Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Kehancuran
Pagi harinya di kantor pusat Alister Group, atmosfer di lantai paling atas terasa begitu formal dan dingin. Devan Alister sudah duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, menatap layar tablet yang menampilkan grafik saham beberapa perusahaan mitra. Di sofa panjang tidak jauh dari meja Devan, Keyra duduk dengan tenang sembari menikmati secangkir teh kamomil hangat yang disiapkan khusus oleh sekretaris pribadi Devan.
Keyra hari ini mengenakan setelan blazer kasual berwarna krem yang membuatnya tampak seperti wanita karier berkelas. Tidak ada lagi ketakutan di wajahnya; setelah kejadian di toilet malam itu, ia tahu bahwa ia memegang kartu as terbesar dalam hidupnya.
Tok, tok, tok.
Pintu ruang kerja Devan diketuk dengan sopan. Asisten kepercayaan Devan, Leon, melangkah masuk dengan setumpuk berkas di tangannya.
"Tuan Muda," lapor Leon sembari membungkuk hormat. "Sesuai dengan perintah Anda semalam, proposal investasi senilai lima puluh miliar rupiah untuk perusahaan otomotif milik keluarga Mentari telah resmi kami batalkan secara sepihak pagi ini."
Devan bahkan tidak mengangkat pandangannya dari tablet. "Bagaimana dampaknya?"
"Sangat instan, Tuan," jawab Leon dengan senyum profesional yang tipis. "Berita pembatalan investasi dari Alister Group baru saja bocor ke publik sekitar tiga puluh menit yang lalu. Saham perusahaan mereka langsung merosot tajam sebanyak lima belas persen pada pembukaan pasar pagi ini. Selain itu, jajaran dewan komisaris mereka saat ini sedang mengadakan rapat darurat."
Mendengar laporan itu, Keyra perlahan meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca. Dadanya berdesir aneh. Hanya dengan satu kalimat kasual dari Devan semalam, seluruh kerja keras yang dibanggakan Arkan mulai goyah dalam hitungan jam.
"Apakah Arkan ikut dalam rapat itu?" tanya Keyra, suaranya terdengar jernih dan tenang.
Leon menoleh ke arah Keyra dengan pandangan hormat, mengetahui posisi penting wanita itu sekarang di mata bosnya. "Benar, Nona Keyra. Sebagai CEO baru yang bertanggung jawab atas golnya proyek ini, posisi Arkan adalah yang paling terpojok. Para komisaris menuntut pertanggungjawaban penuh darinya karena dia dianggap gagal menjaga hubungan baik dengan Alister Group."
Devan akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menegakkan tubuh, lalu menatap Keyra dengan sepasang mata elangnya yang tajam. "Ini baru makanan pembuka, Keyra. Pria itu akan mencoba segala cara untuk merangkak kembali dan meminta maaf. Apakah kamu siap untuk babak selanjutnya?"
Keyra berdiri dari sofa, berjalan pelan mendekati meja kerja Devan. Sepasang sepatu hak tinggi setinggi tujuh sentimeter yang ia kenakan mengetuk lantai marmer dengan irama yang mantap. "Aku tidak hanya siap, Devan. Aku ingin melihatnya kehilangan semua hal yang pernah dia kejar dengan cara menginjak harga diriku."
Sementara itu, di ruang rapat utama gedung perusahaan otomotif, suasananya justru seperti neraka yang panas. Arkan duduk di kursi ujung dengan keringat dingin yang terus bercucuran membasahi pelipisnya. Di sekeliling meja panjang itu, para investor dan dewan komisaris tua sedang memukul meja dengan emosi yang meluap-luap.
"Arkan! Bagaimana bisa Alister Group membatalkan investasi ini secara mendadak?!" bentak salah satu komisaris senior dengan wajah memerah. "Kamu bilang semalam semuanya akan berjalan lancar! Kamu bilang posisimu aman karena kamu menantu dari investor utama!"
Arkan menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Maaf, Tuan-Tuan... Ini... ini hanya masalah miskomunikasi kecil di acara semalam. Saya pasti akan mengaturnya kembali dan menemui Tuan Devan secara pribadi—"
"Menemuinya secara pribadi?!" potong ayah Mentari, yang juga duduk di ruangan itu dengan wajah yang tak kalah murka. "Arkan, asisten Devan Alister bahkan baru saja mengirimkan memo resmi bahwa perusahaan kita masuk ke dalam daftar hitam mereka! Kamu tahu apa artinya? Tidak akan ada satu pun bank atau investor di kota ini yang berani meminjamkan uang kepada kita setelah Alister Group memboikot kita!"
Mentari yang ikut duduk di pojok ruangan hanya bisa menangis sesenggukan, tidak menyangka bahwa kesombongannya dan Arkan semalam akan berbuntut kehancuran bisnis keluarganya sendiri.
