NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertunangan

Sore ini, gadis itu sedang bersiap-siap di dalam kamarnya. Balutan kebaya berwarna peach, rambut yang disanggul ke atas, serta polesan makeup tipis membuat penampilannya terlihat begitu elegan. Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

“Sayang, kamu udah siap belum?” teriak Felly dari luar kamar.

Tanpa menunggu jawaban, Felly langsung membuka pintu kamar itu. Matanya membulat begitu melihat penampilan putrinya.

“Oh my God! So pretty,” rengek maminya dengan wajah senang. “Cantik banget kamu, Sayang.”

Pujian itu hanya membuat Nara tersenyum tipis. Tidak ada sedikit pun binar kebahagiaan di kedua matanya.

“Anak Mami kenapa? Senyum dong, Sayang. Sebentar lagi keluarga pihak Alden sampai ke sini,” ujar Felly sembari mendekati putrinya.

“Gimana mau senang, Mi? This is not my dream, Mi.” protes Nara pelan.

Perkataan itu membuat Felly langsung terdiam. Dia tahu betul bahwa putrinya terpaksa menjalani pertunangan ini. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia merasa tidak tega. Namun, keputusan tersebut sudah dibuat oleh keluarga besar mereka, terutama sang opa yang terkenal keras kepala.

Tidak lama setelah itu, terdengar suara Oma Ena dari balik pintu kamar.

“Sayang, Oma boleh masuk?” panggil sang oma dari luar.

“Masuk aja, Oma,” jawab Felly.

Saat pintu terbuka, Oma Ena langsung masuk ke dalam kamar. Begitu melihat Nara, wajahnya seketika berubah penuh kekaguman.

“Nara, ya Tuhan, cantik banget cucu Oma,” ucap Oma Ena dengan bangga.

Nara kembali memberikan senyum tipis. “Makasih, Oma,” jawabnya lirih.

Oma Ena berjalan mendekat, lalu menggenggam tangan cucunya dengan lembut. Tatapannya berubah sendu karena dia tahu Nara tidak benar-benar menginginkan pertunangan ini.

“Oma tahu kamu pasti terpaksa, kan, lakuin ini? Maafin Oma, ya. Ini juga karena opa kamu tetap kekeuh sama pilihannya. Dulu aja papi sama mami kamu malah dinikahin pas umur tujuh belas tahun. Ini untung aja Oma berhasil minta negosiasi sama opa kamu. Kalau enggak, mungkin sekarang udah jadi acara pernikahan, bukannya pertunangan,” celoteh Oma Ena.

Ucapan sang oma membuat Nara dan Felly akhirnya tersenyum. Walaupun tidak sepenuhnya bisa menghilangkan rasa kesal Nara, setidaknya suasana di kamar itu menjadi sedikit lebih ringan.

Sekarang, Nara sudah berada di belakang rumahnya yang sangat luas. Area tersebut dihias sebagus mungkin untuk acara pertunangan mereka. Berbagai bunga berwarna putih dan peach menghiasi tempat itu, lengkap dengan lampu-lampu kecil yang membuat suasananya terlihat hangat dan mewah.

Di sana sudah berkumpul keluarga dari pihak laki-laki dan pihak perempuan. Untungnya, hanya para om dan tante mereka yang datang. Tidak ada satu pun anak-anak mereka yang diajak menghadiri acara tersebut. Setidaknya, Nara tidak perlu menahan malu di hadapan sepupu-sepupunya.

Acara berlangsung begitu lancar hingga akhirnya tiba pada sesi pemasangan cincin pertunangan.

“Silakan calon pengantin pria dan wanita untuk segera berdiri di depan sini,” ucap MC yang memandu acara tersebut.

Nara dan Alden bangkit dari tempat duduk masing-masing, lalu berjalan menuju bagian depan. Keduanya berdiri berdampingan dengan ekspresi yang jauh dari kata bahagia. Para tamu mungkin mengira mereka sedang gugup, padahal keduanya sama-sama tidak menikmati acara ini.

Seseorang datang membawa sebuah kotak beludru berisi sepasang cincin. Alden mengambil salah satu cincin dari dalam kotak tersebut, kemudian berusaha meraih tangan Nara. Namun, gadis itu langsung menyingkirkan tangannya.

“Pasang sendiri-sendiri aja. Enggak usah modus,” bisik Nara tanpa menoleh ke arahnya.

“Enggak usah ngebantah! Siapa juga yang modusin lo?” balas Alden.

Alden kembali menarik tangan Nara, kali ini dengan gerakan yang sedikit kasar. Nara langsung menatapnya tajam, tetapi sebelum dia sempat protes, suara seseorang terdengar dari belakang tempat duduk para tamu.

“Bang Alden, jangan kasar gitu,” protes Asha dengan cukup keras.

Ucapan Asha membuat Nara dan Alden langsung merasa malu. Beberapa tamu mulai memperhatikan mereka sambil menahan tawa.

“Mohon yang lembut, ya, calon pengantin pria. Karena wanita suka diperlakukan dengan lembut oleh laki-laki yang dia sayangi,” ujar MC dengan nada iseng.

Suasana yang tadinya tenang langsung menjadi sedikit berisik.

“Cieee!” goda para bapak dan ibu yang berada di sana.

Godaan itu membuat Nara semakin malu. Wajahnya terasa panas, terlebih ketika semua mata tertuju kepada mereka.

“Gara-gara lo,” protes Nara pelan.

Sementara itu, Alden hanya diam tanpa berkutik. Dia tetap memasangkan cincin tersebut ke jari Nara seolah tidak mendengar omelan gadis di hadapannya.

“Ingat, ya. Walaupun lo udah jadi tunangan gue, gue enggak mau nurut sama lo. Paham?” bisik Nara lagi sambil tersenyum palsu ke arah para tamu.

“Terserah,” ucap Alden dingin.

Setelah cincin berhasil terpasang, kini giliran Nara mengambil cincin lainnya. Dia memasangkan cincin itu ke jari Alden dengan gerakan cepat, seakan ingin segera menyelesaikan bagian tersebut.

“Oke, baik. Setelah ini, silakan untuk foto berdua terlebih dahulu, ya,” lanjut sang MC.

Nara dan Alden pun berdiri di tempat yang sudah disediakan untuk sesi foto. Begitu Alden mendekat, Nara langsung memberikan peringatan.

“Enggak usah dekat-dekat, lo,” bisik Nara ketus.

“Mohon untuk lebih dekat, ya. Pose mesra sedikit,” ucap fotografer yang berdiri di depan mereka.

Nara ingin membantah permintaan fotografer tersebut. Namun, tiba-tiba saja pinggangnya ditarik oleh Alden hingga tubuh mereka berdiri begitu dekat. Alden kemudian mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin yang sudah terpasang di jarinya.

“Apaan sih?” bisik Nara sambil memprotes perlakuan Alden.

Alden tidak menjawab. Dia tetap mempertahankan posisinya sambil menatap ke arah kamera.

“Oke, mantap. Satu, dua, tiga!” ucap fotografer.

Nara dengan cepat memasang senyum dan ikut bergaya ke arah kamera, meskipun di dalam hati dia ingin segera menjauh dari Alden.

“Keren!” puji fotografer itu setelah mengambil beberapa foto.

Begitu sesi foto selesai, Alden langsung melepaskan tangannya dari pinggang Nara.

“Enggak usah geer,” ucapnya dingin, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.

Nara hanya bisa menatap punggung Alden dengan kesal.

“Dih, enggak jelas,” gerutunya pelan.

1
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!