Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Hati di Tengah Ketidakpastian
Firdaus menarik napas panjang seolah mengumpulkan keberanian, lalu melanjutkan. “Sejujurnya, aku masih memikirkan soal tempat tinggalmu sekarang. Aku merasa kurang nyaman jika kamu terus tinggal di apartemen milik Kenan.”
Kinasih mengernyitkan dahi sedikit, menunggu penjelasan lebih lanjut. “Kenapa begitu, Dok?”
“Bukan karena aku curiga atau tidak percaya padanya, tapi mengingat semua peristiwa yang sudah terjadi… aku khawatir kamu masih merasa tertekan atau tidak sepenuhnya bebas di sana,” jelas Firdaus. “Kalau kamu berkenan dan merasa cocok, bagaimana kalau kamu pindah saja ke rumahku?”
Kinasih langsung menoleh cepat, matanya terbelalak sedikit terkejut mendengar tawaran itu. “Dok…”
“Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu,” potong Firdaus sambil tersenyum tipis. “Rumahku cukup luas, ada banyak kamar kosong. Aku juga bisa meminta Bunda untuk datang dan tinggal sementara menemani kamu, jadi kamu tidak akan merasa sendirian. Kamu bisa istirahat dengan tenang tanpa perlu memikirkan hal lain.”
Kinasih terdiam sejenak, lalu mengembangkan senyum tulus meski terasa berat. “Terima kasih banyak atas perhatian dan tawaran itu, Dok. Aku sangat menghargainya.”
“Tapi?” Firdaus menunggu jawaban selanjutnya dengan sabar.
“Tapi untuk saat ini… aku rasa lebih baik tetap tinggal di apartemen itu dulu,” jawab Kinasih pelan namun tegas.
“Karena Kenan?” tanya Firdaus langsung.
Kinasih menggeleng perlahan. “Bukan semata-mata karena dia. Tapi karena sekarang hal yang paling utama bagiku adalah memastikan keamanan dan kesehatan bayi ini.”
Firdaus mengangguk paham, mendengarkan dengan seksama.
“Belum lama ini rumah tempat tinggalku terbakar habis, dan aku belum punya tempat yang pasti untuk kembali,” lanjut Kinasih. “Jadi untuk sementara waktu, aku tidak ingin berpindah-pindah tempat lagi agar tidak mengganggu kondisiku dan si kecil.”
“Baiklah, aku mengerti,” ucap Firdaus. “Jadi ini hanya untuk sementara waktu saja?”
“Iya.”
“Sampai kapan?”
Kinasih menatap langit yang perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan, lalu menjawab dengan suara tenang. “Sampai anak ini lahir dengan selamat.”
Firdaus terdiam beberapa saat, lalu melanjutkan pertanyaan yang mungkin terasa berat. “Dan setelah itu? Apa rencanamu selanjutnya?”
Kinasih menunduk memandang rumput yang bergoyang tertiup angin. “Jujur saja, aku juga belum tahu pasti.”
Firdaus bertanya lagi dengan hati-hati, tak ingin menambah beban pikirannya. “Setelah bayi lahir… apakah kamu akan kembali membangun hubungan lagi dengan Kenan?”
Kinasih tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, mengembuskan segala rasa bingung yang berkecamuk di dalam hatinya. Lalu menggeleng pelan.
“Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa setelah itu,” jawabnya jujur. “Hati ini masih terasa penuh luka dan rasa sakit yang belum sembuh sepenuhnya. Tapi di sisi lain, dia adalah ayah dari anak yang sedang aku kandung ini.”
Firdaus mengangguk lembut, mengerti betapa sulitnya posisi yang dihadapi Kinasih. “Memang bukan keputusan yang mudah untuk diambil dalam waktu singkat.”
“Aku tidak ingin mengambil keputusan hanya karena rasa kasihan semata,” lanjut Kinasih dengan pandangan lurus ke depan. “Aku juga tidak ingin mengambil keputusan hanya karena masih diliputi rasa marah dan kecewa.”
Firdaus tersenyum tipis, merasa kagum dengan keteguhan hati wanita itu. “Itu artinya kamu sedang berusaha berlaku adil dan jujur pada dirimu sendiri. Itu hal yang sangat baik.”
“Mungkin saja begitu,” gumam Kinasih pelan.
Firdaus kemudian menoleh dan menatap wajah Kinasih dengan tatapan yang tulus dan menenangkan. “Nash, dengar aku.”
“Iya?”
“Apa pun keputusan yang akan kamu ambil nanti… aku berharap itu benar-benar keputusan yang membuat hatimu tenang, bukan keputusan yang dipaksakan oleh keadaan atau orang lain.”
