NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Perjalanan menuju Sulawesi Utara memakan waktu tiga hari lewat kapal nelayan yang berlayar di jalur pinggiran pulau, menghindari pelabuhan resmi dan patroli laut. Saat daratan Sulawesi mulai terlihat, suasana di atas kapal berubah hening. Di hadapan mereka berdiri pegunungan yang curam dan pantai berbatu gelap—sangat berbeda dengan pantai berpasir putih yang biasa terlihat di sini.

“Wilayah ini berada di bawah pengawasan langsung markas militer,” bisik Asep sambil memandangi menara pengawas yang terlihat di kejauhan. “Mayor Jenderal Bimo tidak seperti Ridwan atau Rusli. Dia tidak membeli dukungan rakyat dengan uang, dan tidak menyembunyikan pasukannya. Dia membuat aturan sendiri, dan menanamkan rasa takut lewat kedisiplinan yang kejam. Siapa pun yang melanggar—entah itu warga biasa atau prajuritnya sendiri—akan mendapatkan hukuman yang sama beratnya.”

Mereka mendarat di teluk tersembunyi di balik tebing karang, lalu berjalan kaki menuju desa nelayan tua di pedalaman. Di sana mereka bertemu dengan Pak Tua Raja, pemimpin desa yang masih dihormati warga meski sudah berani menentang kebijakan Bimo bertahun-tahun lalu.

“Selamat datang di tempat yang dijaga oleh bayangan besi,” sapanya dengan suara berat. “Sudah lama tidak ada orang yang berani datang ke sini untuk mencari kebenaran, bukan untuk menuntutnya.”

Ia bercerita bahwa di bawah kekuasaan Bimo, seluruh kawasan hutan lindung dan perairan kaya sumber daya alam di sana dilarang dimasuki warga. Semua akses dikunci rapat, dan konon di tengah hutan yang tertutup itu sedang dibangun fasilitas rahasia yang tidak tercatat di peta pemerintah daerah sekalipun.

“Bukan hanya hutan,” tambah Pak Tua Raja. “Dua bulan lalu, banyak kapal nelayan yang hilang saat melaut di perbatasan. Mereka tidak diserang bajak laut—satu-satunya jejak yang ditemukan adalah tanda tembakan senapan serbu militer di bangkai kapal yang hanyut.”

Keesokan harinya, Dika menyusup ke kantor administrasi daerah dengan menyamar sebagai petugas pemetaan baru. Sore itu ia kembali dengan wajah serius. “Ada ketidakwajaran besar. Anggaran untuk proyek pertahanan di sini dua kali lipat lebih besar dari daerah lain sejenis. Tapi tidak ada satu pun fasilitas umum yang dibangun. Dan jalur transportasi ke arah hutan tengah ditutup total sejak setahun lalu—bahkan pejabat tinggi daerah pun butuh izin khusus untuk lewat.”

Malam itu, mereka berangkat menuju hutan tersebut. Tidak ada jalan aspal, hanya jalur tanah yang sering dilewati truk berat. Semakin dalam masuk, semakin terlihat tanda-tanda pembangunan rahasia: pohon-pohon besar ditebang rata, kawat berduri membentang di antara batang pohon, dan kamera pengawas tersembunyi di setiap sudut tinggi.

“Pertahanannya bukan untuk menahan musuh dari luar,” kata Pak Haris pelan. “Ini untuk menahan siapa pun yang ingin melihat apa yang sedang mereka bangun di dalam.”

Menjelang tengah malam, mereka sampai di bukit yang menghadap ke tengah kawasan. Di bawah sana, tersembunyi di antara lembah gunung, terlihat pemandangan yang membuat napas mereka tertahan.

Bukan sekadar markas militer. Di sana berdiri kompleks bangunan raksasa yang dilengkapi landasan helikopter ganda, gudang penyimpanan berukuran besar, dan terowongan yang menembus masuk ke dalam gunung. Lampu-lampu menyala terang di seluruh area, dan pasukan berpatroli dengan formasi yang sangat rapi.

“Ini bukan benteng pertahanan biasa,” bisik Rendra. “Lihat struktur bangunan di tengah—bentuknya sama persis dengan rancangan fasilitas penyimpanan bahan berbahaya tingkat tinggi yang dilarang secara internasional.”

Belum sempat mereka memproses hal itu, suara peluit panjang terdengar dari arah bawah. Senter-senter besar langsung menyinari bukit tempat mereka bersembunyi. Mereka terpaksa lari menurun lereng secepat mungkin, sementara tembakan peringatan meleset di dekat mereka.

Saat mereka sampai di sungai yang mengalir ke arah desa, Asep berhenti dengan napas terengah. “Mereka tidak menembak untuk membunuh. Mereka sengaja memberi tahu bahwa kita sudah terdeteksi sejak awal kita masuk ke wilayah ini.”

Dan di kejauhan, di balkon gedung utama kompleks itu, berdiri sosok tegap berseragam lengkap. Itu adalah Bimo. Ia tidak berlari mengejar, tidak memberi perintah marah—ia hanya berdiri diam, menatap arah mereka menghilang di balik pepohonan, lalu mengangkat tangan memberi isyarat seolah menyambut tamu yang diharapkan.

Rendra tahu: di sini tidak ada kebohongan yang manis, tidak ada penyamaran sebagai dermawan. Bimo membiarkan mereka melihat sebagian kebenaran—karena ia yakin tidak ada yang berani atau mampu menghentikan apa yang sedang ia bangun.

Dan kini, di hadapan mereka berdiri tantangan yang paling keras: menghadapi kekuatan yang tidak malu menunjukkan wajah aslinya, dan berniat menggunakan fasilitas rahasia itu untuk langkah terakhir proyek “Langit Baru”.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!