Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bayang Keraguan yang Datang
Keesokan harinya, senyum masih tersungging di bibir Laras setiap kali teringat percakapan dan janji yang terucap kemarin sore. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat ia baru saja melangkah masuk ke ruang tengah kediaman Pratama, ia melihat kakeknya duduk dengan wajah yang tampak serius.
“Kemarilah sebentar, Nak. Kakek ingin berbincang denganmu,” panggil Arga Muda lembut namun nadanya tegas.
Hati Laras sedikit berdebar, namun ia tetap duduk dengan sopan di hadapan kakeknya.
“Ada apa, Kek?”
“Beberapa orang melihatmu berjalan bersama seorang pemuda dari kalangan yang sangat berbeda dari kita, bahkan memberikan sejumlah uang padanya. Apakah itu benar?” tanya Arga Muda menatap lekat ke arah cucunya.
Laras terkejut sejenak, namun ia segera mengangguk jujur tanpa berusaha menutupi apa pun. “Benar, Kek. Namanya Daffa. Dia sedang berjuang keras merawat adiknya yang sakit, dan sedang terbebani banyak kesulitan.”
Arga Muda menghela napas panjang. “Kakek tidak melarangmu berbuat baik. Keluarga kita selalu mengajarkan untuk menolong sesama. Namun Kakek khawatir, Lar. Dunia tidak selalu seindah yang kau bayangkan. Banyak orang yang mungkin memanfaatkan kebaikanmu untuk kepentingan sendiri. Apakah kau sudah benar-benar mengenal siapa dia sebenarnya?”
“Daffa bukan orang seperti itu, Kek. Aku yakin dengan ketulusannya,” jawab Laras tegas namun tetap sopan. “Dia menolak bantuanku berkali-kali karena tidak ingin dianggap memanfaatkanku. Dia hanya tidak punya pilihan lain demi nyawa adiknya.”
“Kepercayaan itu baik, tapi jangan sampai membuatmu lupa akan kewaspadaan,” ujar Arga Muda pelan. “Lagipula, nama keluarga Pratama sangat dijaga. Jika tersebar kabar bahwa cucu tunggal kita terlalu dekat dengan seseorang yang belum jelas latar belakangnya, itu bisa menimbulkan banyak pandangan yang tidak baik, bahkan bisa membahayakanmu juga.”
Perkataan kakeknya membuat hati Laras terasa berat. Ia mengerti maksud kehati-hatian itu, namun ia juga merasa tidak adil jika Daffa dinilai hanya dari keadaan hidupnya saat ini.
“Satu hal yang harus kau ingat, Nak. Hati yang tulus memang tidak selalu terlihat dari penampilan, namun takdir sering kali juga membawa ujian lewat hubungan yang kita jalin. Pikirkanlah baik-baik semuanya,” pesan Arga Muda sebelum mengakhiri percakapan itu.
Sementara itu, di tempat lain, Daffa juga sedang memikirkan hal yang sama. Sepanjang malam ia terjaga, merenungi betapa besar jurang yang memisahkan dirinya dan Laras. Ia sadar betul bahwa ia hanyalah pemuda biasa yang tidak memiliki apa-apa, sementara Laras adalah putri dari keluarga terpandang yang namanya sangat dihormati.
“Apakah aku benar-benar pantas berharap bisa mendampinginya?” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit kamar kecilnya. “Aku tidak ingin kehadirannya justru membawa masalah atau rasa malu baginya.”
Keesokan harinya saat mereka bertemu kembali di halte dekat kampus, suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda. Tidak ada lagi senyum lepas seperti kemarin. Daffa tampak menundukkan pandangannya sejenak sebelum mulai berbicara.
“Laras… mungkin benar apa yang sering dikatakan orang. Kita hidup di dunia yang berbeda. Aku takut jika aku terus berada di dekatmu, aku hanya akan menjadi beban dan membawa banyak masalah bagimu serta keluargamu.”
Laras menatapnya lekat-lekat, hatinya terasa perih mendengar ucapan itu. “Daffa, apakah kau mulai ragu? Apakah janji yang kita ucapkan kemarin sore sudah tidak berarti lagi bagimu?”
Daffa mengangkat wajahnya, terlihat jelas ada kesedihan yang mendalam di matanya. “Bukan begitu. Janji itu sangat berarti bagiku, bahkan lebih dari apa pun. Tapi aku tidak ingin menjadi orang yang merusak kebahagiaanmu. Aku hanya ingin kau hidup tenang tanpa harus memikirkan kesulitan yang sedang kuhadapi.”
“Ketenangan bukan berarti harus selalu menjauh dari segala hal yang berat,” jawab Laras mantap. “Jika ada kesulitan, bukankah seharusnya kita saling menguatkan? Aku tidak takut menghadapi pandangan orang lain, asalkan aku tahu bahwa hati yang ada di sampingku adalah hati yang jujur.”
Kata-kata Laras perlahan menyentuh hati Daffa yang sedang diliputi keraguan itu. Ia sadar bahwa gadis di hadapannya ini memiliki keteguhan hati yang jauh lebih besar daripada yang ia kira. Namun di saat yang sama, ia juga tahu bahwa perjalanan ke depan tidak akan semudah apa yang mereka bayangkan sekarang.
Tiba-tiba ponsel Laras berbunyi memecah suasana itu. Saat ia melihat nama yang tertera di layar, raut wajahnya sedikit berubah. Itu adalah panggilan dari ayahnya.
“Maaf, aku harus menjawab ini dulu,” ucap Laras pelan.
Dari percakapan singkat itu, Daffa bisa menangkap bahwa ayah Laras memintanya pulang segera karena ada sesuatu yang penting dan harus dibicarakan bersama seluruh keluarga.
“Sebaiknya kau segera pulang, Laras. Jangan sampai mereka semakin cemas menunggumu,” ucap Daffa lembut. “Pergilah. Aku akan tetap berdiri di sini, berusaha menjadi orang yang pantas untukmu suatu hari nanti.”
Laras menggenggam tangan Daffa sejenak sebelum melepaskannya perlahan. “Tunggu aku ya. Jangan pernah berniat untuk menjauh tanpa alasan yang jelas.”
Daffa hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, meski ada rasa cemas yang mulai menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di kediaman Pratama saat ini, namun hatinya berkata bahwa ini baru permulaan dari segala ujian yang harus mereka hadapi bersama.
(Bersambung ke Bab 28) ✨