**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Pagi di Kamar yang Salah
Suite presiden Grand Regalia Hotel tampak seperti baru diterjang badai.
Gelas pecah di dekat sofa. Dua bantal terlempar ke lantai. Gaun hitam Kayla tergeletak di atas karpet dengan salah satu tali bahunya putus.
Kayla duduk di tengah ranjang sambil mencengkeram selimut sampai ke dagu. Wajahnya panas ketika menatap laki-laki asing di seberang sana.
Laki-laki itu berdiri di depan jendela, mengenakan celana panjang dan kemeja putih yang belum dikancingkan. Rambutnya masih berantakan. Ada bekas cakaran merah di dada dan bahunya.
Sial.
Bahkan dalam keadaan seperti ini, laki-laki itu tetap enak dipandang.
Kayla buru-buru mengalihkan mata. Seluruh tubuhnya nyeri. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering, dan aroma jeruk dingin yang tertinggal di bantal membuat beberapa potongan kejadian semalam kembali menghantam ingatannya.
Laki-laki itu mengambil gelas dari meja, mencium sisa cairan di dasarnya, lalu menatap Kayla.
"Sudah ingat?" tanyanya. "Kenapa kau ada di kamarku?"
Kayla menunduk. Ingatan yang tadi hanya berupa pecahan mendadak tersusun lebih jelas.
Semalam Vera mengajaknya makan di ruang privat hotel. Katanya, mereka perlu bicara baik-baik sebagai saudara.
"Minum dulu, Kayla." Vera mendorong segelas jus merah muda ke arahnya. "Kau dari rumah sakit, kan? Pasti capek."
Kayla hanya meneguk setengah gelas.
Sepuluh menit kemudian, tangannya tidak bisa lagi menggenggam sendok.
Panas menjalar dari perut ke leher. Pandangannya berputar. Ia masih bisa mendengar, tetapi tidak sanggup mengangkat kepala ketika Vera dan Tante Fen memapahnya keluar.
Di dalam lift, suara mereka terdengar sejelas bunyi mesin yang membawa mereka naik ke lantai teratas.
"Asal Kayla melahirkan anak untuk Wilson, pernikahanmu akan aman," kata Tante Fen. "Kau yang akan membesarkan anak itu. Semua orang tetap menganggapnya anakmu."
"Tante, kalau Kayla melapor polisi bagaimana?"
"Melapor dengan bukti apa? Lagi pula, apa buruknya menjadi simpanan keluarga Chandra? Dia akan dapat apartemen, mobil, dan uang. Perempuan lain mengantre untuk hidup seperti itu."
"Tapi dia adikku."
"Adik angkat," Tante Fen membetulkan. "Kau membiayai sekolahnya bertahun-tahun. Sudah waktunya dia membalas budi."
Kayla ingin berteriak. Yang keluar dari tenggorokannya hanya suara lemah yang tenggelam di balik dengung lift.
Pintu terbuka di lantai dua puluh.
Vera masih ragu ketika mereka menyeret Kayla menyusuri lorong.
"Kalau Wilson justru menyukai Kayla bagaimana?"
Tante Fen berhenti. "Jadi itu yang kau takutkan?"
"Bukan begitu."
"Kalau malam ini gagal, besok aku akan mencarikan perempuan lain untuk Wilson. Bedanya, perempuan itu tidak akan menyerahkan bayinya kepadamu. Setelah itu, jangan salahkan aku kalau Wilson menceraikanmu."
Vera langsung diam.
Ia telah menandatangani perjanjian pranikah. Jika bercerai, ia akan keluar dari keluarga Chandra tanpa uang. Semua kerabat di Bekasi mengenalnya sebagai perempuan yang berhasil menikah dengan orang kaya. Kehilangan Wilson berarti kehilangan seluruh hidup yang selama ini ia pamerkan.
"Nomor berapa?" tanya Vera akhirnya.
Tante Fen menyipitkan mata ke arah pesan di ponselnya. "2010."
Mereka berjalan beberapa langkah.
"Bukan. Sepertinya 2001. Ya, 2001."
"Tante yakin?"
Tante Fen mendorong pintu yang tidak tertutup rapat. "Lihat, pintunya terbuka. Wilson pasti sudah menunggu. Cepat masukkan dia."
Mereka menjatuhkan Kayla di atas ranjang.
Dari dalam kamar mandi terdengar suara air. Vera sempat menoleh, tetapi Tante Fen langsung menariknya keluar.
"Pulang bersamaku. Jangan menelepon Wilson malam ini kalau kau masih ingin mempertahankan suamimu."
