gak memiliki jejak apapun di dunia ini”
“Seakan akan energi yang mereka gunakan adalah alam ataupun dari diri mereka sendiri”
Argou terlihat bingung dengan keadaan.
“Sepertinya dia diselamatkan oleh orang yang membuat Faksi misterius itu”
“Kalau begitu cari”
.
“Apa maksudmu cari?”
“Kau pikir mencari 1-2 orang itu hal mudah?”
“Ditambah mereka tak muncul sampai sekarang kemungkinan mereka telah muncul ke dunia sangat kecil”
“Dan si Marisa itu”
“Sangat mungkin dia telah tau rencana kita”
.
“Terus masalahnya apa?!” Argou terlihat marah.
“Kalau kita bisa mendapatkannya kita bisa memasang kontrol jiwa dan mengedit ingatannya”
“Kalian”
“Kalian itu bahkan bisa mengontrol alam”
.
“Memang kami bisa, tapi dengan si Marisa telah pindah ke faksi pendekar”
“Sangat mungkin kekuatannya bisa melindunginya dari kontrol dunia”
Argou membanting vas ke lantai, di tempat lain terlihat sebuah desa sedang dilalap oleh api. Juga terlihat gumpalan darah yang sudah sangat besar gumpalan tersebut terus bergerak. Di sisi lain seorang manusia melompat diantara dahan. Bergerak cepat ke sumber kebakaran, ketika sampai ke sumber kebakaran dia melihat tanah penuh darah.
“Ini…”
“Apa mahluk abstrak?”
“Bahkan mayat satupun gak tersisa”
“Sebenarnya konsep apalagi ini”
“Melihat kerusakan sepertinya mahluk ini menyerap daging dan darah”
“Sial sepertinya akan cukup susah karena mahluk seperti ini mirip seperti menebas daging”
Mahluk itu rupanya berjalan ke arah gua. Anehnya mahluk ini gak meninggalkan satupun jejak untuk dilacak dia melewati daun dan ranting. Marisa yang merasakan aura aneh di luar menilik dari lubang pintu, dia melihat mahluk yang terbentuk dari darah maju ke Gua persembunyian mereka.
“Aduh”
“Cakra sedang istirahat aku gak bisa mengganggunya”
“Apakah aku harus yang harus menghadapi mahluk ini”
“Aku sudah familiar tapi apakah bisa?”
“Kalau begitu mari kucoba” Marisa bersemangat.
Dia keluar dari pintu tersembunyi menghadapi mahluk tersebut, dirinya lalu memadatkan tenaga alam dan tenaga dalamnya. Saat dia memadatkan tenaganya dirinya membuat sebuah cambuk berduri.
*Ctas Marisa mengetes cambuknya.
“Maju!”
Marisa mencambukkan mahluk itu dengan cambuk buatannya, saat itu cambuk tersebut bisa langsung menyerap darah yang berada di bagian yang kena.
“Ah bisa begini”
“Apakah mirip seperti air”
“Kalau begitu aku tak segan”
Marisa bergerak gesit ke kanan dan ke kiri, terus mencambuk mahluk tersebut. Mahluk itu merasa kewalahan berpikir untuk meledakkan dirinya.
“Oh energi ini…”
“Kau ingin meledakkan diri…”
“Tak akan kubiarkan!”
Marisa berhenti dia membuka telapak tangannya mengarahkan ke makhluk itu, banyak akar yang keluar dari tanah langsung melilit makhluk itu. Makhluk itu terlihat sangat kesakitan tapi karena makhluk tersebut tak bisa bersuara tak ada teriakan yang keluar. Marisa terus melakukannya hingga makhluk itu hilang sepenuhnya.
“Ha…. Ha….”
“Aku rupanya bisa mengontrol tanaman?”
“Oh menarik”
Marisa melihat sebuah kristal dengan warna hijau, dirinya tiba tiba teringat dengan kristal kristal lain yang Cakra temukan dan memutuskan untuk membawa itu untuk ditunjukkan ke Cakra besok.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...