NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terminal Pagi dan Pilihan Bermaterai

Suara deru mesin bus antarkota memecah udara pagi di Terminal Tirtonadi. Asap tipis knalpot bercampur dengan aroma pekat kopi hitam dari warung asongan, menciptakan harmoni khas yang selalu berhasil membangkitkan melankoli. Lyana berdiri di peron keberangkatan, merapatkan ritsleting jaket almamaternya untuk menghalau angin Solo yang masih terasa menggigit kulit.

Di depannya, ibunya sedang merapikan tali tas anyaman plastik yang kini sudah terisi penuh oleh oleh-oleh khas Solo hasil belanja subuh tadi. Setelah tiga hari menemani Lyana melewati masa-masa paling gelap pasca pemakaman Fajar, wanita paruh baya itu akhirnya harus kembali ke kampung.

"Ibu beneran nggak mau diantar sampai dalam bus?" tanya Lyana, suaranya setengah tertelan bisingnya suara kernet yang meneriakkan rute tujuan.

Ibu tersenyum, mengusap bahu putrinya dengan telapak tangannya yang kasar namun selalu terasa hangat. "Ndak usah, Nduk. Nanti kamu malah telat ke kampus. Lagipula, Bapakmu di rumah sudah telepon terus dari semalam, katanya warung keteteran kalau Ibu kelamaan di sini."

Lyana menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai memanas. Kehadiran ibunya di kamar kos yang sempit selama beberapa hari ini adalah jangkar kewarasannya. Kini, melihat ibunya bersiap menaiki tangga bus, Lyana merasa seolah ada sebagian dari pertahanannya yang ikut terbawa pergi.

"Maafin Lyana ya, Bu. Gara-gara urusan BEM, Ibu jadi repot harus ke sini, harus ikut kepikiran," bisik Lyana pelan.

Ibu menghentikan gerakannya. Ia menangkup kedua pipi Lyana, memaksa gadis itu menatap matanya. Tidak ada guratan penyesalan di wajah keriput itu, hanya ada ketangguhan seorang ibu yang tak pernah surut.

"Nduk, dengerin Ibu. Hidup itu selalu ada kerikilnya. Temanmu yang pergi itu... dia sudah memilih jalannya sendiri, dan kamu nggak bisa terus-terusan mengikat dirimu sama rasa bersalah. Selesaikan urusan beasiswamu. Buktikan kalau anak Ibu ini perempuan kuat yang ndak gampang patah." Ibu melirik sekilas ke arah luar terminal, senyumnya sedikit menggoda. "Lagi pula, kamu ndak sendirian di sini. Nak Rumi itu anak baik. Ibu tenang ninggalin kamu."

Pipinya merona sedikit, Lyana hanya bisa mengangguk pelan. Ia mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Hati-hati di jalan ya, Bu. Nanti kalau sudah sampai, langsung kabari Lyana."

Ibu mengangguk, lalu melangkah naik ke dalam bus. Lyana berdiri mematung di peron, melambaikan tangan hingga bus besar itu perlahan bergerak meninggalkan terminal, menghilang di balik tikungan jalan raya.

Udara pagi terasa sedikit lebih kosong, namun dada Lyana justru terasa lebih lapang. Ia menarik napas dalam-dalam. Ibunya benar. Ia tidak boleh terus bersembunyi di balik bayang-bayang duka. Ada tanggung jawab yang harus ia selesaikan, dan ada sebuah teka-teki terakhir dari Fajar yang menuntut jawaban.

Lyana merogoh saku jaketnya, mengeluarkan foto usang yang ia temukan semalam. Di balik foto mereka bertiga, deretan angka dan nama jalan itu masih menatapnya. Jl. Slamet Riyadi No. 112, Kediaman Bpk. Hendrik Wiraguna.

Tiga puluh menit kemudian, motor matic Lyana sudah terparkir di halaman gedung BEM. Sekretariat pagi itu masih sepi, hanya ada Rumi yang sedang duduk bersila di atas karpet, memilah-milah kuitansi sisa acara bulan lalu. Laki-laki itu mendongak saat mendengar langkah kaki Lyana, senyum tipis yang selalu menenangkan itu langsung terbit di wajahnya.

"Udah berangkat ibumu?" tanya Rumi seraya menepuk area kosong di sebelahnya, mempersilakan Lyana duduk.

"Udah, Mas. Tadi naik bus yang jam enam," Lyana duduk, tidak langsung membuka laptopnya. Ia justru meletakkan foto Fajar itu tepat di atas tumpukan kuitansi Rumi. "Mas, aku nemu ini semalam. Nyelip di halaman belakang buku agendanya Fajar."

