Ridwan (25) harus menikahi gadis kecil baru kelas XII. Dia melakukan itu karena sebuah permintaan Kiai besar dan begitu patuh menyetujui permintaan sang Kiai. Ia harus menikah muda tanpa cinta serta belum tahu calon Istrinya. Namun, Ridwan akan berusaha menjadi Suami shaleh untuk Istrinya.
Annisa (16) gadis ceria seenaknya sendiri suka sekali bermain. Dia sangat marah saat Abah menikahkan dirinya dengan pria tidak dikenal. Ingin rasanya ia marah masa muda terenggut ketika perjodohan terjadi. Annisa benci walau akhirnya terima sewaktu tahu siapa calon Suaminya.
Pernikahan terjadi tanpa ada yang tahu kecuali keluarga di belah pihak. Rencananya pernikahan akan di rayakan usai Annisa lulus SMA.
Ridwan pemuda pendiam selalu sabar menghadapi sikap Annisa yang seenaknya sendiri. Namun, perlahan luntur saat tahu Istrinya mencintai sahabatnya. Dia sadar begitu mencinta, tetapi apa daya Istrinya mencintai sahabatnya sendiri.
Akankah kebahagiaan datang tatkala Ridwan perlahan mundur? Akankah Annisa menerima Ridwan dan melupakan Hamdan?
Cinta yang dirindukan Ridwan begitu besar. Cinta yang dirindukan Annisa untuk Hamdan hanya sebuah kekaguman. Cinta yang sangat dirindukan keduanya akan menjadi takdir sesungguhnya.
***///***///***
Copyright Rose_Crystal 030199
25*08*20
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CYD - Titip Rindu Pada Angin!
...Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ...
...Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini! ...
...*~*❤~'~❤*~* ...
Annisa menangis seorang diri dalam kamar karena selama 5 hari tidak melihat Ridwan. Hatinya begitu sakit sekaligus sangat rindu. Ia terdiam sepi berusaha mengingat semuanya. Annisa rindu semua tentang Ridwan dari cara bicara, senyum, cara memberi nasihat bijak, kesabaran dan segala tentang Suaminya sangat dirindukan.
Gadis 17 tahun meringkuk dengan derai air mata. Dia rasanya ingin berlari ke tempat Suaminya berada. Ia ingin ke asrama pengurus putra agar bertemu prianya. Dia begitu rindu akan segala kebersamaan mereka.
Setitik salam rindu Annisa sampaikan pada angin agar menyampaikan salam rindunya. Dia berharap angin itu menyampaikan rindunya pada Ridwan. Semua terasa menyakitkan jika teringat segalanya. Ia hanya gadis bodoh telah menyia-nyiakan Suami sebaik Ridwan. Kini Anisa hanya bisa meringkuk menanggung keresahan hati yang selalu tertuju pada Ridwan.
"Mas, sebegitu kecewa pada Adek sehingga Mas tidak kunjung datang. Apa Mas tidak merindukan Adek? Hiks huhuhu, sungguh Mas Adek sangat rindu ingin merengkuh dirimu. Huwaaa huhuhuhu, tolong datang jangan abaikan Adek, Mas. Rasanya begitu menyiksa akan rindu seseorang diri. Adek tidak sanggup jauh dari Mas. Adek sangat mencintai Mas sungguh sangat cinta. Hanya Mas pemuda yang Adek cinta sepenuh hati. Namamu terukir indah dalam sanubari dan kini sedang gundah. Hatiku, cintaku dan semuanya milik, Mas. Adek sangat rindu pada Mas yang selalu sabar menghadapi sikap Adek. Hiks huhuhuhu, tolong datang kemari agar rindu Adek pada Mas terobati," lirih Annisa di iringi isak tangis memilukan.
Sampai Annisa menatap pohon mangga di belakang rumahnya. Mungkin naik ke sana terasa menyenangkan agar hatinya kembali baik. Dengan keyakinan ia ganti celana panjang lalu keluar dari jendela menuju pekarangan belakang rumah. Detik berikutnya Annisa manjat pohon mangga sedikit cepat.
Sampai pada dahan besar, Annisa duduk sambil bersandar. Dia tersenyum saat mangga ini telah berbunga pasti sebentar lagi berbuah. Ia edarkan pandangan ke seluruh penjuru terdapat tanaman cukup indah. Annisa sedikit tenang ketika angin menerpa tubuhnya.
