Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
------------------------------
## BAB 19: Penghadangan di Basemen
Deru langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kesunyian basemen VVIP gedung pusat Syailendra Group. Bramantara melompat dengan sisa tenaga kegilaannya, menerjang maju laksana macan kelaparan yang kehilangan akal sehat. Kedua tangannya terulur ke depan, terbuka lebar untuk mendekap dan mencengkeram tubuh ramping Elena Vance secara paksa dari arah belakang.
"Ikut aku, Adeline! Kamu harus ikut aku!" teriak Bram dengan lengkingan suara yang menggila, bergema mengerikan di antara dinding-dinding beton parkiran yang remang-remang.
Namun, Elena Vance bukan lagi Adeline Wijaya yang lemah, naif, dan hanya bisa menangis pasrah menanti pukulan. Selama satu bulan penuh berada di bawah pengawasan dan pelatihan ketat dari Nicholas, Elena tidak hanya dilatih cara berjalan dan berbicara, melainkan juga dibekali teknik dasar bela diri taktis untuk mempertahankan diri dari situasi darurat korporat.
Sret!
Mendengar desau angin hantaman dari arah belakang, Elena bergerak dengan refleks bionik yang luar biasa gesit. Ia merendahkan tubuhnya, berputar ke arah kanan dengan poros kaki yang kokoh, membuat terjangan liar Bram menghantam ruang kosong di udara.
Bram yang kehilangan keseimbangan akibat terjangan kosongnya terhuyung ke depan. Sebelum mantan suaminya itu sempat membalikkan badan, Elena sudah lebih dulu melayangkan cengkeraman tangan kanannya, mengunci pergelangan tangan kiri Bram dengan sangat kuat, lalu memuntirnya ke belakang punggung pria itu dengan satu hentakan tajam.
Krak!
"Argh!" Bram menjerit kesakitan, tubuhnya seketika tertekuk paksa ke bawah, berlutut di atas lantai basemen yang kotor dengan napas yang tersengal-sengal.
Tanpa belas kasihan sedikit pun, Elena melayangkan kaki kanannya yang terbalut sepatu hak tinggi (stiletto) runcing berlapis kristal hitam milik desainer Prancis. Ujung hak sepatu yang setajam paku itu menghantam dan mengunci tepat di atas dada bidang Bram, menekan tubuh pria itu hingga terkapar telentang di atas lantai marmer basemen.
Brak!
"Jangan pernah berani menyentuh seujung kuku dari pakaian saya dengan tangan kotormu, Tuan Bramantara," desis Elena, suaranya sedingin es kutub utara, tatapan sepasang mata indahnya menatap lurus ke manik mata Bram dengan pancaran tirani kejam yang tak tersentuh.
Tekanan hak sepatu Elena di dada Bram terasa begitu menyiksa, membuat pria itu kesulitan untuk sekadar menghirup pasokan oksigen di sekitarnya. Namun, alih-alih merasa takut, Bram yang sudah kehilangan kewarasannya justru menatap Elena dengan tawa getir yang memilukan. "Bunuh aku, Adeline... kalau itu bisa bikin kamu puas, injak dada ini sampai hancur... aku emang pantas mati karena udah biarin anak kita gugur malam itu..."
Tepat saat kalimat menjijikkan itu selesai diucapkan, raungan suara mesin mobil yang sangat garang mendadak menggema hebat dari arah koridor masuk basemen.
Vroom!
Tiga mobil SUV hitam besar beserta satu mobil limosin mewah Syailendra Group melaju kencang membelah kegelapan basemen, lalu melakukan pengereman tajam secara serempak hingga ban mobil mereka mencicit keras di atas lantai semen, mengepung posisi Elena dan Bram dari segala arah.
Sreeet!
Pintu limosin hitam ditarik terbuka dengan sangat kasar dari dalam. Nicholas Syailendra melangkah keluar dengan rahang yang mengeras bagai batu karang. Setelan jas hitam mahalnya memancarkan aura kegelapan yang begitu intimidatif. Sepasang mata elangnya yang biasanya sedingin es, kini menyala merah laksana kobaran api neraka—memancarkan aura membunuh yang sangat pekat begitu melihat sosok Bram yang sedang berada di bawah kaki istrinya.