Rumi menghentikan pekerjaannya. Ia mengambil foto itu, menatap potret wajah mereka yang sedang tertawa, lalu membaliknya perlahan. Kening Rumi seketika berkerut dalam. Ia membaca alamat yang tertulis di sana berulang kali, seolah mencoba memastikan matanya tidak salah baca.

"Ini... tulisan tangan Fajar," gumam Rumi, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap Lyana dengan raut wajah yang sepenuhnya bingung. "Fajar nggak pernah bilang apa-apa soal ayahku. Dia nggak punya alasan buat tahu alamat rumah utama keluargaku, Lyan. Lagipula, Ayah jarang ada di rumah itu kalau hari kerja."

"Apa mungkin Fajar minta bantuan ke ayahmu soal masalah UKT-nya?" Lyana mengajukan kemungkinan yang paling logis. "Fajar itu pintar, Mas. Dia tahu beasiswanya dicabut, dia tahu dia nggak bisa bayar, dan dia panik karena diancam Satria. Mungkin dia coba cari jalan pintas dengan nemuin donatur terbesar kampus secara langsung?"

Rumi terdiam. Logika itu sangat masuk akal. Ayahnya terkenal sebagai pengacara sekaligus pengusaha yang kerap memberikan beasiswa tertutup bagi mahasiswa yang direkomendasikan. Jika Fajar merasa buntu, mendatangi Hendrik Wiraguna adalah salah satu opsi terakhir yang masuk akal bagi seorang mahasiswa yang putus asa.

"Kita ke kantor Ayah sekarang," putus Rumi cepat. Ia meraih kunci motornya di atas meja. "Kalau Fajar beneran datang ke sana, Ayah pasti ingat."

Satu jam kemudian, mereka sudah duduk di ruang tunggu firma hukum milik Hendrik Wiraguna. Arsitektur minimalis dengan dominasi kayu mahoni dan kaca memancarkan kesan profesional yang kaku, sangat kontras dengan hiruk-pikuk terminal yang Lyana datangi pagi tadi. Tak lama, asisten pribadi Hendrik mempersilakan mereka masuk.

Hendrik sedang berdiri membelakangi pintu, menatap lalu lintas kota Solo dari balik jendela kaca raksasa di ruang kerjanya. Mendengar suara langkah kaki masuk, pria paruh baya itu berbalik. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan, seolah ia sudah menduga kedatangan mereka berdua.

"Duduklah," Hendrik menunjuk dua kursi berlapis kulit di depan mejanya. Ia ikut duduk, melonggarkan dasinya sedikit. "Saya asumsikan kalian ke sini bukan untuk membahas proposal vendor Dies Natalis, kan?"

Rumi meletakkan foto Fajar di atas meja, tepat di depan ayahnya.

"Apa Fajar pernah datang menemui Ayah?" tanya Rumi to the point.

Tatapan Hendrik jatuh pada foto usang itu. Selama beberapa detik, wajah pengacara yang biasanya datar dan tak terbaca itu menunjukkan kilatan emosi yang aneh. Bukan kemarahan, bukan keangkuhan, melainkan sebuah penyesalan yang sangat halus, namun tertangkap jelas oleh mata Lyana.

Hendrik menghela napas berat. Ia menautkan jemarinya di atas meja. "Ya. Temanmu itu datang ke rumah saya, tiga hari sebelum dia melompat dari gedung."

Lyana merasakan hawa dingin merayap di sekujur punggungnya. Tebakannya benar. Fajar memang mencari perlindungan.

"Kenapa Ayah nggak pernah bilang sama aku?" nada suara Rumi naik perlahan, bercampur antara kecewa dan menuntut penjelasan.

"Karena dia meminta saya untuk merahasiakannya darimu, Rumi," jawab Hendrik tenang. "Dia datang malam-malam, di tengah hujan. Bajunya basah kuyup. Dia menangis di ruang tamu saya, menceritakan semuanya. Soal tunggakan UKT-nya, soal Satria yang memerasnya, dan soal bagaimana dia sudah terlanjur mengirimkan laporan palsu ke pihak yayasan untuk menghancurkan beasiswa Lyana."

Dada Lyana terasa sesak. Mendengar kronologi pengkhianatan itu secara langsung dari mulut orang lain membuat lukanya kembali berdarah.

"Saya menawarinya bantuan hukum," lanjut Hendrik. "Saya bilang padanya, saya akan membereskan Satria dan melunasi semua utangnya. Tapi dengan satu syarat mutlak."

"Syarat apa, Pak?" Lyana memberanikan diri bertanya, suaranya sedikit parau.

