NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dress pantai tanpa lengan

Setelah sarapan, Karin memutuskan untuk menyusul Arvin ke rumah Reza. Mereka berkendara dengan motor masing-masing, membelah jalanan Minggu pagi yang cerah. Setibanya disana, mereka sampai bersamaan tepat di halaman depan rumah Reza. Di sana, sudah ada Reza dan Lulu yang sedang mengobrol santai.

"Eh? Tumben banget kalian datang barengan?" tanya Reza heran melihat motor Karin dan Arvin terparkir berdekatan.

Karin yang baru saja turun dari motor langsung mendekat dan memeluk Lulu dengan gemas. Sebelum Karin sempat menjawab jujur bahwa Arvin menginap di rumahnya, Arvin sudah lebih dulu menyela dengan datar, "Ketemu di jalan tadi."

Karin sontak menoleh ke arah Arvin dengan tatapan tidak percaya. ‘Kok dia bohong?’ batin Karin bingung, padahal dia sudah berniat jujur kepada keponakannya itu jika ditanya.

"Vin, tumben lo gak nginep di rumah gue? Biasanya juga lo sering kabur ke sini tiap ada masalah," ujar Reza sambil melirik Arvin. "Tidur di mana lo semalam?"

"Ya di rumah lah," jawab Arvin singkat, matanya tetap datar.

Reza mengalihkan pembicaraan, "Vin, ke pantai yuk? Otak gue butuh liburan, kita refreshing."

"Ikut," sahut Karin tiba-tiba tanpa berpikir panjang.

Reza langsung protes, "Lo ngikut mulu sih, Tan. Nanti gue gak bebas."

Lulu yang mendengar pantai langsung ikut berseru, "Lulu juga mau ikut!"

"Ini lagi bocah, ikut-ikutan! Gak boleh, ah. Pulangnya nanti malam, gak boleh ikut!" tegas Reza berusaha melarang.

Tepat saat itu, Mama Maya keluar dari rumah. "Apa sih ribut-ribut? Mau pada kemana emangnya?"

"Mau ke pantai, Ma. Refreshing," jawab Reza.

Lulu yang tidak diperbolehkan ikut mulai merajuk dan matanya berkaca-kaca, siap menangis. Karin yang melihat itu merasa iba dan mencoba menengahi. "Ya sudah sih, Eja, biarkan saja Lulu ikut. Lagipula kan ada Tante juga, nanti Tante yang jagain Lulu. Boleh, kan?" tanya Karin menatap Maya.

Maya menatap putri kecilnya. "Lulu mau ikut?"

Lulu mengangguk cepat sambil terisak.

"Tapi mama gak ikut ya, jadi Lulu harus nurut sama Tante Alin. Jangan nyusahin," pesan Maya.

"Iya, Ma," jawab Lulu di sela isak tangisnya yang mulai reda.

"Ya udah, mama siapin dulu baju kalian," kata Maya lalu bergegas pergi diikuti Lulu yang tampak ceria kembali.

Begitu Maya menjauh, Reza mendekati Karin dan berbisik dengan wajah panik, "Tante gimana sih? Kalau Lulu ikut, gimana gue mau pacaran sama cewek gue nanti?"

Karin ingin membalas candaan Reza dengan menyebutkan nama pacarnya, "Kak... Kakak..."

Belum selesai Karin bicara, Reza dengan sigap menutup mulut Karin dengan tangannya. "Tante! Jangan bilang-bilang!" bisiknya dengan satu jari yang dia tempel di bibirnya.

Arvin yang berdiri di dekat mereka hanya menyaksikan tingkah mereka yang seperti adik-kakak itu dengan senyum tipis.

Setelah beberapa saat bersiap dan menghubungi yang lain, rombongan mereka akhirnya berangkat dengan formasi seperti biasa tujuh motor saling beriringan. Bedanya, kali ini Karin membonceng Lulu di atas motor matic-nya berada di barisan depan. Di belakangnya, Arvin mengendarai motor sport-nya sendirian, sengaja menjaga jarak dekat untuk terus memantau Karin, sementara teman-temannya yang lain tampak asyik berpasangan dengan pacar masing-masing.

Di tengah perjalanan, terpaan angin sepoi-sepoi rupanya membuat Lulu tak kuasa menahan kantuk. Kepala bocah kecil itu mulai terkantuk-kantuk hingga akhirnya benar-benar tertidur pulas.

