Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pabrik Baja dan Tatanan Baru
Hujan badai perlahan mereda menjadi gerimis kecil, menyisakan kabut tipis yang merayap di atas jalanan aspal yang retak. Aroma tembaga dari darah segar bercampur dengan bau hangus kendaraan yang terbakar, menciptakan udara malam yang mencekik paru-paru.
Yudha bergerak menyusuri bayang-bayang gedung. Tujuannya jelas: kawasan industri di pinggiran barat kota. Sebagai seorang perakit anomali, ia membutuhkan markas dengan pasokan logam, peralatan las tingkat tinggi, dan mesin bubut yang memadai. Sebuah pabrik peleburan baja yang terbengkalai di kawasan itu adalah pilihan sempurna. Tempat itu dikelilingi tembok beton setinggi tiga meter dan memiliki gerbang besi tebal.
Sebuah benteng ideal untuk memulai semuanya.
Setelah satu jam menghindari gerombolan makhluk asing dan sesekali memburu monster Tingkat 1 untuk menguji ketangkasan barunya, Yudha akhirnya tiba di depan gerbang pabrik tersebut. Namun, tempat itu tidak kosong.
Di halaman depan pabrik, di bawah pendaran lampu jalan yang berkedip sekarat, pertempuran berdarah sedang terjadi.
Tiga ekor makhluk menyerupai serigala raksasa dengan bulu merah darah dan tulang punggung yang mencuat tajam sedang mengepung sekelompok penyintas. Tulisan merah melayang di atas kepala makhluk-makhluk itu: [Serigala Tulang Darah - Tingkat 4].
Sebagian besar manusia di sana hanya bisa meringkuk ketakutan di balik tumpukan drum kosong. Namun, dua pemuda berdiri di garis depan, menolak untuk menyerah. Keduanya memegang pipa besi panjang hasil bongkaran pabrik, ujungnya telah ditajamkan secara kasar.
"Lin Chen, jaga sisi kirimu! Jangan biarkan mereka memutar!" teriak pemuda yang lebih tua. Sorot matanya setajam elang, tubuhnya bergerak dengan ritme yang teratur.
"Aku tahu, Kak Lin Tian! Fokus saja pada yang di depanmu!" balas pemuda yang lebih muda, menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya.
Yudha menghentikan langkahnya, bersembunyi di balik pilar beton gerbang untuk mengamati. Alisnya terangkat karena terkejut.
Kedua bersaudara itu tidak bertarung dengan ayunan buta penuh kepanikan seperti kebanyakan orang. Kuda-kuda mereka kokoh, melangkah dengan pola khusus yang menjaga keseimbangan tubuh di jalanan licin. Ketika seekor serigala menerjang, Lin Tian tidak menahan benturan itu secara langsung. Ia memutar tumitnya, menggeser tubuhnya ke samping, dan menggunakan tenaga dorongan monster itu untuk menyabetkan pipa besinya tepat ke persendian kaki si serigala.
Itu adalah ilmu bela diri sungguhan. Sistem tampaknya tidak hanya memperkuat atribut fisik manusia, tetapi juga membuat teknik bela diri peninggalan masa lalu—yang dulunya dianggap sekadar pertunjukan—kini meledak dengan daya hancur yang mematikan. Pembentukan fisik yang diberikan oleh Sistem memungkinkan tubuh mereka menahan tekanan teknik yang keras.
Namun, stamina mereka memiliki batas. Pipa besi di tangan Lin Chen mulai bengkok setelah menahan gigitan rahang salah satu monster. Seekor serigala lain memanfaatkan celah itu, melompat dari titik buta untuk menerkam leher Lin Chen.
"Chen!" jerit Lin Tian, terlambat untuk memutar senjatanya.
Pada detik yang menentukan itu, sekelebat bayangan biru melesat dari arah gerbang.
BZZZTTT!
Yudha menerjang tepat waktu, menghujamkan pedang kejutnya langsung ke leher serigala yang melayang di udara. Tegangan lima ribu volt meledak terang, menerangi halaman pabrik. Monster itu mengejang hebat di udara, bulu merahnya terbakar hangus, sebelum akhirnya terhempas jatuh ke tanah menjadi gumpalan daging kaku.
