Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bian Gila
Silau dari sinar matahari yang memaksa masuk lewat celah jendela kamar apartemen Bunga membuat si empunya merasa terusik dan memaksakan untuk membuka mata secara perlahan. Ia terbangun di jam yang sudah menunjukan pukul 6 lebih. Tetapi hari ini sepertinya akan sangat terik, terbukti dari matahari yang sudah memunculkan sinarnya di pagi ini.
Sejenak ia terdiam, dan baru tersadar jika di sebelahnya ada seseorang yang masih tertidur dengan tangan kekar melingkar di perutnya. Sepontan Bunga melirik ke arah Bian, ia baru tersadar jika tadi malam mereka melakukan ciuman sangat lama dan berakhir dengan Bian yang meminta untuk tidur di apartemennya. Memang gila cowok yang bernama Bian itu, memaksa untuk mencium dan juga menginap di apartemen Bunga.
Perlahan ia menyingkirkan tangan kekar milik Bian, Bunga akui, Bian memang memiliki tubuh yang sangat menggoda iman untuk ukuran anak SMA seumurannya. Juga wajahnya yang tampan semakin menunjang seorang Bian untuk diidolakan. Kepalanya menggeleng menyadari lamunan gilanya tengang cowok aneh yang masih berada di sebelahnya itu, Ia merutuki dirinya yang bisa setenang itu tidur bersama dengan Bian, tetapi tunggu... Bunga meraba ke arah baju tidurnya yang masih ia kenakan dengan utuh. Bian tidak berbuat lebih selain memaksa Bunga untuk melakukan ciuman dengannya.
Terdengar helaan napas dari Bunga. Ia bangkit dari tidur dan berniat untuk menuju ke kamar mandi. Matanya tiba-tiba terbelalak saat melihat banyaknya tanda merah pada bagian leher dan atas dadanya.
"Hah? Gue bisa nggak sadar sih?" Bunga masih tidak percaya, dia menggosok bagian yang terdapat tanda merah itu.
Tetapi percuma saja, karena yang ada kulit putihnya akan semakin terlihat memerah dengan perlakuannya.
"****!" umpatnya kesal pada dirinya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak sadar akan kelakuan Bian tadi malam, atau memang pada dasarnya Bunga begitu menikmati sentuhan dari bibir cowok itu. Hanya saja Bunga masih belum mengakui jika dirinya merasa nyaman dan juga kesal dengan tindakan Bian.
Selesai dengan mandinya, Bunga keluar dari dalam kamar mandi, kini Bian sudah tidak berada di atas ranjangnya, cowok itu sudah pergi entah kemana. Tetapi bukankah Bian belum tahu pasword apartemennya.
"Gue nggak bisa ketemu Om Praja dengan keadaan leher seperti ini," gumam Bunga melihat tanda merah yang cukup banyak.
Lagi-lagi Bunga dibuat kesal melihat tanda tersebut. Ia kesal dengan dirinya sendiri yang sampai tidak sadar dengan perbuatan Bian, memang Bian sama sekali tidak melakukan hal lebih selain itu, tetapi tetap saja Bunga kesal.
"Ini." Bian datang dengan dua mangkuk mie instan yang sudah matang di atas nampan.
Mata Bunga memicing melihat dua mangkuk berisi mie instan tersebut. "Gue nggak makan mie," tolaknya membuat Bian mengangguk.
"Tapi lo nyimpan banyak banget mie isntan di lemari," jelas Bian yang tidak lagi bisa Bunga elak.
"Sebagai tanda permintaan maaf gue udah bikin leher lo belang," ucap Bian seraya menaruh nampan tersebut.
Tetapi Bunga, gadis itu semakin menatap Bian tidak percaya. Yang benar saja apa yang sudah Bian lakukan terhadapnya seakan dihargai dengan mie instan seharga 3 ribuan itu. Bunga merasa semakin kesal. Bahkan ketika dirinya tidur bersama dengan para pria hidung belang tidak ada yang berani sampai meninggalkan bekas merah di tubuhnya, Bunga ingin bermain aman, mereka bisa menjamah tetapi masih ada batasan. Dan Bunga dihargai dengan harga yang sangat tinggi.
"Pulang lo!" usir Bunga yang sudah muak dengan sikap dan tindakan Bian.
"Kalau gue nggak mau?" tantang Bian semakin membuat Bunga geram.