"Saya akan memohon pada Tuan Devan, Ayah... Tolong beri saya waktu satu hari lagi," mohon Arkan dengan suara gemetar, kehilangan seluruh wibawanya sebagai seorang CEO.
"Satu hari?! Jika besok pagi saham kita tidak stabil, posisimu sebagai CEO akan dicopot secara tidak hormat, Arkan! Dan kamu harus membayar ganti rugi atas kerugian perusahaan ini!" seru ketua komisaris sebelum akhirnya menutup rapat dengan bantingan pintu yang keras.
Setelah semua orang keluar dari ruangan, Arkan jatuh terduduk di kursinya dengan tubuh lemas. Tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Di dalam kepalanya, bayangan wajah Keyra yang menatapnya dengan dingin semalam kembali muncul.
‘Keyra... ini semua pasti karena wanita itu!’ batin Arkan dengan rasa marah sekaligus penyesalan yang mulai menggerogoti hatinya.
Ia segera mengeluarkan ponselnya, mencari nomor kontak Keyra yang untungnya belum sempat ia hapus. Dengan tangan gemetar karena panik, Arkan mencoba menelepon nomor tersebut, berharap Keyra masih memiliki sedikit rasa kasihan padanya seperti dulu.
Di ruang kerja Devan, ponsel di dalam tas kasual Keyra tiba-tiba bergetar nyaring. Keyra mengambil ponselnya dan melihat sebuah nama yang sangat ia kenal berkedip di layar kaca.
Arkan is calling...
Keyra menatap layar tersebut tanpa ekspresi, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Devan yang rupanya juga sedang memperhatikan ponselnya.
"Dia meneleponmu?" tebak Devan dengan nada datar.
"Ya," jawab Keyra tenang. "Sepertinya dia sudah mulai panik."
Devan bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan kakinya dengan gaya yang teramat santai. "Angkatlah. Pasang pengeras suara. Mari kita dengar seberapa rendah seorang CEO yang sombong bisa memohon."
Keyra tersenyum tipis. Ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya, lalu mengaktifkan mode speakerphone sebelum meletakkannya di atas meja kerja Devan.
"Keyra?! Keyra, tolong dengarkan aku!" suara Arkan langsung terdengar nyaring dan panik dari seberang telepon, sama sekali tidak ada lagi nada sombong yang ia gunakan dua hari lalu di restoran. "Keyra, aku tahu kamu bersamaku selama tiga tahun ini karena kamu tulus. Tolong maafkan kata-kataku semalam di toilet, aku khilaf! Aku mohon, Keyra... tolong bicaralah pada Tuan Devan agar dia menarik kembali pembatalan investasinya! Perusahaanku bisa hancur, Keyra!"
Keyra mendengarkan suara memelas itu dengan tatapan kosong. Hatinya yang dulu selalu luluh setiap melihat Arkan kesulitan, kini terasa sedingin es batu.
"Khilaf?" sahut Keyra dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk. "Arkan, bukankah kamu sendiri yang bilang kalau uang seratus juta itu sudah cukup untuk membayar semua masa laluku? Lalu sekarang, mengapa seorang CEO hebat seperti dirimu mengemis bantuan pada gadis toko kue yang memalukan ini?"
"Keyra, tolong jangan seperti ini! Aku tahu aku salah! Kita bisa bicarakan ini baik-baik, kita bisa kembali seperti dulu jika kamu mau! Aku akan memutuskan Mentari!" seru Arkan nekat, mengorbankan wanita barunya demi menyelamatkan kariernya sendiri.
Mendengar kalimat murahan itu, Devan yang sejak tadi diam mendadak memajukan tubuhnya ke arah ponsel.
"Kembali seperti dulu?" potong Devan dengan suara beratnya yang dingin, langsung memotong harapan Arkan. "Pria rendahan sepertimu bahkan tidak punya hak untuk menyebut namanya lagi, Arkan."
Suara seberang telepon mendadak hening seketika. Arkan di ujung sana menahan napasnya saat menyadari bahwa pemilik suara itu adalah Devan Alister sendiri.
"T-Tuan Alister..." bisik Arkan ketakutan.
"Nikmati sisa hari-harimu sebagai CEO, Arkan. Karena besok, aku akan memastikan kamu kembali ke tempat asalmu—menjadi pecundang yang tidak punya apa-apa," ucap Devan dingin, sebelum tangannya bergerak mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Ruangan itu kembali sunyi. Keyra menatap ponselnya yang sudah mati, lalu beralih menatap Devan. Ada rasa puas yang luar biasa yang menjalar di hatinya. Ini adalah langkah pertama dari kehancuran Arkan, dan Keyra tahu, permainan ini baru saja dimulai.