NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21.

Sore harinya, setelah menyelesaikan tugas sekolah, Alesha memutuskan untuk keluar sebentar.

Ia membawa Pingky ke taman komplek dengan menaiki sepeda kesayangannya.

Angin sore yang sejuk membuat suasana terasa nyaman. Alesha mengayuh sepeda perlahan, sementara Pingky duduk aman di keranjang kecil yang sudah ia siapkan di bagian depan.

"Senang kan, Pingky?"

Bebek putih itu hanya bersuara kecil.

Alesha tertawa.

"Kamu jangan protes. Aku tahu kamu suka jalan-jalan."

Sesampainya di taman, Alesha memarkirkan sepedanya lalu duduk di bangku panjang sambil memperhatikan anak-anak kecil yang bermain.

Sudah lama ia tidak menikmati sore seperti ini.

Tidak ada tugas.

Tidak ada pelajaran.

Tidak ada Kevin yang mengingatkannya untuk tidur lebih cepat.

Hanya dirinya dan Pingky.

"Kayaknya hidup di sini tidak buruk juga," gumam Alesha pelan.

Ia menatap langit yang mulai berubah warna.

Namun, tanpa ia sadari, seseorang yang juga berada di taman itu memperhatikannya dari kejauhan.

Sosok itu berjalan mendekat perlahan.

Dan ketika Alesha menoleh...

Ia langsung terkejut.

"Alesha?"

Suara itu membuat Alesha langsung menoleh.

Ia sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri di dekatnya.

"Arka?"

Arka berdiri dengan pakaian santai, berbeda dari biasanya yang selalu terlihat rapi dengan seragam sekolah dan sikap seriusnya.

Alesha berkedip beberapa kali.

"Ngapain kamu di sini?"

Arka melihat ke arah taman.

"Jalan."

Jawaban singkat itu membuat Alesha mengangguk pelan.

"Oh."

Beberapa detik suasana menjadi hening.

Lalu mata Arka beralih pada keranjang sepeda di samping Alesha.

"Dia masih ikut?"

Alesha langsung tersenyum.

"Pingky?"

Pingky mengeluarkan suara kecil seolah menjawab.

"Iya. Dia suka jalan-jalan."

Arka memperhatikan bebek putih itu sebentar.

"Unik."

Alesha langsung tersenyum bangga.

"Kan aku sudah bilang, dia bukan bebek biasa."

Arka hanya menggeleng kecil.

"Kamu selalu punya alasan."

"Tapi benar."

Arka tidak membantah.

Alesha lalu menggeser sedikit tempat duduknya.

"Duduk saja."

Arka sempat ragu, tetapi akhirnya duduk di bangku yang sama dengan jarak yang cukup.

Biasanya di sekolah, Arka selalu terlihat sibuk dengan tugas OSIS atau urusan lainnya.

Melihatnya santai di taman terasa sedikit aneh bagi Alesha.

"Kamu sering ke sini?"

tanya Alesha.

Arka menggeleng.

"Tidak terlalu."

"Lalu kenapa hari ini?"

Arka melihat ke arah jalan setapak.

"Hanya ingin mencari udara segar."

Alesha mengangguk.

"Berarti kita sama."

Arka menoleh.

"Sama?"

"Iya. Aku juga mengajak Pingky supaya tidak bosan di rumah."

Arka melihat bebek itu lagi.

"Menurutmu dia bisa bosan?"

Alesha langsung serius.

"Tentu saja."

Arka hanya diam, tetapi sudut bibirnya hampir terlihat tersenyum.

Alesha yang menyadari itu langsung menunjuknya.

"Kamu hampir senyum."

"Tidak."

"Iya."

"Tidak."

Alesha tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya ia melihat sisi Arka yang tidak terlalu kaku.

Sore itu, taman komplek yang biasanya sepi terasa sedikit berbeda.

Ada Alesha dengan cerita-cerita anehnya, Pingky yang sesekali bersuara, dan Arka yang lebih banyak diam namun tetap mendengarkan.

Tanpa mereka sadari, pertemuan sederhana itu menjadi salah satu momen yang akan mereka ingat.

Beberapa saat mereka hanya duduk menikmati suasana sore.

Alesha sesekali memberi makan Pingky, sementara Arka memperhatikan taman yang mulai dipenuhi beberapa warga yang berjalan santai.

"Arka."

"Hm?"

"Kamu sebenarnya selalu seserius itu?"

Arka menoleh.

"Maksudnya?"

"Di sekolah kamu selalu kelihatan dingin. Jarang bicara, selalu sibuk, dan wajah kamu seperti tidak pernah berubah."

Arka terdiam sebentar.

"Itu hanya kebiasaan."

Alesha memiringkan kepala.

"Kebiasaan?"

"Iya."

"Lalu kalau sedang tidak di sekolah?"

Arka melihat ke arahnya.

"Seperti sekarang."

Alesha tersenyum kecil.

"Berarti kamu memang bisa santai."

Arka tidak menjawab.

Alesha kembali melihat Pingky yang sedang berjalan kecil di dekat kakinya.

"Aku dulu kira kamu orang yang sulit diajak bicara."

"Bukankah memang begitu?"

Alesha berpikir.

"Iya sih."

Arka mengangkat alis.

"Tapi?"

"Tapi ternyata tidak terlalu."