Dalam kesunyian hati Annisa merenung seorang diri. Dia yang sangat ceria, hiperaktif dan jahil menjadi gadis murung dan pendiam. Ia biasanya berceloteh panjang lebar kini hanya sepatah atau dua patah kata yang selalu terucap. Gadis cantik ini sangat merindukan Suaminya makanya berubah. Annisa terlalu lugu begitu jujur akan keadaannya.
Annisa menatap depan sembari melihat pergelangan tangannya. Terdapat gelang emas cantik pemberian Ridwan. Dia ciumi gelang itu penuh kerinduan. Ia mendongak tidak kuasa menahan tangis. Annisa ingat sangat kasar waktu itu sehingga menghancurkan sebuah hubungan. Segalanya telah terjadi kini hanya ada penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Seulas senyum hadir mengingat 5 hari penuh berusaha memahami kitab Mar'atus Shalihah, An-nisa serta yang paling utama Qurratul 'Uyun. Annisa yang polos tidak maksud ini itu makanya bertanya pada Umminya.
Pipinya bersemu karena salah mengartikan melayani di atas ranjang. Annisa malu sekali saat tahu makna sebenarnya sehingga membuat pipi padam. Pasti Suaminya menganggap dirinya begitu lugu. Dia terkekeh akan kepolosan dirinya sangat kelewatan. Annisa pada akhirnya belajar dan menguatkan hati serta mental.
"Jika ada waktu berlibur Adek mau mengajak Mas ketempat itu. Adek mau menghabiskan waktu berdua hanya ada Mas dan Adek. Lalu tepat di sana Adek akan mengatakan segalanya bahwa Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Adek akan katakan betapa berharganya Mas dalam hidup Adek. Terakhir mungkin akan sangat mendebarkan saar Adek menyerahkan diri pada, Mas. Namun, kapan Mas datang Adek sangat rindu pada Mas. Mas sekarang sedang apa?" bisik Annisa pada angin berharap menyampaikan kata-katanya untuk Ridwan.
Lain sisi seorang pemuda tampan terkulai lemah dalam balutan selimut tebal. Akibat insiden 3 hari lalu membuatnya tumbang. Memang tangan dan kakinya sudah di pijat. Namun, kondisinya buruk mebuatnya harus terkapar lemah.
Hingga Ridwan tersenyum tipis mengingat perkataan Uminya dari sebrang sana. Setiap hari selalu di telepon bertanya kondisinya. Ia jadi malu terlihat anak Umi sekali. Tetapi, juga begitu bersyukur lantaran Kang pengurus merawatnya begitu baik. Ridwan senang mereka begitu perhatian padanya. Meski di luar sana masih banyak gunjingan tentangnya.
Seulas senyum getir menghiasi bibir ketika ingat Annisa. Pasti Istrnya liburan dengan kebahagiaan melimpah. Pasalnya ada Hamdan yang ikut liburan untuk membimbing anak muridnya. Ridwan merasa sakit jika ingat Hamdan dan Annisa bersama dalam study tour m. Pedih sekali sampai air mata tiba-tiba luruh.
Buru-buru Ridwan hapus air matanya lalu berbalik menghadap lain. Dia merasakan kepalanya semakin berdenyut nyeri. Ia mengerang membuat Kang pengurus langsung mengerubungi. Karena panik Kang pengurus pusat meminta Ridwan ke rumah sakit untuk di rawat.
"Kang ayolah ke rumah sakit untuk di rawat. Kondisimu begitu memprihatinkan. Tolong mengerti, Kang Fiyan," frustrasi Omar memelas.
"Benar sekali yang di ucapkan Kang Omar, ayo ke rumah sakit demi kebaikan Kang ditangkap," imbuh Ahmad.
"Sadar atau tidak para pelajar merindukan Kang Fiyan walau gengsi mengakui kebenaran itu. Kami mohon ayo ke rumah sakit," pinta Husain kebetulan ada di kamar utama.
"Terima kasih, tapi maaf aku tidak bisa," lirih Ridwan.
"Keras kepala sekali sampean, Kang. Lihat kondisimu begitu parah. Tolong ya Allah mengerti!" tegas Sofian.
"Maaf," lirih Ridwan.
