SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 JALAN KESELAMATAN DI MASA DEPAN
"Kriiieeettt..."
Suara pintu kamar Gendis yang dibuka oleh Mas Anto.
Dan ia langsung mendapati Gendis sedang berdiri di deoan jendela kamarnya. Tatapannya seperti kosong, menatap ke arah luar jendela, dengan kedua matanya yang putih buta itu.
"Gendis..." panggil Pakdenya itu.
Gendis sedikit terkejut, dan berbalik badan perlahan.
"Pakde?"
"Iya, ini Pakde..."
Dan dengan pelan, Mas Anto menutup dari dalam pintu kamar Gendis. Ia segera mendekat pada keponakannya itu.
"Kamu ngapain bengong begitu?" tanya Mas Anto sambil mengusap lembut kepala Gendis.
"Enggak... Enggak ngapa-ngapain kok Pakde."
"Hmm... Gitu ya..."
Mas Anto pun duduk di pinggir kasur, dan berkata pada Gendis.
"Gendis... Sini duduk sama Pakde."
"Iya Pakde." jawab Gendis.
Entah, kali ini, ekspresi wajah dan gelagat Gendis sudah tak seperti sebelum kedatangan kedua orang tuanya tadi. Terlihat sangat normal, sangat sama seperti Gendis yang sebenarnya.
"Gendis, Pakde mau ngomong sama kamu."
"Apa Pakde?"
"Emm, sebenarnya... Bukan mau ngomong sih, tapi lebih tepatnya Pakde mau tanya sama kamu."
"Tanya apa Pakde?"
"Emm, tapi kamu harus jujur ya sama Pakde."
"Iya Pakde... Emangnya Pakde mau tanya apa sih?"
Sejenak, Mas Anto terdiam. Sambil kedua matanya menatap mata putih keponakannya itu. Ia mencoba untuk memilih kalimat yang tepat. Agar Gendis tak merasa atau berekspresi seperti kedua orang tuanya barusan.
"Emm... Gendis..."
"Iya Pakde?"
"Sebenarnya... Kamu tau gak sih?"
"Emm? Tau apa Pakde?"
"Soal warung makan Bapak dan Ibumu."
Dan...
Seperti yang tak diharapkan oleh Mas Anto, Gendis pun langsung sedikit berubah ekspresi dan gelagatnya saat mendengar pertanyaannya itu.
Mas Anto pun langsung memahami. Dan semakin kuat kebenaran dalam hatinya, tentang cara tak wajar kedua orang tua keponakannya itu mendapatkan kekayaan.
Beberapa saat, Gendis terpaku, tak mampu menjawabnya. Gendis malah menoleh ke arah jendela, wajah manis dengan mata putihnya itu terkena sinar matahari pagi yang semakin meninggi.
"Emm... Kalo kamu gak mau jawab, gak apa-apa kok..." ucap Mas Anto, mencoba mencairkan suasana yang menjadi sedikit canggung.
"Pakde tadi udah ngomong sama Bapakmu, sama Ibumu, supaya berhenti memakai cara yang gak wajar itu Gendis." tambah Mas Anto.
Namun...
Gendis masih terdiam...
Wajahnya masih mengarah ke jendela...
Seolah ia tak berani mengarahkan wajah kepada Pakdenya itu.
"Gendis? Kok diem aja sih?" tanya Mas Anto kemudian, sambil membelai rambut Gendis dengan lembut.
"Emm... Aku bingung Pakde..." kata Gendis, dengan nada suara yang terdengar sedikit lirih.
"Bingung kenapa?" tanya Mas Anto sedikit penasaran.
"Bingung... Aku bingung..."
"Iya... Bingung kenapa Gendis? Coba cerita sama Pakde."
Dan, akhirnya Gendis berani menolehkan wajahnya kembali ke arah Pakdenya itu.
"Pakde... Boleh gak sih?" Gendis malah bertanya.
"Hmm? Boleh apa?"
"Boleh gak kalo aku ikut sama Pakde aja."
Mendengar ucapan Gendis, Mas Anto jadi mengerutkan dahinya sedikit. Semakin penasaran ia dibuat Gendis.
"Kenapa kamu ngomong begitu?" tanya Mas Anto kemudian.
"Aku gak mau hidup lagi sama Bapak dan Ibu..."
Semakin mengerut lah dahi Mas Anto mendengarnya.
"Loh? Emangnya kenapa Gendis?"
Mas Anto kini mencoba menggali informasi yang lebih valid dan pasti, dari anak sang adik ipar serta sang adik kandungnya itu.
Kini, terlihat jelas kedua mata Gendis malah mulai berkaca-kaca di hadapan Mas Anto...
Sambil tangan kanan Gendis mulai menggenggam tangan Mas Anto...
Namun, Mas Anto merasakan ada sebuah perasaan terancam dalam diri keponakannya itu...
"Pakdeee..." ucap Gendis.
"Kenapa?" tanya Mas Anto dengan suara yang semakin lembut, namun penuh rasa penasaran.
"Akuuu... Akuuu... Hiks Hiks... Pakdeee... Hiks hiks..."
"Eeeh, jangan nangis dulu... Kamu belom ngomong apa-apa loh sama Pakde."
"Hiks hiks... Maaf Pakde..." jawab Gendis sambil mengusap air matanya yang mulai mengalir.
"Ayo, cerita dulu sama Pakde ya. Siapa tau, Pakde bisa kasih solusi."