Lin Tian dan Lin Chen tertegun, menatap pemuda berpakaian kotor yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka bak dewa kematian.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Yudha mencabut senjatanya. Ia memanfaatkan kelincahan Atribut Agilitasnya yang mencapai angka 12. Kakinya menolak tanah, melesat ke arah dua serigala yang tersisa. Dengan tebasan beruntun yang presisi, mengincar titik buta dan sambungan tulang yang sebelumnya telah dilemahkan oleh serangan dua bersaudara itu, Yudha mengakhiri nyawa kedua monster tersebut dalam hitungan tarikan napas.
[Entitas 'Serigala Tulang Darah' (Tingkat 4) x3 berhasil dimusnahkan.]
[+400 Poin Pengalaman.]
[Tingkat 2 -> Tingkat 3]
[Anda mendapatkan 5 Poin Atribut Bebas.]
Yudha mengayunkan pedangnya untuk membuang sisa darah hitam yang menempel, lalu mematikan arus listriknya. Suasana kembali hening, hanya terdengar isak tangis tertahan dari para penyintas yang bersembunyi di belakang.
Lin Tian melangkah maju, memegang dadanya yang terluka, lalu menundukkan kepala dengan sikap hormat yang kental dengan tradisi bela diri kuno. "Terima kasih atas bantuan Anda. Jika Anda tidak turun tangan, nyawa kami pasti sudah melayang malam ini. Saya Lin Tian, dan ini adik saya, Lin Chen."
Yudha menatap mereka dengan sorot mata dingin yang tidak bisa dibaca. Ia melihat pontensi besar di dalam diri kedua pemuda ini. Jika ia ingin mendirikan tatanan yang kuat, ia tidak bisa mengumpulkan sembarang sampah. Ia membutuhkan orang-orang dengan tekad baja dan pondasi kekuatan yang nyata.
"Ilmu tombak dasar dan tinju harimau," ucap Yudha datar, menebak dari gerakan mereka tadi. "Kalian memiliki dasar ilmu yang bagus, tetapi tubuh kalian belum cukup kuat untuk menopang aliran tenaganya di era baru ini."
Lin Tian dan Lin Chen saling berpandangan dengan terkejut. Sangat jarang ada pemuda seusia mereka yang mengenali teknik usang tersebut hanya dari beberapa gerakan pertarungan kotor.
Yudha berbalik, menatap bangunan utama pabrik baja yang menjulang gelap di belakang mereka.
"Pabrik ini, mulai detik ini, adalah wilayahku," kata Yudha dengan suara berat yang menuntut kepatuhan mutlak. Ia menoleh kembali ke arah Lin Tian, menatap tajam ke mata pemuda itu.
"Dunia lama sudah mati. Hukum dan belas kasihan tidak lagi berlaku. Aku akan membangun sebuah faksi di sini, sebuah tatanan yang berdiri di atas kekuatan mutlak dan hierarki yang ketat. Mereka yang tidak berguna akan dibuang. Mereka yang berkhianat akan dihancurkan."
Yudha menunjuk bangkai serigala di dekat kaki Lin Chen. "Belah dada makhluk itu, ambil kristal energinya, dan serap ke dalam tubuh kalian. Itu akan membersihkan sumbatan di urat nadi kalian dan memperkuat fisik kalian jauh melampaui batasan manusia biasa."
Mata Lin Tian membulat. Rahasia menyerap kristal energi monster pastilah informasi yang sangat berharga saat ini, namun pemuda di depannya ini memberikannya begitu saja.
"Mengapa Anda memberi tahu kami hal ini?" tanya Lin Tian hati-hati.
"Karena aku menawarkan kalian sebuah pilihan," jawab Yudha dingin, menyarungkan pedangnya ke punggung. "Pergi dari sini dan cobalah bertahan hidup sendiri di luar sana... atau menetaplah, jadilah murid luar di tatananku, dan buktikan nilai kalian. Jika kalian patuh dan berkembang, aku akan memberi kalian kekuatan yang membuat para penguasa dunia lama berlutut."
Udara terasa membeku. Pilihan itu sangat jelas. Tatanan baru, hierarki baru, dan pendakian kekuatan yang tiada akhir.
Lin Tian menatap adiknya sejenak, lalu tanpa ragu, kedua bersaudara itu menjatuhkan salah satu lutut mereka ke tanah aspal yang basah.
"Kami bersedia mengabdi," ucap Lin Tian tegas.
Yudha tersenyum tipis. Fondasi faksi pertamanya telah diletakkan.