"Mau tidak mau harus ke rumah sakit!" tegas Wahyu.
"Aku mau ke puskesmas dalam pesantren saja. Kan sudah dapat obat, ku mohon mengerti," lirih Ridwan.
"Keras kepala, baiklah kalau itu maumu!" tegas Omar.
"Benar-benar tidak punya otak!" Sengit Husain sarkasme, tapi percayalah begitu khawatir.
Ridwan tersenyum meminta maaf atas sikap keras kepalanya. Dia tidur karena merasa lelah akan kondisinya. Ia menitikan air mata rindu pada angin malam. Ridwan akhirnya tidur lelap dalam balutan selimut tebal.
Semua Kang pengurus menatap Ridwan penuh arti. Mereka tkdak sanggup Adik kebanggaan terkulai lemah tanpa tenaga. Mereka hanya bisa berdoa pada Allah semoga lekas mengangkat penyakit Ridwan, Aamiin.
...❤❤❤ ...
9 hari kemudian ....
Terlihat Ridwan sudah sehat kembali dan sudah mulai mengajar kembali. Awalnya ia pikir para pelajar putra menolak dirinya ternyata tidak. Dia cukup senang gunjingan itu sudah reda malah terganti ucapan syukur. Ridwan senang setidaknya berkat sakit lumayan lama para Kang asrama tidak bertingkah.
Ngomong-ngomong Ridwan ada tugas mengantar salah satu pelajar berobat ke puskesmas bersama Husain. Ia papah bersama Kang pengurus keamanan menuju puskesmas. Dia bersyukur Kang pengurus keamanan kini terlihat kembali seperti sedia kala. Ridwan dan Husain pada akhirnya sampai juga ke tempat tujuan.
Pelajar asal Rusia itu sakit deman sudah dua hari. Alhasil Kang pengurus mengantar ke puskesmas agar mendapat perawatan intensif. Selagi menunggu Ridwan dan Husain saling bercakap-cakap seputar kesehatan pemuda tadi. Mereka akan lebih produktif menjaga kesehatan para pelajar diberbagai negara. Sampai percakapan Ridwan dan Husain berhenti akibat suara Ning.
"Assalamu'alaikum, Mbak Nadir! Nisa datang minta obat!" riang Annisa sembari berjalan cepat ke dalma puskesmas. Dia memang berusaha ceria demi menutup rasa rindu yang terpendam serta rasa sakit hatinya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ridwan dan Husain lirih.
Ridwan tegang mendengar suara Istrinya. Bukanya Annisa sedang liburan, lalu kenapa bisa ada di sini? Dia merasa ada yang janggal atas semua ini. Hingga Ridwan melihat Annisa masuk dengan riang.
Annisa belum tahu kalau ada Ridwan di dalam. Dia dengan langkah cepat masuk, tapi naas sikap ceroboh membautnya tersandung undukan masuk. Dirinya memejamkan mata rapat karena sadar akan tersungkur di lantai. Namun, bukan tersungkur Annisa malah merasakan pelukan hangat dari orang yang sangat dicintai.
Spontanitas Annisa langsung menbuka mata supaya yakin orang yang mendekapnya adalah Ridwan. Dan benar saja Suaminya kini mendekap posesif tubuhnya. Tanpa sadar ia tidak sanggup berpaling dan selalu menatap dalam mata Suaminya. Sungguh Annisa begitu merindukan Ridwan tanpa bisa dijabarkan.
Ridwan tadi menatap Annisa dari ekor matanya. Namun, dia langsung beranjak untuk menangkap tubuh mungil Istrinya. Tanpa tahu konsekuensi ia langsung merengkuh pinggang dan bahu Istrinya. Ridwan tidak mau Annisa-nya terluka dan biarkan ia yang terluka.
Husain mengerjap beberapa kali melihat adegan romantis Ridwan menolong Annisa. Dia menyengit dalam ketika Ridwan dan Annisa saling pandang penuh arti. Dapat ia lihat betapa besar rasa rindu dari pancaran mata keduanya. Husain seperti melihat pasangan yang sangat serasi.
Perasaan Husain atau apa kalau Ridwan dan Anisa itu saling mencintai serta memiliki hubungan suci? Tunggu, sembilan hari lalu sahabatnya berani menyentuh Annisa dan kini malah mendekap penuh rasa. Apa spekulasi selama ini benar adanya? Husain semakin yakin jika memang Ridwan dan Annisa punya hubungan sakral di belakang mereka.