Kinasih menoleh dan membalasnya dengan senyum lembut yang penuh rasa terima kasih. “Terima kasih banyak, Dok. Rasanya lebih lega bisa bicara seperti ini.”
“Aku tidak akan memaksamu untuk memilih siapa pun, dan tidak akan memintamu menjawab apa pun sekarang juga,” tegas Firdaus. “Kamu cukup fokus pada kesehatanmu dan perkembangan bayi itu saja. Biarkan waktu yang menjawab semuanya nanti.”
Kinasih mengangguk setuju, merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat. “Iya, aku akan berusaha seperti itu.”
Sore itu, keduanya kembali terdiam. Mereka menikmati hembusan angin yang makin sejuk dan suasana taman yang semakin damai seiring datangnya senja. Walaupun masa depan masih terasa samar dan penuh ketidakpastian, setidaknya untuk saat ini, Kinasih merasa sedikit lebih siap untuk menjalani setiap harinya, selangkah demi selangkah.
Malam itu, suasana di dalam apartemen terasa begitu tenang dan hangat. Cahaya lampu yang tidak terlalu terang menyebar lembut ke seluruh ruangan, menciptakan suasana yang nyaman dan menenangkan.
Di ruang makan, Kinasih dan Reyna duduk berhadapan sambil menikmati makan malam sederhana yang baru saja dimasak Reyna. Suasana terasa akrab, jauh dari kesan kaku atau formal.
Reyna memperhatikan setiap gerakan Kinasih yang sedang menyuapkan nasi perlahan ke mulutnya, seolah ingin memastikan makanannya sesuai selera.
“Dok?” panggilnya pelan.
“Hm?” Kinasih menoleh sebentar.
“Gimana rasanya? Enak nggak?”
Kinasih mengangguk sambil tersenyum. “Enak, pas rasanya.”
“Beneran nih? Nggak cuma supaya aku senang saja?” tanya Reyna lagi, masih merasa ragu.
Kinasih terkekeh mendengarnya. “Ngapain aku bohong? Kalau tidak enak, aku pasti bilang saja kok.”
“Soalnya ini pertama kali aku mencoba memasak sup ayam khusus untuk ibu hamil. Takutnya rasanya terlalu asin atau kurang gurih,” jelas Reyna.
Mendengar itu, Kinasih mengambil satu sendok lagi dan mencicipinya dengan nikmat. “Kalau menurutku sih, sudah lulus ujian. Rasanya ringan, segar, dan cocok sekali untuk perutku.”
“Wah, kalau begitu berarti besok aku masak lagi ya!” seru Reyna dengan semangat.
Kinasih langsung menggeleng cepat sambil tertawa. “Jangan tiap hari juga, nanti aku malah bosan dan tidak nafsu makan lagi.”
“Oalah… kirain kamu akan minta ditambah dua porsi lagi,” canda Reyna, membuat keduanya tertawa bersama.
Tak lama kemudian, Reyna menatap perut Kinasih yang mulai terlihat jelas membesar, lalu bertanya dengan nada lembut. “Kalau si dedek di dalam gimana? Sudah memberi tanda-tanda protes atau menyukainya?”
Kinasih mengusap perlahan bagian perutnya itu dengan senyum lembut. “Sepertinya dia menyukainya. Aku merasa nyaman saja, tidak ada rasa mual atau begah yang mengganggu.”
“Tuh kan! Berarti selera calon bayi Bos sama persis dengan seleraku,” ucap Reyna bangga.
Mendengar kata “Bos”, Kinasih langsung mengangkat wajah dan menatap Reyna dengan pandangan bingung. “Bos? Maksudmu siapa?”
“Iya lah, maksudnya Pak Kenan,” jawab Reyna sambil menyeringai lebar.
Kinasih hanya menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis tanpa banyak komentar. “Kamu ini ya, selalu saja ada saja bahasanya.”
“Hehehe… namanya juga kebiasaan kerja,” jawab Reyna santai.
Beberapa menit kemudian, makan malam pun selesai. Reyna berdiri dan segera mengumpulkan piring serta mangkuk bekas makan untuk dibawa ke dapur.
“Dok, tolong duduk saja dulu. Jangan ke mana-mana ya,” pesannya.
“Mau ngapain lagi?” tanya Kinasih penasaran.
“Bentar saja, nanti juga tahu.”
Tidak sampai lima menit, Reyna kembali masuk ke ruang tengah membawa dua mangkuk berisi salad buah segar dan segelas susu hangat yang masih mengepulkan asap tipis.
“Wah, masih ada makanan lagi?” tanya Kinasih sambil tersenyum melihatnya.
