Sama-sama memiliki kekasih saat dijodohkan, Danar dan Wulan membuat kesepakatan agar tetap pada kehidupan mereka masing-masing meski terikat dalam hubungan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27. HASIL BERCOCOK TANAM
Dinda pun turut khawatir melihat Wulan yang wajahnya pucat dan tak sadarkan diri di pangkuan Danar.
"Danar, sebaiknya kita segera bawa Wulan ke rumah sakit." Ucap Dinda dengan cepat.
"Iya, Danar. Aduh, itu Wulan kenapa kok pingsan ya?" Sahut Erick kemudian bergegas keluar dari kamar untuk mencari taksi membawa Wulan ke rumah sakit. Dirinya pun khawatir melihat keadaan Wulan karena ini adalah pertama kalinya ia melihat Wulan pingsan seperti itu.
Tak lama kemudian, paman dan bibi pun datang.
"Ini Istri Kamu kenapa?" Tanya bibi yang sudah berjongkok di samping Wulan lalu meletakkan punggung tangannya di kening Wulan memeriksa suhu tubuhnya.
"Gak tahu, Bi. Ini mungkin karena Wulan belum makan dari pagi." Jawab Danar, wajahnya sudah terlihat frustasi.
"Bagaimana bisa tidak makan dari pagi?" Tanya paman yang berdiri di samping Dinda, nada suaranya terdengar sedikit tinggi.
"Sebenarnya Kami datang ke Jogja ini karena Wulan yang katanya pengen banget makan Gudeg yang asli buatan Jogja."
"Istri Kamu ngidam?'' Tanya bibi.
Pertanyaan itu membuat Danar tercengang beberapa saat, lalu ia menggeleng pelan kepalanya. "Tidak tahu juga, Bi, Wulan tidak menunjukkan tanda-tanda apapun."
"Taksi nya sudah ada," ucap Erick dengan berteriak karena belum sampai ke kamar Wulan dan Danar, alhasil nafasnya tersengal-sengal karena berlari.
Danar pun bergegas memapah tubuh istrinya dengan dibantu oleh paman dan bibi, Erick juga ingin membantu namun tidak jadi karena melihat tatapan Danar yang berbeda padanya.
Erick dan Dinda pun hanya bisa mengekor di belakang hingga keluar rumah.
Sesampainya di rumah sakit, Wulan langsung ditangani oleh dokter. Danar menunggu dengan cemas, ia terus mondar-mandir di depan ruangan dimana didalam sana istrinya sedang ditangani oleh dokter.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka, Danar langsung menghampiri dokter wanita yang baru saja keluar.
"Dok bagaimana keadaan Istri saya?"
Dokter wanita itu mengembangkan senyum dibalik masker, dapat Danar lihat jika dokter itu tersenyum dari kedua matanya yang menyipit.
"Keadaan pasien tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan saja. Pada trimester pertama kehamilan, memang biasa terjadi mual, pusing bahkan sampai pingsan."
Ucapan dokter itu langsung membuat semua orang yang ada di sana saling menatap.
"Ha-mil?" Suara Danar terdengar gemetar, sepasang matanya seketika berkaca-kaca menatap dokter itu.
"Memangnya Bapak belum tahu?'' Tanya dokter itu sedikit terkejut.
Tak dapat menjawab dengan lisan karena lidahnya yang terasa kaku, Danar pun menggelengkan kepala dengan tampang yang terlihat bodoh.
"Dokter yakin jika Istri saya hamil?" Tanya Danar lagi memastikan.
"Iya, Pak. Untuk memastikan nya bisa dilakukan USG nanti setelah pasien sadar. Dan sekarang jika ingin menjenguk pasien harap bergantian ya."
Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, Danar langsung saja menerobos masuk ke dalam ruangan yang membuat dokter wanita itu geleng-geleng kepala, sementara Erick dan Dinda hanya bisa menatap dengan ekspresi tak terbaca pada pintu ruangan yang baru saja tertutup dengan sedikit keras mungkin karena Danar terlalu bahagia istrinya sudah hamil, begitulah yang ada dipikiran mereka.
Bahkan, Erick dan Dinda serentak duduk dengan masih menatap pada pintu ruangan itu.
'Mantan sudah dihamili suaminya'
'Mantan sudah menghamili istrinya'
Seolah saling mendengarkan isi hati, Erick dan Dinda menoleh saling menatap.
Di dalam ruangan, Danar langsung menghujani wajah istrinya yang belum sadar dengan kecupan."
"Wulan ayo bangun, Kamu harus dengar kabar bahagia ini. Sekarang benihku sudah tumbuh, dan ini adalah hasil dari kita bercocok tanam." 🤪