Ridwan menegakan tubuh Annisa hati-hati lalu tanpa babibu melangkah pergi untuk duduk kembali di samping Husain. Di tema duduknya ia melirik Istrinya masih mematung tanpa ada pergerakan. Hingga dia tersadar saat Husain menepuk punggung tangannya. Ridwan menatap sahabatnya seolah mengatakan ada apa?
Annisa menunduk dalam menyembunyikan air mata. Dia berusaha keras menahan sakit serta rasa rindu. Andai bukan di puskesmas ia akan merengkuh Ridwan erat tanpa mau lepas. Dia sangat bersyukur di hari ke sambilan bertemu Suaminya. Annisa sangat rindu pada Ridwan sampai lupa tujuannya.
"Kang Alfiyan, nanti jelaskan padaku," bisik Husain.
"Insya Allah," sahut Ridwan.
"Tidak ada kata Insya Allah, pokoknya harus!" Tegas Husain masih berbisik.
"Kenapa malah maksa?" Tanya Ridwan sembari menatap Husain protes.
"Wajib tidak ada kata lain. Ini bukan pemaksaan, tapi perintah!" Tegas Husain.
"Astaghfirullahal'adzim," istighfar Ridwan akibat Husain.
"Ning Annisa, beli obat untuk Tole Ali, ya?" tanya Nadir dari arah depan.
"I__iya," sahut Annisa terdengar bergetar.
"Tunggu sebentar ya, Ning. Oh iya Kang Alfiyan dan Kang Husain tunggu sebentar Kang Shafurra masih di periksa Buk Bidan."
"Ya," sahut Ridwan dan Husain.
Nadir masuk ke dalam mengambil obat untuk keponakan Pak Kiai. Dia keluar kembali lali mendekati Annisa. Dia menyerahkan obat pesanan Ning sembari tersenyum manis. Ngomong-ngomong Nadir heran kenapa Annisa menunduk sedari tadi? Bahkan masih betah berdiri di tempat semula.
Annisa menyerahkan uang 500 pound pada Nadir. Sebelum pergi ia beranikan diri mendekat ke arah Ridwan dan Husain. Dia berbalik badan untuk menyeka air matanya. Di rasa cukup Annisa tersenyum secerah mungkin agar tidak terlihat menyedihkan.
Ridwan tahu Annisa menangis dalam diam. Sebenarnya apa yang di pikirkan Istrinya? Rasa khawatir menyerukan melihat gadisnya terlihat menyedihkan. Ya Allah, ia ingin menyeka air mata Istrinya lalu mendekap erat penuh kerinduan. Ridwan begitu mencintai Annisa sebening embun dan pastinya begitu rindu.
"Mas Ridwan, eh um Kang Alfiyan anu itu em itu Abah meminta Nisa menyampaikan amanah suruh Mas eh Kang ke Ndalem. Adek em eh AnisSurgaa, pergi dulu Mas eh Kang. Pokoknya setelah ini Mas harus ke Ndalem. Abah yang minta um itu um Adek ah Annisa tunggu Mas ah bukan Abah yang nunggu. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," gugup Annisa sampai belepotan.
"Oh iya, Ning. Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Ridwan.
Annisa langsung lari setelah mengatakan kata-kata anehnya. Dia sampai belepotan kalau bicara. Apa lagi saat mengatakan Mas dan Adek. Maafkan ia mengkambing hitamkan Abah untuk memanggil Suaminya. Annisa akan minta maaf pada Abahnya telah nakal setelah ini.
Ridwan tersenyum teduh mendengar perkataan Annisa sangat lucu. Dia tahu Istrinya sendiri yang meminta untuk datang. Dasar gadis nakal menumbalkan Abah suruh datang. Ia sungguh gemas ingin nyubit gemas pipi gembul Istrinya saat berbicara begitu gugup. Ridwan akan segera datang setelah Shafurra pulang ke asrama.
Husain dan Nadir menatap Annisa berbicara lalu menatap respons Ridwan. Mereka entah kenapa tersenyum melihat interaksi Ridwan dan Annisa yang ehm manis sekali. Dapat di lihat betapa manis Annisa berbicara salah tingkah. Bahkan dengan gugup memanggil Mas dan Adek. Lucu membuat mereka tanpa sadar tersenyum lebar.