"Syaratnya, dia harus datang ke dekanat esok paginya. Dia harus mengakui semua perbuatannya secara terbuka, membersihkan nama BEM, dan meminta maaf langsung pada kalian berdua," Hendrik menatap Lyana dengan sorot mata yang penuh simpati. "Saya pengacara, Lyana. Saya percaya pada proses penebusan kesalahan. Saya tidak akan memberinya uang secara cuma-cuma tanpa ada pertanggungjawaban moral."

Rumi memejamkan matanya erat-erat, menahan rasa frustrasi yang menumpuk. "Tapi Fajar terlalu takut..."

"Benar," Hendrik mengangguk. "Dia ketakutan. Dia bilang, kalau dia mengaku, kampus akan tetap mengeluarkannya secara tidak hormat. Orang tuanya di desa akan menanggung malu seumur hidup. Dia menolak syarat saya. Dia pergi malam itu juga. Saya pikir, dia akan kembali keesokan harinya setelah pikirannya lebih jernih. Tapi ternyata, dia memilih jalan keluarnya sendiri."

Kesunyian yang panjang dan pekat menguasai ruangan itu. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar mendengung pelan. Fajar sudah berada di ambang keselamatan, namun ketakutannya terhadap stigma sosial lebih besar daripada keinginannya untuk hidup.

Hendrik membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih polos yang sudah disegel. Ia menggeser amplop itu menyeberangi meja kaca, berhenti tepat di depan tangan Lyana.

"Meskipun dia menolak syarat saya," ujar Hendrik, suaranya kini kembali berubah menjadi nada profesional, "sebelum dia lari dari rumah saya malam itu, dia sempat menuliskan sesuatu. Dia meminta saya untuk menyimpan ini, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu padanya."

Lyana menatap amplop itu dengan tangan gemetar. "Apa ini, Pak?"

"Itu adalah surat pernyataan bermeterai, ditulis dan ditandatangani langsung oleh Fajar," jelas Hendrik. "Di dalamnya, dia mengakui secara detail bagaimana dia mencuri akses komputer, bagaimana Satria menyuruhnya membuat kop surat palsu, dan dia menegaskan bahwa kamu, Lyana, sama sekali tidak pernah menggunakan uang organisasi. Surat ini memiliki kekuatan hukum yang sangat kuat."

Lyana dan Rumi saling berpandangan. Harapan itu kembali menyala. Surat ini adalah kunci terakhir yang paling valid. Kalau surat ini diserahkan ke pihak yayasan dan kampus, status Lyana tidak akan lagi "dibekukan menunggu evaluasi". Namanya akan bersih tanpa cela, dan beasiswanya akan dikembalikan secara permanen hari ini juga.

Lyana baru saja hendak mengambil amplop tersebut, tapi tangan Hendrik menahannya di atas meja.

"Sebelum kamu membawanya, Lyana, ada satu konsekuensi hukum yang harus kamu pahami betul-betul," peringat Hendrik, matanya menatap gadis itu dengan ketajaman yang menembus hingga ke dasar hati.

Lyana menghentikan gerakannya. "Konsekuensi apa, Pak?"

"Saat ini, pihak kampus mengkategorikan kematian Fajar sebagai tragedi akibat tekanan psikologis. Atas dasar itu, rektorat telah menyetujui pencairan dana santunan kematian dan asuransi mahasiswa sebesar lima puluh juta rupiah untuk dikirimkan kepada orang tua Fajar di desa, agar mereka bisa melunasi utang-utang keluarga yang ditinggalkan anak mereka."

Hendrik memberi jeda, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam pikiran Rumi dan Lyana.

"Tapi," lanjut Hendrik pelan, "jika surat pernyataan ini kamu serahkan ke meja rektorat, status Fajar akan berubah secara hukum. Dia bukan lagi sekadar korban. Dia akan tercatat secara resmi sebagai pelaku fraud atau penipuan tingkat berat terhadap institusi. Dan berdasarkan aturan universitas, setiap mahasiswa yang terbukti melakukan tindak kejahatan terencana terhadap kampus... seluruh hak santunan dan asuransinya akan ditarik kembali tanpa pengecualian."

Tangan Lyana yang tadi hampir menyentuh amplop itu seketika kaku. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Udara di ruangan ber-AC itu mendadak terasa mencekik tenggorokannya.

"Keputusannya ada di tanganmu, Lyana," ucap Hendrik final, melepaskan tangannya dari atas amplop itu. "Kamu serahkan surat ini, beasiswamu kembali, masa depanmu aman, tapi keluarga Fajar akan kehilangan uang ganti rugi yang sangat mereka butuhkan. Atau kamu hancurkan surat ini, biarkan kesalahan Fajar terkubur, tapi kamu harus menanggung risiko dikeluarkan dari yayasan dan berjuang membiayai kuliahmu sendirian."

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!