Untuk beberapa alasan, jawaban sederhana itu membuat Arka sedikit terdiam.

Tidak banyak orang yang mengatakan hal seperti itu kepadanya.

Biasanya orang hanya melihatnya sebagai ketua OSIS yang tegas, dingin, dan sulit didekati.

Namun Alesha selalu melihat sesuatu dengan caranya sendiri.

Tiba-tiba Pingky berjalan menjauh beberapa langkah.

Alesha langsung berdiri.

"Pingky."

Bebek putih itu berhenti di dekat semak kecil.

Alesha segera menghampiri.

Arka ikut berdiri membantu mengawasi.

"Kamu benar-benar membiarkannya jalan sendiri?"

Alesha mengangguk.

"Dia pintar."

Arka menatap bebek itu.

"Menurut saya kamu terlalu percaya."

"Tapi dia tidak pernah membuat masalah."

Arka langsung menatap Alesha.

"Yakin?"

Alesha terdiam.

Mengingat dirinya sendiri yang sering membuat Kevin pusing, ia akhirnya tertawa kecil.

"Kalau Pingky dibandingkan aku, dia lebih tenang."

Arka akhirnya tidak bisa menahan senyum kecil.

Alesha yang melihat langsung terkejut.

"Nah, sekarang aku lihat."

"Apa?"

"Kamu benar-benar bisa senyum."

Arka langsung kembali memasang wajah datarnya.

"Tadi kamu salah lihat."

"Tidak mungkin. Aku punya saksi."

Alesha menunjuk Pingky.

Arka melihat ke arah bebek itu.

"Dia tidak bisa bicara."

"Tapi dia tahu."

Arka hanya menggeleng kecil.

Sore itu berlalu tanpa terasa.

Ketika matahari mulai turun, Alesha mengambil sepedanya.

"Aku pulang dulu."

Arka mengangguk.

"Hati-hati."

Alesha tersenyum.

"Kamu juga."

Ia menaiki sepeda dan mulai mengayuh perlahan bersama Pingky di keranjang depan.

Arka masih berdiri di tempatnya, memperhatikan sampai Alesha menghilang di ujung jalan.

Entah sejak kapan, gadis itu mulai membuat suasana yang biasanya tenang terasa lebih ramai.

Dan anehnya...

Arka tidak merasa terganggu.

Sesampainya di rumah, Alesha langsung membawa Pingky masuk ke halaman.

"Kita pulang."

Pingky berjalan kecil mengikuti langkahnya.

Alesha tersenyum sambil melihat bebek itu.

"Sore ini menyenangkan, kan?"

Setelah memastikan Pingky sudah berada di tempatnya, Alesha masuk ke rumah.

Namun baru beberapa langkah masuk, suara Kevin terdengar dari ruang keluarga.

"Kamu dari mana?"

Alesha langsung berhenti.

"Kak."

Kevin duduk sambil melihat jam.

"Sudah sore. Gue kira kamu masih di luar."

Alesha menunjuk ke arah halaman.

"Aku jalan-jalan sama Pingky."

Kevin menghela napas kecil.

"Tentu saja."

Alesha duduk di sofa.

"Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa. Cuma tidak banyak orang yang mengajak bebek jalan-jalan pakai sepeda."

Alesha langsung membela diri.

"Pingky juga butuh hiburan."

Kevin hanya bisa menggeleng.

Namun kemudian ia menyadari sesuatu.

"Kamu pergi sendiri?"

Alesha terdiam sebentar.

"Lalu?"

Kevin menatapnya.

"Harusnya bilang dulu."

Alesha langsung menunduk.

"Iya, Kak."

Melihat itu, Kevin sedikit melunak.

"Gue bukan melarang kamu jalan-jalan. Tapi kalau pergi, kabari."

Alesha mengangguk.

"Iya."

Tidak lama kemudian, Oma keluar membawa makanan ringan.

"Kalian baru pulang?"

Alesha mengangguk.

"Iya, Oma."

Oma tersenyum.

"Bagus kalau kamu menikmati waktu sore. Jangan hanya sekolah terus."

Kevin menoleh.

"Tapi tetap harus ingat waktu."

Alesha langsung tertawa kecil.

"Kak Kevin tetap Kak Kevin."

Malamnya, saat Alesha sedang mengerjakan tugas, ia tiba-tiba teringat kejadian di taman tadi.

Arka yang biasanya terlihat dingin ternyata bisa diajak berbicara santai.

Ia tersenyum kecil.

"Ternyata dia tidak seseram yang aku kira."

Di tempat lain, Arka juga baru saja sampai rumah.

Ia meletakkan tasnya lalu duduk sebentar.

Pikirannya kembali pada kejadian sore tadi.

Tentang Alesha yang terus bercerita.

Tentang caranya memperlakukan Pingky seperti teman sendiri.

Dan tentang senyumnya yang selalu muncul tanpa dibuat-buat.

Arka menggeleng kecil.

"Dia memang aneh."

Namun kali ini, kalimat itu tidak terdengar seperti keluhan.

Melainkan sebuah pengakuan.

Sementara itu, hari terus berjalan.

Dan tanpa disadari, hubungan mereka yang awalnya hanya sebatas ketua OSIS dan murid baru perlahan mulai berubah.

Menjadi sesuatu yang lebih nyaman dari sekadar saling mengenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!