Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 - Kemarahan Bu Rima
Plak!
"BODOH! BRENGSEKK KAMU! IBU TIDAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU LARI DARI TANGGUNGJAWAB! IBU TIDAK MENGAJARKAN KAMU BERSIKAP SEPERTI INI!"
Tangan tuanya bergetar selepas menampar pipi putranya, desakannya mampu membuat Fathan berkata jujur. Ibu mana yang tidak kecewa mengetahui putranya bersikap seperti itu, menikah tanpa memberitahunya, bahkan bercerai pun tidak memberitahunya. Sekarang, setelah 3 tahun lamanya baru ia tahu perbuatan Fathan, tahu ada hati perempuan yang tersakiti, dan tahu ada anak yang merindukan papanya, mengerti sikap Alea mengejar putranya hanya demi kebaikan Azka.
Fathan menunduk tidak berani menatap sang ibu, terpaksa dia jujur mengenai semuanya. Awal pertama kali bisa mengenal Alea sampai berakhir harus menikahinya ia ceritakan tanpa ada yang ditutupi lagi.
"Maaf," lirihnya menyesal.
Bu Rima mencengkram erat kedua pundak Fathan. "Bukan sama ibu kamu minta maaf tapi sama Alea, perempuan yang kamu tinggalkan begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Kamu nikahi dia tanpa minta restu ibu? Kamu anggap ibu apa Fathan? Patung? Apa ibu tidak penting dalam hidupmu sampai kamu tidak melibatkan ibu dalam segala kejadian yang kamu alami? Kamu bukan hanya menyakiti perasaan Alea tapi kamu juga menyakiti perasaan ibu, mengecewakan ibu dan Alea. Kamu ... Ya Allah.. Dosa apa yang sudah ibu lakukan sampai punya anak seperti kamu?"
Bu Rima terduduk lemas di kursi, menangis karena kecewa dan bisa merasakan rasa sakit yang dialami Alea. Pantas saja Azka tidak asing untuknya, ternyata balita itu darah dagingnya juga, anak putranya. Lantas cerita Alea merupakan kisahnya bersama Fathan.
"Alea menjebakku, Bu."
Bu Rima mendelik tajam. "Lantas kamu tahu alasannya dia melakukan hal itu? Pembelaan kamu tidak bisa dijadikan alasan kuat sebelum kamu tahu alasannya apa. Kamu itu pintar, saat itu sudah menjadi asisten dosen, seharusnya kamu selidiki dulu sebelum bertindak gegabah. Sebelum kamu menceraikan Alea harusnya kalian bicara dulu mencari sebabnya, BUKAN MALAH MENCERAIKANNYA DAN PERGI TIDAK MEMIKIRKANNYA. Dan lihat, dia hamil, menjalani kehamilan tanpa kamu, gimana perasaannya saat itu? Pasti dia terluka Fathan."
Bu Rima menghela nafas pelan, mengatur emosi yang terus mendera. "Harusnya saat itu kamu berpikir dua kali sebelum pergi meninggalkannya sendirian di tempat sepi, seharusnya saat itu kamu mikir gimana jika Alea hamil, tapi apa? Kamu pergi begitu saja dan akibatnya kamu sendiri kecelakaan akibat kecerobohan kamu."
Fathan terdiam, ucapan ibunya benar, dia terlalu gegabah menyimpulkan tanpa mencari tahu dulu. Padahal saat itu ia hanya mendengar sebagian saja pembicaraan Alea dan Vale, tidak sepenuhnya namun amarahnya lebih dulu menguasai tanpa mau mendengarkan.
"Setidaknya jika ibu tahu kamu sudah menikah, ibu akan menjaga Alea dan mungkin saja ibu melihat tumbuh kembang Azka. Mungkin aja dia ada disamping kamu pada saat kamu dalam keadaan terpuruk, dan bodohnya kamu diam tidak bilang apapun setelah sadar dari koma. Kenapa tidak mati saja sekalian, hah." Bu Rima gemas atas sikap putranya.
"Kamu tahu kan gimana rasanya hidup tanpa seorang ayah? Kamu tahu kan gimana rasanya dibohongi sama orang yang kamu sayang? Alea pasti merasakannya sebab kamu sudah berbohong mengenai keberadaan ibu. Dia cuman salah menjebak kamu, menjadikan kamu taruhan, tapi apa pernah dia berbohong soal yang lainnya?"
