Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Berdamai dengan Masa Lalu
Aidil membelah jalanan kota menuju suatu tempat setelah Salma setuju untuk makan malam bersama dengannya. Meski tak ada pembicaraan yang terjadi selama perjalanan, tapi Aidil merasa senang karena Salma memberinya kesempatan.
Salma yang tak ingin bersuara, hanya menatap jalanan di depannya yang tampak tidak asing. Salma makin bingung ketika mobil Aidil memasuki salah satu restoran yang sangat ia kenali.
"Kita makan di tempat Marko?" tanya Salma.
"Iya, aku sudah melakukan reservasi beberapa hari lalu."
Tanpa banyak bertanya lagi, Salma segera keluar dari mobil dan memasuki resto. Mereka disambut oleh pelayan yang akan mengantar ke meja pesanan Aidil.
Salma duduk berhadapan dengan Aidil. Dari kejauhan, Marko sudah melihat kedatangan Salma dan Aidil. Meski hatinya tidak baik-baik saja melihat kebersamaan Aidil dan Salma, namun Marko berusaha bersikap profesional.
Marko sendiri yang menyajikan hidangan yang sudah dipesan Aidil.
"Hai, Sal," sapa Marko.
"Hai, Mark. Hmmm sepertinya enak!" Salma tersenyum saat melihat hidangan yang sangat disukainya ada di depannya.
Aidil memperhatikan ekspresi wajah Marko yang terlihat kecewa. Ia ingat perjuangannya untuk membujuk Marko agar menerima permintaannya.
Marko sempat menolak permintaan Aidil karena ia merasa mengkhianati Salma dengan membantu Aidil. Sebenarnya Marko masih geram terhadap Aidil karena apa yang diperbuatnya pada Salma.
Bahkan Marko meminta Aidil untuk melepaskan Salma. Sudah cukup semua penderitaan yang Salma alami. Dan Marko tidak mau melihat hal itu lagi.
Namun kalimat Aidil akhirnya membuat Marko luluh. Marko pun menuruti keinginan Aidil.
"Aku tahu kau menyukai Salma. Aku juga tahu jika kau sangat membenciku. Tapi, biarkan aku melakukan semua ini untuk terakhir kalinya. Biarkan Salma memilih untuk yang terakhir kali."
Marko terdiam. Ia bingung dan malu karena perasaannya diketahui oleh Aidil.
"Aku janji, jika kali ini Salma tidak memilihku, maka aku akan melepasnya. Dan kau bisa memilikinya."
Aidil menatap Marko dengan sirat tersembunyi di dalamnya.
"Silakan dinikmati," ucap Marko kemudian berlalu.
Salma menatap makanan kesukaannya dan langsung memakannya dengan lahap. Sesekali Salma melempar senyumnya kepada Aidil.
Entah apa yang dipikirkan Salma untuk saat ini. Yang jelas, ia ingin berdamai dengan hati dan masa lalunya.
...***...
Kehidupan Jihan banyak mendapat perubahan. Kini ia menyewa sebuah ruko kecil dekat apartemennya untuk berjualan makanan.
Hasil dari kursus memasaknya ia praktekkan dengan membuat beberapa menu masakan yang bisa ia jual. Orang-orang sekitar menyambut baik usaha yang digeluti Jihan sekarang.
Hidup Jihan juga menjadi lebih tenang meski kini ia hidup sederhana dengan sang putri. Rasa bersalahnya terhadap Salman dan Salma memang belum usai.
Terkadang ia memikirkan cara untuk meminta maaf dengan layak. Akhirnya Jihan mencoba menghubungi Salman. Ia mengajak pria itu untuk bertemu empat mata.
Usai bekerja, Jihan menemui Salman di tempat yang sudah mereka sepakati. Jihan memilih sebuah kafe yang agak tertutup untuk bertemu Salman.
Jihan datang lebih dulu. Salman yang baru datang, bisa melihat Jihan sedang duduk sendiri. Jihan memilih kursi yang paling pojok.
Salman bisa melihat jika wajah Jihan terlihat pucat. Jihan tidak seceria yang ia kenal dulu.
Salman menghela napas kemudian menghampiri Jihan.
"Maaf menunggu lama," ucap Salman lalu memposisikan diri duduk berhadapan dengan Jihan.
"Tidak apa. Aku tahu kamu pasti sibuk," balas Jihan.
"Ada apa? Kenapa meminta bertemu?" tanya Salman datar terkesan dingin.
Jihan menundukkan wajahnya tak berani menatap Salman. Ia menautkan kedua tangannya karena merasa sangat gugup.
"Maaf jika aku mengganggu waktumu. Aku hanya ... Ingin meminta maaf secara benar padamu. Aku tahu mungkin kamu tidak bisa memaafkanku begitu saja. Aku mengerti." Jihan masih menundukkan wajahnya.
Salman pun membuang muka. Ia tak ingin melihat Jihan yang terlihat lemah.
