NovelToon NovelToon
KAISAR 100.000 DUNIA

KAISAR 100.000 DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tawaki

Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Qi Condensation tahap 1

Tujuh hari telah berlalu sejak Lin Fan memulai ritual "Akupunktur Jiwa" di gubuk reyotnya.

Bagi orang luar, tujuh hari hanyalah waktu yang singkat, cukup untuk menunggu luka memar menghilang atau menunggu panen sayuran kecil matang. Namun bagi Lin Fan, tujuh hari itu terasa seperti tujuh abad penyiksaan. Setiap malam, ia harus menusukkan jarum tulang ke titik-titik vital tubuhnya, menahan rasa sakit yang seolah-olah membakar saraf-sarafnya dari dalam, sambil memandu aliran Qi Chaos yang liar dan kacau agar tidak menghancurkan organ dalamnya.

Tubuhnya kurus lebih lagi, pipinya cekung, dan lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat. Nyonya Li hampir setiap malam menangis melihat kondisi anaknya, menawarkan untuk berhenti dan mencari tabib lain. Tapi Lin Fan selalu menolak dengan alasan bahwa ini adalah metode penyembuhan tradisional dari buku kuno yang ia temukan, dan bahwa rasa sakit adalah tanda bahwa obatnya sedang bekerja.

Pagi kedelapan, matahari terbit dengan cahaya keemasan yang menerobos celah atap gubuk. Lin Fan duduk bersila di atas tikarnya, napasnya teratur dan dalam. Tidak ada gemetar kali ini. Tidak ada keringat dingin.

Di dalam tubuhnya, sesuatu yang berbeda terjadi.

Setelah bertahun-tahun tersumbat oleh residu racun dan kotoran spiritual, meridian utamanya—saluran Ren dan Du—akhirnya terbuka selebar jari kelingking. Sebuah aliran Qi tipis, berwarna abu-abu kusam karena masih bercampur dengan ketidakmurnian, berputar perlahan di dalam Dantian-nya. Itu bukan Qi murni berwarna emas atau biru seperti para jenius klan, tapi bagi Lin Fan, itu adalah air jernih di tengah padang pasir.

Ia membuka mata. Pupilnya berkontraksi, menyesuaikan diri dengan cahaya. Ia mengangkat tangannya, mengepalkannya, lalu melepaskannya. Suara letupan udara kecil terdengar dari sendi-sendi jarinya.

"Akhir nya pembukaan Qi Tahap 1"

"Selamat datang kembali," bisik Lin Fan pada energinya sendiri.

Ia bangkit, tubuhnya terasa ringan meski secara fisik masih lemah. Ia mencuci wajahnya dengan air dingin dari ember di sudut ruangan, lalu mengenakan jubah lusuhnya. Hari ini, ia harus keluar. Ia perlu membeli bahan-bahan tambahan untuk ramuan penguat tulangnya, dan ia ingin melihat langsung bagaimana dunia merespons perubahannya.

Pasar Kota Qingyun ramai seperti biasa. Pedagang berteriak menawarkan barang dagangan, bau ikan asin bercampur dengan aroma rempah-rempah, dan debu jalanan beterbangan di setiap langkah kuda atau gerobak.

Lin Fan berjalan dengan tenang di tengah kerumunan. Biasanya, ia akan menundukkan kepala, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin untuk menghindari ejekan. Tapi hari ini, punggungnya tegak. Langkahnya mantap. Matanya tidak lagi kosong, melainkan waspada dan mengamati segala sesuatu di sekitarnya.

Perubahan sikapnya tidak luput dari perhatian beberapa orang.

"Hei, lihat itu! Bukankah itu Lin Fan, si Sampah?" bisik seorang wanita penjual buah kepada temannya.

"Iya, tapi... kenapa dia berjalan begitu percaya diri?"

Dulu dia selalu terlihat ketakutan jika ada orang dari Klan Zhao atau bahkan Klan Lin lewat," jawab temannya, mengerutkan kening.

Lin Fan mendengar bisikan-bisikan itu, tapi ia mengabaikannya. Ia menuju stan obat herbal milik Tuan Old Chen, seorang pedagang tua yang dikenal jujur meski harganya agak mahal.

"Tuan Chen," sapa Lin Fan saat tiba di stan.

Tuan Old Chen, yang sedang menimbang akar ginseng, mendongak. Matanya menyipit saat mengenali Lin Fan.

"Oh, anak muda Lin. Kau sudah sembuh? Aku dengar kau dipukuli cukup parah."

"Sudah jauh lebih baik, Tuan," jawab Lin Fan dengan sopan.

"Saya butuh tiga ons Akar Besi Hitam, dua ons Daun Embun Malam, dan satu botol getah Pohon Naga Tua."

Tuan Old Chen terkejut. Bahan-bahan itu bukan untuk obat pemulihan biasa. Akar Besi Hitam digunakan untuk memperkuat tulang, Daun Embun Malam untuk menenangkan jiwa, dan Getah Pohon Naga Tua adalah katalis langka untuk menyerap energi. Kombinasi ini biasanya digunakan oleh praktisi tingkat menengah yang ingin menembus batas tubuh mereka.

