"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Hancurnya Sayap Naga Emas
Pagi hari di babak semifinal tiba dengan langit cerah tanpa awan. Sepuluh ribu penonton di Arena Utama Marmer Putih menahan napas dalam ketegangan luar biasa.
Hari ini adalah pembuktian antara dua jagoan dunia persilatan: Jiang Chen—sang jenius nomor satu dari sekte besar Sekte Pedang Langit, melawan Wei Changqing—kuda hitam misterius berpedang besi kusam dari sekte pedalaman Lembah Bambu Biru.
Di atas tribun kehormatan emas, Ketua Sekte Pedang Langit duduk dengan wajah bangga, yakin seratus persen bahwa murid utamanya akan meremukkan perwakilan sekte kecil tersebut dalam tiga jurus.
Sementara itu, di zona tunggu barat, Chen Wu dan Zhou Hao menepuk pundak Changqing sebelum ia melompat naik ke arena.
"Hati-hati dengan pedang emasnya, Changqing!" pesan Chen Wu serius. "Pedang Naga Emas itu ditempa dari baja dingin. Jangan benturkan pedang hitammu secara langsung jika tidak perlu."
Changqing hanya mengangguk pelan. Sebelum menaiki tangga arena, matanya melirik ke arah tribun Sekte Teratai Salju.
Di sana, Shen Yue berdiri di pinggir pembatas marmer menatapnya. Kedua tangan gadis itu berpegang erat di depan dadanya, bibirnya bergerak tanpa suara mengucapkan satu kalimat: "Pemenang sejati tidak butuh pedang emas."
Mendengar bisikan bibir itu dari kejauhan, senyum tipis terukir di wajah Changqing. Ia menapaki lantai marmer putih dan berjalan tenang menuju tengah arena.
Di seberang sana, Jiang Chen sudah berdiri dengan aura keemasan tingkat Pendekar Tinggi Tahap 2 berkobar-kobar menyelimuti tubuhnya, layaknya kobaran api.
"Kau punya nyali juga untuk naik, bocah lembah miskin," desis Jiang Chen dengan senyum bengis. "Kukira kau sudah lari ketakutan lewat pintu belakang arena malam tadi."
Changqing berhenti sepuluh langkah dari Jiang Chen. Tangan kanannya menggenggam gagang pedang besi hitamnya yang masih di dalam sarung.
"Arena ini dibangun dengan marmer putih yang bersih, Tuan Muda Jiang Chen," kata Changqing tenang dengan suara yang terdengar di seluruh arena. "Sangat disayangkan jika lantai sebersih ini harus dikotori oleh mulutmu yang terlalu banyak bicara."
"Bocah keparat!" mata Jiang Chen merah membara oleh amarah. "Matilah kau!"
Jdharrr!
Lantai marmer di bawah kaki Jiang Chen hancur meledak. Ia melesat maju dengan kecepatan yang membuat mata penonton awam kewalahan. Tenaga dalam tingkat Pendekar Tinggi Tahap 2 disalurkan seratus persen ke dalam Pedang Naga Emas miliknya.
"Rasakan jurus tertinggi sekteku: Sembilan Naga Langit Membelah Bumi!" raung Jiang Chen.
Seketika, pedang emas Jiang Chen berputar menghasilkan sembilan ilusi bayangan naga keemasan raksasa berukuran lima meter yang meraung-raung di udara! Sembilan bayangan pedang itu meluncur serentak menutup seluruh sudut arena, mengincar langsung ke kepala, jantung, kedua lengan, dan kedua lutut Wei Changqing.
Angin badai menerbangkan panji-panji di sekitar arena. Hawa penindasan dari sembilan naga emas itu begitu mengerikan hingga beberapa murid sekte kecil di tribun depan jatuh terduduk karena sesak napas!
Di tribun timur, wajah Shen Yue pucat pasi melihat datangnya jurus pembunuhan mutlak tersebut.
Namun di bawah bayang-bayang sembilan naga emas yang meraung di depannya, Wei Changqing tetap berdiri tegak bagaikan karang abadi di tengah badai samudra.
‘Sembilan bayangan naga emas...’ batin Changqing mengevaluasi dengan tenang. ‘Delapan di antaranya hanyalah ilusi pemborosan energi. Dan satu serangan aslinya di tengah... terlalu rapuh karena fokus tenaganya terpecah menjadi sembilan bagian.’
