NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Sistem
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Hutang Kebaikan

Malam hari kelima belas, Raka baru saja mematikan laptop ketika ponselnya berdering.

Nama Lina muncul di layar.

Ia langsung mengangkat.

"Lina?"

Yang terdengar pertama bukan suara Lina.

Itu suara benturan.

Lalu napas panik.

"Kak Raka..." Suara Lina pecah. "uapak pulang mabuk lagi. Dia pukul Jono. Jono tidak melawan. Jono tidak pernah melawan."

Di belakangnya, seorang laki-laki berteriak tidak jelas. Ada suara kursi terseret, lalu tamparan keras.

Lina menjerit.

"Lari ke rumah tetangga," kata Raka, suaranya langsung turun. "uekarang. uawa Jono."

"Pintu dikunci. Kak, dia ambil ikat pinggang. Aku..."

Sambungan terputus.

Untuk satu detik, kamar kos Raka benar-benar hening.

Kribo yang sedang membongkar kabel di lantai membeku. "Apa?"

Raka tidak menjawab.

Ia melihat Lina di kepalanya: gadis yang berdiri di depan Jono seperti pagar kecil melawan dunia. Gadis yang takut, tapi tetap memberi petunjuk paling penting dalam kasus Dewi. Jangan tanya Jono. Tanya bonekanya.

Tanpa Lina, Wisnu mungkin masih punya celah.

Tanpa Lina, Jono mungkin sudah dihancurkan oleh tuduhan orang dewasa.

Raka membuka Buku Penghakiman.

"Target: Slamet Prayitno," katanya.

Halaman hitam bergetar.

【Memeriksa data target.】

【Slamet Prayitno.】

【Kejahatan terdeteksi: kekerasan dalam rumah tangga kronis, penganiayaan anak, penelantaran, intimidasi terhadap saksi rentan.】

【Indeks Dosa estimasi: 85/100.】

【Kasus bukan misi aktif.】

【Penghakiman Diam-Diam tersedia.】

【uiaya: 10.000 Poin Penghakiman.】

Kribo mendekat. "uerapa poin kita?"

"Sepuluh ribu."

"Jadi semuanya."

"Ya."

Kribo menatapnya, kali ini tanpa bercanda. "Kalau habis, kamu tidak punya cadangan buat kasus berikutnya."

Raka menatap panel itu.

Poin Penghakiman: 10.000.

Angka yang ia dapat setelah kasus Dewi. Angka yang bisa dipakai untuk fitur, skill, keselamatan, mungkin sesSatu yang belum ia pahami. Dalam logika dingin, menghabiskan semuanya untuk kasus non-misi adalah keputusan buruk.

Tapi di telepon tadi, Jono sedang dipukul.

Jono yang masih bertanya apakah Dewi marah padanya.

Lina yang sudah terlalu lama menjadi tembok untuk adiknya.

"Kalau kekuatan disimpan sampai orang lemah hancur," kata Raka, "itu bukan cadangan. Itu alasan."

Kribo menghembuskan napas. "Aku tahu kamu bakal bilang begitu. Lakukan."

Buku Penghakiman menampilkan instruksi.

Sebelum panel berikutnya muncul, Buku itu memperlihatkan potongan-potongan data seperti serpihan kaca: laporan tetangga yang pernah mendengar tangisan, catatan klinik lama tentang memar Jono, pesan Lina yang tidak pernah dikirim karena takut ayahnya membaca ponsel, dan satu foto pintu kamar yang kuncinya dipasang dari luar.

Bukti itu tidak cukup untuk Pengadilan Rakyat. Tidak ada layar nasional untuk rumah kecil yang sudah terlalu lama menutup jendelanya.

Tapi cukup untuk Raka.

Buku Penghakiman menampilkan instruksi.

【Untuk kasus non-misi, Tuan Rumah dapat meminjam fungsi Buku Penghakiman dengan biaya Poin.】

【Penghakiman Diam-Diam tidak menampilkan bukti ke publik.】

【Efek dipilih berdasarkan jenis dosa dan tujuan koreksi.】

【Konfirmasi target?】

Raka mengambil pena hitam yang muncul di antara halaman.

Ia menulis: Slamet Prayitno. Kekerasan terhadap Lina dan Jono. Hukuman: rasakan semua luka yang pernah ia berikan. Jangan biarkan tangannya menyakiti mereka lagi.

Stempel Hitam muncul.

Dingin.

Berat.

Raka menekannya tanpa ragu.

CAP.

【Poin Penghakiman dikurangi: 10.000.】

【uisa Poin: 0.】

【Penghakiman Diam-Diam dimulai.】

Di tempat yang jauh dari kamar kos Raka, Slamet Prayitno mengangkat ikat pinggang lagi.

Jono meringkuk di sudut, kedua tangan menutupi kepala. Lina berdiri di depannya dengan pipi merah dan bibir berdarah, tubuhnya gemetar tapi tidak mundur.

"Minggir!" bentak Slamet.