Gendis terlihat mempersiapkan batin, lalu dia mulai sedikit bercerita.
"Pakde... Sebenernya... Bapak dan Ibuku, punya pesugihan."
.....
.....
DEG!!!
Jantung Mas Anto benar-benar terasa seperti berhenti.
Saat mendengar ucapan jujur dari keponakannya itu.
Dan langsung menjadi yakin sepenuhnya Mas Anto, dengan semua dugaan dalam hatinya.
.....
.....
"Hah?! Apa Gendis?!" tanya Mas Anto.
"Pesugihan?! Pesugihan apa maksudnya Gendis??" tanya Mas Anto lagi.
"Iya Pakde, pesugihan. Bapak dan Ibu punya pesugihan."
"Tunggu dulu, tahan dulu ceritanya." Ucap Mas Anto, tepat sebelum Gendis lanjut berbicara.
Mas Anto berjalan menuju pintu, dan menguncinya dari dalam. Ia tak ingin tiba-tiba kedua orang tua keponakannya itu masuk, saat Gendis sedang bercerita.
"Ayo, lanjutin ceritanya." kata Mas Anto saat sudah duduk lagi bersama Gendis.
"Dari mana kamu tau kalo Bapak sama Ibumu punya pesugihan?" tanya Mas Anto segera.
"Aku susah buat cerita Pakde, aku rasanya kaya mau gila."
"Maksudnya? Gimana?"
"Pakde..."
"Iya Gendis?"
"Aku... Akuuu... Sebenarnya..."
Semakin dibuat penasaran Mas Anto.
"Apa? Apa Gendis? Jangan setengah-setengah..." kata Mas Anto dengan suara yang agak pelan.
"Aku... Sebenarnya... Dijadikan wadah buat sosok pesugihan Bapak dan Ibuku..."
.....
.....
DEGGG!!!
.....
.....
Semakin terasa berhenti jantung Mas Anto.
Napasnya juga menjadi tertahan.
Saat mendengar pengakuan Gendis.
.....
.....
Mata Mas Anto sedikit melotot kaget.
Mulutnya terbuka sedikit, namun tak bisa berkata-kata.
Seolah, dalam dirinya seperti menerima sebuah bom fakta yang sangat mencengangkan, sekaligus mengerikan.
.....
.....
Tiba-tiba...
Di tengah kondisi yang amat sangat mengejutkan itu...
Terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras...
.....
.....
TOK TOK TOK TOK!!!
"Gendis?! Gendis?!"
Suara Pak Diki terdengar dari arah luar pintu. Mengagetkan Gendis dan juga Mas Anto bersamaan.
"Gendis?! Gendis?! Buka pintunya!!"
Sedikit berteriak suara Pak Diki.
Mas Anto pun menjadi agak salah tingkah, ia bingung harus berbuat apa sekarang.
Namun, dengan cepat, Mas Anto segera menenangkan diri sendiri dengan mengucap istighfar, dan juga menenangkan Gendis.
Mas Anto berkata sambil berbisik pada Gendis, "Gendis, Pakde punya cara supaya kamu bisa terlepas dari semua ini. Tapi sekarang, mungkin belom waktunya Pakde ngobrol banyak sama kamu ya."
Dan Gendis pun menjawab dengan berbisik pula, "Iya Pakde..."
TOK TOK TOK TOK!!!
"Mas!! Mas Anto!! Buka pintunya!!"
Kali ini Pak Diki memanggil nama Mas Anto. Karena ia sudah tahu bahwa kakak iparnya itu sedang berada di dalam kamar anaknya.
Dengan mencoba tetap tenang, Mas Anto segera menjawab dari dalam.
"Iyaaa... Sabaaar..."
Mas Anto segera berjalan, dan membuka kunci. Langsung berpapasan ia dengan Pak Diki.
Namun, raut wajah Pak Diki kali ini tampak marah, sambil menoleh ke arah anaknya juga yang di atas kasur. Dan Mas Anto pun segera memahaminya.
"Bisa gak sih? Kamu jangan bentak-bentak kalo mau masuk kamar anakmu sendiri?" tanya Mas Anto dengan kesabaran yang dipaksakan.
"Halah!! Dia bukan anakmu!! Bukan juga urusanmu Mas!!" jawab Pak Diki sedikit membentak.
Dan, dengan cepat, Pak Diki masuk ke dalam sambil sedikit menabrak tubuh kakak iparnya itu.
"Aduh! Astaghfirulloh!" ucap Mas Anto spontan.
"Ayo, ikut Bapak jalan-jalan!!" ucap Pak Diki sambil menarik tangan anaknya itu.
"Aduh! Bapak! Pelan-pelan..." kata Gendis.
"Diki!! Mau dibawa kemana Gendis?!" spontan Mas Anto mencoba menahan.
"Kan udah kubilang! Aku mau ajak Gendis jalan-jalan! Minggir!" sedikit bentak adik iparnya itu.
"Diki?! Diki!!" kata Mas Anto, sambil melihat Pak Diki menarik tangan Gendis meninggalkannya di depan pintu kamar.
Alhasil, entah mengapa, Mas Anto seperti ingin menahan Gendis agar tak ikut dengan Bapaknya itu. Namun di saat bersamaan, ia juga tak ingin Bapaknya Gendis malah akan berbuat kasar pada keponakannya itu karena dirinya mencoba menahan.
Benar-benar, Mas Anto berada di posisi yang penuh rasa serba salah untuk bertindak.
😆😆 lanjut kak👍👍👍