NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Pelajaran Tidak Tertulis

Gudang tanaman Aula Alkimia terasa seperti dunia lain bagi Feng Bai Hu.

Rak-rak tinggi berdiri berjajar dari ujung ruangan hingga ke sisi terdalam, meninggalkan lorong-lorong sempit yang dipenuhi aroma pahit, manis, segar, dan tajam dari berbagai bahan obat. Ada kotak kayu berukir segel penyimpanan, botol giok berisi cairan berwarna samar, kantong kain berisi serbuk tulang monster, hingga ikatan tanaman kering yang digantung terbalik agar khasiatnya tidak cepat hilang.

Bagi murid alkimia biasa, tempat ini mungkin terasa menekan. Terlalu banyak nama, terlalu banyak bentuk, terlalu banyak aturan penyimpanan. Salah mengenali satu daun saja bisa membuat pil gagal. Salah menilai usia tanaman bisa membuat khasiat pil turun setengah.

Namun bagi Bai Hu, ruangan ini tampak seperti pasar harta karun yang disusun rapi.

Hanya saja, berbeda dari pasar biasa, harga setiap barang di sini belum tertulis jelas.

Dan itu membuatnya semakin tertarik.

Ia berdiri di depan rak pertama sambil memegang papan catatan kecil. Di hadapannya terdapat belasan kotak kayu berlabel tanaman tingkat rendah. Tetua Guo Rong telah pergi setelah memberi perintah sederhana namun mengerikan: dalam satu bulan, Bai Hu harus menghafal semua bahan tingkat rendah di gudang ini.

Semua.

Bukan hanya nama.

Tetapi juga ciri, kualitas, cara penyimpanan, khasiat, dan kesalahan umum yang sering terjadi saat membelinya.

Bai Hu menatap rak panjang itu cukup lama.

Kemudian ia menghela napas.

“Kalau ini dijadikan pekerjaan berbayar, aku pasti bisa meminta upah tinggi.”

Seorang murid alkimia yang kebetulan lewat hampir tersandung mendengar gumaman itu.

Bai Hu tidak peduli. Ia membuka kotak pertama dan menemukan beberapa ikatan Rumput Roh Hijau yang sudah dikeringkan. Ia mengambil satu batang dengan hati-hati, mengamati warna daun, bentuk akar, dan aroma samar yang keluar ketika ujungnya digosok.

“Daun terlalu kusam. Disimpan lebih dari satu bulan. Khasiat turun sekitar sepuluh sampai lima belas persen,” gumamnya sambil mencatat. “Jika dijual dengan harga normal, pembeli rugi. Jika dibeli dengan potongan dua puluh persen, masih layak.”

Ia berhenti menulis.

Lalu menambahkan satu baris lagi.

“Bisa digunakan untuk pil kualitas rendah agar tidak membuang bahan bagus.”

Di sisi lain ruangan, seorang murid senior yang sedang memilah botol giok melirik ke arahnya. Namanya Liang Chen, murid alkimia berusia lima belas tahun yang telah belajar di bawah bimbingan Tetua Guo selama hampir empat tahun. Di antara murid-murid muda Aula Alkimia, ia termasuk yang paling berbakat dan paling disiplin.

Sejak pagi, ia sudah mendengar bahwa Tetua Guo memberikan izin kepada Feng Bai Hu untuk memasuki gudang tanaman.

Awalnya Liang Chen tidak terlalu peduli. Ia tahu Bai Hu adalah jenius keluarga dengan Akar Spiritual Surgawi. Namun bakat kultivasi tidak sama dengan bakat alkimia. Banyak kultivator kuat yang bahkan tidak mampu membedakan rumput obat dari rumput liar.

Namun setelah mendengar gumaman Bai Hu, alis Liang Chen mulai berkerut.

Anak itu tidak hanya menghafal.

Ia menilai kegunaan bahan berdasarkan kualitas dan biaya.

Liang Chen meletakkan botol giok di tangannya, lalu berjalan mendekat.

“Tuan Muda Bai Hu.”

Bai Hu menoleh. “Hm?”

“Bahan yang kualitasnya turun seharusnya tidak digunakan untuk pemurnian pil. Risiko gagalnya lebih besar.”

Bai Hu mengamati Liang Chen dari atas ke bawah. Jubah alkimia pemuda itu rapi, tangannya bersih, dan matanya tenang. Dari caranya berdiri, Bai Hu bisa menebak bahwa orang ini bukan murid biasa.

“Kalau digunakan untuk pil kualitas menengah atau tinggi, memang tidak layak,” jawab Bai Hu. “Tapi kalau digunakan untuk latihan murid baru atau pil tingkat sangat rendah, bukankah lebih hemat daripada memakai bahan segar?”

Liang Chen terdiam.

Jawaban itu tidak salah.

Dalam praktiknya, para murid baru memang sering menggunakan bahan berkualitas rendah untuk latihan. Hanya saja mereka jarang membahasnya dengan cara seperti itu.

Bai Hu kembali menatap Rumput Roh Hijau di tangannya. “Jika bahan bagus dipakai oleh orang yang belum bisa mengendalikan api, hasilnya tetap hangus. Kalau begitu, lebih baik bahan buruk yang hangus. Kerugiannya lebih kecil.”

Sudut mata Liang Chen bergerak sedikit.

Entah kenapa, ia merasa kalimat itu terdengar sangat masuk akal sekaligus sangat menyebalkan.

“Kau memandang alkimia seperti perdagangan,”

Bai Hu mengangguk tanpa malu. “Karena memang ada biayanya.”

“Alkimia bukan hanya soal biaya.” Potong Liang Chen

“Tentu. Tapi kalau selalu rugi, alkemis juga tidak bisa terus membuat pil.” Bai Hu menambahkan

Liang Chen hendak membantah, tetapi kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Ia ingin mengatakan bahwa alkimia adalah seni, jalan Dao, dan bentuk pemahaman terhadap alam. Namun pada saat yang sama, ia tahu bahwa setiap kali aula membeli bahan baru, Tetua Guo selalu mengeluh tentang biaya. Setiap kali tungku rusak, semua murid harus menghemat penggunaan bahan selama beberapa hari.

Pada akhirnya, bahkan alkimia pun tidak bisa lepas dari batu roh.

Melihat Liang Chen diam, Bai Hu tersenyum kecil. “Kakak senior, siapa namamu?”

“Liang Chen.”

“Oh. Kakak Liang.” Bai Hu menangkupkan tangan dengan sopan. “Aku baru belajar. Kalau ada yang salah, beri tahu saja. Tapi kalau sarannya bisa menghemat biaya, aku akan lebih cepat mengingatnya.”

Liang Chen memandang bocah gemuk di depannya dengan ekspresi rumit.

Ia sebelumnya mengira Bai Hu adalah tuan muda manja yang datang bermain-main karena mendapat perhatian Tetua Guo. Namun setelah berbicara beberapa kalimat, ia menyadari bahwa bocah ini memang aneh, tetapi bukan bodoh.

“Kalau kau benar-benar ingin belajar, jangan hanya melihat harga,” ucap Liang Chen akhirnya. “Lihat juga sifat bahan. Rumput Roh Hijau memang murah, tetapi sifatnya lembut. Ia sering digunakan untuk menstabilkan bahan lain yang lebih keras. Jika kualitasnya turun terlalu banyak, kemampuannya menstabilkan juga berkurang. Pil yang tampak berhasil bisa kehilangan khasiat setelah beberapa hari.”

Bai Hu berhenti mencatat.

Kali ini ia benar-benar mendengarkan.

“Pil bisa kehilangan khasiat setelah selesai dibuat?”

“Bisa,” jawab Liang Chen. “Terutama jika bahan penstabilnya buruk atau api penutupnya tidak sempurna.”

Bai Hu menatap catatannya.

Lalu mencoret sebagian kalimat yang baru saja ia tulis.

Ia menggantinya dengan catatan baru.

“Bahan kualitas turun bisa digunakan untuk latihan, tetapi tidak layak untuk pil yang akan disimpan lama. Risiko kerugian tertunda.”

Liang Chen membaca catatan itu dan tanpa sadar mengangguk.

Istilah “kerugian tertunda” terdengar sangat khas Bai Hu, tetapi maknanya tepat.

Untuk pertama kalinya, Liang Chen merasa mungkin ia bisa memahami kenapa Tetua Guo memberi perhatian kepada anak ini.

Bukan karena Bai Hu sudah pandai.

Melainkan karena ia belajar dengan cara yang berbeda.

Waktu berlalu perlahan.

Bai Hu berpindah dari satu kotak ke kotak lain. Rumput Roh Hijau, Daun Embun Putih, Akar Darah Kecil, Serbuk Tulang Kelinci Batu, Bunga Api Merah, Lumut Dingin, Getah Pohon Besi. Setiap bahan ia amati, cium, bandingkan dengan isi kitab, lalu catat menggunakan bahasanya sendiri.

Tidak semua catatannya terdengar seperti catatan alkemis.

Sebagian lebih mirip buku dagang.

Namun justru karena itu, ia lebih mudah mengingatnya.

Daun Embun Putih yang bagus memiliki aroma segar seperti air hujan. Jika aromanya asam, jangan dibeli kecuali diskon besar.

Akar Darah Kecil terlalu tua menghasilkan panas berlebih. Baik untuk pil tertentu, buruk untuk pemula. Harga harus dibedakan.

Bunga Api Merah mudah rusak jika disimpan dekat bahan bersifat dingin. Jangan percaya pedagang yang mencampurnya dalam satu keranjang.

Semakin banyak ia mencatat, semakin jelas bagi Bai Hu bahwa pengetahuan alkimia tidak hanya berguna untuk membuat pil. Pengetahuan ini bisa membantunya membeli bahan lebih murah, menjual bahan dengan harga tepat, mengetahui kapan seseorang berbohong, bahkan menemukan peluang dari barang yang dianggap tidak bernilai.

Dan peluang adalah kata yang sangat disukainya.

Menjelang siang, beberapa murid Aula Alkimia mulai memperhatikan Bai Hu.

Awalnya mereka hanya penasaran. Namun setelah melihat bocah tujuh tahun itu mampu mengenali belasan bahan hanya setelah membaca sekali, rasa penasaran berubah menjadi bisikan pelan.

“Dia benar-benar menghafal semuanya?”

“Mustahil. Mungkin hanya kebetulan.”

“Tetua Guo memberinya kitab dasar. Mungkin dia sudah membaca sebelumnya.”

“Bahkan kalau sudah membaca, siapa yang bisa mengingat detail sebanyak itu?”

Bisikan itu sampai ke telinga Liang Chen. Ia tidak ikut bicara. Ia hanya berdiri tidak jauh dari Bai Hu, memperhatikan cara bocah itu bekerja.

Ada sesuatu yang mengganggunya.

Bai Hu memang cepat mengingat. Itu jelas bakat luar biasa. Namun yang lebih penting, bocah itu tidak sekadar menyalin isi kitab. Ia mengubah setiap informasi menjadi sesuatu yang bisa ia gunakan.

Itu jauh lebih sulit daripada menghafal.

Saat matahari tepat berada di atas kepala, Bai Hu akhirnya berhenti. Perutnya berbunyi cukup keras hingga dua murid di dekatnya menoleh.

Bai Hu menutup papan catatannya dengan wajah serius. “Kultivasi membuat lapar. Belajar alkimia juga membuat lapar. Sepertinya jalan menuju kekayaan memang membutuhkan biaya makan yang besar.”

Liang Chen menatapnya datar.

“Kau bisa makan di ruang murid. Aula menyediakan makanan sederhana.”

Mata Bai Hu langsung berbinar. “Gratis?”

Liang Chen menghela napas. “Ya. Gratis.”

Bai Hu langsung berdiri. “Kakak Liang, mulai hari ini kau adalah orang baik.”

“Karena aku memberitahumu ada makanan gratis?”

“Informasi berharga harus dihargai.”

Liang Chen memijat pelipisnya. Ia mulai memahami sedikit perasaan Tetua Guo.