Setelah pintu tertutup, panas di tubuh Kayla semakin tidak tertahankan. Ia mencoba bangun, tetapi kedua lengannya tidak bertenaga.
Lalu pintu kamar mandi terbuka.
Aroma jeruk yang segar lebih dulu mencapai ranjang. Seorang laki-laki keluar dengan rambut basah dan handuk putih melilit pinggang. Tubuhnya tinggi dan keras. Wajahnya tampan, tetapi sorot matanya sama bingungnya ketika melihat Kayla.
"Siapa kau?"
Kayla ingin menjawab. Lidahnya kelu.
Laki-laki itu mendekat, lalu mendadak mencengkeram tepi meja. Napasnya berubah berat. Gelas kosong di dekatnya jatuh dan menggelinding di atas karpet.
Ternyata bukan hanya Kayla yang telah diberi obat.
Setelah itu, ingatannya terputus-putus. Tangan yang sempat menahannya agar tidak jatuh. Aroma jeruk yang semakin kuat. Suara napas yang kacau. Gaunnya yang robek.
Lalu gelap.
Pagi datang bersama rasa sakit dan sebuah kenyataan yang tidak bisa mereka tarik kembali.
"Kamar ini nomor berapa?" tanya Kayla.
Laki-laki itu mengangkat sebelah alis. "2001."
Kayla menutup mata.
2010 dan 2001.
Tante Fen salah mengingat nomor kamar.
"Aku seharusnya tidak ada di sini," katanya.
"Itu belum menjawab pertanyaanku."
"Aku dibawa ke kamar ini dalam keadaan tidak sadar."
Tatapan laki-laki itu turun ke gelas di tangannya. "Kebetulan sekali. Minumanku juga dicampur sesuatu."
Mereka terdiam.
Kayla tidak tahu siapa yang menjebak laki-laki itu. Ia juga belum tahu apakah ceritanya akan dipercaya. Namun satu hal sudah jelas. Mereka berdua sama-sama tidak merencanakan malam ini.
Bel kamar berbunyi.
Laki-laki itu mengambil dua jubah mandi dari lemari. Satu dilemparkannya kepada Kayla, satu lagi ia kenakan sendiri.
"Pakai."
"Terima kasih," jawab Kayla, lalu menambahkan dalam hati, setidaknya laki-laki ini masih punya sedikit akal sehat.
Begitu Kayla selesai mengikat jubah, pintu dibuka.
"Surprise!"
Tiga laki-laki menyerbu masuk sambil tertawa. Yang paling depan membawa dua gelas kopi. Yang kedua mengangkat paper bag sarapan. Yang termuda bahkan menyalakan kamera ponselnya.
Tawa mereka berhenti ketika melihat Kayla di atas ranjang.
Si pembawa kopi berkedip beberapa kali. "Kau siapa? Di mana perempuan pendamping yang dijanjikan Amanda?"
"Matikan kameranya, Sean," kata laki-laki asing itu dingin.
Sean segera menurunkan ponsel. "Ko, ini bukan ulahku. Aku cuma ikut Nico dan Vincent."
Pria berkacamata di sebelahnya menyikut lengannya. "Pengkhianat. Lima detik lalu kau yang paling semangat merekam wajah Adrian."
"Aku mau merekam wajahnya saat kena prank, bukan ini."
"Cukup," potong Adrian.
Jadi nama laki-laki itu Adrian.
Pria yang membawa kopi, Nico, mengamati kamar. "Tunggu. Kalau perempuan dari Amanda tidak pernah masuk, lalu dia siapa?"
"Namaku Kayla," jawab Kayla. "Dan aku juga ingin tahu kenapa bisa berada di sini."
Sean memiringkan kepala. "Kayla? Nama yang bagus."
"Bukan waktunya menggoda orang," gumam Nico.
Vincent justru menepuk dahinya. "Aku tahu. Dia pasti salah satu penggemar Adrian."
Kayla menatapnya datar.
Vincent semakin bersemangat dengan teorinya sendiri. "Lantai ini butuh kartu akses. Dia mungkin mengikuti Adrian, melihat pintu tidak terkunci, lalu menyelinap masuk. Benar, kan?"
"Hebat," kata Kayla. "Kau menyusun cerita lengkap tanpa satu pun bukti."
Sean menahan tawa. Nico berdeham sambil memalingkan wajah.
Vincent tidak menyerah. "Kalau bukan begitu, kenapa kau ada di ranjang Adrian?"