Nicholas melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka dengan ketukan sepatu pantofel yang bergaung laksana lonceng kematian di telinga Bram. Nicholas langsung menarik tubuh ramping Elena masuk ke dalam dekapan lengan kekarnya yang sangat posesif, mengisolasi wanita itu dari pandangan Bram.
"Kamu terluka, Elena?!" tanya Nicholas dengan suara beratnya yang bergetar menahan gejolak amarah yang meledak-ledak. Tangan besarnya menangkup pipi Elena, memeriksa setiap inci dari wajah dan tubuh istrinya dengan pandangan mata yang dipenuhi kegilaan khawatir yang luar biasa besar.
"Aku tidak apa-apa, Nicholas. Pria bodoh ini bahkan tidak sempat menyentuh kulitku," jawab Elena, meskipun jantungnya mendadak berdegup kencang secara tidak teratur akibat pelukan Nicholas yang begitu erat meremuk dadanya.
Begitu memastikan Elena aman tanpa goresan sedikit pun, Nicholas membalikkan tubuh tegapnya menghadap ke arah Bram yang masih terkapar di lantai. Aura tirani sebagai penguasa tertinggi Kota Jakarta seketika menguar hebat memenuhi seluruh area basemen VVIP.
"Berani sekali seekor anjing kurap sepertimu menyelinap masuk ke dalam areaku untuk mengusik istriku, Bramantara," desis Nicholas rendah, suaranya begitu tenang namun sarat akan ancaman mutlak yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri tegak.
Nicholas melirik ke arah Yan yang berdiri takzim di belakangnya. "Yan, serahkan rekaman CCTV basemen ini langsung ke markas besar kepolisian. Sampaikan pada Komisaris, Tuan Bramantara telah melakukan pelanggaran berat terhadap aturan penangguhan penahanannya dengan melakukan tindakan percobaan penculikan dan penggalangan kekerasan fisik terhadap calon investor utama Syailendra Group."
"Nicholas! Ini urusan rumah tanggaku dengan Adeline! Kamu nggak punya hak untuk ikut campur!" teriak Bram frustrasi, mencoba bangkit berdiri namun kedua bahunya langsung ditekan kasar ke atas lantai oleh dua pengawal pribadi berbadan besar yang sejak tadi berjaga di belakang Nicholas.
"Urusan rumah tangga?" Nicholas tersenyum miring—sebuah senyuman kejam yang terlihat sangat mengerikan di wajah tampannya. Pria itu melangkah satu tapak maju, menginjak pergelangan tangan kiri Bram yang tadi dipuntir oleh Elena hingga terdengar bunyi retakan halus.
Krek.
"Arghhh!" Bram meraung histeris menahan perih yang menyiksa urat saraf tangannya.
"Mulai satu minggu yang lalu, Adeline Wijaya sudah mati di mata hukum negara. Dan wanita yang ada di dalam dekapanku malam ini adalah Elena Vance, istri sah dari Nicholas Syailendra," ucap Nicholas dengan nada suara yang merendah, menatap Bram dengan pandangan muak laksana melihat tumpukan sampah yang membusuk. "Menyentuh miliku di kota ini, artinya kamu sedang memesan tiket satu arah menuju dasar neraka jahanam, Bram."
Dua menit kemudian, suara sirine mobil patroli polisi yang melengking tinggi sudah menggema memenuhi area basemen parkir. Empat orang petugas kepolisian bersenjata lengkap berlari cepat, langsung memasang borgol besi yang dingin di kedua pergelangan tangan Bram yang sudah lunglai tak berdaya.
"Nggak! Lepasin aku! Adeline! Tolong aku, Adeline! Aku suamimu!" jerit Bram terus meraung-raung histeris bercampur tangis keputusasaan saat tubuhnya diseret kasar oleh petugas polisi menuju ke arah mobil patroli. Pria yang telah kehilangan takhta kemewahan, perusahaan, dan sisa harga dirinya itu kini benar-benar telah digulung habis menuju kehancuran total.
Nicholas membalikkan tubuhnya kembali menghadap Elena, merangkul pinggang ramping wanita itu dengan begitu posesif ke dalam dekapannya sembari membimbingnya masuk ke dalam pintu mobil limosin yang hangat. Di bawah temaram lampu dalam mobil yang bergerak membelah malam Jakarta, aliansi maut mereka kini telah berhasil mengunci satu lagi musuh utama mereka ke balik jeruji besi tempatnya membusuk seumur hidup.
------------------------------