Lagi-lagi Fathan tidak menjawab, semenjak mengenal Alea dan menikahinya, sejauh itu pula Alea tidak berbohong mengenai hal apapun. Bahkan Alea pernah bilang masih punya satu saudara tapi tidak bisa datang dihari pernikahan mereka, pernah bilang punya musuh yang sering membulinya waktu di SMA, pernah bilang punya niat menjebak musuhnya, itu artinya Alea berkata jujur tapi dia tidak bisa memahami maksud semuanya.
"JAWAB! MALAH DIAM AJA! MIKIR GAK KAMU? PASTI BENAR KAN? ALEA GAK PERNAH BERBOHONG PADAMU?" Bu Rima makin kesal melihat putranya dia menunduk, ia mengerti arti diamnya Fathan.
"Dia selalu jujur padaku tapi aku yang tidak mengerti sama perkataannya," jawab Fathan mulai memahami setiap kepingan makna dari kata-kata Alea.
"Bodoh! Ganteng-ganteng bodoh kamu. Kok bisa kamu ... Ah sudahlah, intinya kamu harus minta maaf sama Alea kalau bisa balikan saja kalian demi Azka. Soal Silvi buat ibu yang urus."
"Bu." Fathan mendongak memberanikan diri menatap ibunya.
"Apa? Mau lari dari tanggungjawab jawab? Mau nikah sama Silvi? Atau kamu tidak punya perasaan apapun sama Alea sampai mudah ninggalin dia?"
Fathan menggelengkan kepala.
"Ya udah sana, kejar Alea sebelum kamu kehilangannya dan Azka. Perempuan kalau kecewa tidak akan lagi mau balikan atau mungkin cari ayah baru buat Azka, dan disaat itu kamu baru merasakan kehilangan."
Fathan terhenyak memikirkan hal itu, ada rasa tidak terima jika hal itu terjadi. "Enggak Bu, aku gak mau Alea cari ayah baru buat anaknya."
"MAKANYA KEJAR! Bodoh kok di pelihara, ck, geram ibu sama kamu." Bu Rima mendelik tajam, gemas sama kelakuan putranya sendiri.
******
Kediaman Alea.
"Kenapa dengan kamu Lea?"
Gavin dan Alea berbarengan sampai rumah, dia heran melihat Alea menangis.
"Om." Tidak banyak bicara, Alea menghambur kedalam pelukan Gavin.
Pria itu menatap Ayumi dan Vale meminta penjelasan mengenai Alea, ia juga melirik Azka tertidur dalam gendongan Vale.
"Kita gak tahu jelasnya seperti apa Om, tapi tadi Alea dan Fathan bertengkar. Kebetulan juga rumahnya dekat dengan rumahku, Om." Ayumi sedikit menjelaskan dan untuk selebihnya biarkan Alea sendiri menjelaskan.
Gavin menghela nafas berat, memeluk Alea mengusap punggung keponakannya. "Tolong baringkan Azka di kamar bawah saja."
Vale mengangguk, masuk setelah dapat izin dari pemilik rumah.
"Tenangkan dulu diri kamu Lea."
Merasa jauh lebih baik, Alea melepaskan pelukannya. "Aku nyerah Om."
Gavin paham pasti ada sesuatu terjadi sampai Alea memutuskan menyerah.
"Mau cerita?" ajak Gavin seraya merangkul pundak Alea membawanya masuk diikuti oleh Ayumi.
Tanpa ragu Alea menceritakan kejadian tadi tanpa di tutupi lagi. "Aku nyerah Om, aku memilih mundur, hatiku sakit saat dia terus mengucapkan kata-kata menyakitkan terutama meragukan Azka mengatainya anak haram."
Gavin mengepalkan tangannya dan ia berusaha mengatur emosinya.
"Sekarang kamu istirahat dulu aja, kasihan Azka."
"Om, kita boleh menemani Alea gak?" ucap Vale menghampiri mereka setelah menidurkan Azka.
"Ya sudah, kalian berdua disini aja temani Alea."
********
Kendaraan Gavin di parkir sembarangan, setelah mendapatkan alamat rumahnya Fathan, pria itu datang menghampiri dalam keadaan emosi. Berulang kali Alea menangisi orang yang sama dan terluka karena orang yang sama pula, kali ini dia tidak akan diam lagi.
Setelah turun dari motornya, Gavin mengetuk keras pintu rumah Bu Rima, tidak sabar memberi pelajaran pada pria pecundang seperti Fathan.
Dug .. Dug .. Dug ..
Ceklek.
Pintu di buka.
Bugh.
"Bajingan lo!"