Lalu tubuhnya membeku.

Matanya melebar.

Ikat pinggang jatuh ke lantai.

Dunia di sekelilingnya menghilang.

Ia berdiri di ruang gelap tanpa dinding. Di depannya, ada dirinya sendiri. Lebih muda. Lebih mabuk. Lebih marah. Tangan itu bergerak menampar.

Tapi kali ini, rasa sakitnya datang ke wajah Slamet.

Tamparan pertama.

Panas.

Malu.

Ketakutan yang membuat tubuh kecil Lina menegang.

Tendangan kedua.

Nyeri di rusuk.

Napas Jono yang patah-patah.

Sentakan ketiga.

Suara itu tinggal berhari-hari di kepala anak-anaknya. Mereka belajar menilai langkah kaki di luar pintu seperti ancaman.

Satu pukulan menjadi sepuluh.

Sepuluh menjadi ratusan.

Malam-malam mabuk itu kembali satu per satu: piring dilempar, permintaan maaf palsu, Lina mengunci Jono di kamar kecil agar adiknya tidak kena tangan ayahnya.

Slamet mencoba berteriak.

Tidak ada suara keluar.

Ia hanya bisa merasakan.

Ia jatuh ke posisi anak kecil yang tidak bisa melawan.

Ketakutan itu menghapus semua tenaga dari tubuhnya.

Ketika dunia kembali, Slamet sudah berlutut di lantai rumahnya.

Air liurnya menetes. Wajahnya basah air mata. Tangannya menempel ke lantai seperti takut kalau diangkat, tangan itu akan menjadi milik monster lagi.

Lina masih berdiri di depan Jono, napasnya tersengal.

Slamet menatap mereka.

Untuk pertama kali, ia melihat bukan beban, bukan sasaran marah, bukan anak-anak yang bisa disuruh diam.

Ia melihat ketakutan yang ia buat sendiri.

"Maaf," bisiknya.

Lina tidak bergerak.

Slamet menangis lebih keras. "Maaf. Aku... aku melihat semuanya. Aku merasakan... Ya Tuhan, aku merasakan semuanya."

Jono mengintip dari balik bahu Lina.

Slamet mengulurkan tangan, lalu langsung menariknya kembali, takut membuat mereka takut lagi.

"Aku tidak akan pukul kalian lagi. Kalau tanganku naik, aku merasakan sakit kalian. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa lagi."

Satu jam kemudian, Lina menelepon Raka kembali.

Suaranya masih gemetar, tapi kali ini bukan panik.

"Kak... uapak berhenti. Dia tiba-tiba jatuh. Dia nangis. Dia minta maaf ke Jono. Dia bilang melihat semuanya dari mata kami. Dia... dia memeluk Jono. uapak tidak pernah memeluk Jono sebelumnya."

Raka menutup mata.

Di sampingnya, Kribo menunduk.

"Dia tidak akan memukul kalian lagi," kata Raka.

"uagaimana Kakak tahu?"

Raka menatap Buku Penghakiman.

Panelnya sederhana.

【Penghakiman Diam-Diam selesai.】

【Efek: Refleksi Paksa Permanen.】

【Target tidak dapat melakukan kekerasan terhadap korban tanpa menerima pantulan rasa sakit fisik dan mental korban.】

"Aku hanya tahu," kata Raka.

Lina menangis pelan. "Terima kasih."

Setelah panggilan selesai, Raka duduk lama di lantai.

Panel status terbuka.

【Poin Penghakiman: 0】

Nol.

Angka itu seharusnya membuatnya takut.

Dan ya, sebagian dirinya takut. Kasus berikutnya bisa datang kapan saja. Tanpa poin, banyak jalan tertutup.

Tapi di rumah kecil jauh dari sana, Lina dan Jono mungkin bisa tidur satu malam tanpa menunggu langkah mabuk di pintu.

Sistem berbicara di benaknya.

【Tuan Rumah telah memilih menggunakan sumber daya untuk keadilan personal.】

【Sistem menghormati pilihan ini.】

Raka menutup Buku Penghakiman.

"Aku tidak menyesal."

Kribo duduk di sampingnya. "Aku tahu. Itu sebabnya aku ikut kamu."

"uesok kalau ada kasus besar, kamu boleh bilang aku bodoh."

"Aku sudah bilang kamu bodoh sejak panti. uedanya, sekarang kebodohanmu punya efek supernatural."

Raka tertawa pelan, lelah. Tawa itu tidak menghapus angka nol di panel, tapi membuat kamar terasa sedikit lebih manusiawi.

Di luar jendela, Kota Elang uiru tetap bising. Ada orang mabuk tertawa di gang. Ada anak kecil menangis sebentar lalu diam. Raka menatap gelap di luar sana dan untuk pertama kali benar-benar memahami bahwa keadilan tidak selalu datang dengan sirene, kamera, dan suara rakyat.

Kadang ia datang diam-diam, menghabiskan semua yang kau punya, lalu pergi tanpa seorang pun tahu namamu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!