"Mas akan datang," gumam Ridwan membuat Husain menengok ke arahnya.
"Apa coba ulangi? Sampean harus jelaskan padaku, Kang Alfiyan!" Perintah Husain.
"Apa, Kan Apa yang perlu saya ulangi?" Tanya Ridwan.
"Tadi sampean bilang Mas akan datang, maksudnya?" Tandas Husain.
"Tidak ada," kilah Ridwan.
"Saya tidak mau tahu pulang dari sini klarifikasi!" Tegas Husain mengintimidasi.
"Insya Allah, Kang," jawab Ridwan.
"Harus!" Seru Husain.
Husain hanya bungkam sembari menautkan tangan. Bahkan mata tajam melirik Ridwan sibuk menunduk menyembunyikan wajah. Ia paham sahabatnya ini memang punya hubungan spesial dengan Annisa. Jika feeling seorang psikolog salah maka copot saja jabatan Husain.
Sementara Ridwan menunduk takut juga di tatap intimidasi Husain. Demi Tuhan ingin rasanya ia kabur meninggalkan Kang ketua keamanan. Kini yang dia lakukan hanya berpaling takut di intimidasi. Ridwan akui karisma dan aura Husain tidak bisa dibantah.
...****...
Setelah mengantar Shafurra ke kamar Ridwan dan Husain menuju kamar para pengurus keamanan. Di dalam terlihat Ridwan di tatap intimidasi Husain. Syukur mereka hanya berdua dalam kamar. Sehingga tidak ada yang ganggu. Lagian setiap kamar pengurus terdapat alat peredam suara. Jadi bebas mau berbicara atau sedang sidang menginterogasi para pelajar putra.
Ridwan tersenyum saat Husain mengatakan opini tentang dirinya. Dia tersenyum tipis melihat Kang keamanan menginterogasi dirinya. Ia tidak mungkin mengelak jika berhadapan dengan seorang psikolog handal. Ridwan tersenyum tipis saat Husain menatap bagitu tajam.
"Katakan padaku, apa hubungan kalian? Sampean dan Ning terlihat begitu akrab. Aku tahu kalian saling cinta dan sepertinya memiliki hubungan spesial. Katakan kebenaran itu dan Insya Allah aku akan rahasiakan hubungan kalian," tandas Husain memulai pembicaraan setelah diam.
"Itu ... Kang, saya dan Ning hanya sebatas Kakak dan Adik tidak lebih. Saya tidak ada hubungan apa pun ...." Ridwan gugup ketahuan sekali sedang berbohong.
"Dan aku berpikir bahwa sampean memang sedang menyembunyikan semua. Pertama aku melihat kalian jalan berdua penuh tawa bahkan tatapan begitu lugas mencerminkan pasangan. Kedua gosip bahwa Kang Fiyan berani menyentuh tangan Ning Annisa bahkan menggenggam lembut. Aku ini sangat mengenalmu, Kang. Mana bisa seorang pemuda taat Agama berani berbuat hal terlarang? Saya tahu sampean begitu taat agama, selalu berlandas Al-Qur'an dan Hadits. Dan baru berpikir banyak tentang hubungan yang sudah halal ....
... Dan kecurigaan itu lebih kuat karena tadi sampean mendekap Ning begitu posesif. Memberikan perlindungan, tatapan cinta, kerinduan mendalam dan segala hal yang mencerminkan seorang Suami pada Istri. Jangan sampean pikir saya cuek, tidak peduli apa pun, masa bodoh dan terkesan begitu tegas tidak pernah menjalin hubungan maka bisa dikelabui? Ayolah Kang pasti tahu siapa aku ini. Kita bersahabat begitu lama maka akan tahu bagaimana watak ku. Jadi, katakan apa sampean sudah menikah secara rahasia?" Papar Husain tepat sasaran.
"...." Ridwan menatap Husain tidak percaya karena bisa langsung memprediksi tepat sasaran.
Melihat Ridwan bungkam tentu membuat Husain menghembus napas panjang. Dia paham apa yang dilontarkan benar adanya. Jika pernikahan siri itu tidak mungkin secara sahabatnya ini punya darah anak Gus. Apa lagi Husain tahu bahwa Ayah, Abi dan Umi Ridwan begitu taat agama.
