NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Selalu Cheryl yang Dibela

Dua hari setelah meninggalkan Puri Teratai, Renata berdiri di lobi Prima Aeroteknik sambil membawa tagihan rumah perawatan ibunya.

Pesan terakhir dari bagian administrasi tidak lagi terdengar seperti pengingat.

Jika pembayaran tidak diterima sampai besok siang, beberapa layanan tambahan untuk Yolanda akan dihentikan.

Renata sudah mengirim tiga pesan kepada Nathan untuk membicarakan Vila Kenari. Pesan pertama dibaca tanpa jawaban. Pesan kedua hanya dibalas, “Aku sedang rapat.” Pesan ketiga belum dibuka sejak semalam.

Karena itu, ia datang langsung ke gedung perkantoran SCBD tempat Nathan lebih mudah ditemui daripada di rumah mereka sendiri.

“Maaf, Bu. Ada janji dengan Pak Nathan?” tanya petugas resepsionis.

“Tidak. Tolong beri tahu dia Renata ingin bicara sebentar.”

Perempuan di belakang meja tersenyum profesional. “Mengenai urusan apa?”

“Pribadi.”

Senyum itu menegang sedikit. Petugas tersebut memandang blus sederhana Renata, celana panjang hitam, lalu perban tipis yang masih membungkus lengan kirinya. Tatapannya tidak kasar, hanya penuh penilaian cepat seperti orang yang terbiasa menyaring tamu tanpa undangan.

“Pak Nathan sedang ada pertemuan dengan direksi. Mungkin Ibu bisa meninggalkan pesan.”

Renata meletakkan amplop tagihan di meja. “Saya akan menunggu.”

Ia duduk di area tamu yang menghadap deretan lift. Sofa kulit itu terlalu empuk, pendingin ruangan terlalu dingin, dan layar besar di dinding memutar video rancangan mesin pesawat terbaru Prima Aeroteknik. Logo perusahaan muncul berulang kali, diikuti foto empat pendiri saat masih belajar di luar negeri.

Nathan berdiri di tengah foto itu.

Cheryl berada tepat di sebelahnya.

Keduanya tersenyum ke arah kamera, muda dan penuh rencana. Renata tidak ada dalam bagian hidup tersebut. Tiga tahun pernikahan pun tidak cukup untuk memberinya tempat di satu bingkai yang sama.

Setengah jam berlalu. Luka di lengan Renata mulai terasa gatal di bawah perban. Ia menahan diri untuk tidak menggaruk, lalu mengecek saldo sekali lagi. Angkanya tetap sama, seolah dipandangi selama apa pun tidak akan berubah.

Suara lift berdenting.

Beberapa orang keluar lebih dulu sambil membawa tablet dan map. Nathan muncul di antara mereka dengan jas abu-abu gelap. Cheryl berjalan di sisi kanannya, mengenakan sepatu hak tinggi dan gaun kerja berwarna gading.

Renata berdiri.

“Nathan.”

Langkah rombongan itu melambat. Dua pegawai menoleh kepadanya. Nathan tampak terkejut sepersekian detik, lalu wajahnya kembali datar.

“Kenapa kamu datang ke sini?”

Pertanyaan itu membuat Renata terdengar seperti orang yang memasuki tempat terlarang.

Ia mengangkat amplop di tangannya. “Aku perlu sepuluh menit. Soal Vila Kenari.”

Tatapan Nathan jatuh pada perban di lengannya, kemudian kembali ke wajah Renata. “Lukamu belum sembuh?”

“Bukan itu yang mau kubicarakan.”

“Kita bicara di ruang tamu.” Nathan menoleh kepada para pegawai. “Kalian naik dulu.”

Beberapa orang mengangguk, tetapi tidak langsung pergi. Rasa ingin tahu membuat langkah mereka tertahan. Di dekat meja resepsionis, dua pegawai perempuan saling mendekat.

“Itu siapa, ya?” bisik salah satunya.

“Nggak tahu. Kenal dekat sama Pak Nathan, kayaknya.”

“Tapi ada Cheryl.”

Ponsel di tangan pegawai lain sudah terangkat setinggi dada. Layarnya mengarah ke Renata.

Renata berpura-pura tidak melihat.

Nathan baru berjalan dua langkah ke ruang tamu ketika terdengar bunyi hak sepatu bergeser.

“Nate.”

Cheryl terhuyung. Satu tangannya meraih lengan Nathan, sementara tangan lain menekan pelipis. Wajahnya kehilangan warna.

Nathan langsung menangkap bahunya.

“Cheryl?”

“Aku nggak apa-apa. Cuma agak pusing.” Cheryl mencoba berdiri, lalu meringis ketika telapak kakinya menyentuh lantai. “Sepertinya pergelangan kakiku terkilir.”

“Kamu belum makan sejak pagi, kan?”

