Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Brema terdiam beberapa detik. Bukannya langsung menjawab, ia justru melangkah mendekat hingga berdiri beberapa langkah di depan Kael. Ia ingin membaca ekspresi pria misterius itu lebih jelas.
"Kalau aku menuruti permintaanmu," ucap Brema perlahan sambil menatap lurus ke mata Kael, "apa yang akan kudapat sebagai balasannya?"
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Dua pria itu saling bertatapan, masing-masing berusaha mengukur lawan yang berdiri di hadapannya. Atmosfer menjadi tegang, seolah siapa pun yang bergerak lebih dulu akan menentukan arah percakapan berikutnya.
Kael mengernyit tipis. Ia tidak bergeming, tetapi sorot matanya menjadi semakin tajam. Sudah lama tak ada orang yang cukup berani memasuki ruang pribadinya sedekat ini.
Brema tetap mempertahankan posisinya. Wajahnya tampak santai, bahkan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia sengaja menguji seberapa jauh pria misterius di hadapannya mampu mengendalikan emosi.
Dengan satu langkah tegas, Kael mendorong dada Brema hingga pria itu mundur beberapa langkah.
"Menjauhlah dariku, sialan!" ucap Kael dingin.
Brema hanya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah sambil terkekeh pelan.
"Tenang saja. Aku hanya ingin tahu seberapa serius kau datang menemuiku."
Kael mengembuskan napas pelan. Rasa mual yang sejak tadi mengganggu perutnya kembali muncul, memaksanya menghirup aroma minyak angin yang masih melekat di bawah hidungnya.
Dalam hati, ia mengamati Brema. Pria itu jauh berbeda dari laporan singkat yang diterimanya. Penampilannya rapi, pembawaannya tenang, dan keberaniannya cukup mengesankan. Tak heran Adrian memilihnya sebagai calon suami Aurora.
Meski begitu, satu hal tidak berubah.
Kael tidak datang untuk mengagumi keberanian Brema. Ia datang dengan satu tujuan—menggagalkan pernikahan yang akan berlangsung hanya beberapa jam lagi. Di matanya, tidak ada pria mana pun yang pantas berdiri di sisi Aurora selain dirinya.
Egois memang, tapi itu adalah Kael.
Kael mengembuskan napas panjang. Dalam benaknya hanya ada satu pikiran—Adrian begitu terburu-buru menikahkan Aurora demi menutupi masalah yang tengah dihadapi adiknya. Namun, apakah pria itu benar-benar mengenal calon adik iparnya?
Tatapan Kael kembali tertuju pada Brema.
"Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari?" tanya Brema dengan nada tenang, meski sorot matanya dipenuhi rasa ingin tahu.
Kael mengabaikan pertanyaan itu. Ia menggenggam botol kecil minyak angin di tangannya, menghirup aromanya sejenak sebelum berkata dengan suara datar,
"Aku tidak datang untuk berbasa-basi. Batalkan pernikahanmu dengan Aurora."
Brema mengangkat sebelah alis. Bukannya tersinggung, ia justru tersenyum tipis.
"Kalau aku bersedia membatalkannya," katanya santai, "apa yang bisa kau tawarkan sebagai gantinya?"
"Mustahil." Rahang Kael mengeras. "Aurora sedang mengandung."
Ekspresi Brema tidak berubah sedikit pun.
"Aku sudah mengetahui itu sejak awal," jawabnya tenang. "Adrian juga tidak pernah menutupinya. Bagiku, itu bukan alasan untuk membatalkan pernikahan."
Ucapan itu membuat tatapan Kael semakin tajam.
Brema lalu melangkah maju. Ia sengaja memperkecil jarak di antara mereka hingga suasana menjadi jauh lebih menegangkan. Bukan untuk memancing kedekatan, melainkan sebagai cara menunjukkan bahwa ia tidak gentar menghadapi pria yang menyelinap ke kamarnya.
"Kau tampak sangat menginginkan Aurora," ucap Brema pelan. "Kalau begitu, beri aku alasan yang benar-benar layak untuk mundur."
Kael tetap berdiri tegak. Tatapan dinginnya tidak bergeser sedikit pun dari wajah pria di hadapannya. Di dalam ruangan yang sunyi itu, kedua pria tersebut saling mengukur kekuatan, sama-sama enggan menjadi pihak pertama yang mengalah.
"Kalau tujuanmu hanya soal uang atau keuntungan, katakan saja." Brema mengangkat kedua tangannya dengan tenang. "Aku bisa memberimu kompensasi yang jauh lebih besar daripada yang kau bayangkan."
Ucapan itu meluncur mantap, tetapi pikirannya mulai kabur. Aroma lembut yang memenuhi kamar terasa begitu menenangkan, bercampur wangi lavender, chamomile, dan musk putih. Keharuman itu begitu alami hingga Brema tak menyadari bahwa setiap tarikan napas perlahan mengikis kesadarannya.
Sebenarnya, jika Brema bersedia membatalkan pernikahannya dengan Aurora secara sukarela, Kael masih berniat memberikan penawar yang telah ia siapkan. Namun, melihat pria itu tetap berusaha mempertahankan pernikahan tersebut, keputusan Kael berubah. Baginya, Brema kini telah menjadi penghalang yang harus disingkirkan.
Brema melangkah semakin dekat, bukan untuk mengintimidasi, melainkan berusaha menenangkan situasi.