Namun sebelum mereka keluar dari gudang, Bai Hu tiba-tiba berhenti di depan rak paling bawah. Tatapannya tertuju pada sebuah kotak kayu kecil yang labelnya hampir terlepas. Di dalam kotak itu terdapat beberapa batang tanaman kering berwarna abu-abu pucat.

Bai Hu mengernyit.

“Apa ini?”

Liang Chen melirik sekilas. “Rumput Abu Dingin. Bahan tingkat rendah. Biasanya dipakai sebagai penyeimbang sifat panas. Kualitasnya buruk, jadi jarang digunakan.”

Bai Hu mengambil satu batang dan mendekatkannya ke hidung.

Aromanya sangat samar.

Hampir tidak ada.

Namun di balik bau kering itu, ia mencium sesuatu yang aneh. Sedikit manis. Sangat tipis. Nyaris tertutup aroma debu.

Ia membandingkannya dengan ingatan dari kitab. Rumput Abu Dingin seharusnya tidak memiliki aroma manis. Kalau terlalu lama disimpan, baunya berubah tengik, bukan manis.

“Berapa lama ini disimpan?”

Liang Chen mengerutkan kening. “Mungkin lebih dari setengah tahun. Kenapa?”

Bai Hu tidak menjawab. Ia mematahkan sedikit ujung batang tanaman itu. Bagian dalamnya tidak abu-abu, melainkan memiliki garis tipis berwarna biru pucat.

Sangat tipis.

mata Bai Hu menyipit.

“Kakak Liang,” ucapnya pelan, “apakah Rumput Abu Dingin punya garis biru di dalam batang?”

Liang Chen langsung mendekat.

Ia mengambil potongan tanaman itu dari tangan Bai Hu, lalu memeriksanya dengan lebih saksama. Awalnya ekspresinya biasa saja. Namun beberapa saat kemudian, wajahnya perlahan berubah.

“Ini…”

Bai Hu menatapnya. “Apa?”

Liang Chen tidak langsung menjawab. Ia buru-buru mengambil dua batang lain dari kotak yang sama dan mematahkannya. Keduanya juga memiliki garis biru tipis di dalam batang.

Wajah Liang Chen semakin serius.

“Ini bukan Rumput Abu Dingin biasa.”

Bai Hu merasakan jantungnya bergerak lebih cepat.

karena naluri pedagangnya kembali mencium peluang.

“Kalau bukan biasa, berarti lebih mahal?”

Liang Chen menoleh kepadanya dengan ekspresi sulit dijelaskan. “Kau menemukan kemungkinan bahan yang salah klasifikasi, dan pertanyaan pertamamu adalah apakah ini lebih mahal?”

Bai Hu mengangguk jujur. “Kalau lebih murah, tidak perlu terlalu bersemangat.”

Liang Chen terdiam.

Ia menarik napas dalam, lalu berkata dengan nada rendah, “Kita harus memanggil Guru.”

Bai Hu menatap kotak tanaman itu lagi. Garis biru tipis di dalam batang tampak seperti benang kecil yang tersembunyi di balik lapisan abu-abu.

Sebuah bahan yang disimpan berbulan-bulan sebagai barang berkualitas rendah.

Liang Chen memegang potongan batang tanaman itu cukup lama.

Tatapannya tidak lagi setenang sebelumnya.

Ia mematahkan satu batang lagi.

Kemudian satu lagi.

Hasilnya sama.

Di bagian tengah batang yang telah mengering itu, terdapat garis tipis berwarna biru pucat. Sangat samar hingga hampir mustahil terlihat tanpa diperiksa dengan saksama.

"Bagaimana mungkin..."

gumam Liang Chen lirih.

Ia telah berkali-kali mengambil Rumput Abu Dingin dari gudang ini untuk membantu para murid meracik pil latihan.

Namun selama ini...

Ia tidak pernah memperhatikan bagian dalam batangnya.

Bukan hanya dirinya.

Kemungkinan besar tidak ada satu pun murid yang pernah mematahkan tanaman itu untuk memeriksanya.