"Aku sudah memaafkanmu. Mengenai mbak Salma ... Kau tidak perlu khawatir. Mbak Salma sudah mengambil jalannya sendiri. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah lagi." Salman menguatkan hatinya untuk tegar. Ia sudah berdamai dengan masa lalu.
"Terima kasih. Sekali lagi aku minta maaf."
Salman mengangguk. Dengan begini, Salman bisa melanjutkan hidupnya dengan baik.
...***...
Jihan tiba di apartemennya setelah turun dari taksi. Secara tak sengaja Jihan berpapasan dengan Sandy dan Marina.
Marina yang notabene adalah sahabat Salma, memberikan tatapan tak menyenangkan pada Jihan. Tak bisa dipungkiri jika mereka sering bertemu. Karena tempat tinggal mereka memang berdekatan.
Jihan menundukkan kepala hormat ketika melewati Marina dan Sandy. Marina yang masih kesal sebenarnya ingin menampar wajah Jihan yang sok polos itu.
"Sudahlah! Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Toh Salma sudah hidup lebih baik kan?" lerai Sandy.
Marina hanya mengangguk patuh atas perintah suaminya. "Hah! Aku jadi merindukan Salma. Bagaimana kalau kapan-kapan kita berkunjung ke apartemennya?"
Sandy tersenyum. "Boleh saja, sayang."
...***...
Los Angeles, Amerika Serikat
Putra menekan kode angka untuk masuk apartemen Salsa. Ia terbiasa untuk masuk tanpa permisi karena memang Salsa yang mengizinkan.
Hanya 3 orang saja yang Salsa beritahu tentang kode kunci kamar apartemennya. Putra dan kedua keponakannya, Diyas dan Adit.
Putra melihat Salsa sedang duduk disofa sambil memangku laptopnya.
"Hai, Sal. Lagi sibuk?" sapa Putra.
"Hmm, lumayan. Persiapan thesis. Ternyata bikin pusing!" keluh Salsa dengan wajah cemberut.
Putra mengacak rambut Salsa gemas. "Semangatlah!"
"Omong-omong, ada apa kemari? Memangnya kamu tidak bekerja?" tanya Salsa.
"Kau kan tahu aku bekerja dari rumah. Semuanya beres!" Putra menyombongkan dirinya.
"Eh, Sal. Apa kau sudah minta maaf pada kak Salma?" tanya Putra hati-hati.
Salsa menggeleng. "Jangan malu dan takut. Aku yakin kak Salma mengerti. Dan kau sendiri, sudah bisa menerima keputusan kak Salma kan?"
Salsa menghela napas. "Iya. Aku sudah memahami keputusan yang diambil mbak Salma."
"Tapi, kurasa bisa saja ia menarik keputusannya." Putra meraih ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Salsa.
"Apa ini?" Salsa bingung.
"Aku dapat foto dari kak Marko. Sepertinya mereka baik-baik saja."
Salsa memperhatikan layar ponsel Putra yang didalamnya terdapat foto Salma dan Aidil yang sedang makan malam bersama. Salma nampak tertawa dan seakan tanpa beban.
"Kenapa kak Marko mengirimkan ini padamu? Bukankah kak Marko menyukai mbak Salma?" tanya Salsa sambil mengembalikan ponsel Putra.
Putra menutup mulutnya tak percaya. "Jadi, kau tahu soal perasaan kak Marko?"
"Ish, tentu saja. Semua terlihat jelas kok!" Salsa meletakkan laptopnya di atas meja.
"Jika kau bisa melihat hati kak Marko, apakah kau juga bisa melihat hatiku?"
Pertanyaan Putra membuat Salsa terbelalak. "A-apa maksudmu?" Salsa mulai salah tingkah.
"Aku datang kesini bukan tanpa alasan. Ada hal yang membuatku harus berasa disini."
Salsa dengan berani menatap Putra. Sebenarnya Salsa juga merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Persahabatan mereka yang dibilang aneh karena terpaut rentang usia 8 tahun, akhirnya dikalahkan dengan sebuah debaran hati yang disebut cinta.
"Apakah itu ... Aku?" tanya Salsa mencoba mencari jawaban jika hatinya tak bertepuk sebelah tangan.
Putra menggangguk. Ia membalas tatapan Salsa dengan makin mendekatkan tubuhnya pada gadis itu.
"Aku menyukaimu, Salsa." Sebuah pernyataan singkat keluar dari bibir Putra.
Salsa tak menjawab dan hanya diam. Ia bahkan tetap bungkam ketika bibir Putra menyentuh bibirnya.
Hati Salsa berdesir, lalu matanya menutup rapat. Ia merasakan sebuah cinta yang Putra berikan padanya.
Semakin lama bunyi decapan dari kedua bibir yang beradu semakin memenuhi apartemen Salsa. Mereka terhanyut dalam sebuah permainan yang memabukkan.
Hingga akhirnya...
"Tante Salsa!" Suara Diyas membuat Salsa sontak mendorong tubuh Putra hingga tubuh pria itu terjengkang ke belakang.
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat