Lintang Ayu Sasmita merasa terguncang saat dokter mengatakan bahwa kandungannya kering dan akan sulit memiliki anak. Kejadian sepuluh tahun silam kembali menghantui, menghukum dan menghakimi. Sampai hati retak, hancur tak berbentuk, dan bahkan berserak.
Lintang kembali didekap erat oleh keputusasaan. Luka lama yang dipendam, detik itu meledak ibarat gunung yang memuntahkan lavanya.
Mulut-mulut keji lagi-lagi mencaci. Hanya sang suami, Pandu Bimantara, yang setia menjadi pendengar tanpa tapi. Namun, Lintang justru memilih pergi. Sebingkai kisah indah ia semat rapi dalam bilik hati, sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Polisi?
Fajar belum lama menyingsing. Suasana di luar masih remang-remang, udara pun dingin dan belum banyak orang yang beraktivitas di jalanan. Namun, keadaan di rumah Ningrum sudah ricuh. Banyak hal yang menjadi penyebab kekacauan itu, salah satunya kepergian Rayana semalam.
Padahal, tidak sampai lima belas menit, Albi sudah menyusul dan mencarinya dengan menggunakan mobil Benny. Akan tetapi, jejak Rayana seolah menghilang.
'Istrimu belum pulang. Tidak ada mobil di teras rumah kalian.'
Albi nyaris frustrasi saat membaca pesan dari temannya yang kebetulan rumahnya berdekatan. Katanya, tidak ada mobil dan tanda-tanda keberadaan sang istri di rumah Sidoarjo sana. Lantas, ke mana Rayana?
Semalam, Albi menyusulnya dengan laju tinggi. Seharusnya bisa menyusul Rayana, andai jalan yang mereka lewati sama. Namun, beda cerita jika Rayana mengambil jalan lain, oh atau malah ke tempat lain. Akan tetapi, ke mana?
"Mas, apa jangan-jangan Mbak Rayana ke rumah Pandu? Bisa aja kan?" celetuk Utari. Tiba-tiba dia teringat dengan Pandu dan Lintang. Mengingat Rayana yang mengajukan cerai perkara Lintang, besar kemungkinan sekarang wanita itu ada di sana.
Meski awalnya tidak yakin, tetapi kemudian Albi setuju dengan pendapat Utari. Sepertinya cukup masuk akal kalau Rayana ke rumah Pandu.
"Mas, bagaimana kalau istrimu nanya macam-macam ke Lintang? Perempuan sialan itu pasti ngomong yang nggak-nggak tentang kita," ujar Utari dengan setengah berbisik, takut suaranya didengar Ningrum. Bisa kacau nanti, apa lagi sejak semalam Ningrum sudah mancing-mancing pertanyaan seputar ucapan Lintang.
"Awas saja kalau Lintang berani ngomong aneh-aneh. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Bahkan meski Pandu ikut-ikutan, akan kuhabisi juga dia," sahut Albi juga dengan suara pelan.
Namun sialnya, perbincangan itu tetap saja didengar Ningrum. Entah sejak kapan wanita itu datang, tiba-tiba sudah berdiri di belakang Utari dan Albi.
"Siapa yang akan kamu habisi, Albi? Pandu? Atau Lintang?"
Albi gelagapan seketika. Lantas menoleh dan tersenyum semanis mungkin ke arah Ningrum.
"Ibu salah dengar. Aku—"
"Pendengaran Ibu masih berfungsi dengan baik, Albi. Ibu bisa mendengar dengan jelas apa yang kamu dan Tari bicarakan barusan," pungkas Ningrum.
Albi dan Utari tak langsung menjawab ucapan tersebut. Keduanya hanya saling pandang dan seakan-akan bercakap lewat tatap mata.
"Sekarang jelaskan pada Ibu, apa maksudnya menganggap Lintang bukan adik kalian? Ibu nggak mau mendengar kalian berkilah lagi. Ibu mau masalah ini diluruskan sekarang juga," lanjut Ningrum.
"Itu semalam Mas Albi hanya asal bicara, Bu, jangan terlalu dipikirkan. Pasti Mas Albi cuma malu aja karena Lintang membuat kekacauan, padahal kita lagi mau merayakan ulang tahunnya Nada. Sampai-sampai pestanya beneran gagal karena Lintang." Utari yang lebih dulu menjawab, mencoba meyakinkan ibunya bahwa ucapan Albi semalam bukan kesengajaan.
Namun, Ningrum sudah tak percaya. Semalam ia melihat sendiri bagaimana ekspresi Albi saat mengatakan Lintang bukan adiknya, syarat akan kebencian. Jadi, tidak mungkin jika itu hanya asal bicara. Terlebih lagi, Ningrum ingat bagaimana dulu anak-anaknya itu sangat dekat dengan neneknya, seseorang yang tak pernah percaya bahwa Lintang adalah anak kandung Handoko.