"Kita bisa membicarakan ini baik-baik." ujarnya, mencoba tetap tenang meski kepalanya mulai terasa berat.
Tatapan Kael berubah semakin dingin. Kesabarannya habis.
Dengan gerakan cepat, tangannya meraih pistol yang tersimpan rapi di balik jaket kulitnya. Moncong senjata itu langsung terarah ke dada Brema.
"Berhenti di situ," ucap Kael datar, suaranya rendah namun mengandung ancaman yang tak terbantahkan. "Satu langkah lagi, dan kau akan menyesal."
Brema sontak menghentikan langkahnya. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan. Baru saat itulah ia menyadari bahwa pria bertato di hadapannya bukan sekadar tamu tak diundang.
Sosok itu adalah seseorang yang benar-benar siap menarik pelatuk tanpa ragu.
"Aku..."
Kalimat Brema terputus begitu saja.
Pandangannya mendadak kabur. Tubuhnya bergoyang pelan sebelum kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik, lututnya tak lagi mampu menopang beban tubuhnya hingga ia ambruk ke lantai dengan suara benturan yang pelan.
Kael menatap pria itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Ia sudah memperkirakan efek aroma yang memenuhi ruangan akan bekerja secepat ini.
Sebelum meninggalkan kamar, Kael menghampiri tubuh Brema yang tak sadarkan diri. Dengan ujung sepatunya, ia menyentuh pelan kaki pria itu beberapa kali untuk memastikan reaksinya benar-benar hilang.
"Selamat beristirahat." gumamnya lirih.
Setelah yakin Brema tidak akan terbangun dalam waktu dekat, Kael melangkah keluar. Namun, ia tidak meninggalkan rumah itu begitu saja. Beberapa anak buahnya telah disebar di sekitar kediaman Adrian untuk mengawasi keadaan. Ia tak ingin Brema tiba-tiba sadar sebelum waktunya, atau Adrian menemukan calon pengantin pengganti di saat-saat terakhir.
Pukul sembilan pagi, suasana rumah Adrian mulai dipenuhi kesibukan.
Di salah satu kamar, beberapa perias tengah menyempurnakan riasan Aurora. Gaun pengantin putih yang dikenakannya menjuntai anggun hingga menyentuh lantai, membuatnya tampak begitu memesona.
Sayangnya, kecantikan itu tidak diiringi kebahagiaan.
Tak ada senyum yang menghiasi wajah gadis itu. Tatapannya kosong, seolah seluruh semangatnya telah menghilang sejak hari itu ditentukan sebagai hari pernikahannya.
Upacara tersebut memang sengaja dibuat sederhana. Yang hadir hanyalah keluarga dekat, beberapa sahabat, para tetangga, serta petugas yang bertanggung jawab atas jalannya prosesi pernikahan.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Adrian mengulurkan lengannya kepada adiknya dengan senyum tipis yang berusaha terlihat tegar.
Aurora menerima uluran itu tanpa sepatah kata. Perlahan ia menuruni anak tangga sambil menggandeng kakaknya.
Semua orang memandangnya dengan kagum, tetapi tak seorang pun menyadari bahwa di balik gaun putih yang indah itu, Aurora tengah menyembunyikan hati yang remuk dan masa depan yang terasa semakin menjauh dari genggamannya.
Bagaimana mungkin Aurora tidak merasa hancur? Dalam hitungan jam, ia dipaksa menikahi seorang pria yang bahkan belum pernah benar-benar dikenalnya.
Yang paling membuat dadanya sesak bukan sekadar pernikahan itu sendiri, melainkan ketidakpastian tentang sosok yang akan menjadi suaminya. Bagaimana jika pria itu ternyata berhati kejam? Bagaimana jika di balik wajah ramahnya tersembunyi niat yang jauh lebih buruk daripada yang mampu ia bayangkan?
Dengan gaun putih yang terasa semakin berat di tubuhnya, Aurora duduk diam di kursi yang telah disiapkan untuk mempelai wanita. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, sementara matanya terus mengarah ke pintu masuk.
Menit demi menit berlalu.
Satu jam...
Lalu dua jam...
Namun, Brema tak kunjung datang.
Ketidakhadiran calon mempelai pria perlahan mengubah suasana ruangan. Para tamu mulai saling berpandangan, disusul bisikan-bisikan pelan yang semakin lama semakin ramai memenuhi aula. Raut wajah Adrian ikut berubah tegang.
Tanpa membuang waktu, Adrian segera menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk memeriksa kediaman keluarga Brema.
Tak lama kemudian, laporan itu datang.
"Rumah mereka kosong. Tidak ada seorang pun di dalam. Anehnya, mobil keluarga Brema masih terparkir di halaman."
Ucapan itu membuat wajah Adrian semakin pucat.
Aurora yang mendengar percakapan tersebut menelan ludah dengan susah payah. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia berusaha menahannya.
"Kakak..." suaranya bergetar. "Sebenarnya... apa yang terjadi?"
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan lirih.
"Jangan-jangan... keluarga Kak Brema benar-benar pergi meninggalkan semuanya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara tanpa ada seorang pun yang mampu segera memberikan jawaban. Yang terdengar hanyalah desas-desus para tamu yang mulai bertanya-tanya, sementara Aurora hanya bisa duduk diam, berusaha menguatkan dirinya di tengah ketidakpastian yang semakin menyesakkan.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe