Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Lima
Aruna sedang belajar ketika Sammy datang dan mengatakan makan malam sudah siap, bahkan ia sudah ditunggu oleh lainnya. Sebenarnya masih terasa aneh tapi Aruna mencoba bersikap biasa saja. Ketika mereka sedang berjalan menuju ruang makan, Aruna tahu bahwa Sammy selalu melirik ke arahnya seperti ingin bertanya atau mengatakan sesuatu. Anak itu menghela nafas pelan sembari melihat ke arah Sammy.
"Katakan saja, Sam. Kau bisa melubangi wajahku jika terus-menerus melihatku begitu," ucap Aruna.
Sammy meringis malu sendiri ketika di pergok, "Saya hanya ingin tahu apakah anda baik-baik saja?"
"Well, bagaimana menurutmu?" Aruna balik bertanya.
"Terlihat sehat tapi anda sungguh baik-baik saja?'
Tawa halus Aruna terdengar, "Iya, aku baik-baik saja. Jadi berhentilah merasa cemas dan berfikir macam-macam. Di usiamu yang sekarang kau harus sering-sering berfikir positif untuk memanjangkan umurmu."
Ucapan Aruna membuat Sammy ikut tertawa dengan anggukan setuju, "Anda benar."
Tak lama mereka tiba di ruang makan, Sammy langsung membuka pintu ruangan itu dan mempersilahkan Aruna masuk. Di dalam sudah ada Elvio, Alvaro, dan Antares yang menunggunya. Tapi di mana Abimanyu?
Aruna berjalan masuk dengan raut wajah yang sama.
"Aruna!" Antares memekik semangat. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan cepat menuju tempat Aruna sebelum gadis kecil itu tiba di sana. Kemudian menarikkan kursinya untuk sang adik. Anak itu tersenyum tipis dan duduk di sana tanpa bertanya.
"Terima kasih, kak Ares," ucap Aruna.
Antares mengangguk senang dan berjalan kembali menuju kursinya yang berada di sebelah Alvaro.
"Jangan sungkan. Bagaimana keadaanmu? Kau baik?" tanya Antares.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Baguslah. Ah, bagaimana jika kita mencoba sepatu rodamu itu minggu besok, apa kau mau?" tawar Antares.
Aruna berfikir sejenak lalu mengangguk, tak ada salahnya melakukan hal itu. Toh, ia memang menginginkan benda itu dulu dan Antares memberikan padanya cuma-cuma.
"Oke."
"Yes! Kalau begitu tunggu aku besok!" ujar Antares senang.
"Iya, kak."
Senyuman Antares semakin lebar, tak di sangka ia akan merasa sesenang ini di panggil kakak oleh Aruna. Padahal dulu ia begitu membenci panggilan itu, tapi ketika sikap Aruna mulai berubah padanya, tiba-tiba saja Antares takut jika ia kehilangan seorang adik lagi. Bagaimana jika Aruna benar-benar memutuskan untuk pergi karena keegoisannya sendiri?
Antares tak mau menyesali apa pun.
"Apa ayah boleh ikut?" interupsi Elvio cepat.
Antares mengernyit tak mau, "Tak perlu. Ini akan menjadi hariku bersama Aruna. Jadi Ayah diam saja di rumah dan bekerja seperti biasanya. Iya, kan Aruna?"
Aruna yang sedang sibuk makan itu mendongak dengan mulut penuh, "Um, aku tak masalah sih jika Ayah ikut."
Senyuman Elvio melebar seolah ia mengatakan pada Antares bahwa ia menang bahkan tanpa perlu mengatakan banyak hal, membuat Anak itu menjadi jengkel sendiri.
"Nah, Aruna tidak keberatan."
"Aruna, ini kan acara kita berdua. Masa kau membiarkan ada orang tua yang ikut," gerutu Antares.
"Anak kurang ajar," desis Elvio ketika anak ketiganya itu malah menyebutnya dengan sebutan orang tua meskipun itu benar.
"Semakin banyak orang bukankah semakin bagus?"
"Tentu tidak! Aku ingin menghabiskan waktu denganmu saja! Kenapa Ayah harus ikutan? Mengganggu sekali," Antares mengomel sembari menatap Elvio tajam sementara yang di tatap bersikap tak perduli dan hanya tersenyum senang karena Aruna sendiri yang tak masalah ia ikut.
"Karena aku kepala keluarga dan aku punya kewajiban untuk memastikan setiap anggota keluarga dalam keadan baik-baik saja, kalau kau tak suka maka jadilah kepala keluarga sepertiku" kata Elvio lagi.
Nah, Antares langsung diam ketika di bungkam dengan kalimat itu. Ia tak punya kuasa untuk mengambil posisi sang ayah karena itu adalah hak Alvaro. Dirinya yang merupakan putera ketiga tidak memiliki cukup kekuatan untuk merebut posisi Alvaro nantinya. Lagipula ia pun tidak menginginkan posisi yang bukan miliknya.
Sementara Alvaro hanya bisa nengerut bingung melihat mereka bertiga yang seperti nampak akrab. Sejak kapan mereka bisa berbicara sesantai itu? Bahkan ia sempat kaget karena Aruna menanggil Antares dengan sebutan "kak" dan Elvio dengan "Ayah".
Bukankah gadis kecil itu sendiri yang ingin menjauhi mereka? Rasanya kemarin mereka masih seperti orang asing dengan suasana canggung. Tapi sekarang tampak berbeda, Antares lebih aktif bicara dari biasanya dan Elvio juga lebih banyak tersenyum sembari mendengarkan. Bahkan Aruna yang mengabaikan mereka malah merespon Antares dengan beberapa raut wajah miliknya tanpa beban.
Ada apa ini?
Apa yang ia lewatkan?
Tapi Alvaro tak dapat menemukan cela untuk bertanya dan hanya bisa diam mendengarkan obrolan mereka. Rasanya seperti ia yang orang asing di sini.