Jadi mana bisa Husain berpikir bahwa Ridwan menikah siri. Jika diingat Annisa gadis yang sangat hiperaktif. Terlebih Abah begitu identik dengan kepusingan. Atau ini rencana perjodohan demi membuat Annisa menjadi gadis shalihah. Husain kini sadar bahwa Ridwan dan Annisa memang menikah secara diam-diam.
Sementara Ridwan hanya bungkam tidak kuasa menahan desakan Husain. Memang dasarnya pemuda dewasa di depannya sangat mudah memprediksi. Dia kagum pada pemikiran Husain yang sangat gamblang dan sangat cepat menangkap setiap peristiwa. Ridwan jadi berpikir alangkah beruntung wanita yang mendapat Husain kelak.
Selagi melamun Ridwan terus menatap Husain kagum. Walau sudah sangat lama mengenal pemuda ini, tapi tetap saja selalu kagum. Sikap peka pemuda ini begitu luar biasa. Ridwan jadi tambah mengidolakan sosok Husain.
"Ckckck bukannya menjawab malah menatap kagum. Jawab pertanyaan saya, apa benar kalian sudah menikah?!" Tandas Husain.
"Ah maafkan saya, Kang. Benar sekali, saya dan Ning Annisa sudah menikah, Kang. Sampean ingat beberapa bulan silam saya izin pulang ke Irak? Sebenarnya saya melangsungkan pernikahan dengan Ning Annisa. Hubungan kami memang privasi dan akan terpublikasi usai Ning Annisa lulus. Terakhir resepsi pernikahan kami setelah Ning Annisa wisuda. Saya mohon rahasiakan hubungan kami untuk beberapa saat," jujur Ridwan tanpa basa-basi. Sepertinya sikap Ayah Aziz langsung ke inti menular padanya.
Husain tersenyum mendengar jawaban Ridwan. Dia tersenyum tulus Jawabannya sesuai prediksi. Ia menepuk bahu sahabatnya seraya tersenyum teduh. Hamdan rengkuh tubuh kekar Ridwan penuh arti.
Ridwan sadar betapa bijak Husain dalam menyikapi masalah. Dia senang pemuda asal Indonesia ini sangat menyayanginya. Jarak usia mereka juga cukup jauh membuatnya hormat pada Husain layaknya saudara. Ridwan senang ada Husain yang akan selalu mendengar dirinya.
"Sebagai sahabat, rekan dan saudara aku begitu bahagia mendengar itu. Semoga pernikahan kalian Sakinah Mawadah Warahmah dan pernikahan kalian selalu terlindungi dari segala cobaan. Semoga Allah juga senantiasa memberikan segala kebahagiaan, kesejahteraan, rezeki berlimpah, anak Shaleh dan Shalihah, Aamiin. Saya hanya bisa mendoakan segala kebaikan untuk kalian. Berbahagialah raih cintamu dan cepat temui Istrimu tadi di kode suruh datang. Ning Annisa begitu merindukan dirimu. Kang Ridwan raih segalanya jangan pernah menyerah mempertahankan hubungan!" tegas Husain.
"Aamiin yaa Allah. Allahu Akbar, Alhamdulillah yaa Rabb. Jazakumullah khairan Katsiran, Kang. Saya begitu bahagia mendapat sahabat, Kakak dan ketua sebaik Kang Husain. Sekali lagi terima kasih banyak atas segalanya," ucap Ridwan penuh keharuan.
"Wa jazakumallah khairan katsiran, Kang. Sampean ini kayak sama siapa saja. Adikku ini ternyata sudah besar sudah berani nikah. Sampean tahu aku sadar ini saat sembilan hari yang lalu. Lebih kuat lagi tadi melihat kalian begitu. Aku hanya bisa speechless ternyata spekulasi itu tepat sasaran."
"Kang Husain adalah salah satu panutan ku. Saya begitu kagum serta sangat bahagia bisa menjadi sahabat, sampean. Kapan Kang Husain nyusul? Ingat usia sudah dewasa sudah sepantasnya cepat menikah. Tidak heran kalau Kang Husain, sekali menggunakan pikiran genius langsung tepat sasaran. Anda paling cocok jadi polisi bagian interogasi. Sekali tatap langsung kena."
