NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN BIKIN SAYA SALAH PAHAM

Pukul 07.45 pagi.

Alya berdiri di depan meja kerjanya sambil menatap sebuah kotak kecil berwarna putih.

Dia tidak tahu harus melakukan apa dengan benda itu.

Kotak tersebut sudah ada di atas mejanya ketika dia datang.

Tidak ada nama.

Tidak ada kartu.

Hanya satu tulisan kecil di bagian atas.

Untuk Alya.

Alya menoleh ke kanan dan kiri.

Maya belum datang.

Beberapa karyawan lain juga belum masuk.

Dia membuka kotak itu perlahan.

Di dalamnya ada sebuah payung lipat berwarna hitam.

Alya mengerutkan kening.

Kemudian menemukan secarik kertas.

Jangan pulang tanpa payung lagi.

Alya langsung tahu siapa pengirimnya.

Dia menutup mata sebentar.

“Raka…”

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Namun kemudian dia langsung menghapus senyum itu.

“Kenapa dia sampai membelikan payung?”

Alya memutar kotak tersebut.

Tidak ada merek yang aneh.

Tidak ada pesan lain.

Dia mengambil payung itu.

Bagus.

Sederhana.

Profesional.

Tetapi tetap saja…

itu hadiah.

Dari atasannya.

Alya berdiri dan langsung membawa kotak tersebut menuju ruang Raka.

Dia mengetuk.

“Masuk.”

Alya membuka pintu.

Raka sedang membaca laporan.

Dia mengangkat wajah.

“Pagi.”

“Pagi, Pak.”

Alya meletakkan kotak di meja.

“Ini apa?”

Raka melihat kotak itu.

“Payung.”

“Saya tahu.”

“Lalu?”

“Kenapa Bapak memberikannya?”

Raka kembali melihat dokumen.

“Karena kemarin hujan.”

Alya menatapnya.

“Terus?”

“Kamu tidak bawa payung.”

“Saya tahu.”

“Jadi sekarang punya.”

Alya masih berdiri.

“Bapak membelikan saya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Raka akhirnya menatapnya.

“Karena saya tidak mau kamu sakit.”

Alya terdiam.

Ada jeda beberapa detik.

Kemudian dia bertanya pelan,

“Kenapa Bapak peduli?”

Raka tidak langsung menjawab.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, tidak ada jawaban profesional yang langsung keluar.

Raka akhirnya berkata,

“Karena kamu bekerja untuk saya.”

Alya tersenyum kecil.

“Lagi-lagi alasan itu.”

Raka mengerutkan kening.

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

Alya mengambil kotak itu.

“Terima kasih.”

Dia berbalik.

“Alya.”

Dia berhenti.

“Ya?”

“Pakai.”

Alya menoleh.

“Payungnya?”

“Iya.”

“Baik.”

Dia tersenyum.

“Kalau hujan.”

Kemudian keluar.

Raka kembali melihat dokumen.

Namun pikirannya sudah tidak lagi berada di sana.

Dia tahu dirinya mulai terlalu jauh.

Membelikan payung.

Menunggu Alya pulang.

Memperhatikan makanannya.

Mencari alasan untuk memanggilnya.

Dan sekarang dia bahkan mulai memperhatikan cuaca hanya karena memikirkan perempuan itu.

Raka menghela napas.

“Ini tidak boleh.”

Dia harus menjaga jarak.

Mulai sekarang.

PUKUL 09.30

Raka mencoba menjaga jarak.

Dan hasilnya—

aneh.

Dia tidak memanggil Alya selama hampir dua jam.

Tidak bertanya soal jadwal.

Tidak meminta kopi.

Tidak mencari alasan untuk keluar ruangan.

Alya pun bekerja seperti biasa.

Namun sekitar pukul sepuluh, Alya mulai menyadari sesuatu.

Raka terlalu diam.

Biasanya pria itu akan memanggilnya setidaknya tiga atau empat kali.

Hari ini tidak.

Alya menatap pintu ruangannya.

“Kenapa?”

Maya datang membawa dokumen.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kok melihat pintu terus?”

Alya menggeleng.

“Tidak.”

Maya mengikuti arah pandangnya.

Kemudian tersenyum.

“Pak Raka?”

Alya langsung mengalihkan pandangan.

“Dia kenapa?”

“Tidak tahu.”

“Dari tadi tidak keluar.”