Mereka hanya melihat label.

Rumput Abu Dingin.

Bahan tingkat rendah.

Selesai.

Tidak ada yang berpikir lebih jauh.

Sementara Bai Hu...

Hanya karena mencium aroma yang sedikit berbeda, ia langsung memeriksa bagian dalam batangnya.

Liang Chen menoleh perlahan.

"Tuan Muda..."

"Bagaimana kau bisa menyadari hal sekecil ini?"

Bai Hu mengangkat bahu.

"Aromanya berbeda."

"Hanya itu?"

"Iya."

Liang Chen mengerutkan dahi.

"Apa bedanya?"

Bai Hu mengambil kembali sebatang tanaman dari kotak itu.

Kemudian mengangkatnya mendekati hidung.

"Rumput Abu Dingin yang tertulis di kitab memiliki aroma tanah basah setelah hujan."

"Tetapi yang ini..."

Ia menghirup napas pelan.

"...ada sedikit bau manis,bukan bau bunga."

"Bukan juga bau madu."

"Lebih seperti..."

Bai Hu berpikir beberapa saat.

"...buah yang hampir matang."

Liang Chen ikut mencium tanaman itu.

Namun ia hanya mencium bau kering seperti biasa.

Ia menggeleng.

"Aku tidak bisa membedakannya."

Bai Hu tersenyum kecil.

"Wajar, dulu aku juga tidak bisa."

Liang Chen menatapnya heran.

"Lalu?"

"Ayah pernah berkata...Kalau ingin menjadi pedagang, belajarlah mencium keuntungan."

Liang Chen berkedip.

"Mencium keuntungan?"

"Iya."

"Banyak tanaman yang terlihat sama, tetapi kualitasnya berbeda, kalau hanya mengandalkan mata, sering tertipu."

Liang Chen kembali terdiam.

Kalimat sederhana itu terdengar masuk akal.

Para alkemis memang lebih sering mengandalkan penglihatan dan energi spiritual.

Sedangkan para pedagang bahan obat...

Justru sering menggunakan penciuman.

Tiba-tiba...

Suara langkah kaki terdengar dari luar gudang.

Tetua Guo Rong berjalan masuk dengan kedua tangan di belakang punggung.

Beliau sebenarnya hanya berniat melihat perkembangan Bai Hu.

Namun baru beberapa langkah memasuki gudang, beliau langsung menyadari suasana yang tidak biasa.

"Kenapa kalian berkumpul di sini?"

Liang Chen segera membungkuk hormat.

"Guru.,Tuan Muda Bai Hu menemukan sesuatu."

"Oh?"

Tetua Guo mendekat.

Liang Chen menyerahkan potongan batang tanaman itu.

"Silakan Guru lihat."

Tetua Guo menerimanya dengan tenang.

Beliau memeriksa warna daun.

Akar.

Kemudian mematahkan batangnya.

Tatapan beliau langsung berubah.

"..."

Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.

Lalu beliau mengambil tanaman lain dari kotak yang sama.

Dipatahkan.

Masih ada garis biru.

Satu lagi.

Masih sama.

Tetua Guo perlahan mengangkat kepala.

"Siapa yang menemukan ini?"

Liang Chen menunjuk Bai Hu.

"Tuan Muda."

Tatapan Tetua Guo langsung beralih.

"Bagaimana kau menemukannya?"

Bai Hu menggaruk pipinya.

"Aromanya berbeda."

Jawaban yang sama.

Tetua Guo kembali mencium tanaman itu.

Beberapa kali.

Barulah akhirnya beliau mengangguk pelan.

"Sangat samar.,,,kalau tidak benar-benar diperhatikan, hampir mustahil untuk disadari."

Beliau menatap Bai Hu lebih lama.

Di dalam hatinya muncul sedikit rasa terkejut.

Anak ini...

Indra penciumannya ternyata jauh lebih tajam dibanding orang biasa.

Namun ia tahu.

Itu bukan bakat bawaan semata.

Melainkan hasil dari kebiasaan Bai Hu berkeliling pasar setiap hari.

Bocah itu mungkin tidak sadar.