Karin yang panik sesekali menoleh ke belakang. Mengerti arti tatapan cemas wanita itu, Arvin langsung memacu motornya hingga posisi mereka sejajar.

"Lulu tidur!" teriak Karin agak kencang agar suaranya tidak tenggelam oleh desing angin jalanan. Satu tangannya tampak kewalahan menahan tubuh Lulu agar tidak merosot jatuh.

Arvin mengangguk paham. Dia segera melesat ke barisan paling depan, memberi kode kepada Reza dan yang lainnya untuk menepi. Seluruh rombongan pun akhirnya berhenti di bahu jalan yang agak teduh.

Reza langsung turun dari motornya dan menghampiri Karin dengan wajah kesal. "Tuh, kan! Udah gue bilang juga apa, gak usah ajak nih bocah. Nyusahin kan jadinya!" gerutu Reza.

Karin mendelik tajam ke arah keponakannya itu. "Heh, jaga omonganmu ya! Aku bilangin ke mamamu loh nanti!" ancam Karin, yang seketika membuat nyali Reza menciut.

Reza menghela napas pasrah, lalu menoleh ke arah pacarnya yang sejak tadi diboncengnya. "Rel, gue bonceng Tante gue dulu ya sama Lulu. Lo gak apa-apa kan bawa motor sendiri dulu?"

"Iya, gak apa-apa kok," jawab Aurel sambil tersenyum maklum.

Setelah posisi bertukar, perjalanan pun dilanjutkan. Tak berselang lama, hamparan pasir putih dan deburan ombak biru pantai akhirnya menyambut kedatangan mereka.

Untuk kenyamanan bersama, mereka memutuskan menyewa satu kamar losmen berukuran cukup besar sebagai tempat beristirahat dan menyimpan barang-barang bawaan.

Karena sejak awal tidak berencana untuk ikut bermain air, Karin sama sekali tidak membawa baju ganti. Alhasil, dia memutuskan untuk membeli sehelai dress pantai bermotif bunga-bunga di toko suvenir dekat losmen sebelum mereka turun ke pasir.

Saat Karin kembali ke kamar losmen untuk berganti pakaian, suasana sudah sepi. Teman-teman Reza dan pacar mereka rupanya sudah tidak sabar dan langsung pergi ke bibir pantai lebih dulu. Di dalam ruangan, hanya tersisa Arvin yang duduk santai di tepi ranjang bersama Lulu.

"Yang lain... udah pergi duluan, Vin?" tanya Karin agak heran melihat kamar yang kosong.

"Iya," jawab Arvin singkat.

Karin mengangguk, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Arvin yang sedang memandangi luar jendela spontan menoleh, dan detik itu juga, napasnya seolah terhenti. Jantungnya berdegup kencang secara mendadak.

Karin keluar dengan balutan dress pantai tanpa lengan yang longgar namun pas membentuk lekuk tubuhnya yang indah. Bahunya yang putih bersih terekspos, dan potongan gaun itu membuat Karin terlihat berkali-kali lipat lebih anggun dan memesona di bawah temaram cahaya losmen. Rambut panjangnya sengaja dibiarkan terurai, bergerak lembut tertiup angin dari ventilasi.

Arvin terpesona sepenuhnya. Matanya terpaku, menatap Karin tanpa berkedip sedikit pun dari atas sampai bawah. Penampilan Arvin sendiri sangat kontras, dia hanya mengenakan celana pendek hitam santai yang dia pake pagi tadi menampilkan dada bidang dan perut atletisnya.

Karin yang ditatap seintens itu mendadak merasa salah tingkah. Dia berdeham pelan sambil merapikan ujung gaunnya. "K-kenapa? Jelek ya bajunya?"

Arvin berkedip, buru-buru menguasai ekspresi wajahnya agar kembali datar. "Gak. Bagus kok," jawabnya pendek, walau dalam hati dia mati-matian menahan debaran yang menggila.

"Ayo Kak Alvin, Tante Alin! Main!" seru Lulu memecah kecanggungan. Bocah kecil itu sudah menenteng ember dan sekop mainan plastiknya dengan tidak sabar.

Lulu berjalan paling depan dengan langkah riang, sementara Karin dan Arvin mengekor di belakangnya. Berjalan bersisian menuju hamparan pasir pantai yang luas.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!