Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bertemu Adrian
"Kenapa kamu kelihatan pucat gitu, Rin? Kamu kenal sama Prof Eliza?" tanya Darmawan sambil menghentikan potongan stek di piringnya.
"Oh!" Rina tersentak hebat. Ia baru menyadari betapa pasokan darah di wajahnya serasa menyusut drastis akibat rasa terkejut yang menghantam dadanya. Nafasnya tertahan sejenak.
"T-tidak... hehehe," kelit Rina canggung, mencoba memaksa otot-otot wajahnya membentuk senyuman agar rona di pipinya kembali. "Aku cuma... aku cuma belum makan dari siang, Mas. Jadi agak kaget dan lemas saja."
"Astaga, Rin! Kalau gitu buruan makan. Nih, minum es teh manisnya dulu biar kamu seger lagi," desak Darma penuh kekhawatiran. Matanya menatap Rina dengan tulus.
"Hehehe, iya, tidak apa-apa kok. Makasih ya, Mas."
Darmawan yang polos percaya begitu saja pada bualan Rina.
Pemuda itu kembali menikmati santap malam mereka dengan ceria sambil menceritakan latar belakang pendidikan Darmawan yang nggak kaleng-kaleng.
Pria 29 tahun ini ternyata lulusan S2 dan sudah bekerja 5 tahun terakhir dengan posisi Manajer Hotel Perdana Wisata. Hotel bintang 7 di Kota Bandung.
Di sisi lain, Rina hanya bisa mengangguk-angguk kaku tanpa berani memutar kepalanya ke belakang sedikit pun.
Pikirannya melayang liar. Ia sangat takut jika Profesor Eliza yang merupakan istri sah dari pria yang pernah menghancurkan hidupnya mengetahui bahwa saat ini ia sedang menjalin hubungan dekat dengan salah satu mahasiswa bimbingannya.
Akhirnya, kencan malam itu usai. Darma mengantarkan Rina kembali ke kompleks apartemen tempat gadis itu tinggal. Mereka berpisah di area lorong utama depan tower.
"Makasih untuk malam ini ya, Rin. Istirahat yang cukup," tutur Darma manis.
"Kamu juga hati-hati di jalan ya, Mas," balas Rina seraya melambaikan tangan sebelum melangkah menuju area lift.
Begitu sosok Darma menghilang di balik pintu keluar, Rina menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong. Ia menghela napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada.
“Huuuh... Ternyata aku masih harus berurusan dengan bayang-bayang wanita mengerikan itu,” batin Rina dengan perasaan cemas yang membuncah.
Ia kemudian mengulurkan jarinya, memencet tombol pemanggil lift, berharap pintu besi itu segera terbuka agar ia bisa bersembunyi di dalam unitnya yang aman.
Ting!
Denting halus lift bergema. Pintu bergeser terbuka secara perlahan. Namun, alih-alih menemukan kabin kosong, mata Rina membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang berdiri di dalam lift tersebut.
Pria itu melangkah keluar dengan intonasi suara yang masih menyimpulkan wibawa masa lalunya. "Hai, Rin... Aku tadi baru saja dari unitmu. Ternyata kamu malah ada di sini." ucap Adrian dengan senyuman nakalnya.
Suara Rina tertahan di tenggorokan. "Om... Ad... Adrian?"
"Ya, Sayang. Ini aku," jawab Adrian dengan senyum tipis yang terasa asing.
"Ke... kenapa kamu ada di... sini?" tanya Rina dengan suara bergetar lalu melangkah mundur dari mulut lift.
"Sayang, aku kebetulan ada urusan ke Bandung. Aku pikir kamu sudah pindah... Ayo, kita bicara di dalam," ajak Adrian santai, seolah-olah tidak pernah terjadi kemelut di antara mereka.
"Tidak!" tegas Rina. Kesadarannya mendadak pulih. "Aku tidak mau!"
Adrian memiringkan kepalanya lalu menyeringai dingin. "Kenapa? Karena aku sudah jatuh miskin?"
Sebuah tawa lirih tanpa nada humor lolos dari bibir Rina. "Ah! Jadi kamu sudah dapat karmamu, Om? Kamu jatuh miskin karena istrimu yang killer itu akhirnya mengambil alih semua hartamu?"
Raut wajah Adrian berubah agak keruh, namun dengan cepat ia mencoba menguasai keadaan. Langkahnya maju mendekati Rina. "Rina, jangan begitu..." ucapnya penuh intonasi manipulatif, mencoba merobohkan benteng pertahanan gadis yang dulu begitu polos di matanya. "Jangan sok suci kamu. Aku begini-begini juga masih suamimu secara siri!"
"Suami?!" cecar Rina dengan nada tertahan, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. "Kamu sudah mencampakkanku begitu saja saat istrimu mulai curiga tapi sekarang kamu masih berani mengaku sebagai suamiku?"
"Rin, dengarkan aku dulu... Aku masih ada rasa padamu..."
"Sudah! Tidak ada lagi tempat untukmu di hatiku, Om. Pergi!"
Merasa kendalinya goyah, sikap manis Adrian luntur seketika. Pria itu melangkah cepat keluar dari lift, lalu mencengkram pergelangan tangan Rina dengan sangat kuat berupaya menyeret gadis itu secara paksa menuju lorong yang lebih sepi.
"Lepas! Aku tidak mau!" teriak Rina histeris, mencoba menarik tangannya kembali.
"Kenapa, Rina?!" bentak Adrian penuh penekanan, matanya menatap Rina dengan pandangan mengancam.
"Aku bilang tidak mau! Lepaskan!"
"Kenapa?!" sergah Adrian lagi, cengkeramannya semakin menyiksa kulit halus Rina. "Karena kamu sudah menemukan pria lain yang lebih kaya? Pria yang lebih strong dari aku, iya?!"
Rina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berjuang melepaskan diri dari cengkeraman tak berbelas kasih itu. "Bukan! Aku cuma tidak mau berurusan lagi dengan pria perusak seperti kamu!"
"Dengar, Rina!" sela Adrian dengan nada memelas yang dipaksakan. "Aku tahu aku sekarang tidak punya apa-apa lagi! Jangankan uang, ponsel saja aku cuma diberi ponsel jadul tanpa WhatsApp oleh Eliza agar aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa! Karena itu aku tidak bisa membalas pesan-pesanmu dulu! Tolong mengerti!"
"Lupakan semuanya, Om! Sudah terlambat! Lupakan aku!" tangis Rina pecah.
"Kenapa, Rina? Kenapa kamu jadi sedingin ini?" desak Adrian tanpa melonggarkan pegangannya sedikit pun.
"Rin?!"
Sebuah suara berat memotong percekcokan panas itu. Darmawan berdiri tertegun di ujung lorong tempat lift berada. Rupanya, pemuda itu kembali karena ada barang yang tertinggal di mobil dan secara tak sengaja menyaksikan adegan tersebut. Langkah Darma memburu menghampiri mereka dengan raut wajah penuh emosi dan kebingungan.
"Darma..." bisik Rina tertahan. Wajahnya kini jauh lebih pucat daripada saat berada di restoran tadi.
Darma menatap cengkeraman tangan Adrian pada Rina, lalu menatap wajah pria paruh baya yang tampak berantakan itu. "Siapa pria ini, Rin? Ada apa ini?"
Adrian berpaling, mengamati sosok pemuda di hadapannya dari atas ke bawah. Seringai sinis perlahan muncul kembali di wajahnya yang penuh kelicikan. “Oh, jadi dia….”
"Om... aku mohon..." bisik Rina lirih, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Jangan bilang apa-apa... Aku mohon, jangan..."