Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Siska berjalan mendekati lapak Arga dengan pandangan yang tidak bisa lepas dari sepuluh buah ajaib tersebut.
Arga yang sedang menunduk lesu menengadah saat melihat ada sepasang sepatu hak tinggi hitam berhenti tepat di depannya.
Dia mendongak dan menatap wajah Siska yang sedang menatap dagangannya dengan raut wajah penuh kekaguman.
"Permisi Mas, buah apa ini namanya kalau boleh saya tahu." Siska bertanya dengan nada suara yang sangat sopan dan lembut.
Arga terdiam sejenak mencerna kehadiran wanita kota yang sangat cantik dan wangi ini di depan lapak jeleknya.
"Ini tomat Nona, tomat kristal mutasi hasil kebun saya sendiri." Arga menjawab dengan suara serak karena tenggorokannya kering.
"Tomat? Masa iya ada tomat yang bentuknya sepadat dan secantik ini di dunia nyata." Siska berjongkok perlahan tanpa mempedulikan ujung celana mahalnya yang menyentuh tanah.
Dia tidak berani menyentuh tomat itu secara langsung karena takut merusak keindahannya.
"Aromanya sangat luar biasa Mas, saya belum pernah menemukan bahan makanan dengan wangi semanis dan sesegar ini."
Arga yang masih trauma dengan penolakan warga pasar mencoba memasang tembok pertahanan dan menjawab ketus.
"Kalau Nona cuma mau lihat-lihat atau tanya harga mending tidak usah Nona, nanti Nona jantungan dengar harganya."
Siska mengangkat sebelah alisnya merasa tertantang oleh gaya bicara pemuda penjual sayur di depannya ini.
"Kenapa saya harus jantungan, saya ini manajer restoran bintang lima dan sudah terbiasa membeli bahan baku premium."
Siska menatap tajam ke mata Arga menunjukkan otoritasnya sebagai seorang profesional di bidang kuliner.
"Berapa harga satu kilo tomat ini Mas, sebutkan saja nominalnya saya bawa uang tunai cukup banyak di mobil."
Arga menelan ludah dengan susah payah karena ini adalah kesempatan emas terakhirnya sebelum batas waktu sistem habis.
Dia menarik napas panjang dan membalas tatapan Siska dengan tidak kalah serius.
"Saya tidak jual kiloan Nona, saya jual tomat ini per biji dan harganya adalah seratus ribu rupiah pas untuk satu buahnya."
Arga memejamkan matanya rapat-rapat bersiap menerima makian atau lemparan tomat dari wanita di depannya ini.
Dia yakin wanita ini akan sama marahnya dengan ibu berdaster bunga tadi pagi.
Namun alih-alih berteriak marah Siska justru terdiam dan menatap Arga dengan pandangan menilai yang tajam.
"Seratus ribu untuk satu buah tomat lokal dari desa ini, kamu yakin tidak sedang merampok saya Mas." Siska bertanya dengan nada datar yang sulit ditebak emosinya.
"Saya tidak memaksa Nona untuk beli, itu harga pas dari saya dan tidak bisa ditawar satu sen pun." Arga menjawab mantap membuka matanya kembali.
Siska menatap tomat bercahaya itu lagi lalu beralih menatap wajah Arga yang terlihat sangat percaya diri namun menyimpan kepanikan kecil.
Sebagai orang yang ahli dalam bahan makanan Siska tahu bahwa penampilan tomat ini memang menjanjikan kualitas yang luar biasa.
Tapi harga seratus ribu per buah adalah harga yang sangat fantastis bahkan untuk ukuran restoran mewahnya sekalipun.
"Baiklah Mas, saya adalah orang yang berani bayar mahal asalkan kualitas barangnya sepadan dengan harganya." Siska akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan.
"Saya mau beli satu buah dulu untuk saya cicipi langsung di sini sekarang juga." Siska membuka tas kulit mahalnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan berwarna merah cerah.
Dia menyodorkan uang itu ke arah Arga dengan tatapan menantang.
"Jika rasanya biasa saja atau tidak sebanding dengan harganya, saya pastikan tidak akan pernah ada restoran kota yang mau beli sayurmu lagi."
Jantung Arga berdegup sangat kencang seperti genderang perang yang ditabuh bertalu-talu.
Ini adalah momen pembuktian terbesarnya apakah tomat mutasi sistem ini benar-benar sebagus klaimnya atau tidak.
Arga menerima uang seratus ribu itu dengan tangan yang sedikit gemetar lalu menyerahkan satu buah tomat kristal yang paling besar kepada Siska.
"Silakan dicicipi Nona, saya berani jamin Nona tidak akan menyesal memakan buah ini."