Cheryl menunduk, seolah ketahuan melakukan kesalahan kecil. “Tadi rapatnya terlalu panjang.”

Kekhawatiran di wajah Nathan muncul tanpa jeda. Bukan akting. Ia benar-benar percaya Cheryl rapuh, ceroboh menjaga diri, dan perlu dilindungi dari segala hal yang mungkin menyakitinya.

“Siapkan mobil,” perintahnya kepada resepsionis. “Hubungi klinik. Bilang kami menuju ke sana.”

“Nathan,” panggil Renata.

Nathan menoleh sambil tetap menopang Cheryl. “Kita bicara nanti.”

“Aku hanya perlu kepastian soal rumah itu. Pembayaran Mama jatuh tempo besok.”

Kalimat berikutnya sudah berada di ujung lidahnya. Ia ingin menjelaskan bahwa rumah perawatan memberi batas waktu. Ia ingin mengatakan dirinya tidak datang untuk mengemis, hanya meminta Nathan mengembalikan sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.

Namun Nathan sudah mengalihkan perhatian kepada Cheryl.

“Bisa jalan?”

Cheryl mengangguk lemah. “Bisa, asal kamu jangan lepas.”

Nathan mengencangkan tangannya di bahu perempuan itu.

Penjelasan Renata mati sebelum sempat keluar.

Di sekeliling mereka, pegawai Prima Aeroteknik menyaksikan Nathan membawa Cheryl menuju pintu. Seorang pria membuka jalan. Petugas resepsionis bergegas mengambil tas Cheryl. Tidak ada satu pun yang bertanya apakah Renata juga membutuhkan bantuan, meski perban di lengannya terlihat jelas.

Ia berdiri di tengah lobi seperti tamu yang salah alamat.

Sebelum melewati pintu kaca, Cheryl menoleh. Tatapannya turun sekilas pada amplop tagihan di tangan Renata, lalu senyum tipis muncul di bibirnya.

“Cik Rena, hati-hati, ya,” katanya lembut. “Jangan sampai salah paham sama Nathan. Dia memang suka menolong orang.”

Seolah Cheryl adalah orang yang mengenal Nathan paling baik.

Seolah Renata hanya perempuan asing yang datang membawa masalah pribadi.

Jari Renata menekan amplop begitu kuat hingga ujung kertas menusuk telapak tangannya. Ia tidak membalas. Ia juga tidak mengejar Nathan.

Punggungnya tetap tegak ketika berjalan melewati para pegawai yang masih berbisik.

“Jadi dia siapa?”

“Mungkin mantan?”

“Kasihan juga. Pak Nathan jelas lebih peduli sama Cheryl.”

Pintu lift menutup di depan wajah mereka sebelum Renata kehilangan kendali dan mengatakan sesuatu yang akan ia sesali.

Di dalam kotak logam itu, barulah ia membuka kepalan tangan. Ada empat bekas kuku merah di telapak tangannya.

Malamnya, Tania mengetuk pintu kamar tamu dua kali.

“Ren, aku pesan nasi goreng. Mau?”

“Nanti saja, Tata.”

“Kamu bilang begitu sejak sore.”

“Aku nggak lapar.”

Tania terdiam di balik pintu. “Kalau kamu mau cerita, aku belum tidur.”

“Aku tahu.”

Langkah Tania akhirnya menjauh.

Renata duduk di lantai di depan koper terbuka. Amplop tagihan tergeletak di samping map perceraian. Di saku kecil koper, cincin merah muda berkilau saat terkena cahaya kamar. Ia menggeser cincin itu ke samping, lalu mengangkat lapisan kain di dasar koper.

Sebuah laptop lama tersembunyi di sana.

Permukaannya diselimuti debu tipis. Renata mengusapnya dengan lengan baju, kemudian meletakkan laptop tersebut di meja lipat. Tiga tahun lalu ia mematikan perangkat itu dan berjanji tidak akan membukanya lagi. Dunia di balik layar tersebut selalu meminta harga, dan saat menikah ia sungguh percaya kehidupan baru akan memberinya alasan untuk berhenti.

Ternyata kehidupan baru itu hanya membuatnya lupa bahwa ia pernah mampu berdiri tanpa siapa pun.

Jarinya berhenti di atas tombol daya.

Jika ia menekannya, tak ada jalan kembali menuju Renata yang menunggu suami pulang, menghitung sisa uang, lalu berharap kebaikan orang lain.

Ia ragu selama beberapa detik.

Kemudian tombol itu ditekan.

Kipas tua berputar. Cahaya biru menerangi wajahnya. Baris-baris verifikasi muncul, meminta kata sandi yang tidak pernah ia lupakan.

Renata mengetiknya tanpa satu kesalahan.

Di tengah layar, dua huruf yang selama tiga tahun dikira telah mati menyala kembali.

JK.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!