"Sampean ini, tapi saya jauh lebih kagum pada sampean. Saya yang sangat bersyukur dan begitu bahagia bisa menjadi sahabat sampean. Saya mau menamatkan S3 baru nikah. Beberapa bulan lagi saya Hafidz, jadi setelah itu saya akan melanjutkan study. Saya mau menikah di usia 35, hehehehe. Bisa saja, saya mau jadi Ustadz atau jaksa."
"Hahahaha, ngawur sampean masak kagum sama saya. Baiklah kita sama-sama bersyukur bisa menjadi sahabat sekaligus saudara. Bujang tua sampean, Kang. Itu terlalu tua bagi orang pribumi. Janganlah, menikah setelah jadi Hafidz lalu melanjutkan study. Itu lebih baik, Kang."
"Ha-ha-ha, baiklah sekarang cepat keluar dari kamarku!"
"Lah malah ngusir?"
"Sampean baru 25 ternyata pikun. Sadarlah tadi Ning sudah meminta segera menemuinya. Memang tidak kangen sama kekasih halal?"
"Sampean memang begitu pengertian. Sayang Kang Husain banyak-banyak."
"Ckckck."
"Kalau begitu saya pergi dulu. Jangan kangen ya, Kang. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Dasar gemblung. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Ridwan langsung tersenyum lebar mendengar perkataan Husain. Dia rengkuh temannya lalu keluar kamar keamanan. Ia akan meraih gadisnya lalu memperjuangkan sang Istri. Hingga dia terdiam seribu bahasa saat sampai kamar khusus para pengurus pusat. Ridwan melihat foto para Kang pengurus terutama Hamdan.
Sementara Husain mengukir senyum teduh untuk Ridwan. Dia akan selalu mendoakan kebaikan untuk Adiknya itu. Ia tidak sabar mendapat keponakan dari Ridwan. Dan soal pernikahan ia belum memikirkan itu Husain hanya berpikir pendidikan serta hafalannya.
"Soal jodoh pasti Allah sudah menyiapkan yang terbaik. Saya tahu Allah akan segera mempertemukan padanya, tetapi tidak tahu kapan. Jika memang saya akan segera bertemu dengan jodoh maka tidak bisa dihindari. Dan aku juga ingat Abi dan Umi telah menjodohkan saya dengan Ning, tetapi sampai sekarang belum terjawab. Saya percaya jodoh saya bukan dirinya melainkan gadis yang akan datang segera dalam kehidupan ku," ucap Husain dalam hati.
Sisi lain Ridwan yang semangat langsung terdiam jika ingat Annisa terakhir kali. Dia mundur beberapa langkah lalu duduk di lantai. Wajahnya menyendu teringat betapa menyakitkan ulah Istrinya sembilan hari lalu. Ridwan menunduk dalam sembari meremas tangannya kalut.
Apa yang harus Ridwan lakukan jika Annisa hanya berkata tentang Hamdan?
"Lupakan itu Ridwan sekarang segera temui dirinya. Argh, aku harus datang. Sekarang jam setengah sepuluh pagi nanti pulang sebelum Sholat Dzuhur," gumam Ridwan.
Ridwan memilih bergegas untuk menemui Annisa. Di depan cermin ia membenarkan penampilan agar terlihat rapi. Baru setelah itu dia langsung berjalan cepat. Di setiap langkah Ridwan tersenyum semoga saja hari ini Annisa tidak berulah.
Sedangkan Kang pengurus pusat yang melihat Ridwan merasa aneh. Mereka jelas tahu tujuan wakil pengurus itu ke ndalem. Itu artinya akan bertemu Annisa dan mungkin saja berbicara. Buru-buru mereka mengucap istighfar karena berpikir buruk.
...To be Continue....
...Bagaimana menurut kalian Chap ini?...
...Asli aku di sini suka sama karakter Kang Husain, walau yang utama Kakak gede. Kedua pemuda dengan kelebihan di berbagai bidang. ...
...Maaf ya belum tak koreksi jadi kalau banyak sekali kesalahan dalam penulisan harap maklum....
...Salam cinta Rose....
...28_12_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
dengerin ning ! .
aku baru tau ceritanya di tahun ini😭