Pertanyaan itu membuat udara di kamar berubah.
Kayla meremas ujung jubah. Di balik nada konyol Vincent, tuduhannya tetap menghina. Ia yang dijual oleh keluarganya, tetapi pagi ini orang lain melihatnya sebagai perempuan yang sengaja naik ke ranjang laki-laki kaya.
Adrian bersandar di kusen pintu kamar tidur. Tatapannya kembali dingin.
"Kau diam saja," katanya kepada Kayla. "Apa berarti tebakan Vincent benar?"
Kayla menatap Adrian. "Kalau aku bilang minumanku diberi obat lalu aku dilempar ke kamar yang salah, apa kau akan percaya?"
"Aku tidak punya alasan untuk langsung percaya."
Jujur. Menyebalkan, tetapi jujur.
Adrian melanjutkan, "Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Tapi kalau tujuanmu adalah menuntutku bertanggung jawab lalu memakai kejadian semalam untuk menempel padaku, lupakan."
Kayla sempat terpaku.
Kemudian bahunya mengendur. Untuk pertama kalinya sejak bangun, ia benar-benar merasa lega.
"Syukurlah," katanya. "Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab."
Keheningan jatuh begitu cepat sampai dengung pendingin ruangan terdengar jelas.
Nico menatap Kayla. Sean menatap Adrian. Vincent membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Adrian sendiri terlihat seperti baru saja menerima jawaban yang tidak pernah ia perhitungkan.
Kayla turun dari ranjang. Lututnya sempat goyah, tetapi ia menolak kembali duduk.
"Aku hanya perlu pakaianku, tas selempang cokelat, dan ponselku. Setelah itu aku pergi."
Nico memeriksa ruang tamu. "Tasnya tidak ada."
Tentu saja tidak ada. Terakhir kali Kayla melihatnya, tas itu berada di kursi sebelah Vera.
"Minta staf perempuan mengantar pakaian dari butik hotel," kata Adrian kepada Nico. "Lalu periksa kamera lorong."
Vincent menoleh. "Kau percaya dia?"
"Aku percaya kamera."
Jawaban itu dingin, praktis, dan entah kenapa lebih mudah diterima Kayla daripada belas kasihan.
Lima belas menit kemudian, seorang staf perempuan meninggalkan satu set pakaian sederhana di depan pintu. Kayla berganti di kamar mandi. Gaun robeknya ia masukkan ke dalam tas kertas.
Saat hendak keluar, ia melihat secarik kertas kusut di bawah meja. Di sana tertulis `2010, Wilson`, lalu angka itu dicoret dan diganti menjadi `2001`.
Kayla memungutnya.
Adrian melihat kertas itu, tetapi tidak meminta.
"Itu alasanmu berada di sini?"
"Ini bukti bahwa aku seharusnya dijual ke kamar lain." Kayla melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke saku. "Kau hanya kesalahan dalam rencana mereka."
Wajah Adrian mengeras mendengar kata dijual, tetapi Kayla tidak memberinya kesempatan untuk bertanya.
Ia berjalan menuju pintu.
Vincent bergeser memberi jalan. Kali ini tidak ada teori baru yang keluar dari mulutnya.
Di ambang pintu, Kayla menoleh kepada tiga laki-laki itu.
"Kalau rekamannya membuktikan aku dibawa ke sini dalam keadaan setengah sadar, kalian bertiga berutang permintaan maaf. Terutama si detektif tanpa bukti."
Sean gagal menahan tawa. Nico menepuk bahu Vincent dengan wajah prihatin.
Kayla lalu menatap Adrian. "Dan kita tidak pernah bertemu."
"Itu yang terbaik," jawab Adrian.
Kayla keluar tanpa menoleh lagi.
Pintu lift terbuka di ujung lorong. Begitu ia masuk, senyum tipis di wajahnya menghilang.
Di telapak tangannya ada bekas kuku yang menancap sejak tadi. Di sakunya ada nomor kamar yang salah. Di Bekasi, ada seorang kakak dan seorang ibu mertua yang pasti sedang bertanya-tanya mengapa rencana mereka gagal.
Kayla mengepalkan tangan.
Ia akan pulang dan meminta jawaban dari mereka.
Di belakangnya, sebelum pintu lift menutup, suara Adrian terdengar dari dalam suite.
"Nico, salin semua rekaman sebelum ada yang menghapusnya. Cari juga siapa yang menyentuh minumanku semalam."
Pintu menutup.
Aroma jeruk dingin tertinggal di lantai dua puluh, bersama satu malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.