"Bian, lo bisa nggak sih nggak gangguin hidup gue lagi!" Bunga menatap tajam ke arah Bian dengan napas yang mulai naik turun secara cepat.
"Enggak!" tolak Bian dengan tampang tanpa berdosanya.
"Oke gue tahu sekarang." Bunga melepas satu persatu kancing seragamnya yang tadi sudah dipakainya dengan rapih.
Gadis itu sengaja berbuat demikian untuk membuat Bian jera. Meski terkadang ucapan Bian itu seperti ancaman, nyatanya Bian tidak pernah berbuat lebih selain mencium dirinya, itu Bunga anggap jika Bian tidak berani berbuat lebih akan dirinya. Meski resiko besar kini harus Bunga pertaruhkan, yang terpenting baginya Bian tidak lagi mengganggu apa lagi mengatur hidupnya.
Glek
Susah payah Bian meneguk air ludahnya dengan Kasar. Sekujur tubuhnya tiba-tiba menegang melihat pemandangan di depannya. Kain hitam dengan nama br* itu sudah terlihat dengan jelas di depan matanya, apa lagi isi dalam kain tersebut begitu terlihat menantang.
"Bunga stop!" peringat Bian saat tangan Bunga ingin melepaskan kaitan pada br* miliknya.
Terlihat senyum miring dari Bunga. Dengan sengaja ia sekaan menulikan pendengarannya dari apa yang sudah Bian katakan. Gadis itu masih berusaha melepaskan kaitan pada br* yang menutupi dua gundukan kembar miliknya.
"Ini yang lo mau kan?" Bunga semakin mendekatkan tubuhnya, tangan yang satunya sebagai penutup buah dadanya yang siap terlihat jika Bunga sampai lengah.
"F**k!" Bian mulai mengumpat meliha kenekatan Bunga.
Dia memang tidak pernah benar-benar serius dengan ancamannya terhadap gadis nakal itu. Tetapi jika Bunga memilih jalan seperti itu, maka Bian akan mengikuti permainan Bunga.
Pleas menjauh. Batin Bunga penuh harap.
Sejujurnya Bunga sendiri tidak berniat untuk benar-benar bertelanj*ng di depan Bian. Ia hanya ingin membuat Bian ketakutan dengan kenekatannya. Tetapi sepertinya ini bukan saat yang menguntungkan untuknya. Bian malah kini mendekat dengan seringai yang dapat Bunga lihat dengan jelas.
Deg
Mendadak rasa gugup itu kembali muncul. Bunga seperti dikuasai dengan permainannya sendiri.
"Lo mau gue nyentuh punya lo?" suara Bian sudah terdengar serak. Seperti cowok yang sedang menahan sesuatu.
"Enggak gratis," ucap pada akhirnya. Entah dia bingung untuk mengatakan apa, yang keluar hanya kata itu dari mulutnya. Dengan harapan Bian menyerah dan tidak membuat Bunga benar-benar harus bertelanj*ng di depannya.
"Fine, berapapun Bunga," seringai kembali muncul di wajah tampan itu.
Bunga semakin kelimpungan, kenapa hanya meladeni cowok yang seumuran dengannya begitu sulit. Tidak seperti ketika dirinya bersama dengan Om-Om yang usianya jauh di atasnya.
Bian semakin mendekat. "Lagian gue juga nggak puas hanya dengan nyium lo seperti tadi malam."
Sejenak Bunga memejamkan matanya. Memilih kata yang tepat untuk membuat Bian berhenti menyudutkannya.
"Oke gue minta maaf ud-"
"Lo nggak ada salah," potong Bian semakin melangkah mendekat.
Dan Bunga sendiri masih mencoba untuk melangkah mindur menghindar dari Bian.
"Bisa nggak lo nggak kayak gini?" final Bunga frustasi.
Ia tida tahu lagi dengan cara apa untuk mencegah Bian, cowok tampan yang juga keras kepala.
Bian mengangguk. "Bisa aja, tapi ada syaratnya," jawab Bian santai membuat Bunga memincingkan kedua alisnya.
Ini kenapa Bunga yang malah seakan dipermainkan dengan permainannya sendiri.
"A-apa?" tanya Bunga ragu.
Bian melirik ke arah Bunga, memandangi tubuh gadis itu dari atas sampai ke bawah, membuat Bunga kembali was-was.
"Berhenti pakai baju si*lan itu, terkecuali di depan gue."
Deg
Bian gila Batin Bunga tidak habis pikir dengan isi otak cowok tampan itu.