NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Nadya terkunci rapat di antara kungkungan tubuh pria itu dan daun pintu yang dingin. Sepasang lengan kekar berkulit tan kokoh mengurung di sisi kiri dan kanan kepalanya, menutup seluruh celah untuk melarikan diri. Aroma maskulin perpaduan sandalwood dan musk yang bersih menguar tajam, menginvasi indra penciuman Nadya dan seketika melipatgandakan ketegangan di dadanya.

​"Arnold..." ucap Nadya dengan suara bergetar. Ia menunduk dalam-dalam, sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menatap pria jangkung yang kini sedang mengintimidasinya dari atas.

​"Yes, its me sweety."

​"Ap... apa yang lo lakuin disini, bukannya lo...?" Kalimat Nadya menggantung, tersendat oleh rasa takut yang luar biasa.

​Arnold Mahesa. Cowok itu adalah hantu dari masa lalunya di sekolah menengah atas. Nadya memiliki lembaran cerita kelam bersama Arnold yang hingga kini masih menyisakan trauma mendalam.

​Semuanya bermula saat SMA, ketika Nadya tidak sengaja memergoki aksi perundungan kejam yang dilakukan Arnold terhadap siswa lain. Menyadari perbuatan buruknya memiliki saksi mata, Arnold langsung menjadikan Nadya sebagai target intimidasi berikutnya.

Namun, bukannya tunduk dan menangis ketakutan, Nadya justru memberikan perlawanan sengit. Reaksi tak terduga itu bukannya membuat Arnold jera, melainkan malah memantik rasa tertarik dan obsesi gila di dalam diri cowok itu.

​Obsesi Arnold berkembang menjadi sesuatu yang sakit dan mendekati psikopat. Nadya kerap kali menerima pelecehan, hingga puncaknya terjadi pada malam perpisahan senior. Sebagai panitia acara, Nadya terpaksa bertahan di sekolah hingga larut malam untuk menyelesaikan berbagai persiapan. Di saat sepi itulah, Arnold bersama komplotannya membawa Nadya secara paksa ke gudang belakang sekolah yang terbengkalai, menorehkan sebuah luka tak kasatmata yang meninggalkan trauma teramat berat di sepanjang hidupnya.

Nadya tidak mampu mengingat dengan jelas apa yang terjadi setelah malam mencekam itu. Memorinya buram. Yang ia tahu, saat kelopak matanya kembali terbuka, ia sudah terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan aroma obat-obatan yang menyengat. Sang mama, dengan mata sembap, berbisik bahwa putrinya telah kehilangan kesadaran selama dua hari penuh.

​Seminggu berselang dalam masa pemulihan di sana, barulah teka-teki itu mulai terjawab. Lewat cerita Riska yang datang menjenguk, Nadya akhirnya mengetahui bahwa Arnold dan komplotannya telah resmi diseret ke balik jeruji besi.

​"Bukannya lo di penjara?" cicit Nadya dengan tubuh yang gemetar hebat.

​Bayangan kelam malam itu mendadak berputar ulang di kepalanya, menghantam kesadarannya tanpa ampun. Detik itu juga, Nadya seolah terlempar kembali ke masa lalu, merasakan kembali pasokan udara yang mendadak pengap dan penuh debu, ringkikan suara tawa laki-laki yang saling bersahutan memuakkan, pekatnya bau alkohol yang bercampur dengan asap rokok, hingga... suara robekan kain bajunya yang menyayat malam. Semua kengerian itu mendadak terasa begitu nyata.

​Namun, lamunan traumatis itu buyar seketika saat Arnold terkekeh rendah. Suara tawanya terdengar begitu meremehkan. "Lo gak tau gue? Siapa bokap gue, hem?"

​Dada Nadya berdesir nyeri. Ia tentu tahu. Budi Mahesa, ayah Arnold, adalah seorang kepala daerah berkuasa pada saat itu, dan kini posisinya sudah melesat naik menjadi seorang gubernur, bahkan digadang-gadang akan mencalonkan diri sebagai presiden berikutnya. Dengan kekuasaan raksasa seperti itu, tentu perkara mudah untuk mengeluarkan bajingan seperti Arnold dari penjara, peduli setan dengan berapa banyak nyawa yang telah dihilangkannya.

​Nadya mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia menolak terlihat lemah di depan Arnold. Jika ia menunjukkan ketakutan, itu hanya akan memberi umpan bagi monster di depannya untuk kembali berbuat nekat.

​"Lepasin gue!" bentak Nadya, mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk mendorong dada bidang Arnold.

​Arnold bergeming, seringai tipis terukir di wajah tampannya yang culas. "Lo fikir semudah itu setelah apa yang udah lo lakuin sama gue hah?"

​"Gue gak lakuin apapun sama lo, lo yang udah nyakitin gue brengsek!" umpat Nadya berapi-api.

​"Sussttt..." Arnold menempelkan telunjuknya di bibir, lalu berbisik tepat di samping telinga Nadya. Jemarinya perlahan turun, membelai bibir gadis itu dengan gerakan sensual yang membuat bulu kuduk Nadya meremajang. "Lo tau karena mulut kurang ajar lo ini gue jadi bergairah sama lo."

Jantung Nadya berdegup abnormal. Rasa takut yang masif membuat tangan dan kakinya mendadak lemas seketika. Mengabaikan napasnya yang mulai memburu, ia memundurkan tubuh, meraih pegangan pintu dengan telapak tangan yang dingin guna menopang diri agar tidak jatuh tumbang di depan monster itu.

​Jangan panik nad...abaikan rasa takut Lo... ayo nad berfikir.. berfikir keluar dari jeratan cowok gila ini sekarang,ingat Lo harus ketemu kak Rex batin Nadya menjerit di balik keterpakuannya.