“Ini khusus untuk pencuci mulut dan penambah nutrisi buat ibu hamil,” jawab Reyna sambil meletakkan semuanya di atas meja rendah di depan televisi. “Ayo kita pindah duduk di sofa saja, lebih santai.”
Keduanya pun duduk berdampingan di sofa empuk. Televisi dinyalakan dengan volume pelan, hanya berfungsi sebagai pengisi keheningan malam itu.
Reyna menyerahkan segelas susu hangat itu kepada Kinasih. “Nih, diminum pelan-pelan. Harus dihabiskan sampai tandas ya.”
“Baiklah, terima kasih,” jawab Kinasih sambil menerimanya. “Sekarang giliran kamu yang jadi dokter yang memberi perintah.”
“Iya dong, hari ini aku yang bertugas menjaga kesehatanmu,” canda Reyna.
Keduanya pun tertawa kecil, lalu mulai menyantap hidangan penutupnya. Setelah beberapa saat menikmati keheningan, Reyna kembali membuka percakapan.
“Dok?”
“Hm?”
“Aku boleh bertanya sesuatu yang agak pribadi?”
“Silakan saja, tidak usah sungkan.”
“Dari dulu sebenarnya, Pak Kenan itu memang tipe laki-laki yang romantis dan perhatian gitu nggak?” tanya Reyna dengan rasa ingin tahu yang besar.
Kinasih terdiam sejenak, seolah memutar kembali kenangan masa lalu yang telah berlalu. Perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya.
“Kadang-kadang,” jawabnya pelan.
“Kadang-kadang saja?”
“Iya. Kalau dia sudah memutuskan untuk memperhatikan seseorang, dia bisa menjadi sangat perhatian, bahkan sampai hal-hal yang terlihat kecil sekalipun tidak luput dari perhatiannya,” jelas Kinasih sambil menunduk memainkan sendok di tangannya.
Reyna mengangguk-angguk paham. “Pantesan saja.”
“Pantesan apa?”
“Waktu kamu dirawat di rumah sakit dulu, Pak Kenan hampir tidak pernah pulang ke rumahnya sendiri. Dia memilih tidur sebentar saja di kursi ruang tunggu di depan kamarmu,” cerita Reyna.
Kinasih langsung menoleh dengan tatapan terkejut. “Serius? Dia tidak pulang?”
“Iya sungguh. Kalau kamu sedang tidur, dia hanya duduk diam di samping ranjangmu. Kadang dia sempat membuka dokumen kerja, tapi matanya selalu melirik ke arahmu. Bahkan kalau kamu hanya bergerak sedikit saja atau mengerang pelan dalam tidur, dia langsung terbangun dan memeriksa kondisimu,” lanjut Reyna menceritakan apa yang dilihatnya.
Kinasih kembali menunduk, menatap permukaan gelas susu di tangannya. Ada rasa hangat yang perlahan menyebar di dadanya mendengar cerita itu. “Memang begitulah dia… diam saja, tapi perbuatannya seringkali lebih keras daripada kata-kata.”
Reyna tersenyum jahil, lalu menggoda pelan. “Sepertinya sampai sekarang pun Pak Kenan masih sangat bucin lho, Dok.”
“Rey!” tegur Kinasih sambil tersipu malu.
“Hehehe… bercanda saja, jangan marah ya,” ucap Reyna sambil tertawa.
Kinasih pun ikut tertawa kecil, lalu membalas bertanya. “Kalau kamu sendiri, bagaimana? Sudah punya kekasih atau calon belum?”
Reyna langsung menghela napas panjang dengan gaya yang terasa sangat dramatis. “Jangankan punya pacar, punya gebetan saja belum ada sampai sekarang.”
“Loh, kok bisa? Kamu kan cantik, perhatian, dan pekerja keras,” tanya Kinasih bingung.
“Mana sempat? Waktu dan tenagaku hampir habis untuk mengurus keperluan Pak Kenan dan juga kamu belakangan ini,” jawab Reyna sambil mengangkat kedua bahunya.
Kinasih tertawa geli mendengarnya. “Kasihan juga kamu ya, jadi asisten serba bisa.”
“Iya benar. Kalau nanti Pak Kenan dan Dokter akhirnya berbaikan dan hidup bersama lagi, aku malah takut jadi pengangguran lho,” canda Reyna sambil pura-pura mengusap air mata di sudut matanya.
Kinasih langsung mencubit pelan lengan Reyna sebagai teguran. “Ih, ngomong apa saja sih kamu itu! Jangan sembarangan bicara begitu.”
“Aduh, sakit dikit lho!” Reyna terkikik geli. “Maaf, maaf… aku cuma bercanda kok.”