Tetapi selama bertahun-tahun ia telah melatih matanya melihat kualitas barang.

Melatih telinganya mendengar tawar-menawar.

Dan tanpa sadar...

Melatih hidungnya membedakan aroma berbagai tanaman.

Semua kebiasaan kecil itu kini mulai menunjukkan hasil.

Tetua Guo mengambil kitab kecil dari lengan bajunya.

Beliau membuka beberapa halaman dengan cepat.

Lalu berhenti pada satu bagian.

Matanya sedikit membesar.

"Jadi begitu..."

Liang Chen ikut mendekat.

"Apa Guru mengenalinya?"

Tetua Guo mengangguk perlahan.

"Kalau dugaanku benar..."

"Ini bukan Rumput Abu Dingin."

Ruangan langsung sunyi.

Para murid yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan mulai saling berpandangan.

"Bukan?"

"Tapi labelnya..."

Tetua Guo menggeleng.

"Labelnya salah, atau lebih tepatnya, tanaman ini telah lama disalahartikan."

Tetua Guo menunjuk garis biru di dalam batang.

"Dalam kitab kuno, ada tanaman yang sangat mirip Rumput Abu Dingin."

"Namanya , Rumput Embun Beku'."

Liang Chen langsung mengingat sesuatu.

"Guru..."

"Bukankah tanaman itu..."

Tetua Guo mengangguk.

"Benar, nilainya hampir lima kali lipat lebih mahal."

Suara orang-orang yang berada di sekitar langsung menghilang.

Semua mata tertuju pada kotak kayu tua yang selama ini hanya dianggap berisi bahan latihan murahan.

Lima kali lipat.

Itu bukan selisih kecil.

Tetua Guo segera mengambil beberapa batang lagi.

Semakin diperiksa ia semakin yakin.

akhirnya menutup kitabnya perlahan.

Tatapannya kembali jatuh kepada Bai Hu.

"Kau...baru hari pertama belajar, tetapi sudah menemukan kesalahan yang bahkan tidak kusadari selama bertahun-tahun."

Nada suaranya tidak terdengar marah.

Justru ada sedikit rasa kagum.

Bai Hu menggaruk kepala.

"Aku hanya beruntung."

Tetua Guo menggeleng.

"Bukan, keberuntungan hanya membuatmu berhenti di depan kotak ini. Yang menemukan jawabannya adalah ketelitianmu."

Tetua Guo berhenti sejenak lalu tersenyum tipis.

"Ingat baik-baik, pelajaran pertama seorang alkemis bukanlah menghafal, bukan juga membuat pil, Melainkan belajar meragukan apa yang dianggap benar oleh semua orang."

Kalimat itu membuat Bai Hu terdiam Ia tidak sepenuhnya memahami, kalimat itu terasa jauh lebih berharga daripada kitab yang baru diterimanya.

Tetua Guo kemudian menoleh kepada seluruh murid Aula Alkimia.

"Mulai hari ini semua bahan di gudang akan diperiksa ulang , tidak boleh lagi percaya hanya pada label,Periksa warna ,Periksa aroma,Periksa tekstur"

Tatapan beliau kembali mengarah kepada Bai Hu.

"Belajarlah mengamati, karena kesalahan terbesar seorang alkemis ,sering kali bukan pada tungkunya, melainkan pada keyakinannya sendiri."

Para murid serentak membungkuk.

"Baik, Guru."

Sementara itu...

Di sudut ruangan.

Bai Hu justru sedang menatap kotak berisi Rumput Embun Beku dengan wajah sangat serius.

Ia sama sekali tidak mendengar pujian Tetua Guo.

Yang ada di kepalanya hanya satu pertanyaan.

"Kalau tanaman yang dianggap murah ternyata lima kali lebih mahal, berarti...

Matanya perlahan berbinar.

"Masih ada berapa banyak barang seperti ini di luar sana?"

Senyum khas Feng Bai Hu kembali muncul.

Ia merasa jalan menuju kekayaan yang selama ini ia cari baru saja membuka pintunya sedikit lebih lebar.

Bersambung

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!