“Bagus dong.”

Alya terdiam.

“Bagus?”

“Iya. Kamu bisa kerja tenang.”

Alya mengangguk.

“Benar.”

Namun beberapa menit kemudian dia malah berdiri.

Maya menatapnya.

“Mau ke mana?”

“Ambil dokumen.”

“Dokumen di mana?”

Alya menunjuk ruang Raka.

Maya langsung tertawa.

“Katanya bagus kalau dia tidak mengganggu?”

Alya menatapnya.

“Diam.”

DI RUANG RAKA

Alya mengetuk.

Tidak ada jawaban.

Dia mengetuk lagi.

“Masuk.”

Alya masuk.

Raka sedang bekerja.

“Pak.”

“Ya?”

“Saya mau ambil dokumen.”

“Di meja saya.”

“Boleh?”

“Ambil.”

Alya berjalan menuju meja.

Raka tidak melihatnya.

Alya mengambil dokumen.

Kemudian berdiri.

Biasanya di titik ini Raka akan mengatakan sesuatu.

Namun tidak.

Alya menunggu.

Tidak ada.

Dia akhirnya berkata,

“Pak.”

“Hm?”

“Bapak marah?”

Raka berhenti mengetik.

“Tidak.”

“Yakin?”

“Iya.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Dia hendak keluar.

Raka kembali mengetik.

Alya berhenti.

“Pak.”

“Ya?”

“Bapak aneh hari ini.”

Raka mengangkat wajah.

“Kenapa?”

“Tidak seperti biasanya.”

“Memangnya biasanya seperti apa?”

Alya berpikir.

“Biasanya menyebalkan.”

Raka hampir tersenyum.

“Dan hari ini?”

“Lebih menyebalkan.”

Raka akhirnya tertawa kecil.

Alya tersenyum.

“Nah.”

“Apa?”

“Bapak akhirnya kembali.”

Raka terdiam.

Alya tidak sadar bahwa kalimatnya membuat dada Raka terasa hangat.

Bapak akhirnya kembali.

Seolah Alya memang menunggunya menjadi dirinya sendiri.

Raka mengalihkan pandangan.

“Keluar.”

Alya tertawa.

“Baik.”

Dia keluar.

PUKUL 12.15

Hari itu mereka memiliki meeting penting dengan investor.

Alya sudah mempersiapkan semua dokumen.

Sebelum meeting dimulai, dia masuk ke ruangan Raka.

“Pak.”

Raka menoleh.

“Ya?”

“Investor sudah datang.”

“Baik.”

Alya melihat jas Raka.

Ada noda kecil di bagian lengan.

“Pak.”

“Hm?”

“Jas Bapak kotor.”

Raka melihat lengannya.

“Di mana?”

Alya mendekat.

“Sebelah sini.”

Dia menunjuk.

Kemudian tanpa sadar tangannya bergerak mengambil sapu tangan dari meja.

Dia mengusap noda tersebut perlahan.

Raka terdiam.

Alya juga baru sadar jarak mereka cukup dekat.

Tangannya berhenti.

Mereka saling menatap.

Beberapa detik.

Tidak ada yang bicara.

Alya menarik tangannya.

“Sudah.”

Raka mengangguk.

“Terima kasih.”

Alya berbalik.

Namun jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Dia tidak tahu kenapa.

Raka juga merasakan hal yang sama.

Dia memperhatikan Alya berjalan keluar.

Kemudian memejamkan mata.

“Jangan.”

Dia bicara pada dirinya sendiri.

“Jangan mulai.”

MEETING INVESTOR

Meeting berlangsung hampir dua jam.

Alya duduk di samping Raka.

Presentasi berjalan lancar.

Sampai salah satu investor berkata,

“Pak Raka, kami melihat perkembangan perusahaan cukup baik.”

“Terima kasih.”

“Kami juga mendengar Anda memiliki asisten baru.”

Raka mengangguk.

“Iya.”

Investor tersebut melihat Alya.

“Bu Alya, sudah berapa lama bekerja dengan Pak Raka?”

Alya tersenyum.

“Belum lama.”

“Kelihatannya sudah cukup kompak.”

Alya tertawa kecil.

“Masih belajar, Pak.”

Investor itu bercanda,

“Kalau begitu jangan sampai direbut perusahaan lain.”

Semua tertawa.

Kecuali Raka.

Dia hanya menatap meja.