"Apa nenek kalian yang mengatakan itu? Jawab dengan jujur!" Ningrum sedikit membentak. Untuk pertama kalinya dia meninggikan suara di hadapan Utari dan Albi. Biasanya, hanya di depan Lintang dia bersikap demikian.
Lagi-lagi Utari dan Albi diam terlebih dahulu, tak langsung menjawab. Namun, hal itu sudah cukup untuk meyakinkan Ningrum bahwa tebakannya barusan adalah benar.
"Jika kalian mempercayai itu, kalian akan menyesal! Karena Lintang adalah anak Ibu dan Mas Handoko. Lintang sama seperti kalian. Kalian itu saudara kandung, seayah seibu," ucap Ningrum. Sedikit bergetar suaranya.
Albi dan Utari belum menjawab, sekadar bertukar pandang dengan ekspresi yang entah.
"Dulu Lintang lahir prematur. Kehamilan baru tujuh bulan dia sudah lahir. Itu yang menjadi alasan nenek kalian menuduh Ibu berselingkuh. Katanya Ibu hamil sebelum bapak kalian pulang dari rantau. Padahal, jelas-jelas Ibu hamil setelah bapak kalian pulang. Tari, Albi, sekarang coba kalian pikir dengan logika. Jika Lintang hasil perselingkuhan Ibu, apa menurut kalian Mas Handoko mau merawat Lintang? Bukankah dulu kalian juga tahu, waktu Lintang bayi, sesayang apa Mas Handoko pada Lintang. Menurut kalian, apa itu mungkin terjadi kalau Lintang bukan darah dagingnya?" Ningrum bicara panjang lebar, menjelaskan identitas Lintang.
Namun, hati yang telanjur benci tak semudah itu menerima kebenaran. Meksipun fakta sudah dibeberkan di depan mata, mereka tetap percaya pada satu hal yang sudah tertanam di pikiran.
"Sekarang Ibu tanya lagi. Yang dikatakan Lintang semalam ... apa ada yang benar?" Ningrum kembali mengajukan pertanyaan, sembari menatap Albi dan Utari dengan penuh selidik.
"Mana mungkin itu, Bu. Lintang hanya mengada-ada. Dari dulu dia seperti itu kan, ada aja alasannya untuk membela diri," sahut Albi.
"Tapi, kenapa Rayana sampai minta cerai?"
"Mungkin karen kesal dengan Lintang, Bu, ayahnya yang udah meninggal dibawa-bawa. Padahal dari dulu semua juga tahu kalau hari itu memang Lintang sendiri yang mau diajak tidur sama pacarnya," jawab Utari.
Sekali lagi Albi berterima kasih pada adiknya itu, karena mampu mencari jawabnya yang tepat di tengah waktu yang mendesak.
"Tapi—"
Ucapan Ningrum terhenti karena ada tamu yang mengetuk pintu. Utari dan Albi lega seketika. Karena setidaknya, ada sedikit waktu lagi untuk berpikir lebih jernih, guna memelintir cerita agar ibunya tetap percaya pada mereka.
Namun, kelegaan Utari dan Albi tidak berlangsung lama. Justru perasaan langsung kacau dan berantakan tak karuan, bahkan lebih berantakan dibanding tadi saat didesak Ningrum. Pasalnya, yang bertamu pagi-pagi buta itu bukan orang biasa, melainkan dua orang pria bertubuh tegap yang mengenakan seragam kepolisian.
Ada apa ini?
Bersambung...
dan memang di kehidupan nyata terkadang keluarga dan org terdekat bisa menjadi racun utk kita, bisa mendatangkan trauma serta rasa sakit luar biasa, yg tdk mudah utk kita hilangkan dr hidup kita.
cerita yg tdk bertele tele.. gk dibuat panjang panjang biar lama kontrak tp jd muter kaya benang kusut spt kebanyakan novel di web.
Posisi Wenda jg pasti cemas terhadap putranya, merawat Lintang seperti menjaga barang dari kaca yg harus super hati hati agar tdk pecah. Takutnya lama-lama justru Pandu atau Wenda yg jadi stress
Benar kan Tuhan itu adil, tdk dapat keluarga yg mencintainya Lintang dapat suami dan mertua yg sangat mencintai nya
dia pernah berharap Lintanh media dan melupakan masa lalunya
Tp itulah hasil teror demi teror Ningrum pada anaknya, merusak lahir dan batin.
bukan salah paham lagi kali ini tp memang hati seorang ibu yg sesat terlalu pilih kasih pada anak-anak nya
Itulah ruginya hukum kita, hancurkan masa depan seorang anak hanya dituntut maksimal 15 th penjara.