"Anak muda," kata Tuan Chen pelan, menurunkan suaranya.

"Bahan-bahan itu mahal dan keras bagi tubuh. Dengan kondisimu yang... lemah"

"apakah kau yakin? Ini bisa merusak meridianmu jika tidak ditangani dengan benar."

Lin Fan tersenyum tipis. "Saya tahu risikonya, Tuan. Dan saya tahu cara menanganinya. Tolong bungkus untuk saya."

Melihat keteguhan di mata remaja itu, Tuan Chen akhirnya mengangguk. Ia membungkus bahan-bahan tersebut dengan kertas minyak.

"Hati-hati, Nak. Jangan bermain dengan api jika kau tidak siap terbakar."

Saat Lin Fan membayar dengan beberapa koin tembaga terakhir yang ia miliki (hasil menjual kalung giok peninggalan ayahnya yang sebenarnya palsu, tapi berhasil ia jual sebagai barang antik unik), sebuah suara cemoohan terdengar dari belakangnya.

"WAH, WAH. Si Sampah sekarang berani belanja bahan mahal?"

"Apakah kau mencuri uang dari ibu miskinmu itu, Fan?"

Lin Fan tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Nada sombong dan licik itu hanya milik satu orang: Lin Hao.

Lin Hao berdiri di sana, diapit oleh empat pengawalnya. Ia mengenakan jubah baru berwarna merah marun, wajahnya bersinar karena kepuasan diri. Di tangannya, ia memainkan sebuah kipas lipat dari bulu merak.

Lin Fan berbalik perlahan. Wajahnya datar, tanpa emosi.

"Uang ini hasil kerja kerasku, Hao. Bukan hasil curian."

"Dan menurut aturan klan, setiap anggota berhak menggunakan sumber daya pribadi mereka sesuka hati, selama tidak melanggar hukum kota."

"Aturan? Kau bicara tentang aturan?" HAHAHA.." Lin hao ketawa Sambil memegang perut nya

"Kau bahkan bukan praktisi sejati. Kau hanya beban."

"Dan lihat dirimu... kurus seperti mayat hidup. Kau pikir membeli bahan-bahan aneh itu akan membuatmu kuat? Itu hanya buang-buang uang."

Salah satu pengawal Lin Hao, seorang pria bertubuh besar bernama Batu, melangkah maju.

"Boss, apakah kita perlu 'mengajarkan' dia pelajaran lagi? Mungkin mengambil tas belanjaannya sebagai pajak jalanan?"

Lin Hao mengedipkan mata, memberi izin diam-diam.

Batu meraih bahu Lin Fan dengan kasar, berniat mendorongnya ke tanah. "Berikan tas itu, sampah!"

Namun, kali ini, Lin Fan tidak jatuh.

Sebelum tangan Batu bisa menyentuh kain jubahnya, Lin Fan bergerak. Gerakannya sangat cepat, hampir tak terlihat oleh mata orang biasa. Ia tidak memukul balik. Ia hanya menggeser kakinya selangkah ke samping, menggunakan momentum dorongan Batu untuk memutarkan tubuhnya, lalu dengan siku kanannya, ia menekan titik saraf di pergelangan tangan Batu dengan presisi bedah.

Crack.

Suara ligamen yang tertarik terdengar samar. Batu meraung kesakitan, tangannya mati rasa seketika, dan ia mundur sambil memegang pergelangan tangannya yang kini lemas.

Keheningan menyelimuti area pasar itu. Para pedagang dan pembeli terdiam, mata mereka terbelalak. Lin Hao juga terpaku, kipasnya berhenti berkibar.

Lin Fan menatap Batu, lalu menoleh ke Lin Hao. Matanya dingin seperti es.

"Tanganmu terlalu kotor, Hao. Hati-hati jangan sampai kau kehilangan lebih dari sekadar harga dirimu berikutnya," kata Lin Fan, suaranya rendah namun jelas terdengar oleh semua orang di sekitarnya.

Ia tidak menunggu respons. Ia mengambil tas belanjaannya, lalu berjalan pergi dengan tenang, meninggalkan Lin Hao yang wajahnya memerah karena malu dan marah di tengah kerumunan.

Bagi Lin Fan, itu bukan kemenangan besar. Itu hanya demonstrasi kecil. Tapi bagi warga Kota Qingyun, itu adalah gempa bumi. Si Sampah Klan Lin baru saja melawan balik. Dan dia menang.

Di balik kerumunan, dua sosok bertopeng dari Klan Zhao saling pandang.

Salah satunya bergumam, "Wakil Kepala Zhang benar. Anak ini... berbahaya."

Lin Fan terus berjalan, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ia tahu konsekuensi dari tindakannya. Lin Hao tidak akan membiarkan penghinaan ini. Perang dingin antara mereka kini telah berubah menjadi perang terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!