Entah kenapa candaan itu membuatnya tidak nyaman.

Setelah meeting selesai, investor pergi.

Alya membereskan dokumen.

Raka berdiri.

“Kita kembali ke kantor.”

“Baik.”

DI MOBIL

Perjalanan pulang terasa berbeda.

Alya melihat ke luar jendela.

Raka duduk di sebelahnya.

Beberapa menit hening.

Kemudian Alya berkata,

“Pak.”

“Ya?”

“Bapak tadi kenapa?”

“Kenapa?”

“Waktu investor bercanda.”

“Biasa saja.”

“Tidak kelihatan biasa.”

Raka menoleh.

“Menurutmu?”

“Iya.”

Raka menghela napas.

“Tidak ada.”

Alya tersenyum.

“Bapak memang susah ditebak.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Supaya kamu tidak terlalu tahu.”

Alya terdiam.

Kalimat itu terdengar seperti candaan.

Tetapi ada sesuatu yang serius di baliknya.

PUKUL 15.00

Mereka kembali ke kantor.

Alya sedang menyusun laporan ketika seorang perempuan datang.

Dia mengenakan blazer putih dan membawa tas mahal.

“Alya?”

Alya menoleh.

“Iya?”

“Saya Clara.”

Alya mengenal nama itu.

Perempuan yang ditemuinya di restoran beberapa hari lalu.

“Oh.”

Clara tersenyum.

“Pak Raka ada?”

“Ada.”

“Saya mau bertemu.”

Alya mengangguk.

“Saya tanyakan dulu.”

Dia berdiri.

Namun Clara berkata,

“Tidak perlu.”

Kemudian langsung membuka pintu ruang Raka.

Alya terkejut.

“Bu Clara—”

Terlambat.

Clara sudah masuk.

Alya berdiri di luar.

Beberapa menit kemudian terdengar suara percakapan.

Alya tidak bermaksud menguping.

Namun pintunya tidak tertutup rapat.

Suara Clara terdengar jelas.

“Raka, kita perlu bicara.”

“Apa?”

“Kenapa kamu menghindar?”

“Saya sibuk.”

“Bukan karena sibuk.”

Hening.

Kemudian Clara berkata,

“Karena perempuan itu?”

Alya langsung membeku.

Perempuan itu?

Dia?

Alya mundur selangkah.

Dia tidak ingin mendengar lebih jauh.

Namun suara Raka terdengar.

“Jangan bawa Alya.”

Alya terdiam.

Jantungnya berdegup kencang.

Clara menjawab,

“Berarti benar.”

“Apa?”

“Kamu mulai peduli padanya.”

Alya menahan napas.

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik.

Lalu suara Raka terdengar pelan.

“Dia hanya asisten saya.”

Alya menunduk.

Entah kenapa kalimat itu membuat dadanya terasa sedikit kosong.

Dia hanya asisten saya.

Tentu.

Memang begitu.

Apa yang dia harapkan?

Alya kembali ke mejanya sebelum mereka keluar.

Dia duduk.

Membuka laptop.

Namun matanya tidak lagi fokus pada layar.

Beberapa menit kemudian, pintu Raka terbuka.

Clara keluar.

Dia melihat Alya.

Tatapannya berbeda.

Kemudian berjalan pergi.

Raka keluar beberapa detik kemudian.

“Alya.”

Alya berdiri.

“Iya, Pak?”

“Masuk.”

Alya mengikuti.

DI DALAM RUANG RAKA

Raka berdiri di dekat jendela.

“Ada sesuatu?”

Alya menggeleng.

“Tidak.”

“Kamu kelihatan berbeda.”

“Saya baik-baik saja.”

Raka menatapnya.

“Alya.”

“Iya?”

“Kalau ada sesuatu, katakan.”

Alya tersenyum kecil.

“Tidak ada.”

Raka mendekat.

“Jangan bohong.”

Alya menatapnya.

Kemudian bertanya,

“Pak.”

“Hm?”

“Saya memang cuma asisten Bapak, kan?”

Raka terdiam.

Pertanyaan itu tepat mengenai sesuatu yang sedang dia hindari.

“Ya.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Dia tersenyum.

“Berarti saya tidak perlu terlalu memikirkan hal-hal di luar pekerjaan.”

Raka mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

“Tidak ada.”

Alya berbalik.

Namun Raka memegang ujung meja.