​"Stop Arnold... apa yang lo mau!" Nadya kembali menahan dada Arnold dengan kedua tangannya saat wajah pria itu mulai merunduk, mencoba mengikis jarak hingga nafas yang membuat Nadya menahan rasa mualnya, bukan karena bau tapi lebih ke rasa traumanya.

​"Tidur dengan gue."

​"Lo gila!"

​"Hahahahaha..." Arnold tertawa lepas, menikmati kepanikan yang terpancar dari wajah korbannya. "Jangan marah begitu sayang, lo seksi kalau lagi marah begini."

​Arnold menatap lekat sepasang mata Nadya, menuntut mutlak. "Jadi pacar gue."

​"Gue gak cinta sama lo!" cetus Nadya tanpa ragu, menantang langsung mata sang obsesi gila.

​"Kalau begitu lo gak punya pilihan, gue yang akan buat lo jadi milik gue," desis Arnold seraya memangkas habis jarak di antara mereka. Sepasang tangannya bergerak kasar, meraih paksa wajah Nadya agar mendongak menatapnya.

​Berpikir, Nad... ayo berpikir! Lo hanya milik Kak Rex, jangan biarkan bajingan ini menyentuh tubuh lo! jerit batin Nadya berulang kali. Sambil memejamkan mata erat-rakat, ia mencoba memeras otaknya demi mencari jalan keluar.

​"Stop... Arnold sayang," bisik Nadya tiba-tiba. Ia membuka mata, lalu mendorong lembut dada Arnold hingga wajah cowok itu menjauh beberapa sentimeter, walau tubuh mereka masih berdempetan rapat.

​Arnold terkesiap. Perubahan sikap Nadya yang begitu drastis dan tak terduga membuat keningnya berkerut. Apakah gadis ini akhirnya menyerah? pikir Arnold dalam hati, sebelum sebuah seringai penuh kemenangan terukir di wajahnya.

​"Beri gue waktu, hm?" Nadya memberanikan diri meraih kerah kemeja yang dikenakan Arnold, lalu berjinjit untuk berbisik sensual tepat di lubang telinganya. "Beri gue waktu untuk mencintai lo. Dan disaat itu terjadi, semuanya akan gue berikan buat lo. Lo tau kan... hal itu akan jauh lebih nikmat kalau dilakukan secara suka sama suka?"

​Gak! Gue gak akan pernah sudi mencintai lo, brengsek! Cuma ada Kak Rex di hati gue! umpat Nadya sejadi-jadinya di dalam hati, berbanding terbalik dengan intonasi suaranya yang terdengar penuh bujuk rayu.

​"Oh sayang, lo benar-benar bikin gue gila." Sebuah seringai penuh kemenangan terukir di wajah Arnold. Ia merunduk, menempelkan keningnya pada kening Nadya, mengunci tatapan mata gadis itu yang sarat akan ketakutan tersembunyi. "Baiklah, gue akan menunggu," sahut Arnold yang tampaknya termakan umpan. Ia akhirnya menjauhkan tubuhnya, lalu mencengkeram pergelangan tangan Nadya dan menariknya keluar dari ruang kelas kosong itu.

​"Eh, mau kemana?" tahan Nadya panik.

​"Gue antar lo pulang."

​"Jangan sekarang. Gue udah dijemput, bokap gue ada di bawah. Lo tau sendiri kan bokap gue gak suka sama lo?" alibi Nadya cepat, menyembunyikan getar ketakutan di balik suaranya.

​Kalimat itu sengaja dilemparkan Nadya sebagai benteng pertahanan. Ya, tentu saja. Ayah mana di dunia ini yang tidak akan mengobarkan api kebencian luar biasa kepada bajingan yang hampir saja menghancurkan masa depan putri tunggalnya.

​Arnold tampak menimbang-nimbang ucapan Nadya cukup lama, seolah sedang mencari celah kebohongan di sepasang mata gadis itu. "Baiklah," putusnya kemudian, mengalah. Ia mengangkat punggung tangan Nadya, lalu mendaratkan sebuah kecupan intim di sana. Namun, saat Arnold kembali mencondongkan tubuhnya, berniat meraup kening Nadya, gadis itu dengan sigap menahan dada bidang sang cowok, mengunci jarak di antara mereka.

​"Ini di kampus, Arnold. Banyak dilihat orang," cegah Nadya memberi alasan. Benar saja, di sekitar koridor luar kelas kini sudah ramai oleh hilir mudik mahasiswa dan beberapa dosen yang sedang berbincang.

​"Oke, nanti gue hubungi lo," ucap Arnold seraya mengedipkan sebelah matanya penuh arti, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Nadya.

​Begitu bayangan Arnold benar-benar menghilang di ujung koridor, seluruh pertahanan diri Nadya runtuh seketika. Dengan tubuh bergetar hebat dan napas tersengal-sengal, ia berlari tunggang-langgang mencari toilet terdekat. Begitu sampai di depan wastafel, Nadya mencengkeram pinggiran porselen itu kuat-kuat, lalu memuntahkan seluruh isi perutnya, sebuah reaksi traumatis yang hebat atas rasa jijik yang sedari tadi ia tahan setengah mati.

​"Risol mayo smoked beef gue terbuang sia-sia gara-gara lo, bangsat!" umpat Nadya dongkol.

​Sambil membasuh mulutnya yang terasa pahit, ia menatap sedih aliran air keran yang membawa pergi makanan favorit yang belum sempat diserap tubuhnya. Baginya, diganggu oleh psikopat seperti Arnold adalah satu kemalangan, tetapi kehilangan risol mayo adalah sebuah tragedi tersendiri.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!