Changqing memejamkan matanya selama setengah detik.
Di dalam Dantian-nya yang berada di Pendekar Menengah Tahap 5, roda Teknik Pernapasan Mata Pedang Hijau berputar di batas maksimal. Meski ia tidak melepaskan kilatan hijau ke matanya agar tidak memicu kecurigaan Grandmaster di tribun, ia menyalurkan kemurnian inti pedang Nirwana seutuhnya langsung ke dalam serat logam pedang besi hitamnya.
Sring!
Pedang besi hitam kusam itu ditarik keluar dari sarungnya.
Saat bilah hitam itu bersentuhan dengan udara, seluruh suara badai angin di arena mendadak lenyap. Waktu di sekeliling arena seolah melambat di mata para petarung elite.
Changqing melangkah satu langkah ke depan.
Ia tidak melompat ke udara. Ia tidak berteriak. Ia hanya mengayunkan pedang besi hitamnya secara mendatar dari kiri ke kanan—sebuah Tebasan Cakrawala Tunggal yang sangat bersih, sangat sederhana, dan tidak memancarkan cahaya apa pun.
Wuuuush!
Namun di dalam kelembutan tebasan mendatar itu, tersimpan berat dari pemahaman pedang seseorang yang telah hidup delapan puluh tahun di puncak dunia!
Tranggg... Kraaak!
Begitu bilah besi hitam Changqing menyentuh sembilan ilusi naga emas Jiang Chen, seluruh delapan bayangan ilusi naga itu pecah berantakan bagaikan kaca jendela yang dihantam palu besi raksasa.
Tebasan Changqing meluncur tanpa hambatan menembus ilusi, lalu membentur langsung dengan bilah asli Pedang Naga Emas milik Jiang Chen di tengah udara!
Cling...!
Pedang Naga Emas pusaka Sekte Pedang Langit yang terbuat dari baja kualitas tinggi dan mahal itu terpotong menjadi dua bagian dengan potongan mendatar yang amat mulus.
"T-Tidaaaak!" mata Jiang Chen melotot melihat pedang pusakanya patah terpotong oleh pedang besi berkarat!
Sebelum Jiang Chen sempat membuang gagang pedangnya yang patah, tebasan hitam Changqing berhenti tepat satu milimeter di samping lehernya. Bersamaan dengan berhentinya pedang itu, tangan kiri Changqing meluncur ke depan dan menepuk ringan dada Jiang Chen tepat di titik simpul Dantiannya.
Buagh!
Ledakan niat pedang halus menyengat masuk ke dalam meridian Jiang Chen. Seluruh tenaga dalam keemasannya buyar seketika.
Jiang Chen memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tubuhnya terlempar melayang setinggi sepuluh meter melintasi seluruh panjang lapangan marmer, lalu jatuh terhempas... bruk! di luar arena tepat di depan tangga tribun emas Ketua Sekte Pedang Langit!
Klotak... klotak...
Ujung patahan Pedang Naga Emas jatuh berputar di lantai marmer putih yang sunyi.
Satu tebasan mendatar. Membelah sembilan naga emas, mematahkan pedang pusaka, dan melemparkan jenius nomor satu Sekte Pedang Langit ke luar arena!
Area berkapasitas sepuluh ribu orang itu tenggelam dalam kesunyian yang begitu mencengkam hingga suara jatuhnya sehelai daun pun akan terdengar jelas.
Para Ketua Sekte dari lima faksi besar di tribun kehormatan bangkit berdiri serentak dengan wajah terkejut setengah mati. Ketua Sekte Pedang Langit gemetar hebat melihat murid kesayangannya tergeletak pingsan tak berdaya di bawah kakinya dengan pedang pusaka sekte terpotong dua.
Di tengah arena marmer putih, Wei Changqing mengusap ringan debu di dekat kakinya, lalu menyarungkan kembali pedang besi hitamnya.
Ia menoleh ke arah tribun timur, menatap langsung ke mata Shen Yue.
Di tribun itu, Shen Yue berdiri mematung dengan kedua tangan menutupi mulutnya yang terbuka lebar karena takjub. Di dalam sepasang matanya yang jernih, bayangan pemuda berjubah abu-abu di atas arena marmer putih itu kini telah terukir begitu dalam dan megah—seorang pahlawan sejati yang menundukkan keangkuhan langit hanya dengan satu ayunan pedang besi.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