“Alya.”

Dia berhenti.

Raka ingin mengatakan sesuatu.

Bahwa kalimat tadi tidak sepenuhnya benar.

Bahwa dia sendiri tidak tahu apa hubungan mereka.

Bahwa sejak beberapa hari terakhir, Alya sudah menjadi lebih dari sekadar asisten dalam pikirannya.

Tetapi semua itu tidak keluar.

Yang keluar hanya:

“Jangan terlalu memikirkan perkataan Clara.”

Alya menoleh.

“Saya tidak memikirkannya.”

“Bagus.”

Alya tersenyum.

“Kalau begitu tidak masalah.”

Dia pergi.

Pintu tertutup.

Raka berdiri sendirian.

Untuk pertama kalinya dia merasa telah melakukan kesalahan.

Bukan karena berbohong.

Tetapi karena mengatakan sesuatu yang mungkin membuat Alya menjauh.

PUKUL 18.00

Hari kerja selesai.

Alya merapikan meja.

Tidak seperti biasanya.

Tidak ada senyum.

Tidak ada candaan.

Dia bekerja lebih diam.

Raka keluar.

“Alya.”

“Ya, Pak?”

“Pulang?”

“Iya.”

“Bersamaan?”

Alya terdiam.

Kemudian menggeleng.

“Tidak perlu.”

Raka mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Saya ada urusan.”

“Urusan apa?”

Alya menatapnya.

“Pribadi.”

Raka mengangguk.

“Baik.”

Alya mengambil tas.

“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Dia berjalan menuju lift.

Raka berdiri di tempat.

Biasanya Alya akan mengatakan sesuatu.

Mungkin mengomel.

Mungkin bercanda.

Mungkin menanyakan apakah dia sudah makan.

Hari ini tidak.

Dan anehnya—

lantai itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Raka menatap meja Alya.

Kemudian melihat pintu lift yang sudah tertutup.

Dia baru menyadari sesuatu yang sederhana.

Dia tidak suka ketika Alya menjauh.

Bahkan untuk satu malam.

DI DALAM LIFT

Alya menatap pantulan dirinya.

Dia mencoba tersenyum.

Tidak berhasil.

Dia tahu Raka adalah atasannya.

Dia tahu tidak ada hubungan apa pun di antara mereka.

Namun entah kenapa mendengar Raka berkata—

“Dia hanya asisten saya.”

membuatnya sakit.

Padahal itu memang benar.

Alya menghela napas.

“Kenapa aku peduli?”

Dia menekan tombol lantai dasar.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Raka.

Sudah sampai bawah?

Alya menatap pesan itu.

Dia membalas:

Belum.

Raka:

Kabar kalau sudah sampai.

Alya menatap layar.

Kemudian mengetik:

Baik, Pak.

Tidak ada emotikon.

Tidak ada candaan.

Raka membaca balasan itu.

Dan untuk pertama kalinya—

dia merasa kehilangan sesuatu.

Sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar menjadi miliknya.

MALAM ITU

Raka duduk di ruang kerjanya.

Laptop terbuka.

Namun satu halaman pun tidak masuk ke kepalanya.

Dia mengambil ponsel.

Membuka percakapan dengan Alya.

Membaca pesan-pesan mereka dari beberapa hari terakhir.

Tentang kopi.

Tentang jadwal.

Tentang makan.

Tentang hujan.

Tentang hal-hal kecil yang sebelumnya tidak berarti apa-apa.

Sekarang semuanya terasa penting.

Raka menutup mata.

Dia akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini dia hindari.

Dia bukan hanya terbiasa dengan Alya.

Dia sudah mulai menyukai kehadiran perempuan itu.

Dan yang lebih mengkhawatirkan—

dia mulai takut kehilangan kedekatan tersebut.

Sementara di rumahnya, Alya juga sedang memikirkan hal yang sama.

Mereka sama-sama tahu hubungan ini seharusnya sederhana.

Bos dan asisten.

Tidak lebih.

Tetapi hati tidak pernah peduli pada jabatan.

Dan mulai hari itu—

Alya memutuskan untuk menjaga jarak.

Sedangkan Raka…

baru menyadari bahwa dia tidak ingin jarak itu ada.

Masalahnya, bagaimana cara seorang pria mengakui bahwa dia membutuhkan seseorang yang bahkan tidak boleh dia miliki?

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!